web analytics
Connect with us

Publikasi

Kisah Mitra Wacana Mengedukasi Remaja Sekolah untuk Pencegahan HIV-AIDS

Published

on

HIV-AIDS
Waktu dibaca: 13 menit
Pegiat Mitra Wacana

Wahyu Tanoto

Bagian 2 Buku Menyuarakan Kesunyian

Berjabat tangan, berpelukan, berbagi alat makan, berenang bersama, gigitan serangga, merupakan mitos penularan HIV yang masih dipercaya oleh sebagian kecil kalangan. Akibatnya, stigma negatif dan perlakuan tidak adil makin menggejala. Menurut Yayasan Spiritia Indonesia, stigma dan diskriminasi menyebabkan orang dengan HIV (ODHIV) tidak melakukan pengobatan hingga 2-3 tahun setelah dilakukan pemeriksaan.

Munculnya resistansi terhadap materi Komunikasi, Edukasi, dan Informasi (KIE) yang didalamnya terdapat kontrasepsi kondom sebagai alat mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual, disinyalir terjadi karena diseminasi isu HIV – AIDS belum lengkap. Penyebutan kata kondom acapkali dikonotasikan negatif. Bahkan, menjadi alasan menolak edukasi pada remaja sekolah.

Isu keadilan dan kesetaraan gender juga menjadi diskursus ketika alat kontrasepsi kondom hanya diperkenalkan kepada laki-laki. Di sisi lain, hadirnya kondom  untuk  perempuan  juga  menuai  dukungan dan penolakan. Proses pemasangan yang cukup rumit, menjadikan perempuan rentan mengalami kekerasan berulang ketika dipaksa menggunakannya. Materi KIE yang menampilkan kondom sebagai salah satu cara mencegah HIV – AIDS, hampir semua kalangan dapat memahaminya. Hanya saja ada yang menganggap belum tepat diperkenalkan kepada remaja sekolah.

Hadirnya kebijakan layanan terpadu integrasi HIV-AIDS juga belum merata di semua daerah. HIV – AIDS cenderung dilihat hanya sebagai  fakta  Kesehatan. Belum kuatnya perspektif layanan ramah remaja dan penempatan posisi ruang Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau tes HIV secara sukarela yang cenderung belum representatif, justru makin “memperparah” stigma dan diskriminasi terhadap mereka ketika mengakses layanan. Akibatnya isu HIV – AIDS pada remaja kerap luput dari intervensi.

Kondisi di atas, mendorong Mitra Wacana merasa perlu melakukan peningkatan kapasitas remaja sekolah SMA/SMU/Sederajat  marginal   untuk   isu   keadilan dan kesetaraan gender  serta  pencegahan  HIV   AIDS di Kabupaten Sleman dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah di Kabupaten Bantul, yaitu: SMA 1 Pajangan, MA Negeri 3 Wonokromo dan SMA Patria. Kabupaten Sleman: Madrasah Aliah (MA) Pandaranan, SMA Seyegan dan SMK Yapemda. Pelaksanaan program bekerja sama dengan Gender Development Projcet (GDP) yang tergabung dalam koalisi STOP AIDS NOW (SAN), melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan di Jawa dan Papua.

Mitra Wacana memilih mendampingi 6 sekolah di 2 kabupaten didasarkan pada: belum/tidak pernah didampingi oleh LSM, letak posisi sekolah berada di pinggiran, minim akses terhadap informasi HIV – AIDS, bukan merupakan sekolah unggulan, kurang diminati oleh masyarakat, dan sebagian besar murid berasal dari keluarga kurang harmonis (broken home) atau pernah ada informasi Kekerasan Dalam Pacaran (KDP).

Setidaknya, sejumlah 30 orang remaja sekolah terdiri dari perempuan dan laki-laki yang rata-rata kelas 10 dan 11 sebagai penerima manfaat langsung. Sedangkan pendidik/wali kelas, orang tua peserta didik, teman sebaya di lingkungan tempat tinggal siswa merupakan penerima manfaat tidak langsung.

Remaja dan HIV – AIDS

Menurut www.kompas.id menyebutkan bahwa pada 2019, 1.434 anak usia 15-19 tahun terinfeksi HIV. Jumlah ini setara dengan 49 persen total anak yang terinfeksi HIV pada 2018. Sementara pada kelompok usia 0-4 tahun, 988 anak (34 persen) tertular HIV. Rentang usia 0-4 tahun merupakan kelompok yang paling menunjukkan peningkatan paling tinggi dibandingkan usia 5-14 tahun dan 15-19 tahun. Jika pada 2010 terdapat 390 anak usia 0-4 tahun terinfeksi HIV, jumlahnya meningkat lebih dari 2,5 kali lipat menjadi 988 anak pada 2018.

“Apa yang membuatmu terdorong untuk melakukan

VCT?”

“Karena saya pernah mendapatkan donor darah” “Pernah kecelakaan?”

“Iya”

“Kira-kira 6 bulan yang lalu”. Ungkap Sidik Nur Kholis alias Sidig dalam satu adegan dialog dengan konselor dalam film PINGIN VCT yang dikerjakan oleh sekelompok remaja sekolah. Mereka tergabung dalam forum Remaja Peduli (RemPed).

Sidig, bersama teman-teman sebaya di RemPed, percaya bahwa remaja sekolah bisa terlibat aktif melakukan pencegahan HIV – AIDS. Bagi Sidig dan kawan-kawan, munculnya ide membuat film karena merasa membutuhkan alat mengedukasi isu HIV – AIDS pada remaja sekolah. Menurut mereka, film lebih efektif dan informatif sebagai penyampai pesan.

Mereka mendapatkan peningkatan  pengetahuan dan pendampingan selama proses pembuatan film oleh Yayasan Kampung Halaman hingga selesai. Film telah diputar di berbagai pertemuan: kelompok remaja, di aula Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta dan pertemuan lintas sektor penanggulangan HIV – AIDS oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DIY.

HIV atau human immune deficiency virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh Manusia. AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome, yaitu sekumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya/ menurunnya kekebalan tubuh (karena infeksi lanjut HIV). Atau, HIV menyebabkan AIDS dan mengganggu kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.

Remaja, mengalami situasi yang tidak mudah karena sebagai kelompok rentan terinfeksi HIV – AIDS. Menurut Ryan Sara Pratiwi, dalam Remaja Rentan Tertular HIV/ AIDS, Ini yang Perlu Diketahui, karena faktor perilaku dan perkembangan emosionalnya. Oleh karenanya menjadi hal penting terutama bagi orang terdekat remaja supaya memiliki percakapan lebih terbuka pada isu seksualitas sehat. Apalagi, norma dan gaya hidup sosial telah berubah. Tampaknya lebih banyak remaja terpapar materi seksual, serta akses yang lebih mudah melalui internet.

Seperti diketahui, setiap orang rentan terinfeksi HIV

  • Namun, harus terpenuhi syarat penularannya. Ada empat cara penularan HIV, yaitu; Pertama, melalui hubungan seksual bergonta-ganti pasangan yang tidak menggunakan kondom. Kedua, melalui transfusi darah. Ketiga, penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian. Keempat, melalui proses pemberian ASI kepada bayi. Media penularannya melalui 4 cairan, yaitu: cairan alat kelamin, cairan darah, dan ASI perempuan HIV positif tanpa mengonsumsi ARV rutin.

Dalam HIV – AIDS, ada yang terdeteksi dalam jangka waktu relatif cepat. Sekitar dua minggu hingga enam bulan atau disebut sebagai window period (periode jendela), yaitu rentang waktu antara terinfeksi  virus HIV dengan waktu pemeriksaan penunjang yang dapat mendeteksi virus. Lama window period sekitar 3 minggu

  • 12 Namun,  pada  umumnya  pemeriksaan dilakukan setelah 3 bulan terinfeksi agar hasilnya lebih akurat.

Selama window period, seseorang dapat terinfeksi virus HIV dan dapat menularkan kepada orang lain meskipun hasil tes HIV hasilnya negatif. Jika hasil tes seseorang HIV negatif dalam waktu 3 bulan setelah terinfeksi, maka tidak membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Namun jika terinfeksi lagi virus HIV dalam periode 3 bulan maka diperlukan pemeriksaan ulang. Dalam tahapan ini biasanya tidak ada tanda-tanda khusus. Seseorang yang terinfeksi HIV akan tampak sehat/merasa lebih sehat. Bahkan, sekalipun dilakukan serangkaian tes secara sukarela belum tentu dapat mendeteksinya.

Bagi yang terinfeksi HIV, sedapat mungkin melakukan pencegahan agar tidak berkembang menjadi AIDS dengan mengonsumsi antiretroviral (ARV). Saat ini ARV disebut sebagai terapi obat yang dapat memperlambat/menekan perkembangan jumlah virus.

Dilansir dari laman www.alodokter.com selama mengonsumsi   ARV,   dokter   akan   memantau    viral load (jumlah virus HIV dalam darah) dan sel CD4 (sel darah putih) untuk menilai respons pasien terhadap pengobatan. Penghitungan sel CD4 akan dilakukan setiap tiga sampai enam bulan, sedangkan pemeriksaan viral load dilakukan sejak awal pengobatan dan  dilanjutkan tiap tiga sampai empat bulan selama masa pengobatan.

Orang yang terinfeksi HIV perlu segera mengonsumsi ARV agar perkembangan virus dapat dikendalikan. Karena, menunda pengobatan dapat membuat virus terus merusak sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi berkembang menjadi AIDS. Melewatkan konsumsi obat akan membuat virus berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi seseorang.

Bagi ODHIV, tubuh akan mengalami kesulitan melawan infeksi karena jumlah CD4 dalam darah sangat minim. Menurut Yayasan Spiritia, jumlah CD4 yang normal biasanya berkisar antara 500 dan 1600 mm3. Inilah sebabnya, ODHIV rentan terkena infeksi oportunistik (IO) atau infeksi yang terjadi akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. Contohnya: Candidiasis, infeksi paru, TB/TBC, herpes dan infeksi pencernaan.

Proses dan tantangan

Sejak mengawali pelaksanakan program, Mitra Wacana telah melakukan pendekatan  pada  sekolah agar mengirimkan perwakilan siswa yang relatif tidak aktif dalam organisasi. Misalnya yang dianggap “bad girl” atau “bad boy” atau yang pendiam. Mitra Wacana mempunyai pandangan bahwa remaja sekolah biasanya menyimpan informasi yang cukup untuk diungkap. Dari sinilah proses pengorganisasian remaja sekolah segera dimulai.

Komunikasi dengan para pemangku kepentingan di berbagai sekolah menjadi pintu masuk Mitra Wacana ketika melakukan pemetaan pengetahuan mereka pada remaja sekolah, khususnya terhadap mereka yang telanjur dianggap “nakal”. Tawaran kerja sama penguatan kapasitas terhadap isu HIV-AIDS dan gender disambut dengan tangan terbuka. Namun ada permintaan dari pihak sekolah agar kegiatan yang telah direncanakan dapat memberikan kontribusi positif pada mata pelajaran dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Berbagai pertemuan untuk membuat jadwal pelatihan, diskusi tematik, dan penyusunan konsep pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara partisipatif ternyata sedikit banyak dapat menggeser sikap skeptis terhadap organisasi non pemerintah/LSM yang kerap disebut berseberangan dengan pemerintah. Bahkan, acapkali dituduh sebagai organisasi yang justru melahirkan masalah baru. Mitra Wacana merespon dengan wajar dan terukur agar tidak menimbulkan pertentangan.

Pendekatan intensif kepada para pendidik di lingkungan sekolah dikemas secara santai. Cara ini mampu memupuk kepercayaan terhadap Mitra Wacana. Waktu itu, pada 2010 mengungkapkan isu HIV-AIDS masih tabu. Mengingat, masih kuatnya stigma negatif. Terutama terhadap kelompok tertentu yang tidak jarang dituduh sebagai penyebar HIV–AIDS. Bagi yang terinfeksi disebut terkena penyakit “kutukan orang kotor”, yaitu: pekerja seks, LGBT dan orang yang memiliki tato di sekujur tubuhnya.

Mitra Wacana mengalami beberapa kejadian tidak terduga di awal pelaksanaan program. Kampanye keadilan dan kesetaraan gender serta pencegahan HIV- AIDS dianggap menyinggung hal-hal sensitif dan privat di tengah masyarakat. Bahkan, sempat ada ancaman memboikot program oleh salah satu sekolah karena mencurigai akan adanya pembaptisan terhadap remaja sekolah karena lokasi acara terdapat simbol-simbol agama Katolik.

Pembahasan isu keadilan gender juga sempat ditolak oleh sekolah yang berbasis agama meskipun siswa/ siswinya memiliki keinginan kuat  untuk  memahami dan mempelajarinya. Ada juga pandangan dari para pendidik di sekolah yang menyebut tidak etis jika menyelenggarakan diskusi publik pendidikan seks bagi remaja. Karena dianggap mempromosikan seks bebas pada remaja sekolah. Waktu itu topik diskusi diganti menjadi “Remaja, Cinta dan Kekerasan” yang didalamnya juga membahas problematika dan pengelolaan dorongan seksual pada remaja.

Pandangan dari berbagai pihak merupakan umpan balik dan masukan berharga yang akhirnya membuat kami belajar dalam proses negosiasi dan penggunaan metode pendekatan pada penerima manfaat. Mitra Wacana belajar menghindari menggunakan istilah yang rentan ditolak. Waktu itu, istilah seks-meskipun ilmiah- ternyata masih menjadi “momok” menakutkan dan masih dikonotasikan saru (tidak pantas) untuk didiskusikan yang melibatkan publik. Mitra Wacana mengganti penggunaan istilah seks menjadi jenis kelamin.

Catatannya, penolakan tidak terjadi di semua institusi sekolah. Ada beberapa sekolah yang justru tampak enjoy dan rileks menggunakan istilah tersebut. Setelah dilakukan penelusuran terhadap sekolah yang kurang berkenan menggunakan istilah-istilah yang dianggap “saru” ternyata di sekolah tersebut pernah ada kasus pelecehan seksual, KTD/KDP dan ada beberapa muridnya berperilaku seks aktif. Bahkan, ada yang terdiagnosis Infeksi Menular Seksual yang tertular dari pacarnya.

Mitra Wacana memulai membangun kontak dengan majelis perwakilan kelas (MPK) mengadakan pertemuan antar sekolah untuk mendiskusikan “masalah” yang kerap kali dialami oleh remaja sekolah dengan pendekatan diskusi tematik hak-hak remaja. Tujuannya, agar teman sebaya memahami bahwa sebagai remaja sekolah memiliki masalah yang tidak berbeda.

Pertemuan juga menjadi pintu masuk menyampaikan pesan kepada remaja sekolah bahwa setiap individu memiliki hak untuk berkumpul, dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, baik di tingkat keluarga, komunitas maupun organisasi sekolah. Pertemuan ini menjadi momentum bagi Mitra Wacana untuk berbagi pengetahuan kepada mereka, manfaat (keuntungan) ketika memperjuangkan sesuatu secara berkelompok.

Di sesi akhir pertemuan, Mitra Wacana membangun kesepahaman dengan remaja sekolah perlunya berorganisasi sebagai wadah komunikasi antarremaja, menyebarkan informasi pencegahan HIV-AIDS dan gender. Pembahasan dimulai dari apa itu organisasi (nama kelompok), mengapa berorganisasi (tujuan kelompok), bagaimana menjalankan peran dalam organisasi (struktur), apa saja yang diperlukan dalam organisasi (pembagian peran), di mana alamat organisasi (sekretariat), dan apa yang akan dilakukan oleh organisasi (bentuk kegiatan). Setelah melalui berbagai proses tahapan, terbentuklah forum Remaja Peduli (RemPed) pada 2009/2010.

Bersama majelis perwakilan kelas, Mitra Wacana melibatkan penerima manfaat langsung untuk membahas dan menetapkan masalah yang dirasakan bersama, mendesak untuk  segera  direspon.  Tahapan ini membutuhkan fasilitator yang mampu menggali dan mengawal proses dengan menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa.

Peserta pertemuan diminta menyebutkan masalah yang dialami, penyebab terjadinya, lalu dikelompokkan berdasarkan aspek kesamaan yang akan dibahas setelah dikelompokkan. Jika masalah tersebut dialami oleh sebagian besar peserta, risiko yang ditimbulkan besar jika tidak direspon dan perlu mendapat perhatian dari banyak pihak maka disepakati sebagai masalah penting, mendesak direspon.

Mitra Wacana berpandangan jika proses perencanaan kegiatan perlu memperhatikan partisipasi penerima manfaat langsung. Hal ini merupakan bentuk penghargaan pada hak-hak remaja sekolah dan sebagai pengakuan atas hak menyatakan pendapat. Munculnya usulan kegiatan seperti susur candi/alam, kemah kesehatan reproduksi dan diskusi keragaman orientasi seksual, dikomunikasikan pada GDP SAN! Meskipun sebelumnya telah ada rancangan konsep kegiatan. Usulan remaja sekolah mendapat apresiasi dan mendapat dukungan.

Partisipasi aktif dari peserta pertemuan menjadi prasyarat ketika akan menyusun perencanaan. Pertemuan, menjadi ruang dialog terbuka kedua pihak untuk menghasilkan potensi dan masalah yang akan akan direspon oleh kelompok remaja. Penggunaan bahasa yang sederhana/tidak resmi seperti kowe, aku (kamu, aku) sedikit banyak dapat menipiskan jarak dengan remaja sekolah. Terlebih, jika dalam proses juga diselingi humor dan ice breaking untuk mencairkan suasana. Biasanya, forum akan berubah menjadi lebih gayeng (menyenangkan).

Upaya penguatan isu HIV – AIDS dan kesetaraan gender membutuhkan energi yang tidak sedikit, demikian pula dengan tujuan terbentuknya kelompok. Oleh karenanya, keberadaan kelompok yang terdiri dari berbagai latar belakang asal sekolah menjadi agenda prioritas dalam pembahasan, yaitu: kejelasan peran masing-masing, berbagi informasi antar anggota, menyusun perencanaan kegiatan bersama, menjalin hubungan yang penuh kesetaraan dan bersahabat antaranggota dan melihat kembali terhadap tujuan, kesepakatan dan kegiatan kelompok.

Bagi Mitra Wacana, pertemuan yang dikemas secara santai akan menghasilkan keluaran yang tidak terduga. Misalnya, munculnya gagasan untuk mengadakan “kemah kesehatan reproduksi” bagi remaja sekolah yang di dalamnya membahas hak-hak remaja sebagai warga negara.

Pertemuan pada Sabtu atau Minggu dari pagi hingga menjelang petang menjadi momen bagi remaja sekolah memperkaya korpus pengetahuan terhadap isu-isu remaja, misalnya KTD, KDP, konselor sebaya, dan hak kesehatan reproduksi serta isu lain yang tidak selalu berkaitan langsung dengan mereka. Biasanya pertemuan ditemani oleh pendamping, bertempat di Mitra Wacana, Tegalturi, Giwangan, Umbulharjo. Kantornya berada di tengah-tengah pemukiman padat.

Penggalangan dukungan untuk aksi bersama dilakukan oleh Mitra Wacana. Tujuannya agar keberadaan remaja sekolah mendapat perhatian dari pemangku kepentingan. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan dengan mereka, yaitu: Pertama, menggelar pertemuan dengan para pendidik di masing-masing sekolah untuk menyampaikan usulan isi materi  KIE agar menggunakan pendekatan yang lebih humanis. Misalnya ketika membahas isu pubertas menggunakan sudut pandang HKSR, untuk menghindari penghakiman terhadap perilaku remaja.

Kedua, diseminasi informasi pada teman sebaya. Bagi remaja sekolah yang terlibat pertemuan intensif dengan Mitra Wacana mereka memiliki keinginan untuk berbagi pengetahuan di lingkungan sekolahnya. Terutama isu KDP yang semakin menggejala di kalangan remaja. Istilah grawilan atau sentuhan tidak aman yang kerap dialami oleh remaja sekolah putri terkadang dianggap sebagai perilaku lumrah.

Gagasan remaja sekolah yang ingin berbagi informasi pencegahan HIV-AIDS dan kampanye keadilan kesetaraan gender pada teman sebaya di lingkungan sekolah, diterima dengan suka cita setelah dikomunikasikan kepada wali kelas/kepala sekolah. Mereka berproses menjadi fasilitator ditemani oleh tim Mitra Wacana.

Ketiga, VCT atau tes HIV dilakukan atas dasar kesadaran sendiri bukan karena dipaksa oleh orang lain. Remaja sekolah memiliki inisiatif melakukan VCT yang disampaikan kepada pendamping. Mitra Wacana sempat “terperangah” ketika mendengar alasan mereka ingin melakukan tes HIV. Mereka merasa pernah melakukan perilaku berisiko.

Berdasarkan kedekatan visi-misi dan mempertim- bangkan kondisi psikologis remaja sekolah, Mitra Wacana memilih bekerja sama dengan Griya Lentera PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memfasilitasi keinginan mereka. Setidaknya ada 3 tahapan ketika menjalani tes HIV; konseling sebelum tes, konseling HIV dan konseling setelah tes. Untuk konseling sebelum tes dapat dilakukan secara berkelompok atau sesuai dengan jumlah klien.

Ketika menjalani tahap prakonseling tidak semua remaja sekolah akan direkomendasikan agar melanjutkan konseling oleh konselor. Hanya orang-orang tertentu atau karena memiliki riwayat berisiko. Konselor juga akan memberikan saran kepada klien supaya melakukan tes HIV dengan cara diambil darahnya jika dalam tahap konseling ada tanda-tanda atau indikatornya.

VCT bertujuan mengampanyekan perubahan perilaku yang dapat mengurangi  risiko  penyebaran HIV. Harapannya agar mempercepat diagnosis HIV, mempromosikan penggunaan layanan kesehatan, mencegah infeksi lain dan meningkatkan perilaku hidup sehat. Oleh karenanya, VCT hendaknya dilakukan oleh setiap orang yang merasa pernah melakukan perilaku berisiko, seperti: melakukan hubungan seksual tidak aman, menggunakan narkoba suntik secara bergantian, transfusi darah langsung yang terinfeksi,  melakukan tato dengan jarum suntik tidak steril. VCT sebaiknya dilakukan dua sampai tiga bulan setelah merasa melakukan tindakan di atas.

Mendampingi remaja sekolah yang memutuskan melakukan tes dan konseling secara sukarela, memerlu- kan kesiapan mental “baja”. Terutama ketika menunggu pengumuman hasil tes HIV. Perasaan tidak tenang, takut, was-was, dan jantung berdetak lebih  kencang dari biasanya bercampur menjadi satu. Bahkan, ada yang hanya duduk diam termenung menahan perasaan gelisah. Sungguh  luar  biasa,  semua  remaja  sekolah dan pendamping dari Mitra Wacana yang VCT hasilnya negatif HIV.

Setelah selesai VCT, kami berkumpul di suatu ruangan besar untuk melakukan konseling pascates. Konselor berpesan kepada kami supaya menjaga status HIV tetap negatif dan berperilaku sehat. Bagi kami, kesediaan remaja sekolah secara sukarela tersebut layak mendapat dukungan dan apresiasi.

Konseling pascates bertujuan untuk mempersiapkan klien menerima hasil tes. Kami, mendapatkan informasi dan penjelasan komprehensif berkaitan dengan hasil tes; bagaimana menjaga perilaku hidup sehat, ke mana dan apa yang hendaknya dilakukan jika hasilnya positif/ negatif HIV.

Syarat penularan HIV – AIDS

Setiap perilaku yang berisiko memang rentan terinfeksi HIV. Namun, harus terpenuhi syarat penularannya. Selama tidak terpenuhi tidak akan terinfeksi HIV. Penularan virus ini memerlukan waktu, proses dan memiliki syarat yang disingkat PESSE (POSITIF, EXIT, SURVIVE, SUFFICIENT dan ENTER).

P (POSITIF) berarti virus dapat menular apabila terjadi kontak fisik dengan seseorang yang positif HIV. E (EXIT), jalan keluar bagi cairan tubuh yang mengandung HIV di dalam tubuh seseorang keluar dari tubuh. Hal semacam ini misalnya jika terjadi luka atau keluarnya cairan tubuh yang mengandung HIV seperti ketika seseorang melakukan hubungan seksual. Penularan bisa melalui jarum suntik karena ada darah yang tersisa di dalam jarum bekas suntikan dan kemudian masuk ke dalam tubuh seseorang.

S (SURVIVE), cairan tubuh yang keluar dari seseorang harus mengandung virus yang mampu/tetap bertahan hidup. Virus HIV jika berada di luar tubuh “induk” (manusia), tidak akan bertahan hidup lama. Menurut spiritia.or.id menyebutkan bahwa virus HIV akan mati di udara bebas dalam waktu kurang dari satu menit.

S (SUFFICIENT), jumlah HIV dalam cairan tubuh yang keluar dari seseorang yang postif harus memiliki daya infeksi/menular. Jika jumlahnya tidak mencukupi, HIV tidak akan bisa menginkubasi. Inilah yang menjadi penyebab mengapa cairan seperti keringat, saliva (ludah) tidak bisa menularkan HIV.

Selanjutnya E  (ENTER)  atau  adanya  jalur  masuk di tubuh manusia yang memungkinkan kontak dengan cairan tubuh yang mengandung HIV.

Namun perlu diingat agar virus berpindah dari ODHIV, cairan tersebut harus masuk ke dalam tubuh orang melalui: (1) luka terbuka di kulit seperti perlukaan di area alat kelamin, sariawan terbuka di bibir/mulut, ada perlukaan di gusi/lidah; (2) selaput lendir pada dinding vagina; (3) jaringan tubuh yang luka lecet dan; (4) aliran darah dari suntikan jarum.

