Opini
Jalanan Yogyakarta yang Menyisakan Waspada Bagi Perempuan
Published
4 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Namira Khasna Yuni Asti Azka
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dam Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta
Lekat dengan julukan kota pelajar dan pendidikan, Yogyakarta kerap dipromosikan sebagai kota yang ramah, nyaman, dan kaya nilai budaya. Namun sayangnya, terdapat realitas yang tidak sesuai dengan citra yang selama ini melekat dengan Yogyakarta. Jalanan belum sepenuhnya aman terutama untuk perempuan. Masalah utamanya bukan sekadar keramaian kota, melainkan adanya bentuk-bentuk pelecehan yang masih dinormalisasi di ruang publik.
Salah satu jenis pelecehan yang paling umum adalah catcalling (pelecehan verbal). Perempuan sering menghadapi masalah seperti komentar seksual, tatapan mesum, dan rayuan yang tidak diinginkan di jalanan. Meskipun tidak ada kontak fisik, tindakan ini tetap merupakan bentuk pelecehan verbal. Dampaknya tidak boleh dianggap enteng, karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan, perasaan terintimidasi, atau bahkan ketakutan. Ironisnya, catcalling masih sering dianggap sebagai hal sepele. Banyak orang menganggapnya sebagai lelucon atau bentuk pujian. Perspektif ini menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam, yaitu budaya yang masih memungkinkan objektivasi tubuh perempuan. Selama tindakan-tindakan ini terus terjadi secara normal, ruang publik tidak akan pernah benar-benar aman bagi perempuan.
Jalanan seharusnya dapat menjadi ruang aman bagi siapa saja untuk beraktivitas. Jalan adalah bagian dari ruang publik yang selalu dilibatkan dalam aktivitas bermasyarakat termasuk berinteraksi satu sama lain. Namun bagi sebagian besar perempuan, beraktivitas di ruang publik termasuk jalanan sering kali menjadi hal yang cukup berat untuk dilakukan. Perempuan di ruang publik berjalan beriringan dengan rasa waspada yang tidak selalu dapat dirasakan oleh orang lain. Identitas Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota wisata menjadikan kota ini menjadi salah satu kota dengan mobilitas yang cukup padat setiap harinya, termasuk aktivitas perempuan di dalamnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ruang publik tidak selalu bersifat netral. Sebagai seorang perempuan, ruang kota yang seharusnya aman justru seringkali menghadirkan pengalaman yang berbeda. Bagi perempuan, ruang kota sering kali menghadirkan pengalaman yang berbeda karena adanya risiko pelecehan verbal maupun bentuk gangguan lainnya. Dalam konteks ini, catcalling bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan juga berkaitan dengan cara pandang sosial yang masih menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dapat dikomentari secara bebas di ruang publik. Dalam hal ini, catcalling bukan hanya merupakan masalah perilaku individu, tetapi juga terkait dengan pandangan sosial yang masih menjadikan tubuh perempuan sebagai objek komentar yang bebas di ruang publik.
Di tengah persepsi Yogyakarta sebagai kota yang ramah, terbuka, dan menghargai nilai budaya, kehadiran praktik seperti catcalling menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara citra kota dan pengalaman nyata sebagian perempuan di jalanan. Sebagai kota pelajar yang kaya akan aktivitas pendidikan dan kota wisata yang terkenal ramah untuk pengunjung, seharusnya Yogyakarta dapat menyediakan ruang publik yang aman dan nyaman untuk semua orang.
Dampak nyata dari kondisi ini terlihat dari bagaimana perempuan menyesuaikan diri. Banyak yang memilih untuk menghindari jalan tertentu, mengubah cara berpakaian, atau bahkan membatasi aktivitas di luar rumah. Dalam konteks ini, perempuan dipaksa untuk beradaptasi terhadap ruang yang seharusnya juga menjadi milik mereka. Ini bukan lagi persoalan individu, melainkan persoalan keadilan dalam mengakses ruang publik.
Pada akhirnya, jalanan kota seharusnya menjadi tempat yang bisa dilalui tanpa merasa takut atau terlalu waspada. Ketika perempuan masih harus bergerak dengan sikap waspada, itu menunjukkan bahwa ruang publik belum sepenuhnya menjadi kawasan bersama secara adil. Yogyakarta, dengan segala identitasnya sebagai kota pelajar dan kota wisata, memiliki tanggung jawab untuk terus menciptakan ruang kota yang tidak hanya dinamis dan ramai, tetapi juga aman bagi perempuan yang beraktivitas di dalamnya.
You may like
Opini
Pecinta Pedas Yuk Merapat: Cobain Mangut Kepala Manyung Yang Lezat, Dijamin Nagih
Published
1 week agoon
5 May 2026By
Mitra Wacana
Oleh Eka Lestari
Penggemar ikan udah pernah nyobain kuliner yang satu ini belum? Namanya mangut kepala manyung, kuliner sedap dengan cita rasa yang khas. Mangut kepala manyung merupakan hidangan unik dari pesisir Utara Jawa Tengah. Kuliner ini bisa dibilang legendaris dan jadi andalan di Kota Semarang. Mangut kepala manyung adalah salah satu hidangan khas Semarang. Konon, makanan ini sudah ada sejak 1960-an. Berakar dari budaya kuliner Pantura Jawa Tengah, dan banyak ditemukan di Kota Atlas dan sekitarnya.
Sesuai namanya, hidangan ini berisi kepala ikan manyung, yaitu ikan laut yang termasuk dalam kelompok ikan berkumis atau famili Ariidae. Bentuknya seperti ikan lele, tapi ukurannya lebih besar. Ikan manyung punya daging yang tebal dan cenderung tidak begitu amis.
Ciri khas dari hidangan ini menggunakan kepala ikan manyung yang sudah diasap. Rasanya pedas bercampur kuah santan yang gurih. Uniknya, mangut kepala manyung punya aroma begitu khas yang berasal dari proses pengasapan ikan yang dilakukan secara tradisional.
Teknik pengolahannya sangat menarik. Sebelum dimasak menjadi hidangan lezat, kepala ikan manyung diasap terlebih dahulu (dengan kayu atau tempurung kelapa), tujuannya untuk menciptakan aroma smoky yang meresap ke dalam daging. Selain itu, pengasapan dilakukan sebagai cara pengawetan alami. Dengan metode pengasapan tersebut, bisa mengurangi kadar air dan mengubah tekstur kulit menjadi mengkilap.
Hidangan ini juga kaya akan rempah, jadi bumbunya terasa medok. Hal itu bisa dirasakan dari kuahnya yang kental dan berbumbu, terdiri dari kunyit, cabai, kencur, jahe, ketumbar, daun salam, lada, dan santan yang menonjolkan aroma gurih, dan sedikit asam. Kombinasi rempah tersebut menciptakan kuah yang pedas dan enak di lidah. Dagingnya melimpah dan ukurannya yang besar menjadikannya sebagai kuliner pantura. Rasanya juara dan porsinya yang tidak seperti biasanya, dianggap oleh sebagian orang sebagai kuliner mewah.
Kini, mangut kepala manyung jadi salah satu kuliner Semarang yang sering diburu oleh wisatawan. Rasanya yang khas dan porsinya yang menyenangkan, membuat hidangan ini jadi primadona oleh beberapa kalangan.
Kalau kamu mampir ke Kota Semarang, ada salah satu warung makan yang menyajikan hidangan tersebut yaitu Mangut Kepala Manyung Bu Fat. Tempatnya sering didatangi wisatawan dan terkenal di kalangan pecinta kuliner.
Lokasinya sudah punya beberapa cabang yaitu di Jalan Ariloka, Krobokan, Kecamatan. Semarang Barat, Kota Semarang dan Jalan Sukun Raya No. 36, Banyumanik, Semarang.
Yuk guys kalau kamu main ke Semarang, cobain mangut kepala manyung. Dijamin bakal ketagihan deh..








