web analytics
Connect with us

Opini

Beda Iklim,Beda Kandungan Skincare ? Yuk Cari Tahu

Published

on

Sumber foto: https://images.pexels.com/photos/7691164/pexels-photo-7691164.jpeg

Helena Danika Lailiyah,saya mahasiswi aktif di Universitas Islam Negeri Syarifhidayatullah Jakarta

Kulit merupakan organ manusia yang terletak di luar tubuh yang bersentuhan langsung dengan lingkungan luar yang memiliki berbagai macam kontaminasi,mulai dari bakteri,virus,kotoran,hingga ancaman lain yang dapat merusak tubuh baik kulit itu sendiri maupun organ dalam tubuh manusia. Kulit memiliki peran utama sebagai pelindung tubuh dari berbagai macam ancaman luar seperti bakteri dan virus,sehingga kebersihan dan kekuatan atau imunitasnya harus dijaga baik dari luar maupun dari dalam. Perawatan dari luar seperti skincare merupakan metode perawatan yang umum digunakan oleh manusia. Setiap manusia memiliki kebutuhan perawatan kulit yang berbeda – beda sesuai dengan umur,letak geografis,hingga iklim dari penggunanya. Lantas bagimana kita bisa memaksimalkan peran skincare yang kita gunakan dengan kebutuhan kulit kita ? Simak artikel ini !

  1. Pengertian Skincare dan Penggunaannya

Skincare merupakan salah satu model perawatan kulit yang dilakukan dengan berbagai tahapan dan berbagai macam produk yang bertujuan untuk menghasilkan kulit yang sehat,cerah,dan juga bersih. Skincare memiliki berbagai macam kegunaan seperti melindungi kulit dari kuman dan sinar matahari yang berbahaya,menenangkan kulit yang kemerahan,memperbaiki sel – sel kulit yang rusak,dan berbagai macam kegunaan lainnya. Tahapan skincare memang bermacam – macam,namum umumnya dapat dilakukan dengan simpel menggunakan 3 tahap yaitu pembersih wajah (sabun cuci muka),pelembab,dan sunscreen. Penggunaan ketika tahapan tersebut menjadi dasar dari penggunaan skincare dengan tujuan membersihkan,melembabkan,serta melindungi kulit wajah akibat sinar matahari.

Skincare memiliki berbagai macam jenis yang tersebar diseluruh dunia tergantung kebutuhan penggunanya. Ada skincare khusus mencerahkan,melembabkan,mencegah penuaan (anti-aging),hingga menghilangkan noda – noda di kulit. Tentunya setiap skincare dengan tujuan yang beragam tersebut memiliki kandungan zat aktif yang berbeda – beda. Pada skincare dengan tujuan mencerahkan biasanya kita menjumpai kandungan aktif seperti vitamin C atau pada produk skincare yang memiliki tujuan membersihkan biasanya terdapat kandungan AHA/BHA sebagai zat aktif untuk membersihkan wajah dari kotoran dan sel kulit mati. Penentuan zat aktif tersebut selain berdasarkan tujuan skincarenya dapat ditentukan berdasarkan iklim pasarnya.

  1. Bagaimana Perbedaan Iklim diseluruh Dunia

Bumi merupakan sebuah planet bulat dengan sisi yang berbeda – beda,perbedaan sisi tersebut dapat menyebabkan perbedaan suhu,cuaca,iklim,dan waktu pada setiap negara. Perbedaan iklim pada setiap negara atau benua didasari oleh letak geografis. Terdapat 5 iklim utama yang terbagi diseluruh negara yaitu iklim tropis (contohnya negara di benua ASEAN),subtropis atau sedang (contohnya negara di benua Asia timur seperti Jepang,Italia,Turki),dingin (contohnya negara Rusia,Kanada,Swedia),kering (contohnya negara Arab Saudi,Mesir,Australia) dan kutub (contohnya wilayah Greenland,Islandia,Alaska). Perbedaan tersebut yang menyebabkan kebutuhan kandungan skincare pada setiap wilayah berbeda – beda. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa iklim dan kecenderungan zat aktif atau kandungan yang efektif pada iklim tersebut.

  1. Faktor Perbedaan Kandungan Skincare Pada Setiap Iklim Di Dunia

Setiap kondisi cuaca atau iklim disetiap wilayah tentunya memiliki perbedaan permasalahan kulit yang harus dihadapi. Seperti pada iklim tropis,suhu pada daerah beriklim tropis cenderung tinggi dan lembab sekitar 25ºC hingga 38°C. Hal tersebut menyebabkan masyarakat daerah iklim tropis memiliki masalah kulit berupa kulit yang mudah kusam,rentan mengalami kemerahan, hingga munculnya flek hitam disekitar wajah akibat panas matahari. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat didaerah tropis cenderung lebih membutuhkan skincare dengan kandungan proteksi pada sinar UV dan skincare yang bisa menenangkan kulit yang kemerahan akibat panas matahari. Contoh kandungan skincare yang biasa dijumpai untuk menenangkan dan melindungi kulit adalah Aloe vera,Centella asiatica,Vitamin C,Niacinamide,dan masih banyak kandungan aktif lainnya. Untuk tekstur skincare,pada wilayah beriklim tropis cenderung lebih efektif pada skincare berbasis air atau lotion ringan yang mudah meresap dan non-comedogenic.

