web analytics
Connect with us

Opini

Dari Kata ke Nada: Spontanitas Pendendang dalam Saluang Dendang

Published

on

Fatin Fashahah
mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Andalas

Bayangkan ketika ucapan biasa tiba-tiba menjelma menjadi sebuah syair yang tercipta tanpa naskah dan persiapan. Mengalun seirama dengan tiupan saluang yang mendayu, hingga menjadi sebuah penampilan yang unik dan menghibur namun tidak bisa diulang kembali secara identik. Itulah sebuah keajaiban yang terjadi dalam salah satu seni pertunjukan sastra lisan Minangkabau yang disebut sebagai Saluang Dendang.

Saluang Dendang merupakan seni pertunjukan sastra lisan yang menggunakan alat musik saluang untuk mengiringi vokal pendendang. Saluang merupakan alat musik tiup yang yang terbuat dari bambu dan mempunyai lubang sebagai penghasil nada. Saluang dimainkan oleh seseorang yang disebut sebagai tukang saluang. Kesenian Saluang Dendang biasanya dipertunjukkan dalam acara hiburan masyarakat seperti pernikahan, acara adat dan penggalangan dana. Pertunjukan ini bisa dilaksanakan pada siang ataupun malam hari tergantung dari konteks kegiatannya (Nofroza Yelli, 2018).

Hal yang membuat pertunjukan Saluang Dendang istimewa tidak hanya dilihat dari permainan saluang-nya yang mendayu tetapi juga dari kemampuan sang pendendang dalam merangkai kata secara spontan menjadi sebuah syair yang bermakna. Misalnya, saat ada yang meminta untuk menjadikan khalayak penonton sebagai bagian dari syair yang sedang diucapkan oleh pendendang. Tanpa berpikir lama, pendendang dengan sigap langsung menyusun bait-bait syair yang sesuai denga apa yang diminta, penyampaiannya juga disertai dengan makna dan emosi. Syairnya seakan mengalir begitu saja, seirama dengan tiupan saluang seolah sudah dipersiapkan sebelumnya.

Kemampuan sang pendendang dalam menciptakan bait-bait syair dengan waktu yang singkat bukanlah hal yang mudah, diperlukan kecepatan berpikir, penguasaan bahasa yang baik, serta pemahaman mendalam terhadap irama dan struktur syair Minangkabau yang akan disampaikan. Pendendang harus bisa menyelaraskan antara isi syair, nada saluang, dan suasana hati penontonnya. Tentunya kemampuan ini merupakan bakat yang mengagumkan karena tidak ada pengulangan jika pendendang salah mengucapkan kata, disebabkan semuanya terjadi secara langsung.

Spontanitas pendendang ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan Saluang Dendang adalah tradisi yang hidup. Ia tidak kaku ataupun terjebak dalam pola lama, tetapi terus bergerak mengikuti suasana dan permintaan dari penontonnya. Seni pertunjukan ini juga menunjukkan kemampuan improvisasi, interaksi, bahkan hiburan yang spontan. Ketika pendendang mampu merespon ucapan penonton dan mengubahnya menjadi bagian dari pertunjukan, itu menandakan adanya hubungan aktif antara pelaku seni dan penikmatnya.  

Seni pertunjukan Saluang Dendang lebih dari sekedar hiburan biasa. Pertunjukan ini menunjukkan tingginya daya kreativitas pendendang dalam menghasilkan syair dalam waktu yang terbilang singkat. Setiap bait syair yang lahir dari mulut pendendang merupakan hasil dari kerja pikiran dan kemampuan rasa yang sudah terlatih, pendendang bukan sekedar menghafal atau mengulang syair lama saja.  

Dibalik keindahan dan keunikan pertunjukan Saluang Dendang terdapat kekayaan budaya yang perlu terus dijaga. Pertunjukan Saluang Dendang adalah salah satu warisan budaya Minangkabau yang merekam cara orang Minangkabau berpikir, merasa, dan menyampaikan pesan dengan menarik. Kemampuan pendendang dalam menciptakan syair secara langsung merupakan bagian dari kecerdasan dan keunikan Saluang Dendang yang belum tentu dimiliki oleh seni pertunjukan Minangkabau lainnya.

Namun, sayangnya tidak banyak generasi muda yang mengetahui bagaimana proses kreatif dalam pertunjukan Saluang Dendang itu terjadi. Beberapa mungkin hanya melihatnya sebagai seni pertunjukan tradisional yang menghibur, tanpa menyadari bahwa ada keterampilan khusus yang harus dimiliki seorang pendendang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menghargai proses kreatif dalam pertunjukan Saluang Dendang, terutama spontanitas penuh perasaan yang menjadi jantung pertunjukannya.

Saluang Dendang bukan hanya sekedar pertunjukan tradisional. Ia adalah bentuk sastra lisan yang dinamis, di mana kata biasa bisa berubah menjadi bait-bait syair dalam sekejap. Spontanitas pendendang adalah bukti betapa kayanya budaya Minangkabau dalam merawat keindahan, kreativitas, dan kecerdasan emosional melalui seni pertunjukan sastra lisan. Ketika sebuah ucapan bisa menjadi dendang hanya dalam waktu singkat, kita bukan hanya sedang menyaksikan pertunjukan seni tetapi juga menyaksikan keajaiban kata.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri

Published

on

Sumber foto: Freepik

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia

Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”

Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”

Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.

Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.

Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.

Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?

Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.

Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang  yang akhirnya memilih lari ke dunia maya—  sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.

Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.

Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.

Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?

Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.

Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh. 

Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda. 

Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.

​Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.

Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.

Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.

 

REFERENSI

Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).

Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.

Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending