Opini
Ironi dan Sarkasme dalam Cerpen AYAH, ANJING Karya Yusrizal KW
Published
11 months agoon
By
Mitra Wacana
Oleh: Aini Nurlatipa
Ironi dan sarkasme mungkin terdengar familiar di telinga kita, mungkin seseorang pernah mengatakan suatu sarkasme kepadamu atau kamu mengatakan sarkasme kepada orang lain. Jika pernah mengalami dua hal diatas, lalu tahukah kamu apa yang dimaksud dengan sarkarme dan ironi? Dalam stlistika ironi dan sarkasme merupakan salah satu stile bahasa yang bersifat pengontrasan, singaktnya seperti menyindir seseorang. Hal yang membedakan keduanya adalah tingkat intensitasnya. Ironi terkesan seperti menyindir seseorang dengan lembut dan lebih sopan, sedangkan sarkasme lebih serius dan langsung.
Seperti halnya dalam percakapan sehari-hari, ironi dan sarkasme juga banyak digunakan oleh penulis dalam menciptakan karyanya. Memakai ironi dan sarkasme dalam karya sastra menuntut pembaca untuk mencari kotras dari apa yang dituturkan agar dapan memahami makna yang diutarakan oleh penulis. Ironi dan sarkasme biasanya digunakan pengarang agar lebih mendukung tema dan pesan yang tersirat dalam karya tersebut. Penggunaan ironi dan sarkasme juga dapat membuat pembaca lebih memahami masalah apa yang ingin dikritik oleh penulis. contohnya dalam cerpen AYAH, ANJING karya Yusrizal KW yang kaya akan ironi dan sarkasme dalam penulisannya.
Cerpen AYAH, ANJING ditulis oleh Yusrizal dengan latar budaya Minangkabau. Mengisahkan sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, Samuik (seekor anjing pemburu), ibu, dan seorang anak laki-laki. Ayah atau yang disebut Pajatu memiliki seekor anjing pemburu yang sangat disayanginya melebihi anaknya sendiri yaitu Samuik. Ibu (Lia) dan anak (Imron) merasa bahwa Pajatu tidak adil sebab ia memperlakukan seekor anjing lebih baik daripada mereka. Akibatnya Samuik sering disiksa ketika Pajatu pergi ke ladang atau ketempat lain, hal ini menyebabkan pertengkaran antara Pajatu dan Lia. Pada kahirnya karena merasa bahwa ayahnya lebih menyayangi seekor anjing, maka suatu hari Imron melepaskan anjing pemburu tersebut dan menggantikanya dengan dirinya sendiri menjad seekor anjing.
Setelah membaca cerpen tersebut maka akan tampaklah bahwa tema dari cerpen tersebut merupakan kritik terhadap sosok ayah yang lebih menghargai anjing pelihaaraanya dibandingkan anak dan keluarganya sendiri. Perilaku pilih kasih tokoh ayah didukung oleh ironi dan sarkasme yang terdapat dalam cerpen tersebut. Ironi dan sarkasme ini datang dari berbagai tokoh dalam cerpen dan pengarang cerpen itu sendiri. Beriukut beberapa ironi dan sarkasme yang ditemukan dalam cerpen AYAH, ANJING:
Seperti yang telah didefinisikan di atas, ironi adalah bentuk penyampaian kritik atau sindiran dengan intensitas yang rendah.
- “Pajatu mengelus-elus anjing, anjing menujulur-julurkan lidah ke arah Lia yang tengah mengusap-usap rambut Imron. Ibu dan anak duduk berhadap-hadapan dengan ayah dan anjing”
- “Wah, ini anak saya selain Imron lo, Pak Juar,” kata Pajatu.
- “Ia kulepas karena ribut terus. Habis kau pergi tak bawa-bawa dia. Dia protes, seperti Imron waktu kecil menangis ketika tak kubawa ke pasar.” jawab Lla agak sengit.
- Imron murung di sudut kamar. la makin sedih dan kecewa pada ayahnya. Apalagi, mengingat tiga hari lalu, ia kebetulan mendapatkan sepotong roti. Roti itu ia makan, lalu ketahuan Ayah. Ayahnya marah, karena roti yang diberikan Pak Juar dari Pak Camat untuk Samuik.
- -Tak jarang, bahkan sering kini, pertengkaran di rumah petani sederhana itu dipicu oleh si anjing.
Berbagai ironi yang tertera diatas melalui narasi pengarang dan dialog tokoh ditujukan pada tokoh Pajatu. Ironi ini digunakan untuk mengkritik perilaku yang ditampilkan leh tokoh Pajatu sekaligus menyoroti tindakan pilih kasih yang ia lakukan terhadap anak dan istrinya. Selain ironi, ditemukan juga beberapa sarkasme dalam cerpen tersebut yaitu:
- “Pak Camat menawar anjing ini satu juta rupiah, tapi aku tak mau jual…”
“Imron ditawar seratus juta juga aku tak mau jual.” sungut istrinya
- “Pokoknya nggak jual. Cuma ini kebanggaan saya. Kadang lebih membanggakan dari Imron”-Pajatu
- “Kadang, ketika seranjang, Lla merasa disetubuhi oleh anjing, karena erangan nikmat suaminya terasa bak suara Samuik yang baginya menjijikkan”.
- Kalau ada anjing yang hidupnya beruntung. Samuiklah salah satunya. Dibuatkan kandang, dibelikan gelang leher dari kulit dan rantai yang baik mutunya. Padahal, sepatu dan baju seragam Imron sudah lepas jahitannnya, dan kusam lagi-tak pernah digubris.
- Imron duduk bagai anjing dengan lehernya terikat rantai yang biasanya dipakai Samuik. Lidahnya dijulur-julurkan, menirukan gaya anjing.
“Ngapain kamu Imron?!” suara Pajatu meninggi. agak parau. Belum kumur-kumur.
“Imron ingin menjadi anjing, biar disayang Ayah!”
Pajatu terperanjat, hatinya bagai disergap beribu-ribu taring anjing yang tajam
ironi dan sarkasme yang digunakan dalam novel AYAH, ANJING selain bertujuan agar cerita terasa lebih menarik adalah untuk mendukung tema yang diangkat ole penulis. tema kritik sosial terhadap ayah yang pilih kasih antara keluarga dan anjing didukung oleh ironi dan sarkasme yang digunkan oleh penulis. Selain itu narasi dan dialog yang berunsur ironi dan sarkasme juga menunjukkan bagaimana karakter tokoh yang ditampilkan dalam cerita berkembang. Misalnya pada tokoh Imron yang mengalami tindakan tidak adil dari yahnya sehingga menyebabkan Imron cemburu pada seekor anjing lalu memilih menjadi anjing agar disayang oleh ayahnya. Hal ini berdampak pada pembaca yang membaca cerpen AYAH, ANJING. Emosi dan pesan cerita dapat lebih tersampaikan kepada pembaca melalui ironi dan sarkasme yang digunakan penulis.
You may like
Opini
Sejarah Perfilman Indonesia: Layar Indonesia dan Identitas Bangsa
Published
4 days agoon
21 May 2026By
Mitra Wacana

Adela Damanik, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas
Bagaimana mungkin sebuah film sederhana yang sudah diputar hampir seabad lalu dapat melahirkan sebuah tradisi seni yang terus hidup hingga kini? Pertanyaan ini akan membawa kita pada sejarah perfilman Indonesia. Sebuah perjalanan panjang yang merekam perkembangan seni dalam menciptakan identitas bangsa. Mulai dari film yang tanpa suara hingga karya yang sudah melanglang buana di kancah film internasional.
Kisah ini dimulai pada tahun 1926, dengan hadirnya Loetoeng Kasaroeng, sebuah film tanpa suara yang disutradarai oleh L. Heuveldorp dan diproduksi oleh Java Film Company. Film ini diadaptasi dari legenda Jawa Barat dan menampilkan seorang gadis pribumi sebagai pemainnya. Film ini cukup sukses, karena diputar selama satu minggu di bioskop-bioskop kota Bandung, mulai 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927.
Tak sampai di situ, sejarah perfilman Indonesia dimulai sejak kembalinya seorang wartawan yang sempat ditangkap Belanda karena meliput Perjanjian Renville yang bebas pada 1949. Usmar Ismail kemudian mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Bersamaan dengan itu, Jamaluddin Malik mendirikan Perseroan Artis Film Indonesia (Persari). Dari sinilah lahir film Darah dan Doa. Syuting pertama film ini dimulai pada 30 Maret 1950. Film Darah dan Doa merupakan film yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dengan latar belakang kultura Indonesia. Itu sebabnya, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Sejak saat itu, film-film dijadikan sebagai alat penghibur.
Namun, pada perkembangannya muncul perbedaan pandangan dalam dunia perfilman Indonesia. Terbentuk dua kubu, yaitu kalangan seniman dan para pedagang film. Bagi para seniman, film harus memiliki kualitas dan nilai seni yang baik. Sementara itu, bagi pedagang film dan pengusaha bioskop, yang terpenting adalah menarik banyak penonton. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, akhirnya disepakati diadakannya sebuah ajang nasional, yaitu Festival Film Indonesia (FFI) pertama pada tahun 1955.
Pada tahun 1962, Jamaludin Malik dan Usmar Ismail bekerja sama dengan produser Filipina untuk membuat Film Holiday in Bali yang merupakan film berwarna pertama. Dilanjutkan kerja sama dengan Singapura dalam membuat Film Bayangan di Waktu fajar. Tahun 1965 selanjutnya dibentuk dewan produksi film nasional yang menghasilkan sejumlah film percontohan antara lain Film Apa yang Kau Cari Palupi karya Asrul Sani. Pada tahun 1967, Film Apa yang Kau Cari Palupi menjadikan film pertama Indonesia yang mendapat penghargaan di ajang festival internasional.
Tiga puluh tahun sejak pertama kali digelar, pada tahun 1992 masa kerja Festival Film Indonesia (FFI) berhenti. Vakumnya ajang penghargaan ini beriringan dengan menurunnya produksi film nasional. Namun, memasuki dekade 2000-an, perfilman Indonesia kembali bergerak dengan hadirnya Petualangan Sherina karya Riri Riza, disusul oleh Ada Apa dengan Cinta? karya Rudi Sujarwo, yang berhasil menarik kembali minat penonton. Kebangkitan film-film ini kemudian membuka jalan bagi penyelenggaraan kembali FFI pada tahun 2004, yang kali ini difasilitasi oleh pemerintah, dan sejak saat itu FFI kembali digelar secara rutin sebagai wadah apresiasi bagi insan perfilman nasional.
Era baru perfilman Indonesia ditandai dengan munculnya sejumlah pemilik modal yang kembali berinvestasi dalam produksi film nasional. Dari situ lahirlah berbagai karya populer karya Nia Dinata seperti Ca-bau-kan karya Nia Dinata, Arisan!, Berbagi Suami. Pada saat yang sama, pelaku industri film dari kalangan China dan India juga ikut kembali bergerak dengan menghasilkan film-film laris, di antaranya Kafir karya Mardaly Sjarifdan Eiffel… I’m in Love Nasri Cheepy.
Sejarah panjang ini membuktikan bahwa perfilman Indonesia bukan sekadar hiburan, melainkan juga cermin budaya, identitas, dan dinamika masyarakat. Dari Loetoeng Kasaroeng hingga era film populer modern, perjalanan perfilman Indonesia akan terus menorehkan jejak baru di masa depan.







