Opini
Ketika Tutur Kata Kehilangan Rasa
Published
8 months agoon
By
Mitra Wacana

Nilnal Muna, mahasiswi aktif Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Memasuki era digital ini bentuk komunikasi bertambah luas. Dahulu penggunaan, komunikasi lahir melalui tatap muka. Sekarang semuanya bergeser pada ponsel. Miliaran pesan diketik, dikirim, hingga hilang dalam sekejap. Beragam stiker, emoji, dan singkatan menggantikan ungkapan dan gestur bahasa tubuh. Bahasa menjadi progresif dan efisien, namun di tengah kecepatan itu, ada hal yang perlahan hilang yaitu: rasa.
Berkomunikasi bukan sekadar bertukar informasi, melainkan soal mengungkapkan perasaan serta melatih kepekaan sesama manusia. Ketika obrolan berlangsung, kita dapat menangkap gestur, mimik muka lawan bicara kita sehingga timbul lah saling memahami. Namun era virtual ini, penyampaian makna sering menyusut. Kalimat yang dimaksud bercanda bisa dianggap sarkasme. Pesan yang seharusnya lembut menjadi terkesan kaku.
Mengutip dari artikel jurnal yang berjudul “Emoji Sebagai Strategi Komunikasi Sosial: Analisis Sosiolinguistik terhadap Teks Digital”. Artikel tersebut menjelaskan bahwa emoji memang membantu mengekspresikan emosi, tapi sering kali gagal menangkap nuansa nonverbal seperti intonasi suara, sehingga pesan teks mudah disalahartikan dan kehilangan kehangatan asli (Ramdani 2025). Dalam situasi seperti ini, emoji seharusnya hanya menjadi pelengkap komunikasi daripada pengganti emosi manusia. Ini karena emoji terbatas dan tidak dapat menggantikan empati dalam interaksi langsung.
Sebagai perempuan, sering kali menafsirkan dengan “kata hati” sendiri. Terkadang saat membaca pesan dari teman terasa seolah sedang kesal, padahal mungkin saja sedang sibuk. Dari sinilah akar masalah muncul. Ketika berkomunikasi melalui virtual sering salah mengartikan maknanya, karena tidak ada ekspresi wajah maupun nada suara yang menyertainya. Oleh sebab itu, obrolan menjadi rawan salah paham. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui media digital tidak hanya memerlukan kecerdasan emosional, tetapi juga kejelian dalam pemilihan kata agar tidak memicu kesalahpahaman. Perubahan dalam cara memahami pesan juga berdampak pada cara manusia berbahasa di dunia maya.
Fenomena menarik lainnya adalah maraknya emoji dan kata singkatan kekinian. Emoji sebenarnya diciptakan untuk menambahkan ekspresi. Akan tetapi justru menimbulkan kebingungan. Misalnya, ada yang mengirimkan emoji menangis padahal maksudnya tawa terbahak-bahak. Oleh karena itu, orang yang membacanya menjadi salah mengartikan. Hadirnya singkatan seperti “OMG”, “ICYMI”, atau “LOL” yang dipakai hanya sekadar ikut-ikutan (fomo) tanpa memahami artinya.
Dalam situasi ini, dunia digital seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kesantunan dan kepekaan. Literasi digital beretika perlu ditekankan agar bahasa di ruang maya tidak kehilangan rasa. Komunikasi dapat dimulai dari hal sederhana: menulis salam, mengucapkan terima kasih, dan menanyakan kabar dengan tulus. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat mengajarkan etika berbahasa digital, bukan hanya keterampilan teknologi.
Menurut Kartika Sari dan Nopita Sari (2023) dalam Jurnal Riset Teknologi
Informasi dan Edukasi berjudul “Analisis Pengaruh Literasi Digital Terhadap Nilai Etika Berdigital pada Mahasiswa” menegaskan bahwa literasi digital berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran etis di dunia maya. Dengan pemahaman etika digital, individu lebih mampu mengontrol bahasa dan perilaku komunikasi agar tidak menyinggung atau melukai orang lain.
Era digital ini tidak harus membuat bahasa kehilangan rasa. Seharusnya menjadi kesempatan untuk membawa kembali nilai-nilai berbahasa luhur, baik, dan benar. Kita dapat memulai dari hal yang sederhana. Menulis pesan dengan salam, menambahkan kata terima kasih, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus pada lawan bicara. Sekolah dan universitas juga bisa menanamkan literasi digital beretika, bukan hanya soal cara menggunakan teknologi. Akan tetapi, menjaga perasaan terhadap orang lain melalui ungkapan yang baik.
Peran publik figur dan pengguna media sosial bisa menjadi teladan dengan memilih kata yang ramah serta peduli. Kata yang ditulis atau diungkapkan tidak harus formal melainkan, cukup menunjukkan bahwa di balik layar masih ada etika, dan kepekaan. Bahasa yang baik bukan hanya yang benar menurut aturan, tetapi yang mampu membuka afirmasi positif dan menjaga hubungan antar manusia. Teknologi memang tidak bisa dihentikan, namun kehangatan manusia itu yang harus dijaga. Dunia maya boleh kilat, tapi rasa dalam berbahasa tidak boleh hilang. Ketika bahasa sendiri kehilangan rasa, kita juga perlahan kehilangan kemampuan untuk saling menginterpretasikannya.
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
6 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition







