Opini
Dari Kata ke Nada: Spontanitas Pendendang dalam Saluang Dendang
Published
11 months agoon
By
Mitra Wacana

Fatin Fashahah
mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Andalas
Bayangkan ketika ucapan biasa tiba-tiba menjelma menjadi sebuah syair yang tercipta tanpa naskah dan persiapan. Mengalun seirama dengan tiupan saluang yang mendayu, hingga menjadi sebuah penampilan yang unik dan menghibur namun tidak bisa diulang kembali secara identik. Itulah sebuah keajaiban yang terjadi dalam salah satu seni pertunjukan sastra lisan Minangkabau yang disebut sebagai Saluang Dendang.
Saluang Dendang merupakan seni pertunjukan sastra lisan yang menggunakan alat musik saluang untuk mengiringi vokal pendendang. Saluang merupakan alat musik tiup yang yang terbuat dari bambu dan mempunyai lubang sebagai penghasil nada. Saluang dimainkan oleh seseorang yang disebut sebagai tukang saluang. Kesenian Saluang Dendang biasanya dipertunjukkan dalam acara hiburan masyarakat seperti pernikahan, acara adat dan penggalangan dana. Pertunjukan ini bisa dilaksanakan pada siang ataupun malam hari tergantung dari konteks kegiatannya (Nofroza Yelli, 2018).
Hal yang membuat pertunjukan Saluang Dendang istimewa tidak hanya dilihat dari permainan saluang-nya yang mendayu tetapi juga dari kemampuan sang pendendang dalam merangkai kata secara spontan menjadi sebuah syair yang bermakna. Misalnya, saat ada yang meminta untuk menjadikan khalayak penonton sebagai bagian dari syair yang sedang diucapkan oleh pendendang. Tanpa berpikir lama, pendendang dengan sigap langsung menyusun bait-bait syair yang sesuai denga apa yang diminta, penyampaiannya juga disertai dengan makna dan emosi. Syairnya seakan mengalir begitu saja, seirama dengan tiupan saluang seolah sudah dipersiapkan sebelumnya.
Kemampuan sang pendendang dalam menciptakan bait-bait syair dengan waktu yang singkat bukanlah hal yang mudah, diperlukan kecepatan berpikir, penguasaan bahasa yang baik, serta pemahaman mendalam terhadap irama dan struktur syair Minangkabau yang akan disampaikan. Pendendang harus bisa menyelaraskan antara isi syair, nada saluang, dan suasana hati penontonnya. Tentunya kemampuan ini merupakan bakat yang mengagumkan karena tidak ada pengulangan jika pendendang salah mengucapkan kata, disebabkan semuanya terjadi secara langsung.
Spontanitas pendendang ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan Saluang Dendang adalah tradisi yang hidup. Ia tidak kaku ataupun terjebak dalam pola lama, tetapi terus bergerak mengikuti suasana dan permintaan dari penontonnya. Seni pertunjukan ini juga menunjukkan kemampuan improvisasi, interaksi, bahkan hiburan yang spontan. Ketika pendendang mampu merespon ucapan penonton dan mengubahnya menjadi bagian dari pertunjukan, itu menandakan adanya hubungan aktif antara pelaku seni dan penikmatnya.
Seni pertunjukan Saluang Dendang lebih dari sekedar hiburan biasa. Pertunjukan ini menunjukkan tingginya daya kreativitas pendendang dalam menghasilkan syair dalam waktu yang terbilang singkat. Setiap bait syair yang lahir dari mulut pendendang merupakan hasil dari kerja pikiran dan kemampuan rasa yang sudah terlatih, pendendang bukan sekedar menghafal atau mengulang syair lama saja.
Dibalik keindahan dan keunikan pertunjukan Saluang Dendang terdapat kekayaan budaya yang perlu terus dijaga. Pertunjukan Saluang Dendang adalah salah satu warisan budaya Minangkabau yang merekam cara orang Minangkabau berpikir, merasa, dan menyampaikan pesan dengan menarik. Kemampuan pendendang dalam menciptakan syair secara langsung merupakan bagian dari kecerdasan dan keunikan Saluang Dendang yang belum tentu dimiliki oleh seni pertunjukan Minangkabau lainnya.
Namun, sayangnya tidak banyak generasi muda yang mengetahui bagaimana proses kreatif dalam pertunjukan Saluang Dendang itu terjadi. Beberapa mungkin hanya melihatnya sebagai seni pertunjukan tradisional yang menghibur, tanpa menyadari bahwa ada keterampilan khusus yang harus dimiliki seorang pendendang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menghargai proses kreatif dalam pertunjukan Saluang Dendang, terutama spontanitas penuh perasaan yang menjadi jantung pertunjukannya.
Saluang Dendang bukan hanya sekedar pertunjukan tradisional. Ia adalah bentuk sastra lisan yang dinamis, di mana kata biasa bisa berubah menjadi bait-bait syair dalam sekejap. Spontanitas pendendang adalah bukti betapa kayanya budaya Minangkabau dalam merawat keindahan, kreativitas, dan kecerdasan emosional melalui seni pertunjukan sastra lisan. Ketika sebuah ucapan bisa menjadi dendang hanya dalam waktu singkat, kita bukan hanya sedang menyaksikan pertunjukan seni tetapi juga menyaksikan keajaiban kata.
You may like
Opini
BBM Naik, Tekanan Ekonomi Masyarakat Semakin Berat
Published
3 days agoon
12 June 2026By
Mitra Wacana
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hampir selalu menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan ekonomi. Dampaknya tidak berhenti di stasiun pengisian bahan bakar, tetapi menjalar ke ongkos transportasi, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, hingga kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli. Karena itu, keputusan PT Pertamina menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 pada 10 Juni 2026 bukan sekadar penyesuaian harga energi, melainkan kebijakan yang berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Pertamina menetapkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi agar tidak berubah. Langkah ini memang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dari gejolak harga minyak dunia yang terus meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, di balik keputusan tersebut muncul kelompok yang justru menanggung beban paling besar, yakni kelas menengah dan bawah.
Selama beberapa tahun terakhir, kelas menengah menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga nasional. Mereka tidak termasuk penerima bantuan sosial, tetapi juga tidak memiliki bantalan ekonomi yang cukup ketika biaya hidup meningkat secara tiba-tiba. Kenaikan harga Pertamax lebih dari 30 persen membuat kelompok ini harus mengalokasikan pengeluaran tambahan yang tidak sedikit. Pengguna kendaraan yang menghabiskan sekitar 100 liter BBM setiap bulan kini harus merogoh kocek hampir Rp400 ribu lebih banyak. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan untuk bekerja atau menjalankan usaha dengan konsumsi sekitar 150 liter per bulan, tambahan pengeluaran mendekati Rp600 ribu menjadi beban yang nyata.
Persoalannya bukan semata-mata bertambahnya biaya membeli BBM. Kenaikan harga energi selalu memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Biaya transportasi yang meningkat akan diikuti naiknya ongkos distribusi barang, tarif jasa logistik, biaya pengiriman, hingga harga berbagai kebutuhan sehari-hari. Pelaku usaha pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat, yakni menaikkan harga jual kepada konsumen atau menekan biaya operasional agar usaha tetap bertahan. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pilihan kedua sering kali berarti menunda ekspansi usaha, mengurangi investasi, bahkan melakukan efisiensi tenaga kerja.
Sektor logistik, transportasi, jasa kurir, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diperkirakan menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Ketika biaya operasional meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, ruang bagi dunia usaha untuk tumbuh menjadi semakin sempit. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.
Sejumlah ekonom menilai kenaikan harga Pertamax akan memicu inflasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Inflasi tidak hanya berasal dari naiknya harga bensin dalam perhitungan indeks harga konsumen, tetapi juga dari meningkatnya biaya distribusi yang akhirnya mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Dampak lanjutan yang paling dikhawatirkan adalah melemahnya konsumsi rumah tangga, padahal konsumsi selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kajian dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bahkan memperkirakan tekanan terhadap daya beli kelas menengah dapat memperbesar jumlah masyarakat yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan pokok dan transportasi semakin besar, ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun membelanjakan pendapatan pada sektor-sektor produktif akan semakin menyempit.
Di sisi lain, pemerintah berpendapat dampak terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas karena Pertamax hanya dikonsumsi oleh kelompok tertentu dan memiliki bobot yang kecil dalam keranjang inflasi. Argumentasi tersebut memang memiliki dasar statistik. Namun dalam praktiknya, dampak ekonomi tidak selalu tercermin hanya melalui angka inflasi. Pelemahan daya beli kelas menengah, berkurangnya konsumsi, dan meningkatnya biaya usaha juga merupakan indikator penting yang menentukan kesehatan ekonomi nasional.
Kenaikan harga Pertamax juga membuka peluang terjadinya perpindahan pengguna ke BBM bersubsidi. Semakin lebar selisih harga antara Pertamax dan Pertalite, semakin besar pula dorongan masyarakat untuk beralih menggunakan BBM yang disubsidi negara. Jika migrasi ini terjadi dalam skala besar, beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah akan meningkat dan ruang fiskal negara menjadi semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, perdebatan publik kemudian bergeser pada prioritas belanja negara. Sejumlah ekonom dan aktivis mempertanyakan mengapa pemerintah tetap mempertahankan berbagai program dengan anggaran yang sangat besar, sementara masyarakat mulai menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin berat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak disorot karena menyerap anggaran ratusan triliun rupiah. Kritik yang muncul bukan semata-mata menolak tujuan program tersebut, melainkan mempertanyakan apakah alokasi anggaran sebesar itu masih menjadi pilihan yang paling tepat ketika daya beli masyarakat melemah dan kebutuhan perlindungan sosial semakin meningkat.
Kritik serupa juga diarahkan pada berbagai program prioritas lain yang dinilai belum memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat. Menurut para pengamat, ketika ruang fiskal semakin sempit, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, memperkuat perlindungan sosial yang tepat sasaran, membantu sektor usaha yang terdampak, serta menjaga daya beli masyarakat agar roda ekonomi tetap berputar.
Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan naiknya harga BBM nonsubsidi. Kebijakan ini menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan fiskal negara dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga energi mungkin tidak dapat dihindari ketika harga minyak dunia melonjak. Namun, yang akan menentukan dampaknya adalah bagaimana pemerintah merespons tekanan tersebut melalui kebijakan yang mampu melindungi masyarakat, menjaga aktivitas dunia usaha, dan memastikan bahwa beban penyesuaian ekonomi tidak terus-menerus dipikul oleh kelas menengah.
Sebab ketika kelas menengah mulai mengurangi konsumsi, dunia usaha menahan ekspansi, dan biaya hidup terus meningkat, yang dipertaruhkan bukan hanya angka inflasi atau pertumbuhan ekonomi. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat bahwa setiap kebijakan negara benar-benar berpihak pada mereka yang setiap hari bekerja, membayar pajak, dan menjadi penggerak utama roda perekonomian Indonesia.
Ruliyanto







