Opini
Ketika Tutur Kata Kehilangan Rasa
Published
7 months agoon
By
Mitra Wacana

Nilnal Muna, mahasiswi aktif Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Memasuki era digital ini bentuk komunikasi bertambah luas. Dahulu penggunaan, komunikasi lahir melalui tatap muka. Sekarang semuanya bergeser pada ponsel. Miliaran pesan diketik, dikirim, hingga hilang dalam sekejap. Beragam stiker, emoji, dan singkatan menggantikan ungkapan dan gestur bahasa tubuh. Bahasa menjadi progresif dan efisien, namun di tengah kecepatan itu, ada hal yang perlahan hilang yaitu: rasa.
Berkomunikasi bukan sekadar bertukar informasi, melainkan soal mengungkapkan perasaan serta melatih kepekaan sesama manusia. Ketika obrolan berlangsung, kita dapat menangkap gestur, mimik muka lawan bicara kita sehingga timbul lah saling memahami. Namun era virtual ini, penyampaian makna sering menyusut. Kalimat yang dimaksud bercanda bisa dianggap sarkasme. Pesan yang seharusnya lembut menjadi terkesan kaku.
Mengutip dari artikel jurnal yang berjudul “Emoji Sebagai Strategi Komunikasi Sosial: Analisis Sosiolinguistik terhadap Teks Digital”. Artikel tersebut menjelaskan bahwa emoji memang membantu mengekspresikan emosi, tapi sering kali gagal menangkap nuansa nonverbal seperti intonasi suara, sehingga pesan teks mudah disalahartikan dan kehilangan kehangatan asli (Ramdani 2025). Dalam situasi seperti ini, emoji seharusnya hanya menjadi pelengkap komunikasi daripada pengganti emosi manusia. Ini karena emoji terbatas dan tidak dapat menggantikan empati dalam interaksi langsung.
Sebagai perempuan, sering kali menafsirkan dengan “kata hati” sendiri. Terkadang saat membaca pesan dari teman terasa seolah sedang kesal, padahal mungkin saja sedang sibuk. Dari sinilah akar masalah muncul. Ketika berkomunikasi melalui virtual sering salah mengartikan maknanya, karena tidak ada ekspresi wajah maupun nada suara yang menyertainya. Oleh sebab itu, obrolan menjadi rawan salah paham. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui media digital tidak hanya memerlukan kecerdasan emosional, tetapi juga kejelian dalam pemilihan kata agar tidak memicu kesalahpahaman. Perubahan dalam cara memahami pesan juga berdampak pada cara manusia berbahasa di dunia maya.
Fenomena menarik lainnya adalah maraknya emoji dan kata singkatan kekinian. Emoji sebenarnya diciptakan untuk menambahkan ekspresi. Akan tetapi justru menimbulkan kebingungan. Misalnya, ada yang mengirimkan emoji menangis padahal maksudnya tawa terbahak-bahak. Oleh karena itu, orang yang membacanya menjadi salah mengartikan. Hadirnya singkatan seperti “OMG”, “ICYMI”, atau “LOL” yang dipakai hanya sekadar ikut-ikutan (fomo) tanpa memahami artinya.
Dalam situasi ini, dunia digital seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kesantunan dan kepekaan. Literasi digital beretika perlu ditekankan agar bahasa di ruang maya tidak kehilangan rasa. Komunikasi dapat dimulai dari hal sederhana: menulis salam, mengucapkan terima kasih, dan menanyakan kabar dengan tulus. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat mengajarkan etika berbahasa digital, bukan hanya keterampilan teknologi.
Menurut Kartika Sari dan Nopita Sari (2023) dalam Jurnal Riset Teknologi
Informasi dan Edukasi berjudul “Analisis Pengaruh Literasi Digital Terhadap Nilai Etika Berdigital pada Mahasiswa” menegaskan bahwa literasi digital berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran etis di dunia maya. Dengan pemahaman etika digital, individu lebih mampu mengontrol bahasa dan perilaku komunikasi agar tidak menyinggung atau melukai orang lain.
Era digital ini tidak harus membuat bahasa kehilangan rasa. Seharusnya menjadi kesempatan untuk membawa kembali nilai-nilai berbahasa luhur, baik, dan benar. Kita dapat memulai dari hal yang sederhana. Menulis pesan dengan salam, menambahkan kata terima kasih, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus pada lawan bicara. Sekolah dan universitas juga bisa menanamkan literasi digital beretika, bukan hanya soal cara menggunakan teknologi. Akan tetapi, menjaga perasaan terhadap orang lain melalui ungkapan yang baik.
Peran publik figur dan pengguna media sosial bisa menjadi teladan dengan memilih kata yang ramah serta peduli. Kata yang ditulis atau diungkapkan tidak harus formal melainkan, cukup menunjukkan bahwa di balik layar masih ada etika, dan kepekaan. Bahasa yang baik bukan hanya yang benar menurut aturan, tetapi yang mampu membuka afirmasi positif dan menjaga hubungan antar manusia. Teknologi memang tidak bisa dihentikan, namun kehangatan manusia itu yang harus dijaga. Dunia maya boleh kilat, tapi rasa dalam berbahasa tidak boleh hilang. Ketika bahasa sendiri kehilangan rasa, kita juga perlahan kehilangan kemampuan untuk saling menginterpretasikannya.
Opini
Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)
Published
2 days agoon
13 July 2026By
Mitra Wacana

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)
Diam saja di sini bukan tidak ada kata-kata (selain dalil), seperti penjelasan, contoh, ijtihad dan pengkiasan suatu bahasan materi kajian, namun tidak memberikan solusi; diingatkan/diberitahu dengan kondisi negasinya sama saja, rakyat susah dan mengalami ekonomi miskin lagi fakir. Ingat pidato Prabowo, tentang mengedepankan para buruh dan pekerja kasar daripada mahasiswa kala itu dalam rangka memberi manfaat dalam kehidupan meski selang berapa bulan pejabat bahkan menterinya (MENKEU Sri Mulyani) rumahnya dijarah!
Setiap manusia yang membaca artikel ini tentu pernah mendengar perinahasa yang diajarkan saat kita masih kecil, bisa di sekolah TK, SD atau oleh ayah/ibu di yaitu rumah rajin pangkal pandai. Artinya ketelatenan akan mendatangkan hasil, termasuk dalam pengelolaan negara dan ketangkasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah seperti krisis.
Mengapa Wahabi? Adalah gerakan keagamaan yang masif mendakwahkan semangat pemurnian, secara esensi tidak ada menyangsikan, namun secara konsep tentu perlu dikaji ulang, terlebih dakwah dengan fasilitas ala modernitas berupa ideologi, sebab khususnya Wahabi meski telah berperan baik termasuk dalam menjaga kestabilan sosial dan keharmonisan masyarakat dalam naungan agama sesungguhnya pada sisi tertentu mengalami kebingungan sendiri. Kenapa? Berikut ulasan filosofisnya.
Paradoksal Islam Tradisional
Sadarkah kita, mereka yang mendakwahkan agama dengan semangat revivalis itu adalah mereka yang terdidik, meski “based on” TIMTENG, nyatanya mereka pendidikan mereka berjenjang, ada yang S1, S2 artinya mereka “well educated enough” sayangnya, ada “mis” di sana. Kalau mau jujur-jujuran, mereka kurang bersahabat dengan akar pendidikan sekaligus ibu keilmuan (“The Mother of Science”) yaitu Filsafat bahkan seringkali menyerang dan terhadapnya yang dinilai bukan produk luar agama cenderung tidak berakhlak.
Secara proaktif, Wahabi menutup (“cover“) rapat-rapat pintu ke sana seolah tidak ada kebaikan darinya sehingga dianggap tidak manfaat dan berbahaya. Padahal, secara semangat keduanya relaitif sama, sebab Filsafat, istilahnya saja dari “Philo“: cinta dan “Shofia” artinya ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, bahkan Shofia atau “Shofiyy” dalam bahasa Arab sendiri berarti murni. “Bukankah Wahabi juga punya semangat menuju agama atau Islam yang murni?”
Belajar dari Filsafat, menjembatani tradisional dengan medernitas, tantangannya adalah pada ranah ideologi. Contohnya bisa berupa kepentingan, pemahaman serta jalan (“sabiil“). Maka sekali lagi bukan ensensi baik Filsafat terlebih agama. Jika pada Filsafat dalam spesifikasi keilmuan dan Antrologi dan/ Ilmu Budaya bisa dilihat pada perhelatan budaya dalam berbagai festival. Bedanya, usaha produksi tradisi masa lalu ke zaman sekarang ala Wahabi menghadirkan ketenangan dan pengalaman spiritual yang dalam lagi penuh kemuliaan.
“Emang Masalah Apa?”
Pertanyaan ini bukan maksud menyindir atau nyinyir kepada mereka yang berniat baik dengan berkontribusi positif bagi negeri dengan kapasitasnya meski dalam relasi namun berada di luar lingkar kekuasaan. Wahabi adalah sebagai yang diakui bersama: penganut dan pemerhati adalah bersifat ideologis nampaknya penting memperhatikan esensi agama yang didakwahkan, seperti kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dan keadilan yang tentu tidak untuk dinafikan atau apatis dan berlepas diri sepenuhnya.
Beranjak dari sana dan berbagai asumsi lain yang relatif sama, selain berdo’a, celah yang dapat dimanfaatkan adalah ruang usaha (“Wus’a“). Harapannya realitas sebagaimana dalam pandangan Filsafat atau keilmuan umum berupa holistik dapat terakomodir setelah terdistorsi sedemikian rupa tentunya sebagaimana dalam konsekuensi rasional ideologi.
Dengan demikian, langkah dakwah para Wahabi dan para penerusnya bukan sekedar dakwah sebagai tanggung jawab keilmuan, namun juga kontribusi terhadap keilmuan yang telah memberi ruang bagi mereka dan menjadikan produknya yang berkesesuaian dengan ideologi bangsa Indonesia itu sendiri. Termasuk menghadapi kondisi ekonomi miskin seperti sekarang, sikap berupa usaha juga penting, termasuk perbaikan terhadap pengelola pemerintah dan pemangku kekuasaan negeri ini yang sedang mengalami ekonomi yang sulit ini.

Mitra Wacana dan P3A Pesisir: Sosialisasi Pencegahan Kekerasan pada Anak Berbasis Gender Online

Dinas Sosial PPPA Kulon Progo, Mitra Wacana, dan BP3MI DIY Berkomitmen Lindungi Kelompok Rentan melalui Sosialisasi dan Deklarasi Pencegahan TPPO

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Dinas Sosial PPPA Kulon Progo, Mitra Wacana, dan BP3MI DIY Berkomitmen Lindungi Kelompok Rentan melalui Sosialisasi dan Deklarasi Pencegahan TPPO

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)






