web analytics
Connect with us

Opini

Mandi Untuk Menjaga Atau Merusak Skin Barrier? Evaluasi Dan Jaga Skin Barrier

Published

on

Sumber foto: Freepik

Nadira Arifah Aulia
Mahasiswi S1 Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mandi sudah menjadi kebiasaan sehari hari bagi kita khususnya bagi yang tinggal di negara tropis. Bagi beberapa orang, ada yang kurang kalau belum mandi dua kali sehari. Mandi bukan hanya bermakna untuk memberikan sensasi segar, tapi juga bagaimana kita menjaga kesehatan kulit. Namun, mandi kita sehari hari apakah ditujukan untuk kesehatan kulit? Atau hanya untuk membuat tubuh terasa segar saja?

Kesalahan-kesalahan kecil dalam mandi seperti pemilihan sabun, menentukaan suhu air, waktu dan durasi mandi dapat menjadi penentu kesehatan kulit kita. Yuk, kita bedah beberapa fakta tentang mandi yang bukan hanya sekedar memberi rasa segar tapi juga menjaga kesehatan kulit.

  1. Pemilihan Sabun: Lupakan Pemikiran “Semua Sabun Sama-Sama Membersihkan”

Sabun adalah pembersih yang terbuat dari beberapa campuran lemak/minyak dan alkali. Sabun bekerja dengan cara mengikat kotoran dan minyak agar mudah dibilas dengan air. Masing masing sabun memiliki komposisi yang berbeda, maka dari itu kita perlu memperhatikan sabun yang kita gunakan sesuai dengan kebutuhan kulit.

Bagi anda yang memiliki kulit berminyak, sebaiknya pilih sabun yang mengandung bahan seperti lidah buaya, oat, hyaluronic acid, asam salisilat dan bahan-bahan lain yang dapat mengurangi produksi minyak berlebih tanpa berdampak pada kulit telalu kering. Untuk kulit kering, anda bisa memilih sabun dengan kandungan yang bersifat melembabkan seperti minyak jojoba, minyak zaitun, dan gliserin. Bahan-bahan ini membantu menjaga dan menambah kelembaban kulit. Bagi kulit sensitif, anda bisa memilih sabun yang memiliki pH yang sesuai sekitar 4,5 hingga 5,5. Penggunaan pH yang lebih tinggi dapat menyebabkan kulit iritasi, kering dan peradangan. Pemilihan bahan seperti madu, susu, dan vitamin E memberikan efek penenang untuk kulit dan juga melindungi sel kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain pemilihan sabun untuk berbagai jenis kulit, anda harus membedakan antara sabun untuk tubuh dan sabun untuk wajah, karena kulit wajah dan tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda juga. Setelah mencoba sabun baru, anda perlu memperhatikan perubahan pada kulit, apakah kulitmu menujukan hasil yang positif atau tidak.

  1. Perhatikan Suhu Air Yang Ideal Untuk Kulit

Air hangat memang memberikan sensi tubuh menjadi lebih rileks, namun suhu terlalu panas dapat membuat kulit menjadi terbakar dan kemerahan. Begitu pula dengan suhu dingin, meski tubuh menjadi segar, suhu yang terlalu dingin dapat menyebabkan peningkatan detak jantung. Oleh karena itu, suhu yang susuai sangat penting untuk menjaga kulit dan menghindari cold shock (syok dingin).

Pemilihan suhu air dianjurkan memperhatikan pada tujuan dan pada kelompok usia. Jika anda ingin memberikan rileksasi untuk tubuh, gunakan suhu hangat sekitar 32oC-40oC. pastikan suhu tidak lebih dari 44oC dan batasi durasi maksimal kontak kulit dengan air 5 hingga 10 menit agar kulit tidak terbakar atau iritasi. Namun, untuk mandi dengan tujuan memberikan efek segar untuk tubuh gunakan suhu air sekitar 21 oC suhu ini disarankan untuk menghindari syok dingin atau kenaikan tekanan darah. Untuk kelompok usia seperti bayi baru lahir, disarankan menggunakan suhu hangat sekitar 35 oC untuk  mencegah hipotermia karena air terlalu dingin, dan mencegah kulit iritasi karena kulit bayi sangat sensitif terhadap suhu air.

  1. Waktu Dan Durasi Mandi

Meski tidak ada aturan mutlak terkait jumlah mandi sehari dikarenakan perbedaan kebutuhan setiap orang. Bagi kita yang tinggal di wilayah tropis, mandi dua kali sehari banyak dianggap ideal. Jika anda sehari-hari melakukan kegiatan yang membuat tubuh cepat berkeringat, maka mandi dua kali sehari sudah cukup untuk menjaga kebersihan tubuh. Namun, bagi beberapa orang dengan masalah kulit, sebaiknya jumlah mandi dalam sehari dibatasi.

Meski mandi sangat bermanfaat, terlalu sering mandi dapat menyebabkan iritasi dan kulit kering. Hal ini terjadi karena saat mandi kulit akan lebih sering kontak dengan sabun dan air yang dapat mengganggu keseimbangan minyak alami kulit. Tapi mandi  terlalu jarang dapat menimbulkan masalah yang lebih serius, jarang mandi sangat berisiko menumpuk kotoran dan bakteri yang dapat memicu bau badan dan penyakit kulit yang lebih serius lainnya. Durasi Ketika mandi juga harus diperhatikan, ideal durasi mandi adalah 5 hingga 10 menit. Waktu singkat itu sudah cukup untuk membersihkan tubuh secara optimal tanpa membuat kulit kering atau iritasi.