Pada iklim dingin dan kering suhu disana cenderung lebih tidak stabil dengan kelembapan udara yang rendah menyebabkan penguapan air dari kulit cukup signifikan. masyarakat pada iklim ini cenderung memiliki masalah kulit berupa kulit pecah – pecah,iritasi (eczema),hingga kulit bersisik. Kondisi kulit tersebut menyebabkan masyarakat pada iklim ini membutuhkan skincare dengan kandungan yang dapat mengunci kelembapan dan menahan molekul air di dalam kulit.Contoh kandungan aktif yang dapat mengunci kelembapan dan menahan molekul air yaitu Ceramides,Hyaluronic acid,Glycerin,dan zat aktif lainnya. Tekstur skincare yang cocok pada iklim ini yaitu skincare dengan tekstur balm,krim,atau skincare bebasis minyak.

Pada iklim kering dan panas suhu pada wilayah tersebut cenderung sangat tinggi dengan udara yang panas dan pada wilayah gurun cenderung berdebu atau berpasir akibat pasir gurun yang terbawa angin. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat di wilayah ini memiliki masalah kulit seputar dehisrasi kulit yang berat,kemerahan,serta penuaan dini. Beberapa permasalahan mirip seperti masyarakat yang berada pada wilayah tropis,namun kasus pada iklim kering dan panas ini biasanya lebih berat karena cuacanya yang lebih panas. Kondisi kulit tersebut menyebabkan masyarakat pada wilayah ini lebih membutuhkan skincare dengan kandungan yang dapat menghidrasi kulit dan melindungi serta memperbaiki kulit yang rusak akibat panas ekstrim. Contoh dari kandungan aktif yang dibutuhkan antara lain ada Aloe vera,Hyaluronic acid,Ceramides,Centella asiatica,dan zat aktif lainnya. Tekstur skincare yang cocok pada kondisi iklim tersebut diantaranya ada gel – cream yang dapat menghidrasi kulit dengan baik.

Pengetahuan seputar kandungan skincare wajib diketahui bagi penggunanya,supaya kandungan dalam skincare yang digunakan dapat bekerja secara optimal dan dapat menyelesaikan masalah kulit dengan baik dan tidak memunculkan masalah kulit baru akibat kandungan dan bentuk tekstur dari skincare yang digunakan kurang cocok dengan lingkungan sekitar. Edukasi sebelum bertindak dapat menyelesaikan masalah dan tidak menimbulkan masalah baru akibat kekeliruan. Kenali kulitmu,kenali skincaremu.

 

 

Daftar Pustaka

Andrini, N. (2023). Karakteristik Dan Perawatan Kulit Untuk Orang Asia. *Jurnal Pandu Husada*, 4(3), 14–22. Link Jurnal: https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/JPH

Anjarsari, D. S., Imaningsih, A. N., Arviani, I., & Prasetyo, A. Y. (2025). Hubungan Penggunaan Face Mist Berbahan Dasar Alami terhadap Kesehatan Kulit Wajah Pada Cuaca Ekstrem Di Kalangan Masyarakat Kabupaten Jombang. *Innovative: Journal Of Social Science Research*, 5(1), 1090–1102. Link Jurnal: https://j-innovative.org/index.php/Innovative

Dzakiyyah, N. P. H. (2023). Pengaruh Chemical Exfoliator AHA pada Skincare. *Bohr: Jurnal Cendekia Kimia*, 1(2), 65–70. Link Jurnal: https://e-journal.upr.ac.id/index.php/bohr/

Ningrum, Y. D. A., Sholeh, A. B., & Ramadhini, A. (2024). Optimasi Formula Dan Uji Evaluasi Fisik Sediaan Essence Kombucha dengan Variasi Konsentrasi Propylenglikol dan Gliserin. *JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imelda)*, 7(2), 86–95. Link Jurnal: https://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALFARMASI

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri

Published

on

Sumber foto: Freepik

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia

Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”

Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”

Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.

Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.

Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.

Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?

Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.

Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang  yang akhirnya memilih lari ke dunia maya—  sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.

Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.

Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.

Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?

Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.

Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh. 

Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda. 

Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.

​Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.

Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.

Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.

 

REFERENSI

Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).

Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.

Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending