Opini
Understanding Stress: Why it Matters and How to Manage It
Published
1 month agoon
By
Mitra Wacana

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
Indonesia is among the seven countries with the highest stress levels in Southeast Asia. As it affects a large part of the population it is important to understand what stress is and how we can cope with it.
What is stress?
Stress is a normal part of life. Everyone experiences stress at some point, whether it is caused by work, family responsibilities, financial concerns, or major life changes. Stress is the body’s natural response to challenges and demands. There are different types of stress. Acute stress is defined as stress caused by an immediate reaction to a certain stressor. The stress disappears when the situation is over and can be caused by for example running late for an appointment or an upcoming presentation. Chronic stress is experienced when stress is built up from repeated exposure to stressful situations. There are chemical changes in your body that occur and can be caused by for example a high-demanding job or financial difficulties.
Symptoms and consequences
Stress can manifest in an individual in different ways. Cognitive symptoms can be memory problems or constant worrying and anxiety. But an individual can also experience loneliness or irritability. Other symptoms could be neglecting responsibilities, sleep disturbances or appetite changes. Possible physical symptoms could be (chronic) fatigue, skin problems or breathing problems. If these symptoms of stress are experienced long-term, it can have several consequences. Long-term stress can cause mental health problems like depression and personality disorders. Other consequences could be eating disorders, gastrointestinal problems or an increased risk of cardiovascular diseases.
Coping strategies
The way we respond to stress has an influence on our overall wellbeing and coping strategies are the methods people use to handle stress. Maladaptive coping strategies are negative ways of managing your stress, these strategies may cause short-term relief but worsen mental health in the long run. Denial, substance use, avoidance or self-blame are recognized as examples of unhealthy coping strategies. However, adaptive coping strategies are healthy ways to manage your stress and can improve your wellbeing. These positive reactions to stress are for example seeking support, exercising, praying or practicing self-care.
An effective way to cope with stress is talking about it. Research has shown that social support can help reduce stress and improve wellbeing. Discussing stress and mental health with for example your family members or trusted friends can reduce feelings of isolation, increase resilience to stress and encourage help-seeking behaviour. Unfortunately, mental health problems are still surrounded by a stigma. Improving our knowledge on mental health can help reduce this stigma and adapting a positive attitude against mental health are critical for encouraging help seeking behaviour. It should be normalised that seeking support is a sign of strength, not weakness.
In addition to seeking support, small daily habits can help reduce stress. Maintaining a healthy diet, regular exercise, practicing deep breathing, listening to music, spending time with loved ones or even just taking a walk can contribute to better mental well-being.
Key takeaway: Stress remains a part of life, but it should not take control. By recognizing stress, having open discussions about mental health and engaging in healthy coping strategies, we can improve our well-being and strengthen our resilience.
References
Attia, M., Ibrahim, F. A., Elsady, M. A., Khorkhash, M. K., Rizk, M. A., Shah, J., & Amer, S. A. (2022). Cognitive, emotional, physical, and behavioral stress-related symptoms and coping strategies among university students during the third wave of COVID-19 pandemic. Frontiers in Psychiatry, 13, 933981. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2022.933981
Bienertova‐Vasku, J., Lenart, P., & Scheringer, M. (2020). Eustress and distress: neither good nor bad, but rather the same? BioEssays, 42(7), e1900238. https://doi.org/10.1002/bies.201900238
Chaaya, R., Sfeir, M., Khoury, S. E., Malhab, S. B., & Khoury-Malhame, M. E. (2025). Adaptive versus maladaptive coping strategies: insight from Lebanese young adults navigating multiple crises. BMC Public Health, 25(1), 1464. https://doi.org/10.1186/s12889-025-22608-4
Hartini, N., Fardana, N. A., Ariana, A. D., & Wardana, N. D. (2018). Stigma toward people with mental health problems in Indonesia. Psychology Research and Behavior Management, Volume 11, 535–541. https://doi.org/10.2147/prbm.s175251
IPB University. (2026, January). 28 million Indonesians experience mental health problems, IPB University Faculty of Medicine lecturer: Reasonable. IPB University. https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/01/28-million-indonesians-experience-mental-health-problems-ipb-university-faculty-of-medicine-lecturer-reasonable/
Reblin, M., & Uchino, B. N. (2008a). Social and emotional support and its implication for health. Current Opinion in Psychiatry, 21(2), 201–205. https://doi.org/10.1097/yco.0b013e3282f3ad89
Regene AI. (2024). The most stressed your body and how to manage it. Regene AI. https://regene.ai/articles/most-stressed-your-body-and-how-to-manage-it
Salim, N. K., Benu, J. M. Y., Pello, S. C., & Anakaka, D. L. (2024). Attitudes toward mental health and help-seeking behaviour among psychology students at Nusa Cendana University. Journal of Health and Behavioral Science, 6(3), 361–375
Srakocic, S. (2023, December 12). What’s the difference between chronic and acute stress? Healthline. https://www.healthline.com/health/stress/acute-vs-chronic-stress#symptoms
You may like
Opini
Refleksi Hari Anak Nasional : Sudahkah anak kita terlindungi ?
Published
12 hours agoon
23 July 2026By
Mitra Wacana
Setiap tanggal 23 Juli tiap tahunnya selalu diperingati sebagai Hari Anak Nasional, bangsa ini seperti diajak berhenti sejenak untuk bercermin. Kita merayakan anak sebagai harapan masa depan, tetapi pada saat yang sama, kita juga dipaksa menatap kenyataan yang jauh lebih getir: anak-anak masih hidup di tengah kekerasan, ketakutan, pengabaian, dan sistem perlindungan yang belum sepenuhnya bekerja sebagaimana mestinya. Perayaan memang penting, tetapi perayaan tanpa keberanian mengakui kenyataan bahwa masih banyak kasus kekerasan terhadap anak hanya akan membuat kita sibuk dengan simbol, bukan dengan solusi.
Perlindungan anak di Indonesia hari ini berada dalam situasi yang paradoksal. Di satu sisi, kita memiliki kerangka hukum yang cukup maju: konstitusi menjamin hak anak, undang-undang khusus perlindungan anak sudah ada, dan negara juga terikat pada prinsip-prinsip internasional seperti CEDAW untuk mencegah diskriminasi, terutama terhadap anak perempuan. Namun di sisi lain, data dan peristiwa yang terus muncul justru menunjukkan bahwa perlindungan di lapangan masih rapuh. Anak masih menjadi korban di rumah, di sekolah, di pesantern, di ruang digital, bahkan di lingkungan yang seharusnya paling aman sekalipun. Ini menandakan bahwa persoalannya bukan semata pada ketiadaan aturan, melainkan pada lemahnya keberanian institusional untuk memastikan aturan itu benar-benar berjalan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa kekerasan terhadap anak tidak lagi bisa dipandang sebagai kejadian luar biasa. Ia telah menjadi pola. Rumah, yang semestinya menjadi tempat pulang paling aman, justru sering berubah menjadi ruang kekerasan yang tersembunyi. Sekolah dan pesantren, yang seharusnya menjadi ruang tumbuh dan belajar, tidak jarang menjadi lokasi perundungan, pelecehan, dan penyalahgunaan kuasa. Ruang digital membuka peluang baru bagi eksploitasi, grooming, dan manipulasi anak. Kondisi ini memberi pesan tegas bahwa ancaman terhadap anak bukan lagi datang dari satu arah, melainkan dari berbagai sisi yang saling berkelindan.
Dalam perspektif perlindungan anak, situasi ini memperlihatkan satu masalah mendasar: anak masih terlalu sering diperlakukan sebagai objek pengasuhan, bukan subjek hak. Banyak orang dewasa masih memandang anak sebagai pihak yang harus patuh, bukan pihak yang harus didengar. Akibatnya, kekerasan sering dibungkus sebagai disiplin, pengabaian dianggap urusan domestik, dan suara anak dipersempit sebagai keluhan yang belum tentu perlu dipercaya. Padahal, perlindungan anak yang sesungguhnya justru dimulai ketika kita mengubah cara pandang: bahwa anak bukan milik orang tua, bukan alat prestise keluarga, dan bukan angka statistik belaka. Anak adalah manusia seutuhnya, dengan martabat, hak, dan batas tubuh yang wajib dihormati.
Masalah ini menjadi semakin serius ketika dilihat dari perspektif gender. CEDAW mengingatkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan tidak berdiri sendiri, melainkan bisa berlapis sejak usia anak. Anak perempuan menghadapi risiko yang lebih kompleks: kekerasan seksual, perkawinan anak, pembatasan akses pendidikan, hingga normalisasi ketidaksetaraan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam banyak kasus, beban yang mereka tanggung bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga rasa bersalah, malu, dan diam yang dipaksa oleh budaya. Di titik ini, perlindungan anak dan perlindungan perempuan tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling bertaut, dan kegagalan melindungi anak perempuan adalah tanda bahwa diskriminasi gender masih mengakar kuat di dalam struktur sosial kita.
Yang lebih menyakitkan, sebagian besar kekerasan itu justru terjadi di ruang yang seharusnya paling dipercaya. Ketika pelaku adalah orang tua, kerabat, guru, atau figur yang seharusnya melindungi, maka luka anak tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan eksistensial. Anak kehilangan rasa aman. Anak belajar bahwa kuasa bisa menyakiti. Anak menyerap bahwa diam lebih aman daripada bicara. Inilah mengapa kekerasan terhadap anak bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penghancuran perlahan terhadap kepercayaan dasar seorang manusia pada dunia di sekelilingnya.
Karena itu, refleksi terbesar bagi Indonesia adalah bahwa kita belum sepenuhnya beralih dari pendekatan seremonial ke pendekatan sistemik. Kita cepat menggelar kampanye, membuat slogan, dan menyelenggarakan peringatan, tetapi belum selalu cukup disiplin membangun sistem perlindungan yang menyeluruh, responsif, dan berpihak pada anak. Perlindungan anak tidak cukup dengan imbauan moral. Ia membutuhkan deteksi dini, layanan pengaduan yang mudah diakses, penegakan hukum yang berperspektif anak, sekolah yang aman, keluarga yang teredukasi, serta negara yang hadir sampai ke tingkat paling bawah. Tanpa itu, setiap peringatan Hari Anak Nasional hanya akan menjadi jeda singkat di tengah krisis yang terus berlangsung.
Dari sudut pandang CEDAW, negara juga memiliki kewajiban yang lebih luas daripada sekadar mencegah kekerasan. Negara harus memastikan bahwa diskriminasi, terutama terhadap anak perempuan, tidak dibiarkan tumbuh dalam bentuk tradisi, pembiaran, atau celah hukum. Perkawinan anak, misalnya, bukan hanya persoalan adat atau pilihan keluarga, tetapi juga bentuk pengingkaran terhadap hak anak atas pendidikan, kesehatan, dan masa depan. Ketika praktik semacam ini masih bertahan, maka kita sedang menyaksikan bagaimana norma sosial mengalahkan prinsip keadilan. CEDAW menuntut negara untuk bertindak, bukan sekadar memahami masalah. Dan tindakan itu harus terlihat dalam kebijakan, pengawasan, anggaran, layanan, dan keberanian menegakkan hukum tanpa kompromi yang melemahkan hak anak.
Namun, opini ini tidak boleh berhenti pada kritik. Ia harus berujung pada kesadaran bahwa perubahan masih mungkin, asalkan keberpihakan kepada anak ditempatkan sebagai urusan negara yang paling serius. Perlindungan anak harus masuk ke dalam cara kita mendidik, mengasuh, mengawasi sekolah, mengelola ruang digital, dan merancang layanan publik. Anak tidak boleh hanya dilindungi ketika menjadi korban; harus ada langkah langkah pencegahan agar mereka tidak jatuh ke dalam situasi berbahaya. Di sinilah letak inti dari perlindungan anak: bukan sekadar menyembuhkan luka, tetapi mencegah luka itu lahir.
Indonesia membutuhkan keberanian moral yang lebih besar. Kita perlu berhenti puas dengan ucapan-ucapan baik, lalu mulai mengukur perlindungan anak dari hal yang paling nyata: apakah anak aman di rumah, apakah mereka aman di sekolah, apakah mereka bisa melapor tanpa takut, apakah hukum bekerja, dan apakah suara mereka benar-benar didengar. Bila jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih belum meyakinkan, maka artinya pekerjaan rumah kita masih sangat panjang.
Hari Anak Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak dibangun dari slogan, melainkan dari keberanian melindungi anak hari ini. Selama anak masih menjadi korban kekerasan, diskriminasi, dan pengabaian, maka bangsa ini belum sepenuhnya memenuhi janji dasarnya kepada generasi penerusnya. Dan selama itu pula, setiap perayaan akan selalu disertai pertanyaan yang sama: apakah kita benar-benar sedang melindungi anak, atau sekadar merayakan mereka setelah terlambat?
Ruliyanto

Refleksi Hari Anak Nasional : Sudahkah anak kita terlindungi ?

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Menyoal Mitos Korban Ideal pada Kasus Kekerasan Seksual