Mandi bukan hanya sekedar segar dan wangi tapi juga bagaimana cara anda menjaga kulit agar tetap terhidrasi dan bersih. Mandi dengan memilih sabun yang sesuai dengan tipe kulit, memperhatikan suhu air saat mandi  dan membatasi durasi mandi menjadi salah satu usaha bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan kulit.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Published

on

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)

Diam saja di sini bukan tidak ada kata-kata (selain dalil), seperti penjelasan, contoh, ijtihad dan pengkiasan suatu bahasan materi kajian, namun tidak memberikan solusi; diingatkan/diberitahu dengan kondisi negasinya sama saja, rakyat susah dan mengalami ekonomi miskin lagi fakir. Ingat pidato Prabowo, tentang mengedepankan para buruh dan pekerja kasar daripada mahasiswa kala itu dalam rangka memberi manfaat dalam kehidupan meski selang berapa bulan pejabat bahkan menterinya (MENKEU Sri Mulyani) rumahnya dijarah!

Setiap manusia yang membaca artikel ini tentu pernah mendengar perinahasa yang diajarkan saat kita masih kecil, bisa di sekolah TK, SD atau oleh ayah/ibu di yaitu rumah rajin pangkal pandai. Artinya ketelatenan akan mendatangkan hasil, termasuk dalam pengelolaan negara dan ketangkasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah seperti krisis.

Mengapa Wahabi? Adalah gerakan keagamaan yang masif mendakwahkan semangat pemurnian, secara esensi tidak ada menyangsikan, namun secara konsep tentu perlu dikaji ulang, terlebih dakwah dengan fasilitas ala modernitas berupa ideologi, sebab khususnya Wahabi meski telah berperan baik termasuk dalam menjaga kestabilan sosial dan keharmonisan masyarakat dalam naungan agama sesungguhnya pada sisi tertentu mengalami kebingungan sendiri. Kenapa? Berikut ulasan filosofisnya.

Paradoksal Islam Tradisional

Sadarkah kita, mereka yang mendakwahkan agama dengan semangat revivalis itu adalah mereka yang terdidik, meski “based on” TIMTENG, nyatanya mereka pendidikan mereka berjenjang, ada yang S1, S2 artinya mereka “well educated enough” sayangnya, ada “mis” di sana. Kalau mau jujur-jujuran, mereka kurang bersahabat dengan akar pendidikan sekaligus ibu keilmuan (“The Mother of Science”) yaitu Filsafat bahkan seringkali menyerang dan terhadapnya yang dinilai bukan produk luar agama cenderung tidak berakhlak.

Secara proaktif, Wahabi menutup (“cover“) rapat-rapat pintu ke sana seolah tidak ada kebaikan darinya sehingga dianggap tidak manfaat dan berbahaya. Padahal, secara semangat keduanya relaitif sama, sebab Filsafat, istilahnya saja dari “Philo“: cinta dan “Shofia” artinya ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, bahkan Shofia atau “Shofiyy” dalam bahasa Arab sendiri berarti murni. “Bukankah Wahabi juga punya semangat menuju agama atau Islam yang murni?”

Belajar dari Filsafat, menjembatani tradisional dengan medernitas, tantangannya adalah pada ranah ideologi. Contohnya bisa berupa kepentingan, pemahaman serta jalan (“sabiil“). Maka sekali lagi bukan ensensi baik Filsafat terlebih agama. Jika pada Filsafat dalam spesifikasi keilmuan dan Antrologi dan/ Ilmu Budaya bisa dilihat pada perhelatan budaya dalam berbagai festival. Bedanya, usaha produksi tradisi masa lalu ke zaman sekarang ala Wahabi menghadirkan ketenangan dan pengalaman spiritual yang dalam lagi penuh kemuliaan.

“Emang Masalah Apa?”

Pertanyaan ini bukan maksud menyindir atau nyinyir kepada mereka yang berniat baik dengan berkontribusi positif bagi negeri dengan kapasitasnya meski dalam relasi namun berada di luar lingkar kekuasaan. Wahabi adalah sebagai yang diakui bersama: penganut dan pemerhati adalah bersifat ideologis nampaknya penting memperhatikan esensi agama yang didakwahkan, seperti kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dan keadilan yang tentu tidak untuk dinafikan atau apatis dan berlepas diri sepenuhnya.

Beranjak dari sana dan berbagai asumsi lain yang relatif sama, selain berdo’a, celah yang dapat dimanfaatkan adalah ruang usaha (“Wus’a“). Harapannya realitas sebagaimana dalam pandangan Filsafat atau keilmuan umum berupa holistik dapat terakomodir setelah terdistorsi sedemikian rupa tentunya sebagaimana dalam konsekuensi rasional ideologi.

Dengan demikian, langkah dakwah para Wahabi dan para penerusnya bukan sekedar dakwah sebagai tanggung jawab keilmuan, namun juga kontribusi terhadap keilmuan yang telah memberi ruang bagi mereka dan menjadikan produknya yang berkesesuaian dengan ideologi bangsa Indonesia itu sendiri. Termasuk menghadapi kondisi ekonomi miskin seperti sekarang, sikap berupa usaha juga penting, termasuk perbaikan terhadap pengelola pemerintah dan pemangku kekuasaan negeri ini yang sedang mengalami ekonomi yang sulit ini.

Continue Reading

Trending