web analytics
Connect with us

Opini

Teori Reprositas dan Lagu Hindia “Membasuh”

Published

on

Sumber: freepik

Sania Nuri Maulida, mahasiswa pendidikan Strata 1 (S1) pada Program Studi Tadris Bahasa Indonesia di UIN Raden Mas Said Surakarta

Seiring perkembangan zaman, lagu tidak lagi sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi media penyembuh luka. Banyak orang beranggapan bahwa Hindia lebih dari Musisi, banyak orang mengartikan bahwa hindia adalah psikologi Gen Z. Walaupun cara penyembuhannya bukan dengan sofa dan ruang konsultasi, tetapi dengan nada dan lirik yang paham luka,rindu,dan kebingungan masa muda. Salah satu contohnya adalah lagu Membasuh karya Hindia (Baskara Putra). Lagu ini mengangkat tema ketulusan, pertolongan, dan pemurnian batin. Pesan lagu membuatnya tidak hanya dinikmati, tetapi juga menjadi pengalaman reflektif bagi pendengarnya.

Lagu Membasuh karya Hindia (Baskara Putra), yang dirilis pada 17 Juli 2019 bersama Rara Sekar, mengangkat tema ketulusan, pertolongan, dan pemurnian batin. Lewat lirik dan simbolismenya, lagu ini menyoroti sisi lembut hubungan manusia bahwa niat membantu sering kali diuji oleh pamrih, ekspektasi, atau rasa berutang. Lagu ini juga menegaskan keberanian untuk memberi cinta, meski diri sendiri belum sepenuhnya pulih. Banyak orang merasa canggung menerima kebaikan karena takut berutang budi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ketulusan dapat dijaga di tengah norma sosial yang menuntut timbal balik.

Dari pengalaman pribadi, pernah ada fase di mana bantuan seorang teman membuat diri merasa berutang. Berbagai cara dilakukan untuk membalas, tetapi semakin keras berusaha jarak di antara kami justru semakin terasa. Pengalaman itu mengajarkan bahwa pertolongan bisa berubah wujud menjadi tali tak kasat mata yang sekaligus mengikat dan menyatukan. Kebaikan yang diingat terlalu lama kadang berubah menjadi beban, bukan kenangan indah, sehingga lebih baik jatuh tersungkur dan berdiri sendiri daripada meminta tolong namun dibahas berkali-kali. Kebaikan sejati, seperti yang diingatkan lagu Membasuh, bukan soal materi atau seberapa terlihatnya, tetapi tentang ketulusan memberi, termasuk waktu, perhatian, atau usaha kecil yang tetap berharga meski luput dari pengakuan.

            Fenomena ini sejalan dengan teori Reprositas, yaitu konsep sosial yang menjelaskan bahwa setiap kebaikan akan menimbulkan dorongan untuk membalas. Menurut Alvin W. Gouldner (1960) dalam “The Norm of Reciprocity”, manusia terikat pada norma timbal balik: ketika menerima bantuan, seseorang merasa memiliki kewajiban moral untuk membalasnya. Norma ini begitu kuat sehingga sering membuat penerima bantuan merasakan beban psikologis, meskipun pemberi tidak pernah meminta imbalan secara langsung. Selain dari pengalaman pribadi, ada juga pengalaman yang banyak sekali kita temui dalam kehidupan mahasiswa. Di beberapa kampus, terdapat tradisi tidak tertulis bahwa mahasiswa yang menjalani seminar proposal (sempro) atau bisa disebut degan kondangan akademik akan menerima hadiah dari teman-temannya. Hadiah ini biasanya berupa bunga, cokelat, boneka, atau bingkisan kecil sebagai bentuk dukungan dan ucapan selamat. Namun tradisi ini justru memunculkan dinamika sosial yang menarik. Banyak mahasiswa merasa sungkan ketika menerima hadiah, terutama jika mereka tidak memiliki kemampuan finansial untuk memberikan hadiah serupa ketika teman lain sempro. Ada pula mahasiswa yang sampai sengaja tidak memberi tahu jadwal sempro, karena takut teman-temannya datang membawa hadiah dan membuat mereka merasa berutang budi.

             Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya timbal balik masih sangat kuat di lingkungan kampus, tempat mahasiswa sering berusaha menjaga hubungan sosial dengan hati-hati. Kebaikan yang seharusnya sederhana berubah menjadi tekanan ketika penerimanya merasa tidak punya kapasitas untuk membalas. Pada titik inilah pesan lagu Membasuh terasa relevan bagi mahasiswa bahwa memberi tidak selalu harus diimbangi, dan menerima tidak harus menimbulkan rasa bersalah. Kebaikan yang tulus adalah kebaikan yang tidak mengharuskan balasan, dan kehidupan perkuliahan menjadi ruang belajar penting untuk memahami hal tersebut.

Salah satu potongan video di TikTok dari akun @randomlifehere2 yang diposting pada 3 November 2024 menegaskan bahwa “Ada di antara kita yang ditakdirkan memberi dan menebar cinta tanpa harus mengharapkan balasan.” Pernyataan ini memperkuat pesan lagu Membasuh, bahwa menolong adalah keberanian untuk memberi tanpa pamrih, tanpa hitung-hitungan, dan tanpa keinginan untuk memiliki. Pandangan ini selaras dengan ucapan  Baskara Putra saat melakukan podcast, di mana ia menekankan bahwa kebaikan harus dilakukan karena memang baik, bukan karena mengharapkan imbalan atau pamrih. Hal ini menegaskan inti lagu, bahwa memberi kebaikan atau cinta sejati adalah tindakan moral yang tulus, bukan kewajiban sosial.

Jawaban itu menegaskan inti dari lagu Membasuh yaitu memberi bukan soal mampu atau tidak, melainkan soal prinsip dan keberanian moral. Kebaikan sejati dilakukan karena memang baik, bukan karena pamrih atau balasan. Pandangan ini selaras dengan teori altruism dalam psikologi sosial dan teori reprositas bahwa tindakan yang tulus justru memperkuat hubungan sosial tanpa menimbulkan beban moral. Lirik seperti “Telah kusadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar” menjadi pengingat bahwa hidup bukan soal menuntut hasil dari setiap kebaikan, melainkan tentang keikhlasan memberi tanpa memperhitungkan. Simbol air dalam lagu menjadi metafora yang kuat, air yang sedikit tetapi tetap dibagi melambangkan cinta dan kebaikan yang bersumber dari kelapangan hati, bukan dari kelimpahan. Bahkan ketika diri sendiri terluka, lagu ini mempertanyakan bisakah kita tetap membasuh? Tetap menjadi tempat berlindung dan penyembuh, bahkan saat jiwa sendiri sedang patah?

Lirik “cukup besar untuk mengampuni, untuk mengasihi tanpa memperhitungkan masa yang lalu” mengajak pendengar untuk melepaskan dendam, membuka ruang maaf, dan mencintai tanpa syarat. Hal ini tidak hanya berlaku untuk relasi antar manusia, tetapi juga untuk hubungan dengan diri sendiri memaafkan masa lalu dan menerima luka sebagai bagian dari proses tumbuh. Perjalanan simbolik kembali ke rumah, beranda, dan sumur yang mengering lalu terisi kembali menjadi metafora untuk pulang pada diri sendiri menemukan kembali makna hidup setelah kehilangan dan kesedihan. Simbol air juga mengajarkan ketekunan. Seperti air yang perlahan mengikis batu, kebaikan yang konsisten meski tampak kecil dapat menyembuhkan luka lama. Lagu ini menegaskan bahwa memberi bukan sekadar tindakan spontan, melainkan proses panjang yang menuntut kesabaran dan keberanian untuk terus hadir bagi sesama, bahkan saat diri sendiri belum pulih sepenuhnya.

Dari sisi sosiologi, Émile Durkheim menjelaskan bahwa setiap tindakan sosial membawa konsekuensi moral. Pertolongan menciptakan hubungan antara dua pihak ada rasa terima kasih di satu sisi, dan rasa kewajiban di sisi lain. Ketidakseimbangan antara harapan pemberi dan kapasitas penerima dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Melalui lagu Membasuh, kita diingatkan bahwa dalam memberi perlu ada kesadaran akan batas diri, dan dalam menerima perlu ada kerendahan hati untuk berterima kasih tanpa merasa terikat.

Makna yang saya dapat dari lagu ini adalah bahwa kebaikan sejati tidak menuntut balasan dan tidak menunggu kita menjadi sempurna. Lagu Membasuh mengingatkan bahwa memberi dapat menghadirkan ketenangan batin, sebagaimana ajaran untuk berbuat baik tanpa pamrih. Menghibur lebih mulia daripada dihibur, memahami lebih indah daripada dipahami, dan mencintai lebih tulus daripada dicintai, karena dalam memberi kita juga menerima kedamaian. Lagu ini menegaskan bahwa kebaikan tidak harus besar atau dilakukan saat mampu bahkan hal kecil yang dilakukan dengan hati yang ikhlas sudah berarti. Kebaikan tidak harus datang dari sesuatu yang sempurna, sebab sejatinya, membasuh bukan hanya tentang menolong orang lain, tetapi juga tentang membersihkan hati sendiri dari pamrih dan keinginan untuk diakui.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

KKN Sekadar Formalitas? Menimbang Ulang Makna Pengabdian Mahasiswa

Published

on

Zahid Fatiha
Mahasiswa tahun terakhir dan pengamat kegiatan mahasiswa

Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagaimana telah dikenalkan oleh Kwee tek Hoay mencakup poin-poin seperti; (1) Pendidikan dan Pengajaran (2) Penelitian dan Pengembangan (3) Pengabdian kepada Masyarakat. Hal tersebut yang kemudian berusaha untuk diterapkan oleh universitas-universitas di Indonesia kepada para mahasiswanya. Mahasiswa pun dengan semangat juang yang dimilikinya berusaha semaksimal mungkin dalam mencoba menjalankan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan berbagai upaya yang dapat dilakukannya. Aspek pendidikan dan pengajaran selalu dimaksimalkan dengan kegiatan mengajar di ruang kelas yang sekarang sudah berkembang menjadi pembelajaran dua arah dengan memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk berbicara dikelas dalam posisi yang bisa dikatakan sejajar dengan dosen ataupun sedikit dibawahnya. Tidak hanya kegiatan mengajar dalam kelas, universitas juga seringkali mengadakan acara seminar ataupun forum diskusi yang menambah wawasan diluar konteks materi pelajaran didalam kelas. Dalam aspek penelitian dapat dikatakan bahwa dalam satu dekade terakhir penelitian baik yang dilakukan oleh mahasiswa, pengajar, ataupun kolaborasi antara keduanya sudah banyak tersebar di universitas seluruh Indonesia. Banyak inovasi-inovasi yang telah dilahirkan saat ini berasal dari penelitian-penelitian yang dilakukan di universitas, baik itu merupakan inovasi teknologi ataupun inovasi sosial. 

Poin ketiga terkait ‘Pengabdian kepada Masyarakat’ adalah poin yang menurut penulis keberhasilan maupun realisasinya belum secemerlang dua poin sebelumnya. Walau perlu diakui, bahwa di lingkungan sekitar penulis ada beberapa kawan maupun dosen yang gemar mengabdi pada masyarakat. Namun yang menjadi permasalahan adalah kualitas yang terlalu jauh antara seseorang yang sudah lama mengabdi dengan seseorang yang baru mulai mencoba untuk memasuki dunia pengabdian. Ditambah dengan poin output dari pengabdian itu sendiri yang memang pada dasarnya ditujukan untuk kembali pada masyarakat, sehingga jarang sekali ada upaya-upaya untuk membagikan ilmu ataupun pengalaman yang dimiliki oleh seorang pengabdi didalam lingkup universitas. Mahasiswa juga terbatas pada durasi waktu mengabdi yang biasanya hanya bersifat mingguan atau paling lamapun hanya sampai tiga bulan, hal tersebut  dikarenakan  mahasiswa  hanya  memiliki  waktu  yang  efektif  untuk  melakukan pengabdian selama itu sebelum memulai kembali kegiatan perkuliahan. 

Adapun hal lainnya dapat disebabkan oleh perbedaan latar belakang setiap orang yang mungkin dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan pandangan terhadap pengabdian. Dari pandangan  penulis,  umumnya  mereka  berlatar  belakang  dari  keluarga  dengan  tingkatan ekonomi menengah hingga keatas  ataupun orang yang tumbuh dan besar di lingkungan perkotaan memiliki minat yang lebih rendah untuk melakukan pengabdian. Berbeda dengan orang yang berasal dari desa ataupun dari keluarga ekonomi menengah yang mana orang dengan latar belakang seperti ini biasanya sudah tumbuh dengan kebiasaan membantu banyak orang di lingkungan sekitarnya sehingga orang-orang seperti ini memiliki minat yang besar terhadap kegiatan pengabdian. 

Upaya  universitas  dalam  mengamalkan  poin  ‘Pengabdian  pada  Masyarakat’  ialah dengan menerapkan mata kuliah ‘Kuliah Kerja Nyata’ (KKN) yang dimana dalam mata kuliah ini umumnya mahasiswa akan dikelompokkan dan akan dikirim ke desa-desa tertentu dimana mahasiswa disana akan melakukan pengabdian dalam kurun waktu tertentu dan diharapkan dapat memberikan dampak pembangunan di desa yang dituju. Mata  kuliah ini tentunya mendapatkan respon yang campur aduk, mulai dari menyambutnya dengan positif hingga negatif. Mata kuliah ini juga sering dikatakan sebagai pemanasan dalam rangka menyambut kehidupan bermasyarakat dikarenakan mahasiswa akan merasakan interaksi langsung dengan masyarakat sekitar demi mencapai tujuan yang diharapkan. 

KKN cenderung memberikan sudut pandang baru yang berkesan bagi para mahasiswa mengenai kehidupan, baik itu kesan yang baik ataupun buruk. Bagi penulis sendiri, KKN memberikan kesan tentang bagaimana kita harus dapat mengkomunikasikan terkait dengan apa yang menjadi keinginan kita dan kemudian belajar untuk men-toleransikan proses atau hasil apapun yang akan terjadi nantinya. KKN ataupun kehidupan bermasyarakat pada umumnya memang pada akhirnya terkait bagaimana kita dapat melatih untuk mengendalikan ego kita dalam mewujudkan ekspetasi yang dimiliki. 

Mengesampingkan interaksi dengan masyarakat, sebelum berbaur dengan masyarakat umumnya mahasiswa harus dapat memahami  perbedaan nilai yang  ada di kelompoknya sendiri. Kelompok yang pastinya terdiri dari banyak anggota pada akhirnya akan terdiri dari berbagai macam kepribadian dengan cara mereka menjalani hidup yang berbeda satu sama lain. Disini mahasiswa akan mulai melihat perbedaan-perbedaan yang ada dan akan mulai belajar terkait dengan sifat kompromi dan toleransi yang kedepannya akan sangat berguna dalam menjalani hidup. Dalam pengalaman penulis sendiri yang pernah menangani satu kelompok KKN melihatnya sebagai tantangan yang lumayan sulit untuk dihadapi yang pada akhirnya berhasil memberikan dampak positif bagi penulis ketika selesai melewati tantangan tersebut dimana penulis merasa sedikit mengetahui lebih baik terkait sifat orang-orang di sekitar dan bagaimana cara mengatasinya. Hal seperti inilah yang rasanya tidak akan pernah ditemukan didalam pelajaran yang berlangsung selama berjam-jam di ruangan kelas. 

            KKN pada akhirnya memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat melihat beragam pola pikir yang ada disekitarnya, terkait bagaimana masyarakat pada umumnya terutama orang-orang di sekitar menanggapi hidup. Sekedar berbeda cara mencuci baju, menaruh piring kotor, dan memegang gagang sapu hingga pada poin-poin yang lebih penting terkait skala prioritas dan manajemen keuangan akan menjadi suatu pandangan yang benar- benar memberi pengetahuan baru, setidaknya bagi penulis. Mahasiswa akan dihadapkan pada poin dimana ia mulai meragukan nilai yang ia miliki ketika dibentur dengan nilai yang berada pada masyarakat sehingga KKN pada akhirnya menjadi ajang mencari nilai yang tepat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

            Berbicara  terkait  prinsip,  merupakan  hal  yang  wajar  apabila  semua  orang  ingin mempertahankan prinsip yang dimiliki. Dalam melaksanakan KKN, pastinya akan sering terjadi  benturan  prinsip  antara  mahasiswa  baik  dengan  sesama  rekannya  atau  dengan masyarakat  di  tempat  pengabdian.  Yang  jadi  masalah  ialah  bagaimana  pada  akhirnya mahasiswa  memecahkan  masalah  ini,  yang  tentunya  akan  menjadi  hasil  yang  sangat menentukan  bagi  keberlangsungan  KKN.  Tentu  penulis  melihat  bahwa  dalam  beberapa skenario mahasiswa dengan senang hati menurunkan standarnya demi sekedar nilai kelulusan di Mata Kuliah KKN. Akan tetapi, penulis merasa bahwa esensi dari KKN ialah bagaimana cara kita berusaha dalam menyampaikan apa yang kita gagas kepada masyarakat. 

            Output Mata Kuliah KKN dari sudut pandang penulis masih jauh dari apa yang diharapkan oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada dasarnya, memang sulit untuk mengukur keberhasilan             dari      poin   ketiga Tri         Dharma             Perguruan             Tinggi ini      dikarenakan pengimplementasiannya yang melibatkan pihak ketiga yaitu masyarakat. Berbeda dengan pendidikan dan penelitian yang dapat diukur keberhasilannya didalam lingkungan kampus, keberhasilan pengabdian harus diukur melalui respon masyarakat yang umumnya sulit diukur hanya dalam periode KKN yang berjalan singkat. Secara logika pun nampaknya memang mustahil bagi sekelompok mahasiswa yang untuk membaur dan memberikan dampak dalam kehidupan masyarakat di wilayah tertentu yang sudah menjalani hidup selama bertahun-tahun.

            Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa universitas harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pelaksanaan KKN agar dampak yang diberikan dari kegiatan ini dapat dirasakan oleh masyarakat. Aspek keberlanjutan disini ialah dimana universitas perlu menjalin komunikasi dengan desa dalam bentuk desa binaan agar universitas tidak perlu repot mencari lagi  desa-desa  baru  tiap  semesternya.  Dengan  hubungan  desa  binaan,  diharapkannya universitas   dapat   melakukan   komitmen   dalam   jangka   tahunan   untuk   berjanji   terus mengirimkan kelompok KKNnya ke desa tersebut agar pembangunan yang diusahakan oleh mahasiswa yang menjalaninya dapat terus berlanjut. Karena dari apa yang penulis lihat dari kondisi di universitas penulis, pihak universitas cenderung mengganti wilayah yang digunakan untuk KKN tiap semesternya. Hal ini yang membuat pembangunan di desa tujuan terasa kurang maksimal. Karena umumnya dalam durasi KKN yang umumnya berjalan selama 1-2 bulan, mahasiswa hanya sanggup untuk membuat fondasi sistem namun tidak sempat untuk mengajari masyarakat tentang bagaimana menjalankan sistem yang dibuat. Sehingga pada akhirnya, sistem yang sudah susah payah dibuat cenderung berakhir terbengkalai karena masyarakat tidak tahu cara mengunakannya. 

            KKN menurut penulis merupakan bentuk implementasi yang bagus dari pengamalan poin ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun dalam prosesnya, masih banyak yang harus dibenahi. Hal-hal seperti teknis KKN yang disediakan oleh universitas harus lebih dipikirkan lagi terkait jangka panjangnya terhadap masyarakat, agar usaha yang telah dilakukan oleh mahasiswa  tidak  berakhir  dengan  sia-sia.  Dari  pihak  mahasiswa  pun  harus  dapat  lebih mengendalikan ego dengan baik dan mulai mengamalkan sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, karena mau bagaimanapun juga kehidupan KKN merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. 

            Harapan dari penulis adalah agar Program KKN ini dapat bertahan dan tidak tergerus oleh kebijakan-kebijakan baik dari universitas atau pemerintah. Justru seharusnya pemerintah ataupun universitas memberikan kebijakan-kebijakan yang dapat mengakomodir keperluan KKN di daerah. Apabila program ini mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak pemangku kepentingan   baik   berupa   dukungan   dana   ataupun   akomodasi,   maka   tidak   menutup kemungkinan implementasi dari poin ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat terlaksana dengan baik. 

 

 

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending