Opini
Ketika Tutur Kata Kehilangan Rasa
Published
6 months agoon
By
Mitra Wacana

Nilnal Muna, mahasiswi aktif Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Memasuki era digital ini bentuk komunikasi bertambah luas. Dahulu penggunaan, komunikasi lahir melalui tatap muka. Sekarang semuanya bergeser pada ponsel. Miliaran pesan diketik, dikirim, hingga hilang dalam sekejap. Beragam stiker, emoji, dan singkatan menggantikan ungkapan dan gestur bahasa tubuh. Bahasa menjadi progresif dan efisien, namun di tengah kecepatan itu, ada hal yang perlahan hilang yaitu: rasa.
Berkomunikasi bukan sekadar bertukar informasi, melainkan soal mengungkapkan perasaan serta melatih kepekaan sesama manusia. Ketika obrolan berlangsung, kita dapat menangkap gestur, mimik muka lawan bicara kita sehingga timbul lah saling memahami. Namun era virtual ini, penyampaian makna sering menyusut. Kalimat yang dimaksud bercanda bisa dianggap sarkasme. Pesan yang seharusnya lembut menjadi terkesan kaku.
Mengutip dari artikel jurnal yang berjudul “Emoji Sebagai Strategi Komunikasi Sosial: Analisis Sosiolinguistik terhadap Teks Digital”. Artikel tersebut menjelaskan bahwa emoji memang membantu mengekspresikan emosi, tapi sering kali gagal menangkap nuansa nonverbal seperti intonasi suara, sehingga pesan teks mudah disalahartikan dan kehilangan kehangatan asli (Ramdani 2025). Dalam situasi seperti ini, emoji seharusnya hanya menjadi pelengkap komunikasi daripada pengganti emosi manusia. Ini karena emoji terbatas dan tidak dapat menggantikan empati dalam interaksi langsung.
Sebagai perempuan, sering kali menafsirkan dengan “kata hati” sendiri. Terkadang saat membaca pesan dari teman terasa seolah sedang kesal, padahal mungkin saja sedang sibuk. Dari sinilah akar masalah muncul. Ketika berkomunikasi melalui virtual sering salah mengartikan maknanya, karena tidak ada ekspresi wajah maupun nada suara yang menyertainya. Oleh sebab itu, obrolan menjadi rawan salah paham. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui media digital tidak hanya memerlukan kecerdasan emosional, tetapi juga kejelian dalam pemilihan kata agar tidak memicu kesalahpahaman. Perubahan dalam cara memahami pesan juga berdampak pada cara manusia berbahasa di dunia maya.
Fenomena menarik lainnya adalah maraknya emoji dan kata singkatan kekinian. Emoji sebenarnya diciptakan untuk menambahkan ekspresi. Akan tetapi justru menimbulkan kebingungan. Misalnya, ada yang mengirimkan emoji menangis padahal maksudnya tawa terbahak-bahak. Oleh karena itu, orang yang membacanya menjadi salah mengartikan. Hadirnya singkatan seperti “OMG”, “ICYMI”, atau “LOL” yang dipakai hanya sekadar ikut-ikutan (fomo) tanpa memahami artinya.
Dalam situasi ini, dunia digital seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kesantunan dan kepekaan. Literasi digital beretika perlu ditekankan agar bahasa di ruang maya tidak kehilangan rasa. Komunikasi dapat dimulai dari hal sederhana: menulis salam, mengucapkan terima kasih, dan menanyakan kabar dengan tulus. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat mengajarkan etika berbahasa digital, bukan hanya keterampilan teknologi.
Menurut Kartika Sari dan Nopita Sari (2023) dalam Jurnal Riset Teknologi
Informasi dan Edukasi berjudul “Analisis Pengaruh Literasi Digital Terhadap Nilai Etika Berdigital pada Mahasiswa” menegaskan bahwa literasi digital berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran etis di dunia maya. Dengan pemahaman etika digital, individu lebih mampu mengontrol bahasa dan perilaku komunikasi agar tidak menyinggung atau melukai orang lain.
Era digital ini tidak harus membuat bahasa kehilangan rasa. Seharusnya menjadi kesempatan untuk membawa kembali nilai-nilai berbahasa luhur, baik, dan benar. Kita dapat memulai dari hal yang sederhana. Menulis pesan dengan salam, menambahkan kata terima kasih, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus pada lawan bicara. Sekolah dan universitas juga bisa menanamkan literasi digital beretika, bukan hanya soal cara menggunakan teknologi. Akan tetapi, menjaga perasaan terhadap orang lain melalui ungkapan yang baik.
Peran publik figur dan pengguna media sosial bisa menjadi teladan dengan memilih kata yang ramah serta peduli. Kata yang ditulis atau diungkapkan tidak harus formal melainkan, cukup menunjukkan bahwa di balik layar masih ada etika, dan kepekaan. Bahasa yang baik bukan hanya yang benar menurut aturan, tetapi yang mampu membuka afirmasi positif dan menjaga hubungan antar manusia. Teknologi memang tidak bisa dihentikan, namun kehangatan manusia itu yang harus dijaga. Dunia maya boleh kilat, tapi rasa dalam berbahasa tidak boleh hilang. Ketika bahasa sendiri kehilangan rasa, kita juga perlahan kehilangan kemampuan untuk saling menginterpretasikannya.
Opini
Tanpa Disadari, Inilah Interaksi Obat dengan Makanan atau Minuman yang Dapat Membahayakan Tubuh
Published
2 days agoon
5 June 2026By
Mitra Wacana

Kayra Lova Marina
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Farmasi
Pernahkan kamu meminum obat sekaligus memakan makanan sebagai penyamar rasa pahit? atau setelah memakan makanan tertentu, langsung dilanjutkan dengan mengonsumsi obat tanpa adanya instruksi dari dokter atau apoteker? Tanpa kamu sadari, hal tersebut dapat membahayakan tubuh. Beberapa interaksi antara obat dengan makanan dan minuman sehari-hari dapat menimbulkan efek serius yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya ketidaktahuan yang dapat memperburuk kondisi pasien yang mengonsumsi suatu obat. Oleh karena itu, sudah saatnya kamu mengetahui bagaimana interaksi obat dengan makanan yang sering kali terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari.
- Antibiotik dengan Susu
Tanpa diketahui, interaksi antara antibiotik dan susu dapat memberikan efek yang buruk. Namun, hanya jenis antibiotik tertentu yang memiliki efek negatif, yaitu tetrasiklin. Diketahui bahwa mengonsumsi antibiotik tetrasiklin bersamaan dengan susu dapat menyebabkan antibiotik sulit untuk diserap. Susu memiliki kandungan kalsium di dalamnya. Kandungan kalsium tersebut akan menangkap molekul pada tetrasiklin dan membentuk senyawa baru yang sulit diserap oleh tubuh, sehingga efektivitas antibiotik menurun. Oleh karena itu, lebih baik mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan air putih saja.
- Obat Kolesterol dengan Jeruk Bali
Jeruk bali bisa menjadi berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat kolesterol jenis simvastatin. Simvastatin merupakan obat yang banyak diresepkan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Metabolisme pada Simvastatin sangat bergantung pada Enzim CYP3A4. Senyawa dalam jeruk bali dapat menghambat enzim CYP3A4 di usus yang berfungsi memecah simvastatin dalam saluran pencernaan. Jika CYP3A4 terhambat, kadar simvastatin dalam plasma darah akan meningkat. Kadar simvastatin yang terlalu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada otot (Miopati). Kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih fatal, seperti gagal ginjal akut. Sebaiknya, jeruk bali dikonsumsi satu atau dua jam setelah mengonsumsi obat tersebut.
- Warfarin dengan Sayuran Hijau
Warfarin merupakan obat pengencer darah yang diberikan kepada pasien penyakit jantung dan stroke. Warfarin bekerja dengan menghambat enzim yang penting untuk mengaktifkan vitamin K, yaitu VKORC1. Dengan adanya enzim tersebut, sintesis faktor-faktor pembekuan darah dapat dikurangi. Sayuran hijau yang dikonsumsi dapat memengaruhi efektivitas warfarin dan harus diwaspadai. Konsumsi sayuran hijau dengan kandungan vitamin K yang tinggi (lebih dari 250 µg) dapat menurunkan efektivitas warfarin. Itulah mengapa pasien yang mengonsumsi warfarin perlu menjaga asupan sayuran hijau secara konsisten agar efektivitas warfarin tetap stabil.
Setelah mengetahui fakta-fakta tersebut, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat kamu lakukan, seperti konsultasi dengan dokter atau apoteker mengenai konsumsi obat dan makanan sehari-hari, membaca label pada kemasan obat, dan juga hindari makanan atau minuman yang tertera ketika sedang mengonsumsi obat tersebut. Diharapkan setelah mengetahui informasi ini, interaksi obat dengan makanan tidak dianggap sepele, karena akan memiliki dampak yang sangat berpengaruh bagi kesehatan tubuh. Oleh karena itu, ayo lebih bijak dalam mengonsumsi obat-obatan.
Daftar Pustaka
Dayyih, W. A., et al. (2024). Review of Grapefruit Juice-Drugs Interactions Mediated by Intestinal CYP3A4 Inhibition. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 14(5), 59-68.
Talasaz, A. H., et al. (2024). Pharmacokinetic and Pharmacodynamic Interactions between Food or Herbal Products and Oral Anticoagulants: Evidence Review, Practical Recommendations, and Knowledge Gaps. Seminars in Thrombosis & Hemostasis, 51(5), 560-571.
Wiesner, A., et al. (2024). Clinically Important Interactions of Macrolides and Tetracyclines with Dietary Interventions – A Systematic Review with Meta – Analyses. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 79(11), 2762-2791.

SIARAN PERS MITRA WACANA untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

SIARAN PERS Menjamin Hak Beribadah adalah Amanat Konstitusi, Bukan Kompromi Sosial. Sikap Mitra Wacana atas Pembubaran Ibadah GMS di Panggungharjo

Tanpa Disadari, Inilah Interaksi Obat dengan Makanan atau Minuman yang Dapat Membahayakan Tubuh

SIARAN PERS MITRA WACANA untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

SIARAN PERS Menjamin Hak Beribadah adalah Amanat Konstitusi, Bukan Kompromi Sosial. Sikap Mitra Wacana atas Pembubaran Ibadah GMS di Panggungharjo