HIV –AIDS dan HAM

Dalam pandangan Mitra Wacana, HIV – AIDS berkait kelindan dengan kajian hak asasi manusia. HIV bukan sekadar masalah kesehatan, namun ketidakadilan terhadap akses dan layanan informasi yang ramah remaja. Di bawah ini adalah beberapa bentuk hak asasi manusia berdasarkan dokumen organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun 1998 mengenai petunjuk pelaksanaan “HIV

  • AIDS dan HAM yang menjadi bahasan dalam pertemuan dengan remaja sekolah,” diantaranya, yaitu:

Pertama, hak atas perlakuan non-diskriminatif, termasuk hak atas kedudukan yang sama di depan hukum. Menjamin hak perlindungan hukum  dan  kebebasan dari segala bentuk diskriminasi, baik yang berdasarkan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, politik, tingkat sosial- ekonomi. Seperti diketahui, perlakuan diskriminatif rentan menimbulkan dan “mempertahankan” kondisi yang disinyalir memudahkan penularan HIV – AIDS. Tindakan diskriminatif dapat mempersulit timbulnya perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat menanggulangi HIV – AIDS.

Kedua, hak atas kemerdekaan dan  rasa  aman. Setiap orang tidak boleh ditangkap dan mendapatkan perlakukan diskriminatif hanya karena terinfeksi HIV – AIDS. WHO telah menganjurkan agar ODHA tetap berada di tengah-tengah masyarakat.

Ketiga, hak untuk menikah. Setiap individu, termasuk ODHA memiliki hak untuk menikah dan mempunyai anak. Misalnya, ada seorang perempuan hamil dengan status HIV positif (+) ingin melanjutkan kehamilannya, maka anak yang dikandungnya mempunyai hak untuk dilahirkan (vaginal/cesar). Untuk memenuhi hak perlindungan bagi anak, termasuk untuk menghindarkannya dari penularan HIV dari ibunya, perempuan tersebut berhak memperoleh  layanan ketika hamil sampai melahirkan. Disinilah pentingnya ketersediaan layanan konseling bagi ODHA.

Keempat, hak untuk mendapatkan pendidikan. Setiap orang termasuk ODHA memiliki hak mendapatkan pendidikan. Jika hal ini ditegakkan, tidak perlu lagi ada anak yang ditolak atau dikeluarkan dari sekolah gara- gara status HIV positif sebagaimana yang dialami oleh 14 siswa Sekolah Dasar di Solo, Jawa Tengah pada 2019.

Kelima, HAM untuk perempuan berstatus ODHA. Perlakuan tidak  adil  akibat  ketimpangan  gender makin menyulitkan perempuan yang terinfeksi HIV-AIDS. Tuduhan sebagai perempuan “nakal” kerap dialami oleh mereka. Padahal jika dirunut ke belakang biasanya perempuan tertular dari suami/pasangan yang berperilaku berisiko.

Keenam, hak anak dengan HIV – AIDS (ADHA). Bagi ADHA juga memiliki hak mendapatkan pendidikan, layanan kesehatan, perlakuan non-diskriminatif, hak berserikat, dan hak menyatakan pendapat. Hak-hak terbebas dari segala bentuk kekerasan sangat relevan dengan kebijakan pencegahan penularan HIV dari negara.

Ketujuh, hak untuk bepergian. ODHA mempunyai kebebasan untuk bepergian dengan nyaman, nyaman tanpa rasa khawatir akan mengalami tindakan yang membeda-membedakan dari lingkungan sekitarnya.

Kedelapan, hak untuk menyatakan pendapat. Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya, termasuk di dalamnya hak mendapatkan atau mencari informasi mengenai pencegahan, perawatan, dan dukungan dalam penanggulangan HIV – AIDS.

Kesembilan, hak untuk berserikat. Dalam konteks HIV – AIDS, kebebasan berserikat/berkumpul merupakan hak yang melekat ketika melakukan penggalangan dukungan sumber daya, advokasi dan kampanye.

Pembelajaran

Selama berproses dengan remaja sekolah di dua kabupaten,  organisasi  memperoleh   pembelajaran yang dimaknai sebagai Kemenangan Bersama. Bagi Mitra Wacana, yang menyebabkan perubahan tidak selalu dalam bentuk toolkit/materi teoretis, tetapi proses menjalin hubungan informal yang dibangun atas kesadaran dan menjalankan kegiatan yang tidak kaku selama pendampingan telah memicu munculnya perubahan dinamis (cepat dan mendalam).

Inisiatif oleh penerima manfaat langsung yang membentuk (1) organisasi RemPed, (2) memproduksi tulisan, (3) membuat film, (4) menyelenggarakan diskusi rutin setelah pulang sekolah, (5) melakukan VCT dan (6) menyelengarakan kemah kesehatan reproduksi merupakan hasil dari stategi melibatkan mereka dalam melaksanakan program.

Bagi Mitra Wacana, keberhasilan program juga mencakup pada kematangan dalam perencanaan. Kesungguhan menyiapkan dan  merawat  hubungan yang erat dengan pihak sekolah, pendidik, pemangku kepentingan dan penerima manfaat tidak  langsung serta menjaring umpan balik. Proses pengorganisasian yang menerapkan pola daur belajar: lakukan, analisis, evaluasi, dan simpulkan, dengan model pendekatan orang dewasa ternyata menjadi metode yang enak dipraktikkan meskipun implementasinya masih terdapat catatan.

Bagi individu-individu di organisasi juga mengalami peningkatan pengetahuan yang ditandai makin memahami keragaman gender dan identitas seksual sebagai fakta yang dapat dijumpai di lingkungan sekitar. Lebih dari itu, bahwa penghargaan terhadap pilihan orientasi seksual seseorang adalah bagian yang menyatu dengan isu hak asasi manusia.

Peran remaja sekolah dalam melaksanakan program pencegahan HIV-AIDS dan diseminasi keadilan gender telah menghasilkan beberapa hal, yaitu: pendidik sebaya, konselor sebaya, influencer dan penjangkau sebaya. Begitu juga dengan para pendidik dan intitusi sekolah yang akhirnya dapat menjadi tempat mempelajari isu- isu yang kerap dianggap tabu tanpa merasa khawatir akan mengganggu materi pokok kurikulum pendidikan. Justru sebaliknya, menjadi tambahan pengetahuan bagi peserta didik. Hal ini tecermin dari beberapa pertemuan yang digagas oleh pihak sekolah mengkaji isu kekerasan seksual, pubertas, dan topik pacaran sehat.

Mitra Wacana ingin menggaris bawahi bahwa pelibatan remaja sekolah untuk pencegahan HIV-AIDS dan kampanye isu keadilan dan kesetaraan gender masih relevan. Namun, perlu memperbarui penggunaan metode dan alat pembelajaran dan disesuaikan dengan kondisi terkini. Pengembangan jaringan  dukungan  sumber daya dari berbagai pihak dengan pendekatan isu lintas sektor tampaknya menjadi menjadi kebutuhan di masa sekarang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Publikasi

Oase itu Bernama Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A)

Published

on

Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A)
Waktu dibaca: 9 menit
Alfi Ramadhani

Alfi Ramadhani

Bagian 6 Buku Menyuarakan Kesunyian

Siang itu Bu Sekti Rochani berdiri tegak di depan khalayak, senyumnya merekah, puas, melihat pengorbanannya berbuah menjadi pelajaran berharga. Ia menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan dan pengalamannya selama di luar negeri. Cerita itu kini tidak hanya mengendap dan menjadi bom waktu bagi dirinya. Ia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya dan berharap bahwa tak ada lagi yang mengalami hal serupa.

Bu Sekti memang telah bangkit dari trauma kekerasan yang pernah dialaminya ketika menjadi pekerja migran di Arab Saudi. Namun Bu Sekti bukan satu-satunya penyintas, ada banyak Bu Sekti yang lain, dengan cerita berbeda. Ada  Bu  Jumini  yang  hampir dua tahun bekerja di Malaysia,  tidak  mendapatkan upah yang sesuai petrjanjian dan tak pernah mendapat insentif tambahan saat lembur. Lain lagi dengan cerita Bu Ponirah yang bekerja di Arab Saudi, ia tak sengaja melihat paspor miliknya terjatuh dari lemari majikannya. Setelah ia lihat dan membacanya, ia menemukan bahwa alamatnya telah dipalsukan, yang seharusnya dari Desa Demangrejo, Kulon Progo, menjadi sebuah alamat di Kota Tasikmalaya.

Ada juga cerita Bu Anis, yang bekerja di Malaysia. Ia seharusnya ditempatkan di rumah makan, namun nyatanya ia juga disuruh menjalankan bisnis sampingan majikannya, untuk menjadi kurir. Baru diketahui beberapa bulan setelahnya, ternyata ia menjadi kurir barang ilegal, berupa sabu. Meski telah mengetahuinya, Bu Anis tetap menjalankan pekerjaan tersebut karena desakan ekonomi.

Selanjutnya ada Bu Kariyem, yang bekerja di Saudi Arabia. Di sana Bu Kariyem dijual oleh majikannya ke pihak lain. Gajinya pun dipotong. Meski begitu, namun anehnya Bu Kariyem tetap merasa senang, sebab nominal yang diberikan oleh majikan relatif cukup besar baginya. Bukan hanya cerita Bu Sekti, Bu Jumini, Bu Ponirah, Bu Anis, atau Bu Kariyem, namun banyak lagi pengalaman yang luar biasa mengejutkan dalam perjuangan mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus penyumbang devisa bagi negara.

Mitra Wacana memiliki program pencegahan perdagangan orang di Kabupaten Kulon Progo. Perempuan- perempuan dengan cerita serupa, berkumpul dalam organisasi bernama Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A) yang didampingi oleh Community Organizer (yang selanjutnya akan disebut CO) sejak tahun 2013.

Pada awalnya, pelaksana program yang ditugaskan mencari informasi dan data dari dinas terkait tidak menemukan satu nama pun yang menerangkan bahwa di Kulon Progo terdapat korban perdagangan orang. Ketidaktersediaan data ini mengharuskan pelaksana program bekerjasama dengan pemerintah, mendata warga yang pernah pergi keluar negeri, baik yang secara legal maupun illegal. Terdapat 3 Kecamatan yang terpilih yang diasumsikan dapat mewakili lanskap Kabupaten Kulon Progo yang sangat beragam. Kecamatan Galur untuk wilayah pesisir pantai, Kecamatan Kokap untuk wilayah Pegunungan Menoreh, dan Kecamatan Sentolo untuk wilayah sekitar kota.

Dari data yang telah dikumpulkan, terdapat 225 perempuan yang  diindikasi  sebagai  korban  TPPO. Data tersebut menjadi acuan CO untuk mengorganisir kelompok. Kami memulai dengan mengetuk pintu dari rumah-kerumah. Itu bukanlah hal yang mudah. Terlebih menyampaikan maksud dan tujuan dari program pencegahan “perdagangan orang” yang terdengar asing sekaligus mengerikan di telinga mereka. Berbagai penolakan kami terima saat ingin mencari cerita dari pengalaman mereka. Meski begitu, kami tetap berhasil mengumpulkan serpihan cerita dari para mantan buruh migran. Sungguh miris mendengar cerita bagaimana seorang korban bahkan tak menyadari bahwa dirinya ialah seorang korban. Dari hasil upaya untuk mendapatkan data itulah kami mengundang mereka dalam sebuah acara di Balai Desa.

Di sini pertama kali seluruh mantan pekerja migran di 3 Kecamatan dikumpulkan dan menyadari bahwa sebagian besar dari mereka terindikasi menjadi korban perdagangan manusia.

“Oalah Mas, tibakno (ternyata) saya ini juga korban tapi ra kroso (tidak merasa)!” Begitu kata salah satu perempuan paruh baya dari Kalirejo.

Dengan kesepakatan bersama dan juga dukungan dari pihak desa, maka dibentuklah kelompok perempuan bernama Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A). Kelompok ini memiliki visi mencegah perdagangan orang di wilayah desa masing-masing, yaitu: P3A Rengganis di Kalurahan Salamrejo, Kecamatan Sentolo; P3A Putri Pertiwi di Kalurahan Nomporejo, Kecamatan Galur; P3A sekar Melati di Kalurahan Hargorejo, Kecamatan Kokap. Salah satu program yang dilakukan ialah OPSD (Omah Perempuan Sinau Desa) yang berfokus pada penambahan kapasitas pengetahuan mereka tentang desa agar mampu mengadvokasi pemerintah desa dalam upaya pencegahan TPPO di Kalurahan masing-masing.

Dengan melihat adanya manfaat dan mendesaknya pencegahan TPPO di Kulon Progo, karena dampak dari rancangan pembangunan bandara YIA yang digadang akan menjadi pintu masuk dunia internasional, maka dalam perpanjangan program bersama Missereor Mitra Wacana mengusulkan adanya penambahan kuantitas kelompok P3A di 3 Kecamatan yang telah disebutkan tadi.

Di Kecamatan Sentolo terdapat P3A Srikandi di Kalurahan Sentolo, dan P3A Putri Arimbi di Kalurahan Demangrejo. Di Kecamatan Kokap terdapat penamabahan P3A Putri Menoreh di Kalurahan Hargotirto, dan P3A Anggun Rejo di Kalurahan Kalirejo. Di Kecamatan Galur terdapat penambahan P3A Tirto Kemuning di Kalurahan Tirtorahayu, dan P3A Pesisir di Kalurahan Banaran. Dengan adanya penambahan ini, diharapkan langkah dalam pencegahan TPPO di level kecamatan semakin masif.

Bu Sekti dari P3A Rengganis Salamrejo

Dalam tulisan ini saya berfokus pada satu kelompok saja yang bernama P3A  Rengganis.  P3A  Rengganis ialah kelompok P3A yang pertama kali dibentuk pada tanggal 11 November 2013. Ketua dari P3A Rengganis Bu Sekti Rokhani, perempuan berumur 42 tahun yang pernah menjadi ART di Arab Saudi. Tidak hanya pada satu majikan, melainkan tiga majikan yang berbeda. Pengalaman Bu Sekti ketika berjuang  agar  terbebas dari jeratan perdagangan manusia kini sudah dijadikan sebuah film pendek berjudul “Sekti, Berjuang agar Kembali” yang digarap oleh kelompok Media Desa.

Perjalanan hidup Bu Sekti tak hanya berhenti ketika pulang dari Saudi, namun lebih dari itu. Ia mengalami masalah dalam rumah tangga. Anak sulungnya yang ditinggal bersama neneknya sejak umur tiga tahun tak lagi menganggapnya sebagai ibu. “Padahal saya pergi keluar negeri untuk membiayai hidup anak, mbak. Tapi kok malah saya kehilangan anak” kata Bu Sekti dengan mata nanar melihat halaman rumah simboknya, yang tak lain ialah rumah yang ditempati anak sulungnya. Anak bu Sekti yang bernama Fian, sama sekali tak mau tinggal satu atap dengannya. Ia lebih memilih berada dirumah Si Mbok atau nenek yang berada tepat didepan rumah Bu Sekti. Fian pun lebih memilih makan, dari makanan Si Mbok-nya dibandingkan masakan Bu Sekti.

“Kalau saya bisa memutar waktu, mbak, saya nggak akan kerja diluar negeri. Hasilnya tak sebanding dengan kehilangan saya. Makanya sekarang saya mencurahkan rasa sayang saya ke Adul.” Bu Sekti terisak pilu.

Tak cukup sampai di situ, Bu Sekti juga mengalami perceraian. Mantan suaminya tidak menafkahi, malah menjual satu demi satu perhiasan Bu Sekti yang berhasil ia kumpulkan sejak menjadi pekerja migran. Bukan hal yang mudah bercerai di sebuah wilayah yang memiliki kultur patriarkis yang kuat.

Alih-alih mendapat dukungan, fitnah pun menyebar. Bu Sekti dituduh selingkuh dengan mantan pacarnya dahulu yang kini sudah memiliki anak dan istri di Sumatra. Tak banyak yang dapat dilakukan untuk membendung fitnah yang telanjur menjalar.

Namun Bu Sekti tidak sendiri, kelompok P3A Rengganis selalu merangkulnya, menjadi tempat bercerita dan memecah tangisnya, menemaninya dalam mencari kedamaian yang diidam-idamkan. Bukan yang pertama kali Bu Sekti mengajukan gugatan perceraian, namun empat kali. Segala usaha dan dana ia habiskan untuk terlepas dari situasi menjengkelkan di dalam rumahnya. Keadaan ekonominya  memburuk.  Ia  memakan  apa saja yang bisa dihasilkan dari kebun pekarangannya, singkong, talas, atau apapun itu. Asal bisa mengganjal perut laparnya. Tak hanya berat badan saja yang menyusut, rambut pun mulai rontok, ia sangat kuyu.

Dengan berbagai cara Bu Sekti mencari bantuan hukum. Didampingi oleh Mitra Wacana dan LBH (Lembaga Bantuan Hukum), maka Bu Sekti melangkah menuju gerbang kebebasan jiwanya. Ia tak lagi terjerat hubungan toxic bersama mantan suaminya. Ia memulai menata kembali usaha telur asinnya yang bernama “My Pink”, mengikuti komunitas-komunitas baru dalam pertanian, UMKM dan kembali ke Rengganis dengan membawa nuansa baru yang lebih berwarna. Ia sudah berdamai dengan masa lalunya dan mampu menceritakan pengalaman buruknya tersebut didepan khalayak umum.

P3A Rengganis dalam Upaya Pencegahan Kekerasan Perempuan dan TPPO

Dalam  program  kedua  ini,   P3A   diharapkan dapat menjadi rekan bagi Mitra Wacana dalam mengkampanyekan pencegahan TPPO di kelurahannya masing-masing. Namun, ternyata untuk mencapai cita- cita tersebut, butuh usaha besar karena tak sedikit anggota P3A yang masih takut untuk mengutarakan pendapatnya, tidak berani pergi ke kalurahan, terlilit hutang dan mengambil pinjaman kelompok yang akhirnya tidak pernah muncul lagi dalam pertemuan rutin bulanan.

“Saya itu njuk (lalu) pingin P3A ini diakui di kalurahan, mbak. Lalu diperhitungkan usulan-usulannya.”

“Lha wong (hanya) kadang diundang cuma buat bikin wedang di belakang kok Mbak Ani, ki.” Kata mbak Yuni. Salah satu anggota P3A Rengganis yang sekaligus menjadi staff perpustakaan Kalurahan Salamrejo.

Ya, mungkin seperti itulah P3A jika dilihat dari beberapa desa di tiga kecamatan. Tidak, tapi mungkin begitulah nasib para perempuan diranah publik secara umum. Di hadapkan pada realitas patriarkis di mana perempuanlah yang “seharusnya” menyiapkan kudapan, wedang dan makanan untuk acara  maupun  rapat- rapat. Hanya sebagai pelengkap saja, suaranya tidak diperhitungkan. Keberadaannya pun hanya sebagai formalitas.

Realita seperti itulah yang membuat geram, Mbak Yuni. Ia didapuk menjadi salah satu panitia pemilihan lurah sebagai perwakilan dari kelompok PKK di Kalurahan Salamrejo. Sebagai satu-satunya perempuan di dalam kepanitiaan, ia merasa serba salah, sebagai salah satu staf kalurahan sekaligus panitia pemilihan lurah, ia merasa bahwa jika dirinya terlalu aktif dalam rapat maka beberapa orang akan memberi dia cap caper (cari perhatian) dengan suami orang karena ia banyak pergi bersama dan mengobrol dengan laki-laki yang notabene- nya adalah seorang suami. Namun jika ia tidak aktif, ia hanya akan diminta menjadi bagian penyedia konsumsi seperti biasanya.  Kebingungan  yang  ia  alami  sempat ia tumpahkan saat pertemuan rutin di rumah Mbak Jumini. Ia kesal, karena ia hanya menjadi satu-satunya perempuan di dalam kepanitiaan, jumlah minimal yang menjadi persyaratan. Sayangnya cerita seperti ini tidak hanya datang dari Mbak  Yuni.  Bu  Sukarni  sebagai salah satu dukuh perempuan di Kalurahan Sentolo pun merasakan hal yang sama.

Terlibatnya perempuan di dalam pembangunan sebenarnya sudah menjadi syarat mutlak mewujudkan pembangunan yang berkeadilan. Peran perempuan juga telah diakomodir di dalam pembangunan nasional, seperti di UU No 6 tahun 2014 tentang desa, yang menerangkan bahwa keterlibatan perempuan sangat diperlukan bagi keberhasilan pembangunan desa. Sayangnya, di dalam praktek pembangunan, perempuan hanya diberikan ruang minimal dengan hanya memenuhi kebutuhan minimal yang tercantum dalam persyaratan keterlibatan perempuan. Seperti yang diungkapkan oleh Vivekananda “Bahwa negara dan bangsa yang tidak menghormati perempuan tidak akan pernah menjadi besar, baik saat ini maupun di masa depan.”

Cerita mbak Yuni ini menjadi salah satu pendorong perempuan di P3A Rengganis untuk menjadikan kelompoknya sebuah organisasi yang diakui oleh desa. Membuktikan bahwa mereka mampu dan suaranya dapat diperhitungkan dalam pembangunan desa.

Salah satu perjuangan P3A Rengganis dalam mendapatkan pengakuan pemerintah kalurahan tersebut ialah dengan melalui sikap peran aktif dalam proses belajar masyarakat. Beberapa kali P3A Rengganis menggelar acara di balai desa; sosialisasi PTPPO hingga sosialisasi pertanian dengan berkolaborasi bersama kelompok Pilar Tani. P3A Rengganis juga terlibat dalam proses advokasi korban kekerasan seksual di mana korbannya ialah ibu dan anak. Mereka menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh suami sekaligus ayah tiri sang anak yang masih berusia 8 tahun.

P3A Rengganis merasa harus membela korban karena sudah memiliki kapasitas dalam isu-isu perempuan. Mbak Tumirah, selaku anggota P3A Rengganis merupakan tetangga korban yang diajak cerita oleh korban tentang masalahnya juga turut menemani dalam proses investigasi oleh Babinkamtibnas. Adapun mbak Yuni dan Bu Sekti menemani korban saat ke Puskesmas dan Rumah sakit untuk proses visum.

Perjuangan P3A Rengganis tak  sampai  di  situ dalam memperoleh SK. Pada 2019,  P3A  Rengganis turut memeriahkan pawai yang diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kalurahan Salamrejo. Di sana, P3A Rengganis membagikan pamflet dan brosur tentang pencegahan TPPO dan profil P3A Rengganis dengan harapan lebih dikenal di tengah masyarakat.

Meski beberapa usaha telah dilakukan oleh P3A Rengganis, tak lantas segera mendapatkan SK. Sempat ada penolakan dari lurah. Mbak Yuni, selaku anggota P3A Rengganis dan staf perpustakaan kalurahan memiliki tugas khusus, yaitu melobi pak lurah. Dari mulai mencari info-info kegiatan yang bisa dikolaborasikan dengan P3A Rengganis, hingga mendorong terbitnya SK bagi P3A Rengganis yang sudah ada sejak 2013.

Akhirnya pada tanggal 4 november 2021 P3A Rengganis berhasil mendapatkan SK dari kalurahan. Bu Sekti dan mbak Yuni tersenyum bahagia. Cita-cita akan pengakuan dari kalurahan kini sudah mereka dapatkan.

“Alhamdulillah ya, mbak. Akhirnya Rengganis diakui.” Kata Bu Sekti dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat semua usahanya dengan kelompok, berjuang dalam membuktikan bahwa P3A Rengganis pantas mendapatkan pengakuan atas kontribusinya di kalurahan. Meski demikian, Mbak Yuni cukup kecewa dengan pernyataan Pak Lurah, bahwa meskipun mendapatkan SK, bukan berarti mendapatkan dana kegiatan seperti PKK.

P3A di Pertengahan 2022

Hingga pertengahan tahun 2022 tercatat bahwa seluruh P3A mendapatkan SK dari kalurahan, tiga P3A mendapatkan dana rutin dari desa, lima diantaranya pernah didanai desa dalam kegiatan. Hal itu tidak terlepas karena faktor dari dalam P3A sendiri yang sudah menemukan anggota kelompoknya, yang mampu menyampaikan pendapat dan argumen. P3A diikutkan dalam lomba desa dan didapuk sebagai organisasi perempuan yang katakanlah dapat diandalkan dalam isu-isu kekerasan perempuan dan anak. Poin tamba untuk desanya.

Namun sayangnya, saat P3A mulai menemukan motivasi untuk lebih tampil, Pandemi Covid-19 merebak. Segala jenis kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang, bahkan semua orang diharuskan untuk diam di rumah. Kegiatan ekonomi berhenti padahal mayoritas anggota P3A ialah ibu rumah tangga dan pekerja UMKM. Kegiatan belajar di sekolah diganti menjadi online dilakukan di rumah dan lagi-lagi ibulah yang seakan paling bertanggung jawab menemani anak-anak mereka belajar.

Pandemi covid-19, sangat berdampak bagi P3A, pertemuan tatap muka berubah online, dan membuat output kegiatan tidak maksimal. Belum lagi pasca pandemi, beberapa anggota dilarang suaminya berkegiatan karena memiliki bayi.

Tantangan juga ditemukan di P3A Kecamatan Kokap setelah pergantian CO, adanya kesalah pahaman bahwa P3A akan dibubarkan seiring kepergian CO lama menjadi spirit tersendiri bagi CO baru. Lalu P3A di Kecamatan Galur yang secara mendadak mendapat pandangan “buruk” dari pemerintah desa dan masyarakat—P3A dianggap mengajarkan perempuan untuk melawan suami dan meminta bercerai. Hal itu dihubungkan dengan perceraian CO dan teman CO yang kebetulan juga  bercerai.  Meski  demikian,  dengan  tertatih, karena banyak anggota yang tidak aktif lagi, P3A tetap membangun semangatnya. Hal itu dilakukan dengan membuat beberapa strategi untuk menguatkan organisasi dan memperlihatkan eksistensinya kembali, seperti: memperbarui AD/ART sekaligus membuat perencanaan kelompok, merekrut anggota baru, berkolaborasi dengan kelompok perempuan di kalurahan seperti KWT dan PKK, melakukan sosialisasi tentang pencegahan TPPO, menambah kapasitas pengetahuan berbasis pemenuhan Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi sebagai warga negara seperti yang dulu pernah dilakukan di OPSD pada masa awal pembentukan P3A.

Strategi tersebut diharapkan akan mendorong kiprah P3A agar menjadi organisasi yang mumpuni dan sesuai dengan nama yang mereka miliki “Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak”. Dengan begitu, P3A mampu mendorong sikap proaktif pemerintah desa dalam memerhatikan perlindungan bagi warganya yang hendak bekerja di luar negeri pasca pandemi.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

EnglishGermanIndonesian