Opini
Menjaga Diri di Tengah Budaya Serba Bebas
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Vinsensius, akademisi dan penulis dari Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak.
Zaman sekarang memang terasa berbeda. Pergaulan anak muda semakin terbuka dan bebas. Banyak hal yang dulu dianggap tabu kini perlahan dianggap biasa. Media sosial, tontonan digital, dan lingkungan pertemanan ikut membentuk cara berpikir generasi muda tentang hubungan, cinta, dan gaya hidup.
Di satu sisi, perkembangan zaman membawa banyak hal baik. Namun di sisi lain, tidak sedikit anak muda akhirnya kehilangan batas dalam pergaulan. Semua ingin terlihat modern, bebas, dan mengikuti tren. Akibatnya, keputusan penting dalam hidup sering dibuat hanya karena emosi sesaat atau rayuan pasangan.
Padahal, hidup bukan hanya tentang hari ini. Ada masa depan yang harus dijaga, ada keluarga yang berharap, dan ada nama baik yang bisa rusak karena satu keputusan yang salah.
Kebebasan dan Perubahan Gaya Hidup Anak Muda
Hari ini banyak orang menganggap menjaga diri adalah sesuatu yang kuno. Ada yang merasa malu jika dianggap terlalu menjaga batas dalam hubungan. Bahkan, tidak sedikit yang takut ditinggalkan pasangan jika menolak ajakan yang sebenarnya tidak baik bagi dirinya sendiri.
Budaya serba bebas perlahan membuat orang sulit membedakan mana kebebasan dan mana tindakan yang sebenarnya merugikan diri sendiri. Sesuatu yang sering dilihat akhirnya dianggap biasa, meskipun belum tentu benar.
Padahal, tidak semua yang terlihat menyenangkan akan membawa kebahagiaan. Banyak penyesalan besar justru dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan tanpa berpikir panjang.
Menjaga Diri sebagai Bentuk Tanggung Jawab terhadap Masa Depan
Setiap orang tentu ingin memiliki masa depan yang baik. Ingin menyelesaikan pendidikan, bekerja dengan layak, membahagiakan orang tua, dan hidup dengan tenang. Namun masa depan yang baik tidak datang begitu saja. Semua itu dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat hari ini.
Dalam Filsafat, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki akal budi dan tanggung jawab moral. Karena itu, manusia tidak hanya hidup mengikuti keinginan sesaat, tetapi juga harus mampu mempertimbangkan akibat dari tindakannya.
Banyak persoalan hidup muncul karena orang terlalu mengikuti emosi dan hawa nafsu. Ada yang akhirnya mengalami kehamilan di luar nikah, kehilangan kepercayaan keluarga, putus kuliah, bahkan mengalami tekanan mental yang berat. Dalam keadaan takut dan terdesak, ada pula yang memilih jalan aborsi ilegal yang jelas melanggar hukum dan nilai agama.
Secara sederhana, prinsip ekonomi juga mengajarkan bahwa manusia seharusnya menghindari keputusan yang membawa kerugian besar di masa depan. Jangan sampai kesenangan sesaat justru menghancurkan hidup yang sudah dibangun dengan susah payah.
Keputusan beberapa menit kadang bisa membawa penyesalan selama bertahun-tahun.
Menjaga Diri adalah Bentuk Menghargai Diri Sendiri
Menjaga diri bukan berarti kolot atau anti-pergaulan. Justru orang yang mampu menjaga dirinya menunjukkan bahwa ia tahu nilai dirinya sendiri. Ia tidak mudah terbawa rayuan, tekanan lingkungan, ataupun rasa penasaran sesaat.
Hubungan yang sehat seharusnya dibangun dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban moral yang sama untuk saling menjaga, bukan saling memanfaatkan.
Di tengah budaya yang semakin bebas, manusia tetap membutuhkan kebijaksanaan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang hanya terlihat menyenangkan sementara. Sebab hidup bukan sekadar mengikuti keinginan hati, tetapi juga tentang menjaga masa depan agar tidak rusak oleh keputusan yang tergesa-gesa.
Pada akhirnya, jika bukan diri sendiri yang menjaga masa depan itu, siapa lagi?
You may like
Opini
BBM Naik, Tekanan Ekonomi Masyarakat Semakin Berat
Published
18 hours agoon
12 June 2026By
Mitra Wacana
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hampir selalu menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan ekonomi. Dampaknya tidak berhenti di stasiun pengisian bahan bakar, tetapi menjalar ke ongkos transportasi, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, hingga kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli. Karena itu, keputusan PT Pertamina menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 pada 10 Juni 2026 bukan sekadar penyesuaian harga energi, melainkan kebijakan yang berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Pertamina menetapkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi agar tidak berubah. Langkah ini memang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dari gejolak harga minyak dunia yang terus meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, di balik keputusan tersebut muncul kelompok yang justru menanggung beban paling besar, yakni kelas menengah dan bawah.
Selama beberapa tahun terakhir, kelas menengah menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga nasional. Mereka tidak termasuk penerima bantuan sosial, tetapi juga tidak memiliki bantalan ekonomi yang cukup ketika biaya hidup meningkat secara tiba-tiba. Kenaikan harga Pertamax lebih dari 30 persen membuat kelompok ini harus mengalokasikan pengeluaran tambahan yang tidak sedikit. Pengguna kendaraan yang menghabiskan sekitar 100 liter BBM setiap bulan kini harus merogoh kocek hampir Rp400 ribu lebih banyak. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan untuk bekerja atau menjalankan usaha dengan konsumsi sekitar 150 liter per bulan, tambahan pengeluaran mendekati Rp600 ribu menjadi beban yang nyata.
Persoalannya bukan semata-mata bertambahnya biaya membeli BBM. Kenaikan harga energi selalu memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Biaya transportasi yang meningkat akan diikuti naiknya ongkos distribusi barang, tarif jasa logistik, biaya pengiriman, hingga harga berbagai kebutuhan sehari-hari. Pelaku usaha pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat, yakni menaikkan harga jual kepada konsumen atau menekan biaya operasional agar usaha tetap bertahan. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pilihan kedua sering kali berarti menunda ekspansi usaha, mengurangi investasi, bahkan melakukan efisiensi tenaga kerja.
Sektor logistik, transportasi, jasa kurir, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diperkirakan menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Ketika biaya operasional meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, ruang bagi dunia usaha untuk tumbuh menjadi semakin sempit. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.
Sejumlah ekonom menilai kenaikan harga Pertamax akan memicu inflasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Inflasi tidak hanya berasal dari naiknya harga bensin dalam perhitungan indeks harga konsumen, tetapi juga dari meningkatnya biaya distribusi yang akhirnya mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Dampak lanjutan yang paling dikhawatirkan adalah melemahnya konsumsi rumah tangga, padahal konsumsi selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kajian dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bahkan memperkirakan tekanan terhadap daya beli kelas menengah dapat memperbesar jumlah masyarakat yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan pokok dan transportasi semakin besar, ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun membelanjakan pendapatan pada sektor-sektor produktif akan semakin menyempit.
Di sisi lain, pemerintah berpendapat dampak terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas karena Pertamax hanya dikonsumsi oleh kelompok tertentu dan memiliki bobot yang kecil dalam keranjang inflasi. Argumentasi tersebut memang memiliki dasar statistik. Namun dalam praktiknya, dampak ekonomi tidak selalu tercermin hanya melalui angka inflasi. Pelemahan daya beli kelas menengah, berkurangnya konsumsi, dan meningkatnya biaya usaha juga merupakan indikator penting yang menentukan kesehatan ekonomi nasional.
Kenaikan harga Pertamax juga membuka peluang terjadinya perpindahan pengguna ke BBM bersubsidi. Semakin lebar selisih harga antara Pertamax dan Pertalite, semakin besar pula dorongan masyarakat untuk beralih menggunakan BBM yang disubsidi negara. Jika migrasi ini terjadi dalam skala besar, beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah akan meningkat dan ruang fiskal negara menjadi semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, perdebatan publik kemudian bergeser pada prioritas belanja negara. Sejumlah ekonom dan aktivis mempertanyakan mengapa pemerintah tetap mempertahankan berbagai program dengan anggaran yang sangat besar, sementara masyarakat mulai menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin berat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak disorot karena menyerap anggaran ratusan triliun rupiah. Kritik yang muncul bukan semata-mata menolak tujuan program tersebut, melainkan mempertanyakan apakah alokasi anggaran sebesar itu masih menjadi pilihan yang paling tepat ketika daya beli masyarakat melemah dan kebutuhan perlindungan sosial semakin meningkat.
Kritik serupa juga diarahkan pada berbagai program prioritas lain yang dinilai belum memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat. Menurut para pengamat, ketika ruang fiskal semakin sempit, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, memperkuat perlindungan sosial yang tepat sasaran, membantu sektor usaha yang terdampak, serta menjaga daya beli masyarakat agar roda ekonomi tetap berputar.
Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan naiknya harga BBM nonsubsidi. Kebijakan ini menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan fiskal negara dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga energi mungkin tidak dapat dihindari ketika harga minyak dunia melonjak. Namun, yang akan menentukan dampaknya adalah bagaimana pemerintah merespons tekanan tersebut melalui kebijakan yang mampu melindungi masyarakat, menjaga aktivitas dunia usaha, dan memastikan bahwa beban penyesuaian ekonomi tidak terus-menerus dipikul oleh kelas menengah.
Sebab ketika kelas menengah mulai mengurangi konsumsi, dunia usaha menahan ekspansi, dan biaya hidup terus meningkat, yang dipertaruhkan bukan hanya angka inflasi atau pertumbuhan ekonomi. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat bahwa setiap kebijakan negara benar-benar berpihak pada mereka yang setiap hari bekerja, membayar pajak, dan menjadi penggerak utama roda perekonomian Indonesia.
Ruliyanto

BBM Naik, Tekanan Ekonomi Masyarakat Semakin Berat

Understanding Stress: Why it Matters and How to Manage It





