Opini
Tubuh Sudah Sehat, Masih Perlukah Minum Vitamin Setiap Hari?
Published
3 months agoon
By
Mitra Wacana

Laeli Lutfiyah Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sejak pandemi Covid-19, kebiasaan mengonsumsi vitamin semakin meningkat di masyarakat. Banyak orang mulai rutin minum suplemen setiap hari dengan harapan daya tahan tubuh tetap terjaga. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap bahwa semakin banyak vitamin dikonsumsi, semakin sehat pula tubuh seseorang. Namun, benarkah tubuh yang sehat tetap membutuhkan tambahan vitamin setiap hari?
Secara umum, Vitamin merupakan mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk menunjang berbagai fungsi biologis, mulai dari metabolisme hingga menjaga sistem imun. Sebagian besar vitamin umumnya tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan atau suplemen.
Kebutuhan vitamin idealnya dipenuhi melalui pola makan seimbang yang cukup. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa asupan vitamin terbaik adalah dari pola makan yang seimbang, mencakup buah, sayur, kacang-kacangan, dan protein hewani.
Berdasarkan kelarutannya, vitamin terbagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin larut lemak dan vitamin larut air. Vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E dan K dapat disimpan dalam jaringan tubuh, terutama di hati dan di lemak. Sementara vitamin larut air seperti vitamin C dan vitamin B kompleks tidak disimpan dan akan keluar melalui urin sehingga memerlukan asupan harian.
Vitamin memiliki peran masing-masing dalam menjaga kinerja tubuh dengan baik. Berikut beberapa jenis,fungsi dan sumber makanan yang mengandung vitamin tersebut:
- Vitamin A (retinoids)
Vitamin A atau disebut dengan retinal berfungsi untuk penglihatan mata, diferensiasi sel epitel, imunitas, dan antioksidan. Makanan yang mengandung vitamin A antara lain wortel, brokoli, bayam, telur, susu dan sebagainya.
- Vitamin D (calciferol)
Vitamin D meregulasi kalsium (Ca) dan fosfat (P) terutama dengan meningkatkan penyerapan kalsium di usus. Vitamin ini berfungsi untuk membantu penyerapan kalsium guna pertumbuhan tulang, terutama pada anak-anak. Vitamin D secara alami dapat diproduksi oleh tubuh melalui paparan sinar matahari (UVB) pada pagi hari selama 10-15 menit. Vitamin D juga dapat diperoleh dari keju, ikan berlemak, dan jamur.
- Vitamin E (Tocopherol)
Vitamin E merupakan antioksidan yang dibutuhkan tubuh untuk melindungi sel dari kerusakan. Selain itu, vitamin E juga berperan dalam mendukung eiet3m kekebalan dan fungsi neurologis. Vitamin E dapat diperoleh dari minyak nabati untuk memasak, alpukat, kacang tanah, dan brokoli.
- Vitamin K
Vitamin K diperlukan sebagai kofaktor untuk enzim γ-glutamyl karboksilase, yang mengubah residu glutamat menjadi γ-karboksiglutamat dalam faktor pembekuan. Vitamin ini berperan penting dalam proses pembekuan darah dan menjaga kekuatan tulang. Sumber vitamin K dapat diperoleh dari sayuran hijau, buah-buahan, minyak nabati, dan kacang-kacangan.
- Vitamin B1 (Thiamine)
Thiamin berperan dalam metabolisme energi atau membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi. Bentuk aktif dari vitamin ini adalah thiamine pyrophosphate (TPP). TPP merupakan kofaktor penting dalam kompleks enzim dekarboksilasi oksidatif dan transketolase. Vitamin B1 dapat diperoleh dari biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan daging.
- Vitamin B2 (Riboflavin)
Vitamin B2 berfungsi untuk membantu tubuh menghasilkan energi dari makanan. Riboflavin juga berperan penting dalam kesehatan kulit, pencernaan, otak dan sistem saraf, serta pembentukan sel darah. Sumber vitamin B2 dapat diperoleh dari hati sapi, susu, keju, telur, dan kacang almon.
- Vitamin B3 (Niacin)
Vitamin B3 atau terdiri dari niasin (asam nikotinat) dan niacinamida (nikotinamida). Vitamin ini berfungsi sebagai prekursor NAD+ dan NADP+ yang berperan dalam perbaikan DNA dan fungsi sistem saraf. Vitamin B3 dapat diperoleh dari daging sapi kacang-kacangan, sayuran hijau, ikan, ayam, dan telur.
- Vitamin B6
Vitamin B6 mencakup pyridoxine, pyridoxal, dan pyridoxamine. Bentuk aktif vitamin ini adalah PLP yang berperan penting dalam metabolisme asam amino, termasuk transaminasi, deaminasi, dan dekarboksilasi. Sumber vitamin B6 dapat berasal dari bayam, alpukat, hati sapi, dan daging ayam.
- Vitamin B7 (Biotin)
Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim untuk karboksilase dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan asam amino. Fungsi tersebut mendukung kesehatan kulit, rambut, dan kuku. Vitamin B7 dapat diperoleh dari biji-bijian, buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan.
- Vitamin B9 (Folat)
Vitamin B9 dikenal sebagai folat (bentuk alami) atau asam folat (bentuk sintesis) berperan sebagai koenzim dalam transfer satu karbon untuk sintesis DNA, RNA, dan metilasi. Dengan demikian, folat berperan penting dalam proses pembelahan sel, terutama pada ibu hamil. Sumber vitamin B9 bisa didapat dari pepaya, jeruk, brokoli, telur, bayam, dan alpukat.
- Vitamin B12 (Cobalamin)
Vitamin B12 berperan dalam metabolisme sel. Vitamin ini berfungsi membantu pembentukan sel darah merah dan memelihara fungsi saraf. Selain melakukan fungsi tersebut, cobalamin juga mampu mengatasi keracunan sianida dan meningkatkan jumlah produksi homosistein (sejenis asam amino) di dalam darah. Vitamin B12 bisa diperoleh dari susu, kerang, kepiting, ikan sarden,ikan tuna, daging sapi, dan daging ayam.
- Vitamin C (Ascorbic Acid)
Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat itu sendiri yang berperan sebagai Kofaktor untuk hidroksilasi kolagen dari enzim prolil hidroksilase dan Lisil hidroksilase. Selain itu, vitamin C juga berperan dalam meningkatkan penyerapan zat besi dan antioksidan (Menetralkan radikal bebas (ROS)). Vitamin C bisa diperoleg daru jeruk, jambu buji, leci, stroberi, dan pepaya.
Kekurangan atau defisiensi vitamin akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti rabun senja akibat defisiensi vitamin A, Rakhitis maupun osteomalasia akibat kekurangan vitamin D, gangguan gerak tubuh akibat kekurangan vitamin E, perdarahan pada jaringan tubuh akibat defisiensi vitamin K, mudah sakit dan penyembuhan luka yang lama akibat kekurangan vitamin C, hingga anemia dan penurunan sistem imun yang berkaitan dengan vitamin B kompleks. Namun, bukan berarti konsumsi suplemen vitamin tambahan selalu diperlukan semua orang.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa konsumsi vitamin secara berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan bagi tubuh. Banyak orang beranggapan bahwa mengonsumsi vitamin dalam dosis tinggi dapat meningkatkan daya tahan tubuh secara instan, padahal hal tersebut belum tentu benar. Beberapa jenis vitamin, terutama yang larut dalam lemak seperti vitamin A dan D, justru dapat menumpuk dalam tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dan berpotensi menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, penggunaan suplemen vitamin sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dan, jika perlu, dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Pada individu sehat dengan pola makan yang seimbang, asupan vitamin dari makanan umumnya sudah mencukupi. Suplemen vitamin lebih dibutuhkan pada kondisi tertentu seperti kehamilan, penyakit tertentu, atau kekurangan nutrisi.
Dengan demikian, vitamin memang penting bagi tubuh, tetapi tidak selalu harus dikonsumsi dalam bentuk suplemen. Sebab, dengan pola makan seimbang dan pola hidup sehat dapat menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya tahan tubuh sehingga terhindar dari sebagian besar penyakit.
You may like
Opini
Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam
Published
3 days agoon
10 August 2026By
Mitra Wacana

Luthfi Fatimah
Universitas Sebelas Maret
Lembaga pendidikan Islam, terutama pondok pesantren, seringkali diyakini sebagai ruang paling aman untuk menimba ilmu. Namun, terkuaknya kasus-kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh figur otoritas pesantren terhadap murid atau santrinya telah menunjukkan adanya celah besar antara nilai-nilai keagamaan yang diajarkan dengan realita pahit yang dihadapi para korban. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kebiadaban ini terus berulang di lingkungan yang sama?
Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) pada tahun 2025, 27% kasus kekerasan yang terlaporkan berasal dari pesantren dan madrasah. Data ini menjadikan lembaga pendidikan Islam masuk ke dalam 3 titik rawan. Namun data tersebut belum sepenuhnya memberikan gambaran atas realita yang terjadi. Sebagaimana puncak dari gunung es, masih sangat banyak kasus kekerasan seksual yang tidak terlaporkan karena adanya tekanan dari pihak pelaku serta ketakutan terhadap stigma buruk masyarakat.
Langgengnya kebiadaban ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Salah satunya adalah budaya patriarki yang terus dipupuk dengan penafsiran subjektif atas dalil-dalil keagamaan sebagai justifikasi atas hierarki gender. Semua teks Al-Quran dan Hadits pada dasarnya bersifat terbuka untuk diinterpretasikan. Namun dengan budaya patriarki yang mendominasi di berbagai negara, penafsiran yang mendukung narasi patriarki mengalami normalisasi sehingga dianggap suatu kebenaran yang bersifat mutlak.
Selain itu, konsep-konsep yang diyakini sebagai jalan menuju keberkahan ilmu seperti ta’dzim (menghormati dan memuliakan) serta konsep sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami mematuhi) seringkali disalah artikan sebagai kepatuhan total. Para santri dibiarkan tunduk tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan untuk apa mereka harus tunduk. Meskipun tidak bisa digeneralisir pula bahwa hal ini terjadi di seluruh lembaga pendidikan Islam, namun pada dasarnya pola mengajar seperti ini mampu menimbulkan relasi kuasa yang timpang.
Lebih lanjut, di dalam lingkungan keagamaan, kekerasan seksual masih sering dianggap tabu. Budaya tabu ini kemudian diperkuat juga dengan pandangan bahwa tokoh agama adalah sosok suci tanpa cela yang tidak boleh diragukan segala tindak-tanduknya. Sehingga ketika korban berusaha melapor, banyak yang tidak memercayai kesaksiannya dan justru memberikan stigma negatif pada korban. Dengan dasar rasa takut, pada akhirnya banyak dari kasus tersebut berakhir dengan proses kekeluargaan yang memperkecil kesempatan korban untuk mendapatkan keadilan dan memperlebar ruang aman bagi pelaku untuk mengulangi tindakannya.
Menurut Michel Foucault dalam teori relasi kuasa, faktor-faktor tersebut mampu memberikan peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, salah satunya kekerasan seksual. Berdasarkan kerangka teorinya, kekuasaan bukanlah suatu kekuatan tunggal yang dimiliki individu. Kekuasaan hadir melalui berbagai jaringan atau relasi yang mendukung kekuasaan itu tetap ada, seperti nilai dan norma yang membentuk wacana dominan dan menjadi dasar dari praktik sosial di masyarakat. Pada lembaga pendidikan Islam, relasi kuasa dapat dilihat pada ketimpangan kekuasaan antara otoritas keagamaan dengan para murid atau santrinya. Dengan adanya dominasi wacana patriarki dan diiringi dengan anggapan yang meninggikan kedudukan tokoh agama, kekuasaan tersebut akhirnya dapat disalahgunakan untuk menekan korban. Dan akibatnya, korban menjadi kesulitan untuk bersuara karena perlawanan terhadap otoritas keagamaan dianggap sebagai kedurhakaan terhadap ajaran agama.
Meskipun kasus kekerasan seksual sangat rentan terjadi di lembaga pendidikan Islam, namun sejatinya tindakan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan prinsip teologi Islam. Islam sendiri memiliki prinsip dasar rahmatan lil ‘alamin yang menegaskan bahwa Islam hadir untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, artinya Islam menuntut pengutamaan rasa aman bagi setiap makhluk hidup. Selain melanggar hak asasi manusia, segala bentuk kekerasan dan kezaliman juga melanggar ajaran agama. Terlebih lagi, Islam juga tidak membenarkan penyalahgunaan otoritas agama untuk melakukan kekerasan dan menyalahgunakannya kembali sebagai tameng untuk berlindung dari hukum. Sehingga dalam konteks kasus kekerasan seksual, prinsip-prinsip Islam sejatinya selalu berpihak pada penegakan keadilan untuk korban.
Dengan demikian, menguak kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan Islam merupakan manifestasi dari ajaran Islam itu sendiri. Melindungi korban dan menghentikan segala bentuk penindasan akan mengembalikan fungsi lembaga pendidikan Islam sebagai pilar keteladanan agama bagi para pemeluknya.
Referensi:
Aminaturrahma, A., Inayah, A., Anggraini, T. C., & Nurchotimah, A. S. I. (2022). Pemicu Kekerasan Seksual dari Perspektif Islam. Jurnal Kewarganegaraan, 6(2), 2696-2701.
Dewi, M., & Hakim, F. N. R. (2025). Kekerasan seksual di pesantren: Analisis power and control dengan pendekatan relasi gender. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(4), 7374-7387.
Husin, L. S. (2020). Kekerasan seksual pada perempuan dalam perspektif Al-Quran dan Hadis. Al Maqashidi: Jurnal Hukum Islam Nusantara, 3(1), 16-23.
Larasati, R. D., & Noviani, R. (2021). Melintas perbedaan: suara perempuan, agensi, dan politik solidaritas. Kepustakaan Populer Gramedia.
Rusli, A. B., & Fauzi, A. F. (2026). Kiai, Seks Dan Relasi Kuasa Pesantren Indonesia (Studi Kasus Jawa Timur). Empirisma: Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam, 35(1), 64-86.
Sekretariat Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (2026). Hasil Pemantauan JPPI 2025 Kekerasan di Satuan Pendidikan: Temuan dan Tantangan Perlindungan Anak.
Winarno, E. P., Islah, I., Giyoto, G., Suharto, T., & Muharom, F. (2025). Investigasi pendidikan Islam terhadap kuasa otoritas kekerasan seksual di pesantren. Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, 19(2), 958-972.

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme





