web analytics
Connect with us

Opini

Binar Jenggala

Published

on

Namira Khasna Yuni Asti Azka
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dam Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta

“Kamar, Dek?”

Penawaran itu terlontar begitu saja dari seorang laki-laki paruh baya yang duduk di depan gerbang hijau Pasar Kembang, seperti kalimat yang terlalu sering diucapkan sampai kehilangan rasa bersalah. Kulihat wajah laki-laki yang berjalan di sampingku itu terkejut. Pandangannya tampak kikuk seperti mencerna sesuatu yang tak benar-benar melintas dipikirannya. Sedetik kemudian ia menarikku menjauh dari jalan raya karena aku berjalan terlalu menjorok. Aku nyaris limbung, sebelum akhirnya kewarasanku kembali.

Laki-laki itu, Jenggala. Seseorang yang sempat kutinggali hati waktu SMA. Sekarang badannya makin jangkung, punggungnya semakin lebar, dan ia sudah tak bau kapur barus lagi. Dari dekat, aku bisa mencium aroma kayu manis dan vanilla yang entah kenapa tak terlalu kusukai. Hari itu dia tiba-tiba datang ke Yogyakarta. Ada tes, katanya. Aku menyambutnya datang tanpa antusias yang berarti. Aku sudah pastikan rasaku telah berhenti dua tahun lalu. Malam itu, kami bertemu seperti teman lama.

“Barusan itu, apa?”

Kami melanjutkan langkah semakin jauh, tidak menghiraukan penawaran kamar itu layaknya angin yang membawa gulungan ombak di Pantai Selatan. Aku tak bingung menjawab. Di kepalaku, ada kata protitusi yang melintas. Bahkan aku bisa membayangkan kamar lembab lima puluh ribuan yang dijajakan.

“Ditawarin kamar.”

Langkah kami masih sama-sama terpacu. Aku bisa mencium aroma hujan yang akan segera datang dan tersenyum tipis. Aku pernah sekali masuk ke gang itu karena penasaran. Isinya tak ada yang aneh, jauh dari bayanganku sebelumnya. Aku kira isinya lampu warna-warni dengan perempuan rok di atas lutut yang menjajakan diri. Di sana tampak tenang, bahkan mesin kendaraan harus dimatikan.

“Sering?”

“Aku tidak pernah menghitung berapa kali aku ditawari kamar, Jenggala.”

Jenggala tak menjawab. Hanya saja langkahnya sedikit melambat tatkala kami sampai di depan motornya yang terparkir di seberang Stasiun Tugu, tepat di depan hotel yang lampunya tampak menarik mata dari kejauhan. Baru beberapa saat kami berkendara, angin membawa aroma basah yang akrab. Benar saja, hujan mulai turun ketika kami berkendara. Ia langsung mangkir ke minimarket terdekat, aku bisa merasakan kemeja kotak-kotaknya tampak sedikit basah di bagian depan. Sedikit lucu dan terburu-buru mengingat beberapa saat yang lalu kami duduk berdua sambil makan eskrim yang rasanya cukup familiar. Mirip dengan susu kemasan di warung. Kereta api beberapa kali melintas di depan, memecah beberapa kalimat yang sempat kami mulai lalu meninggalkannya setengah jadi.

Kami membahas banyak hal malam itu. Tentang kehidupan akhir-akhir ini, tentang orang-orang yang pernah kami pilih dengan sungguh-sungguh mengira kami telah sampai di stasiun akhir. Aku memerhatikannya yang terus berbicara dengan lamat. Mungkin jika yang sekarang duduk bersamanya adalah aku yang berusia 16 tahun, keadaannya tidak akan seperti ini. Mungkin gadis dengan rambut keriting dengan poni kependekan yang dia potong sendiri ini akan melihat Jenggalanya dengan mata berbinar. Ia lebih banyak bercerita daripada mendengar. Dan kebetulan, telingaku sedang cukup baik malam itu.

“Sebenarnya perempuan tidak keberatan jika menunggu laki-lakinya berusaha.” kataku pelan, nyaris seperti gumam yang terselip di antara sisa percakapan yang mulai berulang. Ia tidak segera menanggapi. Wajahnya menyimpan jeda yang ganjil seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia benarkan, namun belum sepenuhnya ia percayai.

Ia kemudian berbicara pelan dengan nada yang terdengar lebih hati-hati dari sebelumnya. Tentang waktu yang panjang, tentang jarak yang terasa sulit dikejar, tentang kemungkinan-kemungkinan yang sejak awal sudah ia ukur sebagai sesuatu yang tidak akan cukup. Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

“Apakah ia benar-benar tidak menunggu, atau kamu yang terlihat tidak yakin?” tanyaku. Kalimat itu jatuh begitu saja. Kereta kembali melintas. Suaranya memecah udara, merambat di sepanjang rel seperti sesuatu yang tak bisa ditarik kembali. Kami tidak melanjutkan kalimat untuk beberapa saat, membiarkan bising itu menutup apa yang belum selesai kami pahami.

Ia akhirnya mengakui sesuatu tentang keinginannya untuk bersikap realistis, tentang kesadarannya bahwa ia belum mampu memberi apa yang selama ini dianggap sebagai standar. Ucapannya tidak terdengar pahit hanya terasa seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdamai dengan kemungkinan terburuk.

Aku menghela napas pelan.

“Terkadang yang membuat seseorang pergi bukan karena kita belum sampai. Melainkan karena kita terlihat ragu untuk sampai ke sana.” Kataku.

Ia menoleh, seolah baru benar-benar mendengar. Aku tidak mengubah ekspresi.

“Keraguan itu tampak, Jenggala dan keraguan orang lain bukanlah tanggung jawab kita untuk diperbaiki.”

Angin malam lewat perlahan, membawa sisa hujan yang belum sepenuhnya hilang. Bau tanah basah dan rel yang dingin bercampur menjadi sesuatu yang akrab, namun tak sepenuhnya menenangkan. Kami terdiam lebih lama setelah itu.

“Aneh,” kataku kemudian, nyaris tanpa suara.

 “kita sering kali mengira hubungan berakhir karena ekonomi.” Aku menatap lurus ke depan. Rel yang tadi riuh kini kembali sunyi, seperti tidak pernah dilewati apa pun.

“Padahal yang runtuh kadang adalah cara kita memandang diri sendiri di dalam sistem yang terus membuat kita merasa kurang.”

Ia tidak menyela. Aku melanjutkan perkataanku setelah yakin dia tak akan menimpali.

“Kita dibesarkan dengan keyakinan bahwa laki-laki harus menyediakan segalanya, seolah-olah itu satu-satunya cara untuk layak dipilih. Sementara biaya hidup terus meningkat, standar hidup ikut meninggi, tetapi yang dituntut tetap orang yang sama.”

Kereta lain melintas, lebih lambat. Suaranya tidak lagi memekakkan, justru terasa seperti sesuatu yang mengendap, berulang, dan tak pernah benar-benar pergi.

“Negara ini begitu lihai menjadikan segalanya tampak sebagai tanggung jawab pribadi,” lanjutku.

“Seolah-olah ketika seseorang tidak sampai, itu semata-mata karena ia kurang berusaha.”

Aku menoleh padanya.

“Padahal ada banyak hal yang bahkan tidak pernah kita pegang kendalinya.”

Ia menarik napas panjang. Untuk sesaat, wajahnya terlihat lebih lelah daripada sebelumnya. Bukan karena hari itu, melainkan karena sesuatu yang telah lama ia bawa. Ia bertanya dengan ragu, seolah tidak sepenuhnya siap menerima jawabannya. Aku menggeleng pelan.

“Bukan keliru,” kataku. “Kamu hanya melihat dari tempat yang membuatmu terus merasa harus mengejar.”

Kemudian sunyi jatuh di antara kami.

Ia kembali menyebut nama perempuan itu, kali ini lebih pelan. Dengan tambahan keterangan bahwa keputusan perempuan itu untuk tak lagi menahannya lagi cukup mengejutkan baginya.

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin ia hanya melihat seseorang yang belum benar-benar yakin akan berdiri di mana.”

Rel di hadapan kami kembali lengang.

“Dan tidak semua orang memiliki waktu untuk menunggu seseorang yang masih ragu pada dirinya sendiri.”

Beberapa hari setelah malam itu, kami hanya saling bertukar pesan singkat seperti ucapan terima kasih karena saling meluangkan waktu. Benar-benar seperti teman lama yang kembali bertemu. Ia kembali ke kotanya dan aku tetap di sini, melanjutkan apa yang sudah aku mulai sejak tiga tahun lalu. Pesan terakhirnya datang tanpa jeda panjang, sederhana saja,

“Semangat jadi warga negara yang baik ya.”

Aku tergelak.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial

Published

on

Sumber foto: Freepik

Adela Damanik mahasiswi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Pada tanggal 20 Mei lalu, akun Instagram @ahmaddhaniofficial mendapatkan 700 lebih komentar buruk. Sebuah unggahan yang menampilkan Ahmad Dhani bersama istrinya saat menghadiri sebuah rapat dengan keterangan, “Barusan dengar pidato Presiden yang revolusioner soal menentukan sendiri harga sawit, batu bara, nikel, dan lain-lain. Slide 2 video colongan Raffi Ahmad,” dihujani komentar-komentar berupa opini, kritik pedas, hujatan, hingga kata-kata kasar yang ditujukan kepada Ahmad Dhani dan istrinya. Fenomena hate comment  seperti ini sepertinya sudah dinormalisasikan di ruang digital kita.

Berdasarkan data Napoleon Cat pada Januari 2026, jumlah pengguna Instagram di Indonesia mencapai 121, 54 juta pengguna, atau setara dengan 42,4% dari total populasi penduduk Indonesia. Tingginya angka tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih berkomunikasi di dunia maya. Platform ini memang media yang mudah untuk berkomunikasi, berinteraksi, berekspresi, dan berkolaborasi, berbagi, menyampaikan pendapat atau kririk secara virtual (Aji, 2023). Kita dapat melontarkan apapun dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Namun, kemudahan ini justru membuat interaksi di dunia maya menjadi pisau bermata dua. Alih-alih membuat obrolan makin seru, komentar yang dilontarkan kerap memicu konflik.

Berlindung dibalik “kebebasan berpendapat” membuat membuat kita sebagai netizen sering sekali asal dalam berbicara. Netizen cenderung melontarkan komentar buruk kepada penerima tuturan tanpa memikirkan perasaan si penerima tuturan. Etika berbicara yang biasanya dijaga ketika berkomunikasi secara langsung, mendadak hilang saat jari mulai menari di atas layar gawai. Apabila hal terus dinormalisasikan, media sosial yang awalnya menjadi ruang interaksi yang sehat justru berbalik menjadi lingkungan toxic yang memudarkan kesantunan berbahasa.

Untungnya, persoalan ini dapat diatasi dengan sebuah ilmu bahasa, khususnya dalam kajian pragmatik. Ada satu teori yang menerapkan enam aturan dalam menjaga kesantunan berbahasa. Keenam aturan ini dirumuskan dalam teori prinsip kesantunan berbahasa Geoffrey Leech yang terdiri dari: maksim kearifan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, kemufakatan, dan kesimpatian.

Namun, teori tetaplah teori jika tidak dipraktikkan. Ratusan hate comment pada akun Instagram Ahmad Dhani tersebut bukan lagi sekadar kebebasan berekspresi, melainkan wujud nyata pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Lantas, seperti apa persisnya bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan netizen saat sedang  memuaskan ego untuk mengkritik orang lain?

  1. Maksim Kearifan

Maksim kearifan dalam hal yang bersifat imposisi dan komisi, yang umumnya diterapkan dalam tindak tutur ilokusi direktif dan komisif. Prinsip ini meminimalkan beban atau kerugian bagi orang lain, serta memaksimalkan keuntungan atau manfaat bagi mitra tutur. Dalam kegiatan bertutur, maksim ini menuntut penutur untuk selalu mengurangi keuntungan diri sendiri demi memprioritaskan kenyamanan pihak lain. Pelanggaran maksim kearifan, yaitu peserta tutur memaksimalkan kerugian orang lain, atau meminimalkan keuntungan orang lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:

Aithoshoutai: “@secondrecht.catalogue dodol barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂” (Jual barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂)

Tuturan @aithoshoutai termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan kerugian orang lain. Maksud dari akun instagram @aithoshoutai adalah menyampaikan ketidaksetujuan dengan pendapat akun instagram @secondrecht.catalogue, tetapi tidak menggunakan bahasa yang tidak santun dan merugikan orang lain dengan menjelek-jelekkan jualan orang lain.

  1. Maksim Kedermawanan

            Penutur meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Pelanggaran maksim kedermawanan, yaitu peserta pertuturan memaksimalkan atau memperbanyak keuntungan bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan bagi pihak lain. Namun, maksim kedermawanan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.

  1. Maksim Penghargaan

            Penutur meminimalkan kritik/celaan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. Pelanggaran maksim penghargaan ini, yaitu tidak memberikan penghargaan pada pihak lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:

Zahra_store_pekalongan: “NGGAK PANTAS JADI ANGGOTA DPR. YG MILIH SOPO TO.” (Nggak pantas jadi anggota DPR. Yg milih siapa sih.)

Tuturan akun instagram @zahra_store_pekalongan termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan penghinaan terhadap pihak lain, yaitu Ahmad Dhani dan Mulan Jamela. Pengguna instagram tersebut secara tidak langsung ingin menyampaikan maksud bahwa Ahmad Dhani dan Mulan Jamela tidak bekerja dengan baik dengan menyampaikan penghinaan secara langsung melalui ungkapan “Nggak pantas jadi anggota DPR.”

  1. Maksim Kesederhanaan

Penutur yang santun meminimalkan pujian terhadap dirinya sendiri dan memaksimalkan celaan/kerendahan terhadap dirinya sendiri. Menyombongkan diri atau menyetujui pujian tentang diri sendiri dianggap tidak santun. Pelanggaran maksim ini yaitu peserta tutur tidak dapat bersikap rendah hati dengan cara menambah pujian terhadap dirinya sendiri. Namun, maksim kesederhanaan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.

  1. Maksim Kemufakatan

            Penutur harus mengurangi ketidak sesuaian antara diri sendiri dengan orang lain, dan tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Pelanggaran maksim ini yaitu penutur dan lawan tutur meminimalkan kesetujuan di antara mereka, dan memaksimalkan ketidaksetujuan di antara mereka.

Secondrecht.catalogue: “Revolusioner ndasmu 😂.” (Revolusioner mulutmu 😂.)

Tuturan akun instagram @secondrecht.catalogue termasuk pelanggaran maksim kemufakatan karena memaksimalkan perbedaan pendapat dan meminimalkan kesetujuan yang sesuai dengan konteks postingan. Pengguna instagram tesebut secara tidak langsung menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pidato presiden mengenai revolusioner melalui ungkapan “Ndasmu,” di mana kata ndasmu merupakan bahasa kasar dari Bahasa Jawa yang memiliki artimu mulutmu.

  1. Maksim kesimpatian

            Maksim kesimpatian mengharuskan semua peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Pelanggaran maksim ini, yaitu peserta pertuturan tidak memaksimalkan rasa simpati, dan tidak meminimalkan rasa antipasti kepada lawan tuturnya. 

Muh.philow2020: “Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.” (Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.)

Tuturan akun instagram @muh.philow2020 termasuk pelanggaran maksim kesimpatian karena meminimalkan simpati dan memaksimalkan antipati. Pengguna instagram menggunaakan bahasa yang tidak santun dengan menyebutkan Jin Kampret  dan Jin Dasim sebagai Ahmad Dhani dan Mulan Jameela. Penutur menyampaikan ketidaksukaannya terhadap orang lain dengan menamai manusia sebagai jin. Padahal unggahan akun @ahmaddhaniofficial tidak ada yang salah, hanya mengunggah foto ia bersama sang istri pada slide pertama dan keadaan ruang sidang pada slide kedua.

            Pada akhirnya, ratusan komentar negatif di akun @ahmaddhaniofficial membuktikan bahwa netizen Indoensia memang sedang mengalami krisis kesantunan yang cukup parah. Melalui teori Geoffrey Leech, terbukti bahwa banyak netizen secara sadar maupun tidak sadar telah melanggar maksim kearifan, penghargaan, kemufakatan, hingga kesimpatian. Alih-alih meredam ego, pengguna media sosial justru sering kali memaksimalkan celaan dan antipati terhadap orang lain dengan berlindung di balik “kebebasan berpendapat“. Oleh karena itu, masyarakat harus kembali menerapkan etika berbahasa dunia nyata ke dalam interaksi dunia maya, agar kebebasan berpendapat tidak terus-menerus disalahartikan sebagai kebebasan untuk saling menghujat.

Continue Reading

Trending