web analytics
Connect with us

Opini

Harga Obat Naik hingga 20 Persen, Herbal Indonesia Kembali Dilirik

Published

on

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan pemaparan saat menghadiri rapat kerja bersama di Gedung DPR RI, Jakarta. (Foto: Dok. Kemenkes RI)

Kafita Nayla
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Prodi: S1 Farmasi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkirakan harga sejumlah obat non-BPJS dapat mengalami kenaikan hingga 20 persen. Penyesuaian tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan pemaparan saat menghadiri rapat kerja bersama di Gedung DPR RI, Jakarta. (Foto: Dok. Kemenkes RI)

Meski pemerintah menilai kenaikan tersebut masih dalam batas wajar, kondisi ini tetap menjadi perhatian masyarakat. Biaya kesehatan yang semakin tinggi berpotensi menambah beban pengeluaran, terutama bagi mereka yang mengandalkan obat-obatan di luar program BPJS.

Situasi ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tantangan ekonomi. Kenaikan harga obat dapat menjadi momentum untuk kembali memperhatikan potensi herbal Indonesia yang selama ini telah digunakan masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap herbal terlihat dari Laporan Metro TV menunjukkan bahwa warung Jahe Rempah Mbah Warno di Semarang masih ramai dikunjungi pelanggan. Pengunjung datang silih berganti untuk menikmati minuman berbahan jahe dan berbagai rempah tradisional.

Penjual Jahe Rempah Mbah Warno, Suryoko, menyebut minuman herbal masih diminati meskipun pilihan obat modern semakin beragam. Menurutnya, jahe menjadi rempah yang paling banyak dicari karena dipercaya membantu meredakan keluhan ringan seperti masuk angin, pegal-pegal, flu, batuk, dan gangguan tenggorokan.

Seorang pedagang sedang meracik minuman jahe tradisional di warungnya. (Foto: Dok. Metro TV)

Fenomena ini memperlihatkan bahwa herbal bukan sekadar warisan budaya yang bertahan karena tradisi. Di tengah meningkatnya biaya kesehatan, masyarakat masih melihat herbal sebagai pilihan yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau untuk dikonsumsi sehari-hari.

Namun, meningkatnya penggunaan herbal perlu disertai edukasi yang memadai. Herbal tidak dapat menggantikan seluruh fungsi obat medis. Penggunaannya lebih tepat sebagai pendukung kesehatan, sementara pengobatan penyakit tetap memerlukan diagnosis dan pengawasan tenaga kesehatan.

Di sisi lain, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk memperkuat pengembangan obat bahan alam Indonesia. Dukungan terhadap penelitian, standardisasi mutu, dan inovasi produk perlu ditingkatkan agar manfaat herbal dapat dibuktikan secara ilmiah.

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar. Tanaman seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Dengan riset yang berkelanjutan, tanaman tersebut berpotensi menjadi produk kesehatan yang terjangkau.

Kenaikan harga obat hingga 20 persen memang menjadi tantangan bagi masyarakat. Namun, kondisi ini juga dapat menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang berpotensi mendukung kemandirian kesehatan melalui pengembangan herbal yang aman, berkualitas, dan berbasis ilmiah.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital

Published

on

Sumber gambar: Freepik

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia

Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.

Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.

Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Dua Konsep Cinta Diri

Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.

Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.

Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.

Pengakuan Sosial Era Modern

Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.

Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.

Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.

Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.

Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.

Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.

Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending