Opini
Beda Iklim,Beda Kandungan Skincare ? Yuk Cari Tahu
Published
1 month agoon
By
Mitra Wacana

Helena Danika Lailiyah,saya mahasiswi aktif di Universitas Islam Negeri Syarifhidayatullah Jakarta
Kulit merupakan organ manusia yang terletak di luar tubuh yang bersentuhan langsung dengan lingkungan luar yang memiliki berbagai macam kontaminasi,mulai dari bakteri,virus,kotoran,hingga ancaman lain yang dapat merusak tubuh baik kulit itu sendiri maupun organ dalam tubuh manusia. Kulit memiliki peran utama sebagai pelindung tubuh dari berbagai macam ancaman luar seperti bakteri dan virus,sehingga kebersihan dan kekuatan atau imunitasnya harus dijaga baik dari luar maupun dari dalam. Perawatan dari luar seperti skincare merupakan metode perawatan yang umum digunakan oleh manusia. Setiap manusia memiliki kebutuhan perawatan kulit yang berbeda – beda sesuai dengan umur,letak geografis,hingga iklim dari penggunanya. Lantas bagimana kita bisa memaksimalkan peran skincare yang kita gunakan dengan kebutuhan kulit kita ? Simak artikel ini !
- Pengertian Skincare dan Penggunaannya
Skincare merupakan salah satu model perawatan kulit yang dilakukan dengan berbagai tahapan dan berbagai macam produk yang bertujuan untuk menghasilkan kulit yang sehat,cerah,dan juga bersih. Skincare memiliki berbagai macam kegunaan seperti melindungi kulit dari kuman dan sinar matahari yang berbahaya,menenangkan kulit yang kemerahan,memperbaiki sel – sel kulit yang rusak,dan berbagai macam kegunaan lainnya. Tahapan skincare memang bermacam – macam,namum umumnya dapat dilakukan dengan simpel menggunakan 3 tahap yaitu pembersih wajah (sabun cuci muka),pelembab,dan sunscreen. Penggunaan ketika tahapan tersebut menjadi dasar dari penggunaan skincare dengan tujuan membersihkan,melembabkan,serta melindungi kulit wajah akibat sinar matahari.
Skincare memiliki berbagai macam jenis yang tersebar diseluruh dunia tergantung kebutuhan penggunanya. Ada skincare khusus mencerahkan,melembabkan,mencegah penuaan (anti-aging),hingga menghilangkan noda – noda di kulit. Tentunya setiap skincare dengan tujuan yang beragam tersebut memiliki kandungan zat aktif yang berbeda – beda. Pada skincare dengan tujuan mencerahkan biasanya kita menjumpai kandungan aktif seperti vitamin C atau pada produk skincare yang memiliki tujuan membersihkan biasanya terdapat kandungan AHA/BHA sebagai zat aktif untuk membersihkan wajah dari kotoran dan sel kulit mati. Penentuan zat aktif tersebut selain berdasarkan tujuan skincarenya dapat ditentukan berdasarkan iklim pasarnya.
- Bagaimana Perbedaan Iklim diseluruh Dunia
Bumi merupakan sebuah planet bulat dengan sisi yang berbeda – beda,perbedaan sisi tersebut dapat menyebabkan perbedaan suhu,cuaca,iklim,dan waktu pada setiap negara. Perbedaan iklim pada setiap negara atau benua didasari oleh letak geografis. Terdapat 5 iklim utama yang terbagi diseluruh negara yaitu iklim tropis (contohnya negara di benua ASEAN),subtropis atau sedang (contohnya negara di benua Asia timur seperti Jepang,Italia,Turki),dingin (contohnya negara Rusia,Kanada,Swedia),kering (contohnya negara Arab Saudi,Mesir,Australia) dan kutub (contohnya wilayah Greenland,Islandia,Alaska). Perbedaan tersebut yang menyebabkan kebutuhan kandungan skincare pada setiap wilayah berbeda – beda. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa iklim dan kecenderungan zat aktif atau kandungan yang efektif pada iklim tersebut.
- Faktor Perbedaan Kandungan Skincare Pada Setiap Iklim Di Dunia
Setiap kondisi cuaca atau iklim disetiap wilayah tentunya memiliki perbedaan permasalahan kulit yang harus dihadapi. Seperti pada iklim tropis,suhu pada daerah beriklim tropis cenderung tinggi dan lembab sekitar 25ºC hingga 38°C. Hal tersebut menyebabkan masyarakat daerah iklim tropis memiliki masalah kulit berupa kulit yang mudah kusam,rentan mengalami kemerahan, hingga munculnya flek hitam disekitar wajah akibat panas matahari. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat didaerah tropis cenderung lebih membutuhkan skincare dengan kandungan proteksi pada sinar UV dan skincare yang bisa menenangkan kulit yang kemerahan akibat panas matahari. Contoh kandungan skincare yang biasa dijumpai untuk menenangkan dan melindungi kulit adalah Aloe vera,Centella asiatica,Vitamin C,Niacinamide,dan masih banyak kandungan aktif lainnya. Untuk tekstur skincare,pada wilayah beriklim tropis cenderung lebih efektif pada skincare berbasis air atau lotion ringan yang mudah meresap dan non-comedogenic.
Pada iklim dingin dan kering suhu disana cenderung lebih tidak stabil dengan kelembapan udara yang rendah menyebabkan penguapan air dari kulit cukup signifikan. masyarakat pada iklim ini cenderung memiliki masalah kulit berupa kulit pecah – pecah,iritasi (eczema),hingga kulit bersisik. Kondisi kulit tersebut menyebabkan masyarakat pada iklim ini membutuhkan skincare dengan kandungan yang dapat mengunci kelembapan dan menahan molekul air di dalam kulit.Contoh kandungan aktif yang dapat mengunci kelembapan dan menahan molekul air yaitu Ceramides,Hyaluronic acid,Glycerin,dan zat aktif lainnya. Tekstur skincare yang cocok pada iklim ini yaitu skincare dengan tekstur balm,krim,atau skincare bebasis minyak.
Pada iklim kering dan panas suhu pada wilayah tersebut cenderung sangat tinggi dengan udara yang panas dan pada wilayah gurun cenderung berdebu atau berpasir akibat pasir gurun yang terbawa angin. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat di wilayah ini memiliki masalah kulit seputar dehisrasi kulit yang berat,kemerahan,serta penuaan dini. Beberapa permasalahan mirip seperti masyarakat yang berada pada wilayah tropis,namun kasus pada iklim kering dan panas ini biasanya lebih berat karena cuacanya yang lebih panas. Kondisi kulit tersebut menyebabkan masyarakat pada wilayah ini lebih membutuhkan skincare dengan kandungan yang dapat menghidrasi kulit dan melindungi serta memperbaiki kulit yang rusak akibat panas ekstrim. Contoh dari kandungan aktif yang dibutuhkan antara lain ada Aloe vera,Hyaluronic acid,Ceramides,Centella asiatica,dan zat aktif lainnya. Tekstur skincare yang cocok pada kondisi iklim tersebut diantaranya ada gel – cream yang dapat menghidrasi kulit dengan baik.
Pengetahuan seputar kandungan skincare wajib diketahui bagi penggunanya,supaya kandungan dalam skincare yang digunakan dapat bekerja secara optimal dan dapat menyelesaikan masalah kulit dengan baik dan tidak memunculkan masalah kulit baru akibat kandungan dan bentuk tekstur dari skincare yang digunakan kurang cocok dengan lingkungan sekitar. Edukasi sebelum bertindak dapat menyelesaikan masalah dan tidak menimbulkan masalah baru akibat kekeliruan. Kenali kulitmu,kenali skincaremu.
Daftar Pustaka
Andrini, N. (2023). Karakteristik Dan Perawatan Kulit Untuk Orang Asia. *Jurnal Pandu Husada*, 4(3), 14–22. Link Jurnal: https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/JPH
Anjarsari, D. S., Imaningsih, A. N., Arviani, I., & Prasetyo, A. Y. (2025). Hubungan Penggunaan Face Mist Berbahan Dasar Alami terhadap Kesehatan Kulit Wajah Pada Cuaca Ekstrem Di Kalangan Masyarakat Kabupaten Jombang. *Innovative: Journal Of Social Science Research*, 5(1), 1090–1102. Link Jurnal: https://j-innovative.org/index.php/Innovative
Dzakiyyah, N. P. H. (2023). Pengaruh Chemical Exfoliator AHA pada Skincare. *Bohr: Jurnal Cendekia Kimia*, 1(2), 65–70. Link Jurnal: https://e-journal.upr.ac.id/index.php/bohr/
Ningrum, Y. D. A., Sholeh, A. B., & Ramadhini, A. (2024). Optimasi Formula Dan Uji Evaluasi Fisik Sediaan Essence Kombucha dengan Variasi Konsentrasi Propylenglikol dan Gliserin. *JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imelda)*, 7(2), 86–95. Link Jurnal: https://jurnal.uimedan.ac.id/index.php/JURNALFARMASI
Opini
Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)
Published
2 days agoon
13 July 2026By
Mitra Wacana

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)
Diam saja di sini bukan tidak ada kata-kata (selain dalil), seperti penjelasan, contoh, ijtihad dan pengkiasan suatu bahasan materi kajian, namun tidak memberikan solusi; diingatkan/diberitahu dengan kondisi negasinya sama saja, rakyat susah dan mengalami ekonomi miskin lagi fakir. Ingat pidato Prabowo, tentang mengedepankan para buruh dan pekerja kasar daripada mahasiswa kala itu dalam rangka memberi manfaat dalam kehidupan meski selang berapa bulan pejabat bahkan menterinya (MENKEU Sri Mulyani) rumahnya dijarah!
Setiap manusia yang membaca artikel ini tentu pernah mendengar perinahasa yang diajarkan saat kita masih kecil, bisa di sekolah TK, SD atau oleh ayah/ibu di yaitu rumah rajin pangkal pandai. Artinya ketelatenan akan mendatangkan hasil, termasuk dalam pengelolaan negara dan ketangkasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah seperti krisis.
Mengapa Wahabi? Adalah gerakan keagamaan yang masif mendakwahkan semangat pemurnian, secara esensi tidak ada menyangsikan, namun secara konsep tentu perlu dikaji ulang, terlebih dakwah dengan fasilitas ala modernitas berupa ideologi, sebab khususnya Wahabi meski telah berperan baik termasuk dalam menjaga kestabilan sosial dan keharmonisan masyarakat dalam naungan agama sesungguhnya pada sisi tertentu mengalami kebingungan sendiri. Kenapa? Berikut ulasan filosofisnya.
Paradoksal Islam Tradisional
Sadarkah kita, mereka yang mendakwahkan agama dengan semangat revivalis itu adalah mereka yang terdidik, meski “based on” TIMTENG, nyatanya mereka pendidikan mereka berjenjang, ada yang S1, S2 artinya mereka “well educated enough” sayangnya, ada “mis” di sana. Kalau mau jujur-jujuran, mereka kurang bersahabat dengan akar pendidikan sekaligus ibu keilmuan (“The Mother of Science”) yaitu Filsafat bahkan seringkali menyerang dan terhadapnya yang dinilai bukan produk luar agama cenderung tidak berakhlak.
Secara proaktif, Wahabi menutup (“cover“) rapat-rapat pintu ke sana seolah tidak ada kebaikan darinya sehingga dianggap tidak manfaat dan berbahaya. Padahal, secara semangat keduanya relaitif sama, sebab Filsafat, istilahnya saja dari “Philo“: cinta dan “Shofia” artinya ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, bahkan Shofia atau “Shofiyy” dalam bahasa Arab sendiri berarti murni. “Bukankah Wahabi juga punya semangat menuju agama atau Islam yang murni?”
Belajar dari Filsafat, menjembatani tradisional dengan medernitas, tantangannya adalah pada ranah ideologi. Contohnya bisa berupa kepentingan, pemahaman serta jalan (“sabiil“). Maka sekali lagi bukan ensensi baik Filsafat terlebih agama. Jika pada Filsafat dalam spesifikasi keilmuan dan Antrologi dan/ Ilmu Budaya bisa dilihat pada perhelatan budaya dalam berbagai festival. Bedanya, usaha produksi tradisi masa lalu ke zaman sekarang ala Wahabi menghadirkan ketenangan dan pengalaman spiritual yang dalam lagi penuh kemuliaan.
“Emang Masalah Apa?”
Pertanyaan ini bukan maksud menyindir atau nyinyir kepada mereka yang berniat baik dengan berkontribusi positif bagi negeri dengan kapasitasnya meski dalam relasi namun berada di luar lingkar kekuasaan. Wahabi adalah sebagai yang diakui bersama: penganut dan pemerhati adalah bersifat ideologis nampaknya penting memperhatikan esensi agama yang didakwahkan, seperti kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dan keadilan yang tentu tidak untuk dinafikan atau apatis dan berlepas diri sepenuhnya.
Beranjak dari sana dan berbagai asumsi lain yang relatif sama, selain berdo’a, celah yang dapat dimanfaatkan adalah ruang usaha (“Wus’a“). Harapannya realitas sebagaimana dalam pandangan Filsafat atau keilmuan umum berupa holistik dapat terakomodir setelah terdistorsi sedemikian rupa tentunya sebagaimana dalam konsekuensi rasional ideologi.
Dengan demikian, langkah dakwah para Wahabi dan para penerusnya bukan sekedar dakwah sebagai tanggung jawab keilmuan, namun juga kontribusi terhadap keilmuan yang telah memberi ruang bagi mereka dan menjadikan produknya yang berkesesuaian dengan ideologi bangsa Indonesia itu sendiri. Termasuk menghadapi kondisi ekonomi miskin seperti sekarang, sikap berupa usaha juga penting, termasuk perbaikan terhadap pengelola pemerintah dan pemangku kekuasaan negeri ini yang sedang mengalami ekonomi yang sulit ini.

Dinas Sosial PPPA Kulon Progo, Mitra Wacana, dan BP3MI DIY Berkomitmen Lindungi Kelompok Rentan melalui Sosialisasi dan Deklarasi Pencegahan TPPO

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)






