web analytics
Connect with us

Opini

Ketika Tutur Kata Kehilangan Rasa

Published

on

Sumber: freepik

Nilnal Muna, mahasiswi aktif Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Memasuki era digital ini bentuk komunikasi bertambah luas. Dahulu penggunaan, komunikasi lahir melalui tatap muka. Sekarang semuanya bergeser pada ponsel. Miliaran pesan diketik, dikirim, hingga hilang dalam sekejap. Beragam stiker, emoji, dan singkatan menggantikan ungkapan dan gestur bahasa tubuh. Bahasa menjadi progresif dan efisien, namun di tengah kecepatan itu, ada hal yang perlahan hilang yaitu: rasa. 

Berkomunikasi bukan sekadar bertukar informasi, melainkan soal mengungkapkan perasaan serta melatih kepekaan sesama manusia. Ketika obrolan berlangsung, kita dapat menangkap gestur, mimik muka lawan bicara kita sehingga timbul lah saling memahami. Namun era virtual ini, penyampaian makna sering menyusut. Kalimat yang dimaksud bercanda bisa dianggap sarkasme. Pesan yang seharusnya lembut menjadi terkesan kaku.

 Mengutip dari artikel jurnal yang berjudul “Emoji Sebagai Strategi Komunikasi Sosial: Analisis Sosiolinguistik terhadap Teks Digital”. Artikel tersebut menjelaskan bahwa emoji memang membantu mengekspresikan emosi, tapi sering kali gagal menangkap nuansa nonverbal seperti intonasi suara, sehingga pesan teks mudah disalahartikan dan kehilangan kehangatan asli (Ramdani 2025). Dalam situasi seperti ini, emoji seharusnya hanya menjadi pelengkap komunikasi daripada pengganti emosi manusia. Ini karena emoji terbatas dan tidak dapat menggantikan empati dalam interaksi langsung.

Sebagai perempuan, sering kali menafsirkan  dengan “kata hati” sendiri. Terkadang saat membaca pesan dari teman terasa seolah sedang kesal, padahal mungkin saja sedang sibuk. Dari sinilah akar masalah muncul. Ketika berkomunikasi melalui virtual sering salah mengartikan maknanya, karena tidak ada ekspresi wajah maupun nada suara yang menyertainya. Oleh sebab itu, obrolan menjadi rawan salah paham. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui media digital tidak hanya memerlukan kecerdasan emosional, tetapi juga kejelian dalam pemilihan kata agar tidak memicu kesalahpahaman. Perubahan dalam cara memahami pesan juga berdampak pada cara manusia berbahasa di dunia maya.

Fenomena menarik lainnya adalah maraknya emoji dan kata singkatan kekinian. Emoji sebenarnya diciptakan untuk menambahkan ekspresi. Akan tetapi justru menimbulkan kebingungan. Misalnya, ada yang mengirimkan emoji menangis padahal maksudnya tawa terbahak-bahak. Oleh karena itu, orang yang membacanya menjadi salah mengartikan. Hadirnya singkatan seperti “OMG”, “ICYMI”, atau “LOL” yang dipakai hanya sekadar ikut-ikutan (fomo) tanpa memahami artinya. 

Dalam situasi ini, dunia digital seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kesantunan dan kepekaan. Literasi digital beretika perlu ditekankan agar bahasa di ruang maya tidak kehilangan rasa. Komunikasi dapat dimulai dari hal sederhana: menulis salam, mengucapkan terima kasih, dan menanyakan kabar dengan tulus. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat mengajarkan etika berbahasa digital, bukan hanya keterampilan teknologi.

Menurut Kartika Sari dan Nopita Sari (2023) dalam Jurnal Riset Teknologi

Informasi dan Edukasi berjudul “Analisis Pengaruh Literasi Digital Terhadap Nilai Etika Berdigital pada Mahasiswa” menegaskan bahwa literasi digital berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran etis di dunia maya. Dengan pemahaman etika digital, individu lebih mampu mengontrol bahasa dan perilaku komunikasi agar tidak menyinggung atau melukai orang lain.

Era digital ini tidak harus membuat bahasa kehilangan rasa. Seharusnya menjadi kesempatan untuk membawa kembali nilai-nilai berbahasa  luhur, baik, dan benar. Kita dapat memulai dari hal yang sederhana. Menulis pesan dengan salam, menambahkan kata terima kasih, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus pada lawan bicara. Sekolah dan universitas juga bisa menanamkan literasi digital beretika, bukan hanya soal cara menggunakan teknologi. Akan tetapi,  menjaga perasaan terhadap orang lain  melalui ungkapan yang baik. 

Peran publik figur dan pengguna media sosial bisa menjadi teladan dengan memilih kata yang ramah serta peduli. Kata yang ditulis atau diungkapkan tidak harus formal melainkan, cukup menunjukkan bahwa di balik layar masih ada etika, dan kepekaan. Bahasa yang baik bukan hanya yang benar menurut aturan, tetapi yang mampu membuka afirmasi positif dan menjaga hubungan antar manusia. Teknologi memang tidak bisa dihentikan, namun kehangatan manusia itu yang harus dijaga. Dunia maya boleh kilat, tapi rasa dalam berbahasa tidak boleh hilang. Ketika bahasa sendiri kehilangan rasa, kita juga perlahan kehilangan kemampuan untuk saling menginterpretasikannya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial

Published

on

Sumber foto: Freepik

Adela Damanik mahasiswi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Pada tanggal 20 Mei lalu, akun Instagram @ahmaddhaniofficial mendapatkan 700 lebih komentar buruk. Sebuah unggahan yang menampilkan Ahmad Dhani bersama istrinya saat menghadiri sebuah rapat dengan keterangan, “Barusan dengar pidato Presiden yang revolusioner soal menentukan sendiri harga sawit, batu bara, nikel, dan lain-lain. Slide 2 video colongan Raffi Ahmad,” dihujani komentar-komentar berupa opini, kritik pedas, hujatan, hingga kata-kata kasar yang ditujukan kepada Ahmad Dhani dan istrinya. Fenomena hate comment  seperti ini sepertinya sudah dinormalisasikan di ruang digital kita.

Berdasarkan data Napoleon Cat pada Januari 2026, jumlah pengguna Instagram di Indonesia mencapai 121, 54 juta pengguna, atau setara dengan 42,4% dari total populasi penduduk Indonesia. Tingginya angka tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih berkomunikasi di dunia maya. Platform ini memang media yang mudah untuk berkomunikasi, berinteraksi, berekspresi, dan berkolaborasi, berbagi, menyampaikan pendapat atau kririk secara virtual (Aji, 2023). Kita dapat melontarkan apapun dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Namun, kemudahan ini justru membuat interaksi di dunia maya menjadi pisau bermata dua. Alih-alih membuat obrolan makin seru, komentar yang dilontarkan kerap memicu konflik.

Berlindung dibalik “kebebasan berpendapat” membuat membuat kita sebagai netizen sering sekali asal dalam berbicara. Netizen cenderung melontarkan komentar buruk kepada penerima tuturan tanpa memikirkan perasaan si penerima tuturan. Etika berbicara yang biasanya dijaga ketika berkomunikasi secara langsung, mendadak hilang saat jari mulai menari di atas layar gawai. Apabila hal terus dinormalisasikan, media sosial yang awalnya menjadi ruang interaksi yang sehat justru berbalik menjadi lingkungan toxic yang memudarkan kesantunan berbahasa.

Untungnya, persoalan ini dapat diatasi dengan sebuah ilmu bahasa, khususnya dalam kajian pragmatik. Ada satu teori yang menerapkan enam aturan dalam menjaga kesantunan berbahasa. Keenam aturan ini dirumuskan dalam teori prinsip kesantunan berbahasa Geoffrey Leech yang terdiri dari: maksim kearifan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, kemufakatan, dan kesimpatian.

Namun, teori tetaplah teori jika tidak dipraktikkan. Ratusan hate comment pada akun Instagram Ahmad Dhani tersebut bukan lagi sekadar kebebasan berekspresi, melainkan wujud nyata pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Lantas, seperti apa persisnya bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan netizen saat sedang  memuaskan ego untuk mengkritik orang lain?

  1. Maksim Kearifan

Maksim kearifan dalam hal yang bersifat imposisi dan komisi, yang umumnya diterapkan dalam tindak tutur ilokusi direktif dan komisif. Prinsip ini meminimalkan beban atau kerugian bagi orang lain, serta memaksimalkan keuntungan atau manfaat bagi mitra tutur. Dalam kegiatan bertutur, maksim ini menuntut penutur untuk selalu mengurangi keuntungan diri sendiri demi memprioritaskan kenyamanan pihak lain. Pelanggaran maksim kearifan, yaitu peserta tutur memaksimalkan kerugian orang lain, atau meminimalkan keuntungan orang lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:

Aithoshoutai: “@secondrecht.catalogue dodol barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂” (Jual barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂)

Tuturan @aithoshoutai termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan kerugian orang lain. Maksud dari akun instagram @aithoshoutai adalah menyampaikan ketidaksetujuan dengan pendapat akun instagram @secondrecht.catalogue, tetapi tidak menggunakan bahasa yang tidak santun dan merugikan orang lain dengan menjelek-jelekkan jualan orang lain.

