web analytics
Connect with us

Opini

Butterfly Effect: Dampak Besar dari Hal-hal Kecil dalam Kehidupan Sosial

Published

on

Cindy May Siagian, mahasiswi fakultas hukum Universitas Jambi, pengarang fiksi dan penulis nonfiksi

Seorang filsuf asal Yunani Kuno, yaitu Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah makhluk zoon politicon. Artinya manusia sebagai makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri. Setiap manusia selalu membutuhkan manusia lain dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dalam menjalankan kehidupan, manusia berinteraksi satu sama lain dan dari interaksi itu akan menimbulkan suatu kejadian yang berdampak bagi mereka. Baik dampak buruk maupun dampak baik. Lalu setiap kejadian itu berawal dari apa?

Inilah proses suatu konsep yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Konsep tersebut adalah Butterfly effcet. APA Dictionary of Psychology mengartikan bahwa Butterfly effect atau efek kupu-kupu adalah suatu kecenderungan sistem yang kompleks dan dinamis agar lebih peka terhadap suatu kondisi awal yang mungkin berubah karena hal-hal kecil.

Konsep butterfly effect dipelopori oleh Edward Norton Lorenz, seorang matematikawan dan meteorologi Amerika. Ia berpendapat bahwa kepak sayap seekor kupu-kupu di Brazil secara teori dapat memicu tornado di Texas.

Pernyataan tersebut dikatakan Edward Norton Lorenz pada 29 Desember 1972, saat ia mempresentasikan model kekacauan yang inovatif dan potensi ketidakpastian kekacauan pada pertemuan ke-139 American Association for the Advancement of Science (AAAS).

Teori ini ditemukan Edward Norton Lorenz saat melakukan penelitian meteorologi. Ketika membuat perhitungan mengenai perkiraan cuaca, Edward berhasil mengerjakan 12 persamaan diferensial tak linear menggunakan komputer.

Semula ia mencetak hasil perhitungan di atas kertas dengan format enam angka di belakang koma 0,506127. Lalu, ia membulatkan angka tersebut menjadi 0,506 menjadi tiga angka di belakang koma.

Ia istirahat sejenak dan kembali dengan menemukan suatu fakta bahwa perubahan kecil itu menghasilkan prediksi cuaca yang sangat berbeda. Semula dua kurva berimpitan, tetapi keduanya mengalami pergeseran secara dinamis hingga membentuk corak yang berbeda.

Edward mempublikasikan studi teoretis berdasarkan kejadian yang dialaminya dalam artikel yang berjudul “Aliran Tak periodik Deterministik”. Ia juga mengatakan bahwa satu kepakan burung camar mengubah jalannya cuaca. Berkembangnya waktu, ia kemudian mengganti menjadi kupu-kupu.

Dengan demikian,  dapat disimpulkan bahwa sekecil apa pun perubahan atau kejadian mampu menimbulkan efek besar bagi seseorang. Lalu, mengapa konsep ini sangat dekat dengan perilaku dan kehidupan manusia? Alasannya karena setiap kejadian yang memiliki pengaruh luas bermula dari hal-hal kecil  yang tidak disadari atau tidak diperhatikan. Maka, akan timbul kejadian besar yang tidak pernah terbayangkan.

Kejadian itu mampu memberikan dampak yang tidak pernah terbayangkan . Hal-hal kecil yang sering diabaikan seperti tidak saling bertutur sapa sesama tetangga atau tidak pernah ikut kegiatan gotong royong dapat mengakibatkan hubungan renggang.

Hubungan yang renggang ini, dampak dari hal-hal kecil yang sering diabaikan. Oleh karena itu, efek kupu-kupu ini mengajarkan bahwa supaya kita lebih peka terhadap perbuatan kecil dan hati-hati untuk memutuskan sesuatu. Sebuah tindakan sederhana dapat menjadi bumerang pada masa yang akan datang.

Sebagai makhluk sosial yang selalu bergantung pada orang lain, sudah seharusnya kita mampu memikirkan efek yang akan terjadi bila melakukan sesuatu yang semula merupakan tindakan sederhana. Jika demikian dapat terlaksana, efek kupu-kupu akan memberikan dampak yang tidak merugikan.

Selain itu, kita harus mengingat bahwa suatu hubungan yang kita lakukan sebagai makhluk sosial tidak akan pernah selesai selama masih memperoleh kehidupan. Karena hal tersebut, sudah menjadi kodrat manusia.

Bila memahami konsep ini, kita dapat mengaitkan kembali pendapat Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk zoon politicon dengan penemuan Edward Norton Lorenz. Kepakan sayap kupu-kupu seumpama interaksi atau tindakan manusia sehari-hari yang dapat menimbulkan perubahan besar.

Kita harus menjadikan kedua konsep tersebut sebagai panduan untuk membangun hubungan yang harmonis dan rukun. Dengan demikian, kehidupan sosial kita akan lebih stabil dan terhindar dari hubungan yang mampu mengakibatkan dampak buruk.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Tanpa Disadari, Inilah Interaksi Obat dengan Makanan atau Minuman yang Dapat Membahayakan Tubuh

Published

on

Sumber foto: Pexels

Kayra Lova Marina
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Farmasi

Pernahkan kamu meminum obat sekaligus memakan makanan sebagai penyamar rasa pahit? atau setelah memakan makanan tertentu, langsung dilanjutkan dengan mengonsumsi obat tanpa adanya instruksi dari dokter atau apoteker? Tanpa kamu sadari, hal tersebut dapat membahayakan tubuh. Beberapa interaksi antara obat dengan makanan dan minuman sehari-hari dapat menimbulkan efek serius yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya ketidaktahuan yang dapat memperburuk kondisi pasien yang mengonsumsi suatu obat. Oleh karena itu, sudah saatnya kamu mengetahui bagaimana interaksi obat dengan makanan yang sering kali terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Antibiotik dengan Susu

Tanpa diketahui, interaksi antara antibiotik dan susu dapat memberikan efek yang buruk. Namun, hanya jenis antibiotik tertentu yang memiliki efek negatif, yaitu tetrasiklin. Diketahui bahwa mengonsumsi antibiotik tetrasiklin bersamaan dengan susu dapat menyebabkan antibiotik sulit untuk diserap. Susu memiliki kandungan kalsium di dalamnya. Kandungan kalsium tersebut akan menangkap molekul pada tetrasiklin dan membentuk senyawa baru yang sulit diserap oleh tubuh, sehingga efektivitas antibiotik menurun. Oleh karena itu, lebih baik mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan air putih saja.

  1. Obat Kolesterol dengan Jeruk Bali

Jeruk bali bisa menjadi berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat kolesterol jenis simvastatin. Simvastatin merupakan obat yang banyak diresepkan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Metabolisme pada Simvastatin sangat bergantung pada Enzim CYP3A4. Senyawa dalam jeruk bali dapat menghambat enzim CYP3A4 di usus yang berfungsi memecah simvastatin dalam saluran pencernaan. Jika CYP3A4 terhambat, kadar simvastatin dalam plasma darah akan meningkat. Kadar simvastatin yang terlalu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada otot (Miopati). Kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih fatal, seperti gagal ginjal akut. Sebaiknya, jeruk bali dikonsumsi satu atau dua jam setelah mengonsumsi obat tersebut.

  1. Warfarin dengan Sayuran Hijau

Warfarin merupakan obat pengencer darah yang diberikan kepada pasien penyakit jantung dan stroke. Warfarin bekerja dengan menghambat enzim yang penting untuk mengaktifkan vitamin K, yaitu VKORC1. Dengan adanya enzim tersebut, sintesis faktor-faktor pembekuan darah dapat dikurangi. Sayuran hijau yang dikonsumsi dapat memengaruhi efektivitas warfarin dan harus diwaspadai. Konsumsi sayuran hijau dengan kandungan vitamin K yang tinggi (lebih dari 250 µg) dapat menurunkan efektivitas warfarin. Itulah mengapa pasien yang mengonsumsi warfarin perlu menjaga asupan sayuran hijau secara konsisten agar efektivitas warfarin tetap stabil.

Setelah mengetahui fakta-fakta tersebut, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat kamu lakukan, seperti konsultasi dengan dokter atau apoteker mengenai konsumsi obat dan makanan sehari-hari, membaca label pada kemasan obat, dan juga hindari makanan atau minuman yang tertera ketika sedang mengonsumsi obat tersebut. Diharapkan setelah mengetahui informasi ini, interaksi obat dengan makanan tidak dianggap sepele, karena akan memiliki dampak yang sangat berpengaruh bagi kesehatan tubuh. Oleh karena itu, ayo lebih bijak dalam mengonsumsi obat-obatan.

 

Daftar Pustaka

Dayyih, W. A., et al. (2024). Review of Grapefruit Juice-Drugs Interactions Mediated by Intestinal CYP3A4 Inhibition. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 14(5), 59-68.

Talasaz, A. H., et al. (2024). Pharmacokinetic and Pharmacodynamic Interactions between Food or Herbal Products and Oral Anticoagulants: Evidence Review, Practical Recommendations, and Knowledge Gaps. Seminars in Thrombosis & Hemostasis, 51(5), 560-571.

Wiesner, A., et al. (2024). Clinically Important Interactions of Macrolides and Tetracyclines with Dietary Interventions – A Systematic Review with Meta – Analyses. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 79(11), 2762-2791.

Continue Reading

Trending