web analytics
Connect with us

Opini

The Importance of Talking about Sexual Health with Children

Published

on

Sumber foto: Freepik

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam

Adolescence is a critical stage where individuals begin to form their identity and explore their sexuality. Reproductive and sexual health development plays a critical role for adolescents in building social, emotional, and cognitive skills.

The reproductive health of adolescents has increased attention as a public health priority in many countries. Indonesian adolescents however often experience limited access to accurate reproductive health information, increasing their vulnerability to risky sexual behaviours, unintended pregnancies and sexually transmitted infections. Some parents in Indonesia still believe that discussing these topics with their children is inappropriate. However, the parents are an important source of information for adolescents, as information obtained from the internet or peers is not always accurate or reliable.

Therefore, it is essential to raise awareness of the importance of being healthy and communicative about sexuality and other issues, regardless of if sexual activity is present. Open communication about sexual health between parents and children can play an important role in increasing knowledge, to reduce misconceptions and support healthy sexual development. It can additionally act as a protective factor against unhealthy sexual behaivour. Studies among adolescents in Indonesia show that if the adolescents experienced good parental communication, they tended to wait with sexual initiation and are more consistent in using protection methods.

Parents can engage in conversations with their child to provide them with the knowledge and skills needed to make informed decisions about their sexual health and navigate sexual health-related issues. The conversations should be guided with openness, comfort and accurate information to increase their knowledge about puberty, promote health decision-making skills and build understanding of the importance of receiving appropriate sexual health care.

Sexual education goes further than reproduction and sexually transmitted infections. The focus should also lay on consent, violence prevention and healthy relationships. Sexual consent is essential for respectful, healthy, safe and legal sexual experiences. It is important to educate them about their own boundaries and how to respect the boundaries of other individuals.

How to start the conversation:

Every situations such as something they see on television, social media or hear at school can provide opportunities to start a conversation. The emphasis should be on listening without judgment and creating a safe environment where children feel comfortable asking questions. Providing this safe space and asking open-ended questions can encourage open communication.

Parents can begin by asking what their child already know by questions such as ‘What do your friends think?’ or ‘What did you learn at school?’. This allows parents to identify and correct any misconceptions while providing accurate, age-appropriate information. The conversation can be continued by asking open-ended questions to reflect on the information, for example ‘What do you think about that’ or ‘How would you handle that situation?’. If the child has questions, try to answer them openly but be honest if you don’t know the answer and you can look for reliable information together.

Open and ongoing communication, rather than having the single ‘sex-talk’, can be a more effective way of approaching this topic. It can consist of several short and natural discussions throughout childhood and adolescence. This provides trust and encourages adolescents to seek reliable information and support when needed. Parents do not need to have all the answers; being approachable, open and willing to listen is often more important than having the perfect response.

 

References

Azzizah, D. N., Imansari, B., Apriani, N., & Syabariyah, S. (2024). The correlation between parent communication and knowledge regarding sexual behavior in adolescents. Journal of Public Health Sciences, 3(02), 111–119. https://doi.org/10.56741/jphs.v3i02.605

Fitri, R. P., Syafriani, & Oktaviani, Y. (2025). The role of adolescent health services in promoting sexual health in Indonesia. Journal of Health and Nutrition Research, 4(1), 301–309. https://doi.org/10.56303/jhnresearch.v4i1.349

Harahap, Y. W., Nurlaila, Harahap, I., Antoni, A., Hasibuan, A. S., & Suryati. (2025). Analysis of parental communication and sexual risk behavior among adolescents based on gender. Science Midwifery, 13(5), 1292–1299.

Raising Children Network. (2025, February 25). Consent and sexual consent: Talking with children and teens. https://raisingchildren.net.au/school-age/connecting-communicating/tough-topics/sexual-consent-how-to-talk-with-children-teens

Rutgers WPF Indonesia, & Center for Reproductive Health, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. (2020, July). Adolescent sexual and reproductive health in Indonesia: The unfinished business (Issue 1, Vol. 5).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Tipu Muslihat dalam Fenomena Child Grooming di Indonesia

Published

on

Sumber foto: Freepik

  

Meilina Salsabila
Universitas Sebelas Maret

Kasus pelecehan dan eksploitasi anak masih banyak terjadi di Indonesia dan hal itu semakin mengkhawatirkan. Di Indonesia, pada tahun 2024 tercatat lebih dari 20.000 lebih kasus pelecehan dan eksploitasi terhadap anak, hal tersebut berdasarkan data SIGA KemenPPPA. Salah satu bentuk dari kasus pelecehan anak yang masih marak terjadi di Indonesia yaitu child grooming. Child grooming adalah tindakan pelecehan seksual kepada anak yang dilakukan oleh orang dewasa dengan membangun hubungan emosional dalam tujuan mengeksploitasi dan melakukan pelecehan kepada anak-anak.

Baru-baru ini di Surabaya, Jawa Timur terjadi kasus child grooming berujung ancaman pembunuhan yang dilakukan seorang ayah tiri kepada salah satu anak kembarnya, pada kasus ini ayah tiri sebagai pelaku melakukan manipulasi psikologis terhadap anak dengan mengatakan bahwa melaporkan kasus kekerasan seksual tersebut hanya akan sia-sia, serta mengancam korban akan dibunuh jika melaporkan. Hal  ini yang membuat korban merasa takut dan pesimis untuk melaporkan tindakan ayah tirinya. Di Indonesia child grooming belum diatur sebagai tindak pidana mandiri tetapi masuk ke dalam kategori undang-undang perlindungan anak dan kekerasan seksual, yaitu UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan UU ITE No. 19 Tahun 2016.

Meskipun sudah memiliki beberapa regulasi untuk menindak kasus terkait child grooming, tantangan utama yang masih dihadapi terletak pada proses mengenali praktik tersebut, karena hal ini disebabkan pelaku dalam bertindak dilakukan dengan cara memanipulasi korban sehingga tindakan tersebut kerap kurang disadari oleh masyarakat. Kondisi itu menyebabkan kasus terungkap setelah terjadi eksploitasi atau pelecehan. Dalam child grooming pola pendekatan pelaku kepada korban bisa disebut dengan istilah “tipu muslihat”, yang mana hal itu dilakukan dengan beberapa cara oleh pelaku:

  1. Dengan melakukan pendekatan emosional, pendekatan ini dilakukan dengan tindakan manipulatif berupa pemberian perhatian dan pujian yang berlebihan, memberikan sebuah hadiah atau barang-barang berharga untuk memunculkan ketertarikan atau ikatan emosional terhadap anak-anak. Biasanya pelaku menargetkan  kepada korban yang memiliki kerentanan dari sisi emosional dan psikologis. 
  2. Memisahkan anak dari lingkungannya, setelah mendapatkan ikatan emosional pelaku akan berusaha menjauhkan anak dari orang-orang terdekatnya. Pelaku akan mulai menggunakan istilah “rahasia” antara pelaku dan korban. Perkataan yang akan dikatakan oleh pelaku kepada korban seperti, “Ini rahasia kita ya, jangan beri tahu siapa-siapa,” atau “Jangan cerita ini sama orang tuamu ya, nanti mereka bakal marah sama kamu. Ini  jadi rahasia kita berdua saja.” Perilaku ini akan membuat anak tidak berani untuk bercerita kepada  orang-orang terdekat mereka.
  3. Mulai menormalisasi pembahasan yang menjurus ke arah seksual, dalam pola ini korban atau anak sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang dilecehkan karena pelaku melakukan tindakan dengan candaan.
  4. Mempertahankan kendali terhadap korban, setelah melakukan tindakan pelecehan pelaku akan mencoba untuk memegang kendali terhadap anak dengan memanipulasi sisi emosional dan rasa bersalah agar anak menjadi ketakutan dan bungkam.

            Keberhasilan pelaku dalam membangun hubungan emosional dengan cara memanipulasi, sering kali menjadi awal munculnya dampak negatif bagi anak yang menjadi korban. Pertama, anak yang menjadi korban child grooming dapat mengalami gangguan psikologisnya, seperti rasa takut, malu, cemas, kehilangan rasa kepercayaan diri, dan kepercayaan kepada orang lain di masa depan.

Kedua, akan berdampak untuk cara anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, anak akan menarik diri atau tertutup dari orang-orang terdekat. Ketiga, tinggi terjadinya risiko eksploitasi dan kekerasan kepada anak, karena pelaku akan memanfaatkan ikatan emosional dari korban untuk melakukan tindakan apa yang pelaku inginkan terhadap korban dengan menggunakan ancaman.

Dampak yang ditimbulkan child grooming tidak terlepas dari cara pelaku dalam melakukan pola pendekatan membangun hubungan dengan korban. Dari banyak kasus, pelaku dalam tindakan tersebut tidak hanya orang asing saja tetapi seseorang yang telah memiliki kedekatan dengan anak sehingga proses manipulasi terjadi lebih mudah dilakukan.

Hal ini menggambarkan bahwa lingkungan yang seharusnya aman bagi anak menjadi sebaliknya. Berdasarkan tantangan yang masih dihadapi, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat karena minimnya pengetahuan orang dewasa disekitar anak terhadap isu child grooming, maka perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi dengan menargetkan kepada orang-orang dewasa seperti keluarga, orang tua, dan pendidik, untuk mengenal karakteristik, pola pendekatan, dan tanda-tanda dari child grooming. Oleh karena itu, masyarakat perlu diberi pemahaman yang mendalam untuk mengenal bagaimana melakukan pencegahan terjadinya fenomena child grooming terhadap anak serta cara untuk melaporkan. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan edukasi terhadap masyarakat dan memberikan layanan perlindungan yang dapat menjamin rasa aman dan hak-hak mereka untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa merasa tertekan dan terintimidasi.

 

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending