Opini
Estetika Luka dan Perlawanan dalam Puisi “Duri di Balik Janji” Karya Nada Aura Syakilla
Published
11 months agoon
By
Mitra Wacana
oleh : Ferdi Ardian Saputra
Duri di Balik Janji
Oleh: Nada Aura Syakilla
Kata manis yang kau ucap di hati
Seperti angin lembut di musim pagi
Namun kini terasa getir dan hampa
Karena di balik janji kau sisipkan dusta.
Kau menjauh tanpa kata
Meninggalkan jejak luka yang sangat mendalam
Di mana tawa yang dulu kita cipta?
Kini hanya bayang-bayang kelam.
Kau sembunyikan pisau di balik senyum
Menusuk perlahan tanpa peringatan
Kepercayaan yang dulu utuh dan teguh
Kini berserak hancur tak beraturan
Namun, dari pengkhianatan ini
Aku belajar untuk bangkit kembali
Meski luka menyisa dalam hati
Kau takkan lagi menghancurkan diri ini
Puisi adalah medium yang tak hanya menyuarakan isi hati, tetapi juga membingkai emosi dalam lapisan estetika yang penuh makna. Dalam puisi “Duri di Balik Janji” karya Nada Aura Syakilla, pengalaman emosional yang getir dikemas dalam bentuk yang halus, menciptakan resonansi mendalam bagi pembaca. Nada membawa kita pada perjalanan batin yang menyakitkan, namun justru melalui luka itu, keindahan dan keteguhan ditampilkan secara subtil dan menggugah.
Puisi ini dibuka dengan metafora yang terasa manis dan lembut—“kata manis yang kau ucap di hati / seperti angin lembut di musim pagi.” Namun kelembutan ini segera dibenturkan dengan kenyataan bahwa di balik janji itu ternyata tersembunyi dusta. Keindahan awal hanya menjadi gerbang menuju ironi yang lebih dalam. Estetika puisi ini bekerja melalui kontras: antara harapan dan pengkhianatan, antara senyum dan luka. Dalam ruang estetikanya, puisi ini seolah mengajak pembaca untuk turut merasakan perih yang perlahan namun nyata.
Nada tidak bermain dengan diksi rumit. Ia menyusun larik-larik yang lugas, namun efek emosionalnya justru lebih kuat karena kesederhanaannya. Baris “kau sembunyikan pisau di balik senyum” adalah contoh bagaimana simbol digunakan untuk menyampaikan penderitaan secara tidak langsung namun menghujam. Pisau di balik senyum bukan hanya pengkhianatan, tapi juga metafora dari dunia yang terlihat aman di permukaan namun menyimpan luka dalam diam. Estetika simbolik ini memperlihatkan bagaimana tubuh dan rasa bekerja dalam puisi, dan bagaimana keduanya tidak selalu diungkap secara eksplisit.
Melalui struktur yang mengalir, puisi ini membentuk semacam gerak batin: dari harapan, luka, hingga pemulihan. Bukan pemulihan yang gegap gempita, tapi pemulihan yang sunyi dan terukur. Bait terakhir—“aku belajar untuk bangkit kembali”—menjadi klimaks emosional sekaligus etis. Di titik ini, pembaca tidak hanya melihat “aku puitik” sebagai korban, tetapi sebagai subjek yang mengambil kembali kendali atas dirinya. Inilah estetika eksistensial yang hadir dalam puisi ini: keindahan muncul dari keberanian untuk menyatakan luka, dan untuk bangkit melampaui luka itu.
Yang menarik dari puisi Nada adalah bagaimana ia tidak menyederhanakan rasa sakit menjadi semata-mata kesedihan. Ia hadirkan luka sebagai pengalaman yang utuh: kompleks, menyakitkan, tapi juga membentuk. Estetika dalam puisi ini bukan hanya soal keindahan bentuk, tapi soal kejujuran isi. Ia tidak menjilat luka agar terasa indah, tapi membiarkan luka itu terbuka agar bisa dipahami, diterima, dan akhirnya dilampaui.
“Duri di Balik Janji” adalah contoh bagaimana puisi bisa menjadi ruang penyembuhan. Ia tidak berteriak, tapi berbisik. Dan dalam bisikannya, kita mendengar suara yang sangat manusiawi: bahwa rasa sakit bisa diubah menjadi kekuatan, dan bahwa estetika bisa lahir dari kehancuran yang dijalani dengan kesadaran. Dalam konteks ini, puisi ini sangat relevan untuk diangkat dalam media seperti Mitra Wacana, karena menyuarakan pengalaman yang banyak dialami perempuan dan mereka yang pernah merasa dihancurkan oleh janji—namun memilih untuk tetap berdiri.
You may like
Opini
Sejarah Perfilman Indonesia: Layar Indonesia dan Identitas Bangsa
Published
4 days agoon
21 May 2026By
Mitra Wacana

Adela Damanik, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas
Bagaimana mungkin sebuah film sederhana yang sudah diputar hampir seabad lalu dapat melahirkan sebuah tradisi seni yang terus hidup hingga kini? Pertanyaan ini akan membawa kita pada sejarah perfilman Indonesia. Sebuah perjalanan panjang yang merekam perkembangan seni dalam menciptakan identitas bangsa. Mulai dari film yang tanpa suara hingga karya yang sudah melanglang buana di kancah film internasional.
Kisah ini dimulai pada tahun 1926, dengan hadirnya Loetoeng Kasaroeng, sebuah film tanpa suara yang disutradarai oleh L. Heuveldorp dan diproduksi oleh Java Film Company. Film ini diadaptasi dari legenda Jawa Barat dan menampilkan seorang gadis pribumi sebagai pemainnya. Film ini cukup sukses, karena diputar selama satu minggu di bioskop-bioskop kota Bandung, mulai 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927.
Tak sampai di situ, sejarah perfilman Indonesia dimulai sejak kembalinya seorang wartawan yang sempat ditangkap Belanda karena meliput Perjanjian Renville yang bebas pada 1949. Usmar Ismail kemudian mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Bersamaan dengan itu, Jamaluddin Malik mendirikan Perseroan Artis Film Indonesia (Persari). Dari sinilah lahir film Darah dan Doa. Syuting pertama film ini dimulai pada 30 Maret 1950. Film Darah dan Doa merupakan film yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dengan latar belakang kultura Indonesia. Itu sebabnya, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Sejak saat itu, film-film dijadikan sebagai alat penghibur.
Namun, pada perkembangannya muncul perbedaan pandangan dalam dunia perfilman Indonesia. Terbentuk dua kubu, yaitu kalangan seniman dan para pedagang film. Bagi para seniman, film harus memiliki kualitas dan nilai seni yang baik. Sementara itu, bagi pedagang film dan pengusaha bioskop, yang terpenting adalah menarik banyak penonton. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, akhirnya disepakati diadakannya sebuah ajang nasional, yaitu Festival Film Indonesia (FFI) pertama pada tahun 1955.
Pada tahun 1962, Jamaludin Malik dan Usmar Ismail bekerja sama dengan produser Filipina untuk membuat Film Holiday in Bali yang merupakan film berwarna pertama. Dilanjutkan kerja sama dengan Singapura dalam membuat Film Bayangan di Waktu fajar. Tahun 1965 selanjutnya dibentuk dewan produksi film nasional yang menghasilkan sejumlah film percontohan antara lain Film Apa yang Kau Cari Palupi karya Asrul Sani. Pada tahun 1967, Film Apa yang Kau Cari Palupi menjadikan film pertama Indonesia yang mendapat penghargaan di ajang festival internasional.
Tiga puluh tahun sejak pertama kali digelar, pada tahun 1992 masa kerja Festival Film Indonesia (FFI) berhenti. Vakumnya ajang penghargaan ini beriringan dengan menurunnya produksi film nasional. Namun, memasuki dekade 2000-an, perfilman Indonesia kembali bergerak dengan hadirnya Petualangan Sherina karya Riri Riza, disusul oleh Ada Apa dengan Cinta? karya Rudi Sujarwo, yang berhasil menarik kembali minat penonton. Kebangkitan film-film ini kemudian membuka jalan bagi penyelenggaraan kembali FFI pada tahun 2004, yang kali ini difasilitasi oleh pemerintah, dan sejak saat itu FFI kembali digelar secara rutin sebagai wadah apresiasi bagi insan perfilman nasional.
Era baru perfilman Indonesia ditandai dengan munculnya sejumlah pemilik modal yang kembali berinvestasi dalam produksi film nasional. Dari situ lahirlah berbagai karya populer karya Nia Dinata seperti Ca-bau-kan karya Nia Dinata, Arisan!, Berbagi Suami. Pada saat yang sama, pelaku industri film dari kalangan China dan India juga ikut kembali bergerak dengan menghasilkan film-film laris, di antaranya Kafir karya Mardaly Sjarifdan Eiffel… I’m in Love Nasri Cheepy.
Sejarah panjang ini membuktikan bahwa perfilman Indonesia bukan sekadar hiburan, melainkan juga cermin budaya, identitas, dan dinamika masyarakat. Dari Loetoeng Kasaroeng hingga era film populer modern, perjalanan perfilman Indonesia akan terus menorehkan jejak baru di masa depan.







