Opini
Kampung Batik Kauman: Jantung Batik Solo yang Terus Berdetak
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Claresta Aurelia Helga
Mahasiswi Pendidikan Geografi Universitas Sebelas Maret
Di balik ramainya pusat Kota Solo, Kampung Batik Kauman masih menyimpan denyut tradisi yang terus hidup hingga hari ini. Berada tidak jauh dari Keraton Surakarta, kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra batik tertua di Kota Bengawan. Di tengah perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, Kampung Batik Kauman tetap mempertahankan identitasnya sebagai rumah bagi para perajin dan pelaku usaha batik.
Memasuki kawasan Kauman, pengunjung akan disambut gerbang Kampung Wisata Batik Kauman yang menjadi penanda kawasan. Lorong-lorong kampung dihiasi payung warna-warni yang menggantung di atas jalan, sementara pepohonan rindang dan tanaman hias yang tumbuh di berbagai sudut menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman. Pemandangan tersebut memberikan kesan hangat bagi siapa saja yang datang berkunjung, sekaligus menunjukkan bahwa kampung ini tidak hanya menjadi pusat batik, tetapi juga destinasi wisata yang menarik untuk dijelajahi.
Di sepanjang kawasan, showroom dan galeri batik berdiri berdampingan dengan bangunan-bangunan tua yang masih terawat. Perpaduan arsitektur Jawa, Indis, dan kolonial menghadirkan nuansa khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Beberapa sudut kampung bahkan menjadi spot favorit wisatawan untuk berfoto, seperti bangunan dengan pintu berwarna cerah yang dihiasi tanaman rambat atau lorong-lorong kecil yang dipenuhi ornamen bernuansa batik. Keindahan visual tersebut membuat Kampung Batik Kauman memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang gemar mengabadikan momen di media sosial.
Sejarah Kampung Batik Kauman berakar dari kedekatannya dengan Keraton Surakarta. Pada masa lampau, masyarakat Kauman banyak yang berprofesi sebagai pembatik untuk memenuhi kebutuhan keluarga keraton. Dari lingkungan inilah berbagai motif dan teknik membatik berkembang, kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi masih terus dijaga hingga sekarang.
Di beberapa rumah produksi, proses membatik masih dilakukan secara manual. Tangan-tangan perajin dengan sabar menggoreskan canting di atas kain, menciptakan pola demi pola yang membutuhkan ketelitian tinggi. Proses yang panjang tersebut menjadi pengingat bahwa selembar kain batik lahir dari keterampilan, kesabaran, dan nilai budaya yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Selain menjadi pusat produksi, Kampung Batik Kauman juga berkembang sebagai destinasi wisata budaya. Wisatawan yang datang tidak hanya mencari batik untuk dibawa pulang, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana proses pembuatannya. Beberapa galeri bahkan membuka kelas membatik bagi pengunjung yang ingin mencoba secara langsung. Aktivitas ini menjadikan Kauman bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan ruang belajar mengenai salah satu warisan budaya bangsa.
Batik juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat. Berbagai usaha batik yang berkembang di Kauman membuka lapangan pekerjaan dan mendukung aktivitas ekonomi warga. Kehadiran wisatawan turut memberikan manfaat bagi sektor usaha lainnya, mulai dari kuliner hingga jasa pendukung pariwisata. Dengan demikian, batik tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Persaingan dengan produk tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal serta perubahan tren pasar menuntut para pelaku usaha untuk terus berinovasi. Di sisi lain, regenerasi perajin menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian agar tradisi membatik tidak berhenti pada generasi saat ini. Berbagai pelatihan, promosi digital, dan kegiatan edukasi terus dilakukan sebagai upaya menjaga keberlanjutan batik Kauman di masa mendatang.
Keberadaan Kampung Batik Kauman menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan. Di tengah arus perkembangan kota yang semakin cepat, kawasan ini tetap menjadi ruang yang menjaga ingatan kolektif tentang batik sebagai bagian penting dari identitas Solo. Selama masih ada masyarakat yang merawat dan meneruskannya, denyut batik dari Kampung Kauman akan terus terdengar, menjadi jantung budaya yang tak pernah berhenti berdetak.
Opini
Jamu Temu Ireng: Terapi Mengatasi Gatal Penderita Darah Manis
Published
6 days agoon
17 June 2026By
Mitra Wacana

Adelia Selvira
Mahasiswa Jurusan Farmasi
Gatal seringkali dirasakan oleh seseorang dengan kondisi darah manis. Hal tersebut dapat membuat tidak nyaman serta mengganggu aktivitas di dalam keseharian. Darah manis itu bukan penyakit, bahkan belum ada pernyataan tentang cara penyembuhannya melainkan hanya cara meringankan efek gatalnya saja.
Mengutip jurnal Respati dan Budianti mengatakan bahwa darah manis yang dalam medis disebut prurigo nodularis adalah suatu kondisi kulit kronik yang menimbulkan rasa gatal mendadak menyebabkan garukan yang sulit dikontrol. Pada garukan yang terus-menerus menyebabkan luka bekas (lesi) merah, hingga kehitaman. Ini dirasakan pada bagian ekstremitas atas dan bawah tubuh (lengan maupun kaki). Jika sudah menimbulkan bekas pada sebagian orang akan menurunkan kepercayaan dirinya.
Dalam kondisi tertentu dapat menghalangi aktivitas berkegiatan. Karena bukan hanya gatal tapi muncul sensasi panas, terbakar, dan tertusuk. Darah manis bahkan terkadang dikaitkan dengan faktor dari penyakit diabetes melitus.
Sudah banyak jamu yang dikonsumsi dari berbagai tanaman obat-obatan. Nah, temu ireng juga dikenal mempunyai khasiat untuk mengatasi gatal, menambah nafsu makan, pengobatan herbal penderita diabetes serta manfaat lainnya. Dalam temu ireng salah satunya terdapat kandungan flavonoid sebagai antiinflamasi atau anti radang.
Flavonoid memiliki mekanisme dengan menghambat enzim yang memicu peradangan siklooksigenase (COX) atau lipoksigenase (LOX) dan menghambat akumulasi leukosit. Jika sudah muncul luka garukan (lesi) akan terjadi peluncuran leukosit menuju luka untuk pemulihan luka. Namun, hal ini bersamaan dengan munculnya rasa gatal. Oleh karena itu flavonoid mampu menghambat peluncuran leukosit yang terlalu berlebihan.
Cara pembuatan jamu temu ireng yaitu pertama dengan merajang bahan segar. Kemudian iris tipis temu ireng. Rebus dengan air matang. Jamu rebusan siap dikonsumsi. Untuk yang lebih kental temu ireng dapat di blender lalu rebus dan sebelum diminum saring terlebih dahulu.
Jadi kita perlu mengonsumsi minuman jamu untuk meningkatkan imunitas tubuh sekaligus meneruskan warisan ilmu nenek moyang

My Voice Matters

Mitra Wacana Hadir untuk Pendidikan: Upaya Pendampingan Anak Putus Sekolah di Kalirejo