  1. Maksim Kedermawanan

            Penutur meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Pelanggaran maksim kedermawanan, yaitu peserta pertuturan memaksimalkan atau memperbanyak keuntungan bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan bagi pihak lain. Namun, maksim kedermawanan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.

  1. Maksim Penghargaan

            Penutur meminimalkan kritik/celaan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. Pelanggaran maksim penghargaan ini, yaitu tidak memberikan penghargaan pada pihak lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:

Zahra_store_pekalongan: “NGGAK PANTAS JADI ANGGOTA DPR. YG MILIH SOPO TO.” (Nggak pantas jadi anggota DPR. Yg milih siapa sih.)

Tuturan akun instagram @zahra_store_pekalongan termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan penghinaan terhadap pihak lain, yaitu Ahmad Dhani dan Mulan Jamela. Pengguna instagram tersebut secara tidak langsung ingin menyampaikan maksud bahwa Ahmad Dhani dan Mulan Jamela tidak bekerja dengan baik dengan menyampaikan penghinaan secara langsung melalui ungkapan “Nggak pantas jadi anggota DPR.”

  1. Maksim Kesederhanaan

Penutur yang santun meminimalkan pujian terhadap dirinya sendiri dan memaksimalkan celaan/kerendahan terhadap dirinya sendiri. Menyombongkan diri atau menyetujui pujian tentang diri sendiri dianggap tidak santun. Pelanggaran maksim ini yaitu peserta tutur tidak dapat bersikap rendah hati dengan cara menambah pujian terhadap dirinya sendiri. Namun, maksim kesederhanaan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.

  1. Maksim Kemufakatan

            Penutur harus mengurangi ketidak sesuaian antara diri sendiri dengan orang lain, dan tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Pelanggaran maksim ini yaitu penutur dan lawan tutur meminimalkan kesetujuan di antara mereka, dan memaksimalkan ketidaksetujuan di antara mereka.

Secondrecht.catalogue: “Revolusioner ndasmu 😂.” (Revolusioner mulutmu 😂.)

Tuturan akun instagram @secondrecht.catalogue termasuk pelanggaran maksim kemufakatan karena memaksimalkan perbedaan pendapat dan meminimalkan kesetujuan yang sesuai dengan konteks postingan. Pengguna instagram tesebut secara tidak langsung menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pidato presiden mengenai revolusioner melalui ungkapan “Ndasmu,” di mana kata ndasmu merupakan bahasa kasar dari Bahasa Jawa yang memiliki artimu mulutmu.

  1. Maksim kesimpatian

            Maksim kesimpatian mengharuskan semua peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Pelanggaran maksim ini, yaitu peserta pertuturan tidak memaksimalkan rasa simpati, dan tidak meminimalkan rasa antipasti kepada lawan tuturnya. 

Muh.philow2020: “Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.” (Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.)

Tuturan akun instagram @muh.philow2020 termasuk pelanggaran maksim kesimpatian karena meminimalkan simpati dan memaksimalkan antipati. Pengguna instagram menggunaakan bahasa yang tidak santun dengan menyebutkan Jin Kampret  dan Jin Dasim sebagai Ahmad Dhani dan Mulan Jameela. Penutur menyampaikan ketidaksukaannya terhadap orang lain dengan menamai manusia sebagai jin. Padahal unggahan akun @ahmaddhaniofficial tidak ada yang salah, hanya mengunggah foto ia bersama sang istri pada slide pertama dan keadaan ruang sidang pada slide kedua.

            Pada akhirnya, ratusan komentar negatif di akun @ahmaddhaniofficial membuktikan bahwa netizen Indoensia memang sedang mengalami krisis kesantunan yang cukup parah. Melalui teori Geoffrey Leech, terbukti bahwa banyak netizen secara sadar maupun tidak sadar telah melanggar maksim kearifan, penghargaan, kemufakatan, hingga kesimpatian. Alih-alih meredam ego, pengguna media sosial justru sering kali memaksimalkan celaan dan antipati terhadap orang lain dengan berlindung di balik “kebebasan berpendapat“. Oleh karena itu, masyarakat harus kembali menerapkan etika berbahasa dunia nyata ke dalam interaksi dunia maya, agar kebebasan berpendapat tidak terus-menerus disalahartikan sebagai kebebasan untuk saling menghujat.

Continue Reading

Trending