Opini
Estetika Kritik Religius dalam Puisi Sunnah Basa-Basi Karya Hardi Abu Rafa
Published
7 months agoon
By
Mitra Wacana
Oleh: Nada Aprila Kurnia
Mahasiswa Aktif Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, yang bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK)
Puisi seringkali dipandang sebagai wadah ekspresi keindahan dan rangkaian kata yang memesona hati. Akan tetapi, puisi juga bisa menjadi cermin tajam yang memantulkan realitas, bahkan kritik yang menusuk. Salah satunya adalah puisi Sunnah Basa-Basi karya Hardi Abu Rafa, yang termuat dalam buku kumpulan puisinya Tafakur 3 Munajat Cinta Seorang Hamba (2022). Puisi ini bukan hanya sekadar deretan kata religius, melainkan sebuah kritik religius yang dibungkus rapi dalam balutan estetika bahasa.
Hardi Abu Rafa, melalui Sunnah Basa-Basi, secara langsung menyentil fenomena spiritualitas yang dangkal. Praktik keagamaan kerap kali hanya menjadi formalitas tanpa substansi. Pemahaman akan bagaimana Sunnah Basa-Basi menyampaikan kritik religiusnya tidak lepas dari pendekatan strukturalisme dalam sastra, sebagaimana banyak dibahas oleh Rachmat Djoko Pradopo dalam Pengkajian Puisi (2002). Pradopo menjelaskan bahwa puisi adalah sebuah struktur yang utuh, setiap unsurnya seperti diksi, citraan, rima, dan gaya bahasa saling terkait dan berfungsi membentuk makna keseluruhan. Dalam puisi ini, kritik religius tidak hanya muncul sendiri, melainkan timbul dari jalinan padu setiap unsur estetikanya yang disengaja oleh penyair untuk menciptakan efek penekanan pada pesan kritik tersebut.
Pemilihan kata (diksi) adalah pondasi utama dalam membangun pesan sebuah puisi. Hardi Abu Rafa dengan cerdas memilih diksi yang menciptakan kontras tajam antara idealitas dan realitas yang dikritik. Bait pertama menggambarkan suasana Malam Jumat yang seharusnya diisi dengan aktivitas spiritual:
Malam Jum’at telah tiba,
saatnya hidupkan sunnah,
tingkatkan qira’ah,
Surah Al-Kahfi dikhatamkan penuh cahaya,
dan shalawat pada maulana,
Rasulullah penghulu jiwa,
Kata-kata seperti hidupkan sunnah, qira’ah, Surah Al-Kahfi, dan shalawat membangun citra ketaatan yang tulus. Namun, kontras itu muncul di bait kedua dengan penggunaan diksi yang langsung mengarah pada kritik:
Tetapi kau hanya sibuk dengan urusan syahwat saja,
seolah itu satu-satunya sunnah yang ada,
menampilkan seolah kau tau sedekah yang mulia,
padahal berdalih dengan tanpa ilmu dan hujjah,
hanya nafsu syahwat yang ada di kepala.
Frasa seperti hanya sibuk dengan urusan syahwat saja, seolah itu satu-satunya sunnah, dan tanpa ilmu dan hujjah adalah pisau tajam yang dipilih penyair untuk menyingkap kepalsuan. Diksi ini tidak hanya deskriptif, tetapi juga menghakimi, menunjukkan kekecewaan dan teguran keras terhadap mereka yang menyempitkan makna sunnah menjadi pemuas nafsu semata.
Puisi ini juga kaya akan citraan (imaji) yang membantu pembaca memvisualisasikan dan merasakan kritik yang disampaikan. Di satu sisi, ada citraan ideal dari Malam Jumat yang penuh cahaya berkat lantunan Al-Kahfi dan shalawat. Ini adalah gambaran tentang kebersihan jiwa dan ketaatan yang murni. Di sisi lain, penyair membangun citraan yang menggambarkan kemunafikan secara gamblang sibuk dengan urusan syahwat saja dan puncaknya, hanya nafsu syahwat yang ada di kepala. Citraan terakhir ini melukiskan seseorang yang pikirannya dipenuhi oleh hal-hal duniawi dan kesenangan fisik, bahkan ketika ia mencoba ‘menampilkan’ kesalehan. Kontras citraan inilah yang menjadi kekuatan estetika puisi, menyoroti jurang antara yang seharusnya dan yang terjadi.
Salah satu kekuatan utama puisi Sunnah Basa-Basi dalam menyampaikan kritik religius adalah penggunaan gaya bahasa, khususnya ironi dan sarkasme. Kalimat seolah itu satu-satunya sunnah yang ada atau menampilkan seolah kau tau sedekah yang mulia bukanlah pernyataan tulus, melainkan sindiran halus yang menusuk. Penyair menggunakan ironi untuk mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan maksud sebenarnya. Ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna tersembunyi di balik kata-kata tersebut, yaitu kritik terhadap orang-orang yang menggunakan dalih agama untuk kepentingan pribadi atau nafsu. Kritik menjadi lebih tajam dan membuat pembaca yang merasakan fenomena tersebut akan merasa tertampar.
Pada akhirnya, puisi Sunnah Basa-Basi adalah contoh bagaimana estetika kritik religius bekerja dalam sastra. Hardi Abu Rafa tidak hanya menciptakan karya yang indah secara linguistik, tetapi juga memanfaatkan setiap unsur estetika dari diksi, citraan, hingga gaya bahasa, untuk menyampaikan teguran dan ajakan introspeksi. Puisi ini mengajak kita untuk merenungkan kembali esensi sunnah dan spiritualitas sejati. Ia menjadi pengingat bahwa praktik keagamaan haruslah dilandasi ilmu, hujjah, dan keikhlasan hati, bukan sekadar basa-basi yang lahir dari nafsu dan kemunafikan. Melalui keindahan bahasanya, Hardi Abu Rafa berhasil menyajikan kritik yang kuat, relevan, dan menggugah kesadaran.
You may like
Opini
Merevolusi Cara Kita Melihat Tugas Kuliah
Published
3 weeks agoon
29 December 2025By
Mitra Wacana

Nurisa Cahya Artika Farah,Mahasiswi semester 3 Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta.
Di dunia perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Salah satu tantangan tersebut adalah tugas kuliah yang diberikan oleh dosen sebagai proses pembelajaran. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa justru menganggap tugas kuliah sebagai beban yang membebani pikiran. Mahasiswa lebih fokus pada nilai akhir ketimbang proses belajar yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Fenomena ini menjadi gambaran bahwa sebagian mahasiswa masih memandang tugas secara sempit, tanpa menyadari bahwa melalui tugas inilah kemampuan berpikir kritis serta tanggung jawab perkuliahan dapat terasah.
Banyak kalangan mahasiswa mengeluh akan tugas kuliah yang diberikan, mereka memandangnya sebagai beban yang menumpuk dan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai, bukan proses pembelajaran. Hal ini membuat motivasi belajar menurun yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti kurangnya minat, kesulitan konsentrasi, masalah pribadi, maupun kualitas hasil tugas yang tidak mencerminkan pemahaman sebenarnya. Padahal, esensi pendidikan tinggi bukan sebatas mengerjakan tugas, namun membangun cara berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Karena itu, saatnya mahasiswa merevolusi cara pandang terhadap tugas yang dianggap beban menjadi proses pembelajaran yang bermakna.
Perkuliahan mahasiswa sebenarnya tidak hanya belajar dari penjelasan dosen, tetapi juga dari proses mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari individu berdasarkan pengalaman dan pemahaman. Seperti halnya dalam pemberian tugas kuliah ini mahasiswa tidak hanya menerima ilmu dari dosen, tetapi juga membentuk pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar sebelumnya. Dalam konteks ini, tugas kuliah bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Misalnya, ketika mahasiswa diminta menulis esai, mereka tidak hanya terpaku dengan teori yang sudah ada, tetapi juga menyusun gagasan atau ide pribadi berdasarkan pemahaman konseptual dan berpikir kritis. Dengan demikian, tugas menjadi penghubung antara pengetahuan dan penerapan.
Namun, faktanya di lapangan masih banyak mahasiswa yang memandang tugas sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk semata-mata demi nilai. Hal ini sejalan dengan rendahnya motivasi dalam diri berdasarkan teori Self-Determination. Mahasiswa akan termotivasi jika memiliki kebebasan pilihan dalam menyelesaikan tugas (autonomi), merasa mampu mengerjakan (kompetensi), dan merasa bahwa tugas memiliki hubungan dengan kehidupan mereka (keterhubungan). Dengan demikian, ketika diberi tugas yang memberikan kebebasan, kemampuan, serta keterhubungan, mahasiswa akan melihat tugas bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri.
Selain itu, konsep belajar bermakna dari David Ausubel juga relevan dalam konteks ini. Dalam perkuliahan, hal ini berarti tugas yang diberikan seharusnya berasal dari struktur pemikiran yang telah dimiliki mahasiswa. Misalnya, tugas proyek yang menuntut mahasiswa mengaitkan teori dengan pengalaman pribadi. Ketika mahasiswa menemukan keterkaitan tersebut, proses belajar menjadi bermakna. Mereka tidak sedang mengerjakan tugas dosen melainkan sedang menemukan diri dalam proses pembelajaran.
Pandangan teori humanistik juga memperkuat gagasan ini. Dalam pandangan ini, mahasiswa dipandang sebagai individu yang unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tugas kuliah, seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan mengembangkan potensi secara utuh. Tugas tidak hanya mengukur hasil akhir berupa angka, tetapi juga menilai proses berpikir, kreativitas, den refleksi diri mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, saya kerap melihat beberapa mahasiswa bahwa tugas baru benar-benar dipahami maknanya setelah dikerjakan, bukan saat materi disampaikan oleh dosen. Dari tugaslah mahasiswa belajar berpikir kritis, mampu mengelola waktu, dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kuliah sejatinya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa, asalkan dipahami dan dijalani dengan cara pandang yang tepat.
Masalahnya sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil bukan proses. Banyak mahasiswa mengerjakan tugas hanya untuk mendapatkan nilai bukan karena ingin memahami makna apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Merevolusi cara pandang terhadap tugas kuliah berarti menempatkan kembali tugas sebagai bagian dari proses pembelajaran bukan sebagai beban mahasiswa. Ketika mahasiswa mulai melihat tugas sebagai ruang pengembangan diri mereka akan lebih bersemangat, produktif, dan berdaya saing. Tak hanya mahasiswa, dosen pun akan lebih mudah menilai kualitas pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, revolusi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil belajar, tetapi juga membentuk generasi mahasiswa yang berpikir kritis, reflektif, dan siap menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Hal yang paling berharga dari tugas kuliah bukan hanya tentang nilai yang berupa angka melainkan proses belajar yang akan menambah pemahaman.







