Opini
Jalanan Yogyakarta yang Menyisakan Waspada Bagi Perempuan
Published
3 months agoon
By
Mitra Wacana

Namira Khasna Yuni Asti Azka
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dam Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta
Lekat dengan julukan kota pelajar dan pendidikan, Yogyakarta kerap dipromosikan sebagai kota yang ramah, nyaman, dan kaya nilai budaya. Namun sayangnya, terdapat realitas yang tidak sesuai dengan citra yang selama ini melekat dengan Yogyakarta. Jalanan belum sepenuhnya aman terutama untuk perempuan. Masalah utamanya bukan sekadar keramaian kota, melainkan adanya bentuk-bentuk pelecehan yang masih dinormalisasi di ruang publik.
Salah satu jenis pelecehan yang paling umum adalah catcalling (pelecehan verbal). Perempuan sering menghadapi masalah seperti komentar seksual, tatapan mesum, dan rayuan yang tidak diinginkan di jalanan. Meskipun tidak ada kontak fisik, tindakan ini tetap merupakan bentuk pelecehan verbal. Dampaknya tidak boleh dianggap enteng, karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan, perasaan terintimidasi, atau bahkan ketakutan. Ironisnya, catcalling masih sering dianggap sebagai hal sepele. Banyak orang menganggapnya sebagai lelucon atau bentuk pujian. Perspektif ini menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam, yaitu budaya yang masih memungkinkan objektivasi tubuh perempuan. Selama tindakan-tindakan ini terus terjadi secara normal, ruang publik tidak akan pernah benar-benar aman bagi perempuan.
Jalanan seharusnya dapat menjadi ruang aman bagi siapa saja untuk beraktivitas. Jalan adalah bagian dari ruang publik yang selalu dilibatkan dalam aktivitas bermasyarakat termasuk berinteraksi satu sama lain. Namun bagi sebagian besar perempuan, beraktivitas di ruang publik termasuk jalanan sering kali menjadi hal yang cukup berat untuk dilakukan. Perempuan di ruang publik berjalan beriringan dengan rasa waspada yang tidak selalu dapat dirasakan oleh orang lain. Identitas Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota wisata menjadikan kota ini menjadi salah satu kota dengan mobilitas yang cukup padat setiap harinya, termasuk aktivitas perempuan di dalamnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ruang publik tidak selalu bersifat netral. Sebagai seorang perempuan, ruang kota yang seharusnya aman justru seringkali menghadirkan pengalaman yang berbeda. Bagi perempuan, ruang kota sering kali menghadirkan pengalaman yang berbeda karena adanya risiko pelecehan verbal maupun bentuk gangguan lainnya. Dalam konteks ini, catcalling bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan juga berkaitan dengan cara pandang sosial yang masih menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dapat dikomentari secara bebas di ruang publik. Dalam hal ini, catcalling bukan hanya merupakan masalah perilaku individu, tetapi juga terkait dengan pandangan sosial yang masih menjadikan tubuh perempuan sebagai objek komentar yang bebas di ruang publik.
Di tengah persepsi Yogyakarta sebagai kota yang ramah, terbuka, dan menghargai nilai budaya, kehadiran praktik seperti catcalling menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara citra kota dan pengalaman nyata sebagian perempuan di jalanan. Sebagai kota pelajar yang kaya akan aktivitas pendidikan dan kota wisata yang terkenal ramah untuk pengunjung, seharusnya Yogyakarta dapat menyediakan ruang publik yang aman dan nyaman untuk semua orang.
Dampak nyata dari kondisi ini terlihat dari bagaimana perempuan menyesuaikan diri. Banyak yang memilih untuk menghindari jalan tertentu, mengubah cara berpakaian, atau bahkan membatasi aktivitas di luar rumah. Dalam konteks ini, perempuan dipaksa untuk beradaptasi terhadap ruang yang seharusnya juga menjadi milik mereka. Ini bukan lagi persoalan individu, melainkan persoalan keadilan dalam mengakses ruang publik.
Pada akhirnya, jalanan kota seharusnya menjadi tempat yang bisa dilalui tanpa merasa takut atau terlalu waspada. Ketika perempuan masih harus bergerak dengan sikap waspada, itu menunjukkan bahwa ruang publik belum sepenuhnya menjadi kawasan bersama secara adil. Yogyakarta, dengan segala identitasnya sebagai kota pelajar dan kota wisata, memiliki tanggung jawab untuk terus menciptakan ruang kota yang tidak hanya dinamis dan ramai, tetapi juga aman bagi perempuan yang beraktivitas di dalamnya.
Opini
Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)
Published
2 days agoon
13 July 2026By
Mitra Wacana

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)
Diam saja di sini bukan tidak ada kata-kata (selain dalil), seperti penjelasan, contoh, ijtihad dan pengkiasan suatu bahasan materi kajian, namun tidak memberikan solusi; diingatkan/diberitahu dengan kondisi negasinya sama saja, rakyat susah dan mengalami ekonomi miskin lagi fakir. Ingat pidato Prabowo, tentang mengedepankan para buruh dan pekerja kasar daripada mahasiswa kala itu dalam rangka memberi manfaat dalam kehidupan meski selang berapa bulan pejabat bahkan menterinya (MENKEU Sri Mulyani) rumahnya dijarah!
Setiap manusia yang membaca artikel ini tentu pernah mendengar perinahasa yang diajarkan saat kita masih kecil, bisa di sekolah TK, SD atau oleh ayah/ibu di yaitu rumah rajin pangkal pandai. Artinya ketelatenan akan mendatangkan hasil, termasuk dalam pengelolaan negara dan ketangkasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah seperti krisis.
Mengapa Wahabi? Adalah gerakan keagamaan yang masif mendakwahkan semangat pemurnian, secara esensi tidak ada menyangsikan, namun secara konsep tentu perlu dikaji ulang, terlebih dakwah dengan fasilitas ala modernitas berupa ideologi, sebab khususnya Wahabi meski telah berperan baik termasuk dalam menjaga kestabilan sosial dan keharmonisan masyarakat dalam naungan agama sesungguhnya pada sisi tertentu mengalami kebingungan sendiri. Kenapa? Berikut ulasan filosofisnya.
Paradoksal Islam Tradisional
Sadarkah kita, mereka yang mendakwahkan agama dengan semangat revivalis itu adalah mereka yang terdidik, meski “based on” TIMTENG, nyatanya mereka pendidikan mereka berjenjang, ada yang S1, S2 artinya mereka “well educated enough” sayangnya, ada “mis” di sana. Kalau mau jujur-jujuran, mereka kurang bersahabat dengan akar pendidikan sekaligus ibu keilmuan (“The Mother of Science”) yaitu Filsafat bahkan seringkali menyerang dan terhadapnya yang dinilai bukan produk luar agama cenderung tidak berakhlak.
Secara proaktif, Wahabi menutup (“cover“) rapat-rapat pintu ke sana seolah tidak ada kebaikan darinya sehingga dianggap tidak manfaat dan berbahaya. Padahal, secara semangat keduanya relaitif sama, sebab Filsafat, istilahnya saja dari “Philo“: cinta dan “Shofia” artinya ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, bahkan Shofia atau “Shofiyy” dalam bahasa Arab sendiri berarti murni. “Bukankah Wahabi juga punya semangat menuju agama atau Islam yang murni?”
Belajar dari Filsafat, menjembatani tradisional dengan medernitas, tantangannya adalah pada ranah ideologi. Contohnya bisa berupa kepentingan, pemahaman serta jalan (“sabiil“). Maka sekali lagi bukan ensensi baik Filsafat terlebih agama. Jika pada Filsafat dalam spesifikasi keilmuan dan Antrologi dan/ Ilmu Budaya bisa dilihat pada perhelatan budaya dalam berbagai festival. Bedanya, usaha produksi tradisi masa lalu ke zaman sekarang ala Wahabi menghadirkan ketenangan dan pengalaman spiritual yang dalam lagi penuh kemuliaan.
“Emang Masalah Apa?”
Pertanyaan ini bukan maksud menyindir atau nyinyir kepada mereka yang berniat baik dengan berkontribusi positif bagi negeri dengan kapasitasnya meski dalam relasi namun berada di luar lingkar kekuasaan. Wahabi adalah sebagai yang diakui bersama: penganut dan pemerhati adalah bersifat ideologis nampaknya penting memperhatikan esensi agama yang didakwahkan, seperti kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dan keadilan yang tentu tidak untuk dinafikan atau apatis dan berlepas diri sepenuhnya.
Beranjak dari sana dan berbagai asumsi lain yang relatif sama, selain berdo’a, celah yang dapat dimanfaatkan adalah ruang usaha (“Wus’a“). Harapannya realitas sebagaimana dalam pandangan Filsafat atau keilmuan umum berupa holistik dapat terakomodir setelah terdistorsi sedemikian rupa tentunya sebagaimana dalam konsekuensi rasional ideologi.
Dengan demikian, langkah dakwah para Wahabi dan para penerusnya bukan sekedar dakwah sebagai tanggung jawab keilmuan, namun juga kontribusi terhadap keilmuan yang telah memberi ruang bagi mereka dan menjadikan produknya yang berkesesuaian dengan ideologi bangsa Indonesia itu sendiri. Termasuk menghadapi kondisi ekonomi miskin seperti sekarang, sikap berupa usaha juga penting, termasuk perbaikan terhadap pengelola pemerintah dan pemangku kekuasaan negeri ini yang sedang mengalami ekonomi yang sulit ini.

Dinas Sosial PPPA Kulon Progo, Mitra Wacana, dan BP3MI DIY Berkomitmen Lindungi Kelompok Rentan melalui Sosialisasi dan Deklarasi Pencegahan TPPO

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)

Dinas Sosial PPPA Kulon Progo, Mitra Wacana, dan BP3MI DIY Berkomitmen Lindungi Kelompok Rentan melalui Sosialisasi dan Deklarasi Pencegahan TPPO

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)






