Opini
Kebiasaan Untung Sendiri dan Rusaknya Aturan Bersama
Published
5 days agoon
By
Mitra Wacana

Vinsensius, S.Fil., M.M. akademisi dan penulis kajian filsafat moral, budaya, dan ekonomi perilaku. Aktif mengajar di perguruan tinggi serta menulis opini populer.
Ada tipe orang yang selalu punya alasan. Ia melanggar aturan sedikit, tapi merasa itu wajar. Ia mengambil keuntungan kecil, tapi merasa tidak merugikan siapa pun. Baginya, yang penting urusannya beres dan dirinya aman.
Masalahnya, pola seperti ini sering dibungkus dengan kalimat, “Sudah biasa begitu.” Kebiasaan akhirnya menjadi tameng. Orang tidak lagi bertanya apakah tindakannya benar, melainkan apakah tindakannya umum dilakukan.
Di titik ini, kita perlu belajar dari Immanuel Kant. Ia bukan filsuf yang bicara rumit untuk membingungkan orang. Inti pesannya sederhana: lakukan hanya tindakan yang pantas dilakukan oleh semua orang.
Kant percaya bahwa moralitas tidak ditentukan oleh kebiasaan atau keuntungan. Moralitas ditentukan oleh kewajiban. Artinya, kita bertindak benar bukan karena takut ketahuan, bukan karena ingin dipuji, dan bukan karena ingin untung. Kita bertindak benar karena itu memang benar.
Coba bayangkan satu hal sederhana. Jika semua orang menerobos lampu merah karena merasa jalan sedang sepi, apa yang akan terjadi? Mungkin awalnya tidak apa-apa. Tapi jika semua orang berpikir sama, kekacauan tinggal menunggu waktu.
Begitu juga dalam kehidupan sosial. Jika semua pegawai memanipulasi laporan sedikit saja, jika semua pejabat mengambil keuntungan kecil saja, jika semua warga mencari celah aturan demi dirinya, lama-lama sistem akan rapuh.
Kant menyebut prinsipnya sebagai imperatif kategoris. Jangan takut dengan istilahnya. Maksudnya begini: sebelum bertindak, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya rela jika semua orang melakukan hal yang sama?”
Jika jawabannya tidak, maka kemungkinan besar tindakan itu tidak bermoral. Sederhana, tapi tegas.
Masalah terbesar manusia modern bukan tidak tahu aturan. Kita tahu aturan. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Masalahnya, kita sering merasa diri kita pengecualian.
Kita merasa pelanggaran kecil tidak akan berdampak besar. Kita berkata, “Ah, cuma saya saja.” Padahal, setiap orang yang berkata demikian sedang menambah satu batu kecil pada bangunan ketidakadilan.
Lebih berbahaya lagi, kebiasaan untung sendiri ini membentuk karakter. Awalnya mungkin kecil. Lama-lama menjadi pola. Dan pola itu akhirnya membentuk pribadi yang selalu menghitung keuntungan sebelum menghitung kebenaran.
Kant juga mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat. Jika kita melanggar aturan demi keuntungan pribadi, sering kali kita menjadikan orang lain sebagai sarana. Kita memakai sistem, memakai kepercayaan orang, bahkan memakai hukum untuk kepentingan diri.
Mungkin secara hukum kita tidak tertangkap. Tapi secara moral, kita sudah menggerogoti kepercayaan bersama. Dan tanpa kepercayaan, masyarakat tidak akan bertahan lama.
Lalu apa solusinya? Apakah kita harus menjadi orang yang kaku dan terlalu idealis? Tidak. Moralitas bukan soal menjadi sempurna. Moralitas soal konsisten.
Pertama, biasakan bertanya sebelum bertindak. Latih diri dengan satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana jika semua orang melakukan ini?” Pertanyaan ini bisa menjadi rem yang kuat.
Kedua, bedakan antara kebiasaan dan kebenaran. Tidak semua yang lazim itu benar. Jangan jadikan kalimat “sudah biasa” sebagai pembenaran. Justru kebiasaan perlu diuji ulang secara berkala.
Ketiga, bangun keberanian untuk berbeda. Jika lingkungan terbiasa mencari celah, orang yang taat aturan sering dianggap aneh. Tapi perubahan selalu dimulai dari orang yang berani tidak ikut arus.
Keempat, mulai dari hal kecil. Disiplin waktu, jujur dalam laporan, tidak memotong antrean, tidak memanfaatkan jabatan untuk keluarga. Tindakan kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada pidato moral panjang.
Kelima, bangun budaya saling mengingatkan, bukan saling membiarkan. Banyak pelanggaran bertahan karena semua orang diam. Padahal, diam sering kali berarti setuju.
Kita mungkin tidak bisa mengubah sistem besar sendirian. Namun kita bisa memastikan bahwa diri kita tidak ikut merusaknya. Itu sudah langkah penting.
Hidup bersama membutuhkan aturan. Aturan membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa bertahan jika orang bertindak bukan demi untung sendiri, melainkan demi kebaikan bersama.
Menjadi orang yang berpegang pada kewajiban memang tidak selalu menguntungkan secara cepat. Tapi dalam jangka panjang, itulah fondasi masyarakat yang adil dan kuat.
Pada akhirnya, peradaban tidak hancur karena satu kejahatan besar. Ia runtuh karena terlalu banyak orang merasa wajar untuk sedikit saja tidak jujur.
Di situlah kita perlu tegas pada diri sendiri. Bukan karena takut dihukum, melainkan karena kita ingin hidup dalam masyarakat yang bisa dipercaya. Dan itu selalu dimulai dari pilihan pribadi yang sederhana.
You may like
Opini
Butterfly Effect: Dampak Besar dari Hal-hal Kecil dalam Kehidupan Sosial
Published
5 days agoon
23 February 2026By
Mitra Wacana

Cindy May Siagian, mahasiswi fakultas hukum Universitas Jambi, pengarang fiksi dan penulis nonfiksi
Seorang filsuf asal Yunani Kuno, yaitu Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah makhluk zoon politicon. Artinya manusia sebagai makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri. Setiap manusia selalu membutuhkan manusia lain dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Dalam menjalankan kehidupan, manusia berinteraksi satu sama lain dan dari interaksi itu akan menimbulkan suatu kejadian yang berdampak bagi mereka. Baik dampak buruk maupun dampak baik. Lalu setiap kejadian itu berawal dari apa?
Inilah proses suatu konsep yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Konsep tersebut adalah Butterfly effcet. APA Dictionary of Psychology mengartikan bahwa Butterfly effect atau efek kupu-kupu adalah suatu kecenderungan sistem yang kompleks dan dinamis agar lebih peka terhadap suatu kondisi awal yang mungkin berubah karena hal-hal kecil.
Konsep butterfly effect dipelopori oleh Edward Norton Lorenz, seorang matematikawan dan meteorologi Amerika. Ia berpendapat bahwa kepak sayap seekor kupu-kupu di Brazil secara teori dapat memicu tornado di Texas.
Pernyataan tersebut dikatakan Edward Norton Lorenz pada 29 Desember 1972, saat ia mempresentasikan model kekacauan yang inovatif dan potensi ketidakpastian kekacauan pada pertemuan ke-139 American Association for the Advancement of Science (AAAS).
Teori ini ditemukan Edward Norton Lorenz saat melakukan penelitian meteorologi. Ketika membuat perhitungan mengenai perkiraan cuaca, Edward berhasil mengerjakan 12 persamaan diferensial tak linear menggunakan komputer.
Semula ia mencetak hasil perhitungan di atas kertas dengan format enam angka di belakang koma 0,506127. Lalu, ia membulatkan angka tersebut menjadi 0,506 menjadi tiga angka di belakang koma.
Ia istirahat sejenak dan kembali dengan menemukan suatu fakta bahwa perubahan kecil itu menghasilkan prediksi cuaca yang sangat berbeda. Semula dua kurva berimpitan, tetapi keduanya mengalami pergeseran secara dinamis hingga membentuk corak yang berbeda.
Edward mempublikasikan studi teoretis berdasarkan kejadian yang dialaminya dalam artikel yang berjudul “Aliran Tak periodik Deterministik”. Ia juga mengatakan bahwa satu kepakan burung camar mengubah jalannya cuaca. Berkembangnya waktu, ia kemudian mengganti menjadi kupu-kupu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sekecil apa pun perubahan atau kejadian mampu menimbulkan efek besar bagi seseorang. Lalu, mengapa konsep ini sangat dekat dengan perilaku dan kehidupan manusia? Alasannya karena setiap kejadian yang memiliki pengaruh luas bermula dari hal-hal kecil yang tidak disadari atau tidak diperhatikan. Maka, akan timbul kejadian besar yang tidak pernah terbayangkan.
Kejadian itu mampu memberikan dampak yang tidak pernah terbayangkan . Hal-hal kecil yang sering diabaikan seperti tidak saling bertutur sapa sesama tetangga atau tidak pernah ikut kegiatan gotong royong dapat mengakibatkan hubungan renggang.
Hubungan yang renggang ini, dampak dari hal-hal kecil yang sering diabaikan. Oleh karena itu, efek kupu-kupu ini mengajarkan bahwa supaya kita lebih peka terhadap perbuatan kecil dan hati-hati untuk memutuskan sesuatu. Sebuah tindakan sederhana dapat menjadi bumerang pada masa yang akan datang.
Sebagai makhluk sosial yang selalu bergantung pada orang lain, sudah seharusnya kita mampu memikirkan efek yang akan terjadi bila melakukan sesuatu yang semula merupakan tindakan sederhana. Jika demikian dapat terlaksana, efek kupu-kupu akan memberikan dampak yang tidak merugikan.
Selain itu, kita harus mengingat bahwa suatu hubungan yang kita lakukan sebagai makhluk sosial tidak akan pernah selesai selama masih memperoleh kehidupan. Karena hal tersebut, sudah menjadi kodrat manusia.
Bila memahami konsep ini, kita dapat mengaitkan kembali pendapat Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk zoon politicon dengan penemuan Edward Norton Lorenz. Kepakan sayap kupu-kupu seumpama interaksi atau tindakan manusia sehari-hari yang dapat menimbulkan perubahan besar.
Kita harus menjadikan kedua konsep tersebut sebagai panduan untuk membangun hubungan yang harmonis dan rukun. Dengan demikian, kehidupan sosial kita akan lebih stabil dan terhindar dari hubungan yang mampu mengakibatkan dampak buruk.

Mitra Wacana Menjadi Narasumber pada Pelatihan Konvensi Hak Anak Dinsos PPA Kulon Progo

Lindungi Ruang Sipil dan Demokrasi: Perkumpulan Mitra Wacana Ajukan Amicus Curiae Tuntut Keadilan bagi Perdana Arie Putra Veriasa








