web analytics
Connect with us

Berita

SIARAN PERS Menjamin Hak Beribadah adalah Amanat Konstitusi, Bukan Kompromi Sosial. Sikap Mitra Wacana atas Pembubaran Ibadah GMS di Panggungharjo

Published

on

Sumber foto: PGI

SIARAN PERS

Menjamin Hak Beribadah adalah Amanat Konstitusi, Bukan Kompromi Sosial.

Sikap Mitra Wacana atas Pembubaran Ibadah GMS di Panggungharjo

Perkumpulan Mitra Wacana menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus mengecam keras tindakan pembubaran paksa ibadah jemaat Gereja Misi Sejahtera (GMS) yang terjadi pada hari Minggu, 24 Mei 2026 di Padukuhan Glugo, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Bantul.

Tindakan intimidasi dan penghentian paksa aktivitas keagamaan oleh kelompok massa ini bukan sekadar gesekan sosial biasa. Peristiwa ini merupakan pelanggaran nyata terhadap hak konstitusional warga negara yang dijamin oleh hukum tertinggi di Republik Indonesia. Sikap ini sejalan dengan pernyataan resmi Amnesty International Indonesia yang menegaskan bahwa insiden intoleransi ini merupakan bentuk pelanggaran hak kebebasan beragama yang mutlak dijamin oleh hukum. Kegagalan negara dalam memberikan perlindungan represif saat kejadian berlangsung memicu keprihatinan mendalam dari berbagai aktivis hak asasi manusia.

Melalui siaran pers ini, Perkumpulan Mitra Wacana menegaskan empat sikap dan tuntutan:
1) Konstitusi Di Atas Segalanya: Mengingatkan semua pihak bahwa Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945 secara mutlak menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Tidak ada aturan lokal, kesepakatan sepihak, atau tekanan massa yang boleh berdiri di atas amanat konstitusi ini.

2) Hentikan Pola Pembiaran: Mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas. Negara tidak boleh kalah oleh tekanan kelompok intoleran. Kami mendukung penuh langkah penegakan hukum yang kini tengah dinaikkan ke tahap penyidikan oleh Polda DIY agar seluruh pelaku intimidasi diusut tuntas demi memutus rantai impunitas persekusi.

3) Menolak Politisasi Izin Rumah Ibadah: Birokrasi dan administrasi perizinan seharusnya berfungsi untuk menata, bukan menjadi senjata legal bagi kelompok tertentu untuk menjegal hak beribadah warga negara. Pemerintah daerah wajib memfasilitasi solusi ruang aman beribadah, bukan justru memaklumi penghentian ibadah dengan dalih kelengkapan berkas.

4) Yogyakarta Kota Toleransi: Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengembalikan marwah Yogyakarta sebagai ruang hidup yang inklusif. Keberagaman hanya bisa dirawat dengan tenggang rasa dan penegakan hukum yang adil, bukan dengan pemaksaan kehendak atau aksi premanisme berkedok agama.

Perkumpulan Mitra Wacana percaya bahwa kedamaian sejati di Panggungharjo dan Bantul pada umumnya hanya bisa dicapai ketika setiap warga negara, tanpa terkecuali, merasa aman dan dilindungi saat mengetuk pintu langit melalui doa-doa mereka. Beribadah dengan tenang adalah hak konstitusional yang tidak bisa ditawar, ditunda, atau dikompromikan oleh tekanan massa apa pun.

Bantul 28 Mei 2026

Narahubung:
Divisi Media dan Pengelolaan Pengetahuan Perkumpulan Mitra Wacana
Email: mitrawacanawrc@gmail.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Berita

Human Trafficking Month – 30th of July 2026

Published

on

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam

The month July is recognized as Anti-Human Trafficking Month (Bulan Anti Perdagangan Manusia) in Indonesia, a nationwide campaign dedicated to raise awareness about human trafficking and promoting coordinated action against exploitation. Human trafficking remains a significant human rights issue in Indonesia. Women, children and migrant workers are vulnerable to exploitation, including forced labour, sexual exploitation, forced marriage and online recruitment scams. Factors such as poverty, limited employment opportunities, unequal access to education and misinformation increase’s people’s vulnerability.

On the 30th of July 2026, organizations, academics, government representatives and community members gathered at the Faculty of Law of Universitas Gadjah Mada (UGM) for an event dedicated to this Anti-Human Trafficking Month. Mitra Wacana collaborated with various organizations to aim to raise awareness about human trafficking while promoting collaboration in prevention, protection and victim support.

The event opened with participant registration, followed by an opening ceremony featuring welcoming remarkss and a cultural performance. Throughout the day, visitors could also explore a small Bazar, filled with products from local entrepreneurs and creating space for community engagement alongside the educational program.

The day consisted of several panel discussions featuring experts from universities, migrant worker organizations, government members, and legal institutions. The event started with a panel discussion that discussed the theme ‘Facing the New Face of Human Traffiking: Collaboration for Protection and Law Enforcement’. The speakers discussed the increasing vulnerability of migrant workers, online recruitment methods, and the need for stronger legal protection and law enforcement.

The second panel discussion talked about the ‘Collaboration on Prevention and Handling of Human Trafficking: Organizing, Advocacy, Campaigns, Legal and Psychological Assistance’. The presentations from the different organizations emphasized the importance of collaboration between professionals from different sectors, including lawyers, psychologist, educators and local communities.

The last discussion discussed the theme ‘Various Modes of Human Trafficking: from student trafficking, arranged marriages and the role of interfaith networks in preventing and handling human trafficking’. The panel explored the diverse and evolving forms of human trafficking, emphasizing that exploitation can occur in a variety of social and cultural contexts.

Overall, the event provided an opportunity to increase awareness and to strengthen the collaboration between organizations committed to addressing and preventing the human trafficking issue in Indonesia. Through knowledge sharing, practical discussions and community engagement the event reinforced the message that preventing exploitation requires collective responsibility. This message is reflected in the slogan ‘Humans are not for sale, united against exploitation’.

Continue Reading

Trending