web analytics
Connect with us

Opini

Tubuh Sudah Sehat, Masih Perlukah Minum Vitamin Setiap Hari?

Published

on

Laeli Lutfiyah Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sejak pandemi Covid-19, kebiasaan mengonsumsi vitamin semakin meningkat di masyarakat. Banyak orang mulai rutin minum suplemen setiap hari dengan harapan daya tahan tubuh tetap terjaga. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap bahwa semakin banyak vitamin dikonsumsi, semakin sehat pula tubuh seseorang. Namun, benarkah tubuh yang sehat tetap membutuhkan tambahan vitamin setiap hari?

Secara umum, Vitamin merupakan mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk menunjang berbagai fungsi biologis, mulai dari metabolisme hingga menjaga sistem imun. Sebagian besar vitamin umumnya tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan atau suplemen.

Kebutuhan vitamin idealnya dipenuhi melalui pola makan seimbang yang cukup. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa asupan vitamin terbaik adalah dari pola makan yang seimbang, mencakup buah, sayur, kacang-kacangan, dan protein hewani.

Berdasarkan kelarutannya, vitamin terbagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin larut lemak dan vitamin larut air. Vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E dan K dapat disimpan dalam jaringan tubuh, terutama di hati dan di lemak. Sementara vitamin larut air seperti vitamin C dan vitamin B kompleks tidak disimpan dan akan keluar melalui urin sehingga memerlukan asupan harian.

Vitamin memiliki peran masing-masing dalam menjaga kinerja tubuh dengan baik. Berikut beberapa jenis,fungsi dan sumber makanan yang mengandung vitamin tersebut:

  1. Vitamin A (retinoids)

 Vitamin A atau disebut dengan retinal berfungsi untuk penglihatan mata, diferensiasi sel epitel, imunitas, dan antioksidan. Makanan yang mengandung vitamin A antara lain wortel, brokoli, bayam, telur, susu dan sebagainya.

  1. Vitamin D (calciferol)

Vitamin D meregulasi kalsium (Ca) dan fosfat (P) terutama dengan meningkatkan penyerapan kalsium di usus. Vitamin ini berfungsi untuk membantu penyerapan kalsium guna pertumbuhan tulang, terutama pada anak-anak. Vitamin D secara alami dapat diproduksi oleh tubuh melalui paparan sinar matahari (UVB) pada pagi hari selama 10-15 menit. Vitamin D juga dapat diperoleh dari keju, ikan berlemak, dan jamur.

  1. Vitamin E (Tocopherol)

Vitamin E merupakan antioksidan yang dibutuhkan tubuh untuk melindungi sel dari kerusakan. Selain itu, vitamin E juga berperan dalam mendukung eiet3m kekebalan dan fungsi neurologis. Vitamin E dapat diperoleh dari minyak nabati untuk memasak, alpukat, kacang tanah, dan brokoli.

  1. Vitamin K

Vitamin K diperlukan sebagai kofaktor untuk enzim γ-glutamyl karboksilase, yang mengubah residu glutamat menjadi γ-karboksiglutamat dalam faktor pembekuan. Vitamin ini berperan penting dalam proses pembekuan darah dan menjaga kekuatan tulang. Sumber vitamin K dapat diperoleh dari sayuran hijau, buah-buahan, minyak nabati, dan kacang-kacangan.

  1. Vitamin B1 (Thiamine)

Thiamin berperan dalam metabolisme energi atau membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi. Bentuk aktif dari vitamin ini adalah thiamine pyrophosphate (TPP). TPP merupakan kofaktor penting dalam kompleks enzim dekarboksilasi oksidatif dan transketolase. Vitamin B1 dapat diperoleh dari biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan daging.

 

  1. Vitamin B2 (Riboflavin)

Vitamin B2 berfungsi untuk membantu tubuh menghasilkan energi dari makanan. Riboflavin juga berperan penting dalam kesehatan kulit, pencernaan, otak dan sistem saraf, serta pembentukan sel darah. Sumber vitamin B2 dapat diperoleh dari hati sapi, susu, keju, telur, dan kacang almon.

  1. Vitamin B3 (Niacin)

Vitamin B3 atau terdiri dari niasin (asam nikotinat) dan niacinamida (nikotinamida). Vitamin ini berfungsi sebagai prekursor NAD+ dan NADP+ yang berperan dalam perbaikan DNA dan fungsi sistem saraf. Vitamin B3 dapat diperoleh dari daging sapi kacang-kacangan, sayuran hijau, ikan, ayam, dan telur.

  1. Vitamin B6

Vitamin B6 mencakup pyridoxine, pyridoxal, dan pyridoxamine. Bentuk aktif vitamin ini adalah PLP yang berperan penting dalam metabolisme asam amino, termasuk transaminasi, deaminasi, dan dekarboksilasi. Sumber vitamin B6 dapat berasal dari bayam, alpukat, hati sapi, dan daging ayam.

  1. Vitamin B7 (Biotin)

Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim untuk karboksilase dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan asam amino. Fungsi tersebut mendukung kesehatan kulit, rambut, dan kuku. Vitamin B7 dapat diperoleh dari biji-bijian, buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan.

  1. Vitamin B9 (Folat)

Vitamin B9 dikenal sebagai folat (bentuk alami) atau asam folat (bentuk sintesis) berperan sebagai koenzim dalam transfer satu karbon untuk sintesis DNA, RNA, dan metilasi. Dengan demikian, folat berperan penting dalam proses pembelahan sel, terutama pada ibu hamil. Sumber vitamin B9 bisa didapat dari pepaya, jeruk, brokoli, telur, bayam, dan alpukat.

  1. Vitamin B12 (Cobalamin)

Vitamin B12 berperan dalam metabolisme sel. Vitamin ini berfungsi membantu pembentukan sel darah merah dan memelihara fungsi saraf. Selain melakukan fungsi tersebut, cobalamin juga mampu mengatasi keracunan sianida dan meningkatkan jumlah produksi homosistein (sejenis asam amino) di dalam darah. Vitamin B12 bisa diperoleh dari susu, kerang, kepiting, ikan sarden,ikan tuna, daging sapi, dan  daging ayam.

  1. Vitamin C (Ascorbic Acid)

Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat itu sendiri yang berperan sebagai Kofaktor untuk hidroksilasi kolagen dari enzim prolil hidroksilase dan Lisil hidroksilase. Selain itu, vitamin C juga berperan dalam meningkatkan penyerapan zat besi dan antioksidan (Menetralkan radikal bebas (ROS)). Vitamin C bisa diperoleg daru jeruk, jambu buji, leci, stroberi, dan pepaya.

Kekurangan atau defisiensi vitamin akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti rabun senja akibat defisiensi vitamin A, Rakhitis maupun osteomalasia akibat kekurangan vitamin D, gangguan gerak tubuh akibat kekurangan vitamin E, perdarahan pada jaringan tubuh akibat defisiensi vitamin K, mudah sakit dan penyembuhan luka yang lama akibat kekurangan vitamin C,  hingga anemia dan penurunan sistem imun yang berkaitan dengan vitamin B kompleks. Namun, bukan berarti konsumsi suplemen vitamin tambahan selalu diperlukan semua orang.

Selain itu, penting untuk memahami bahwa konsumsi vitamin secara berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan bagi tubuh. Banyak orang beranggapan bahwa mengonsumsi vitamin dalam dosis tinggi dapat meningkatkan daya tahan tubuh secara instan, padahal hal tersebut belum tentu benar. Beberapa jenis vitamin, terutama yang larut dalam lemak seperti vitamin A dan D, justru dapat menumpuk dalam tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dan berpotensi menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, penggunaan suplemen vitamin sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dan, jika perlu, dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Pada individu sehat dengan pola makan yang seimbang, asupan vitamin dari makanan umumnya sudah mencukupi. Suplemen vitamin lebih dibutuhkan pada kondisi tertentu seperti kehamilan, penyakit tertentu, atau kekurangan nutrisi.

Dengan demikian, vitamin memang penting bagi tubuh, tetapi tidak selalu harus dikonsumsi dalam bentuk suplemen. Sebab, dengan pola makan seimbang dan pola hidup sehat dapat menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya tahan tubuh sehingga terhindar dari sebagian besar penyakit.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Tanpa Disadari, Inilah Interaksi Obat dengan Makanan atau Minuman yang Dapat Membahayakan Tubuh

Published

on

Sumber foto: Pexels

Kayra Lova Marina
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Farmasi

Pernahkan kamu meminum obat sekaligus memakan makanan sebagai penyamar rasa pahit? atau setelah memakan makanan tertentu, langsung dilanjutkan dengan mengonsumsi obat tanpa adanya instruksi dari dokter atau apoteker? Tanpa kamu sadari, hal tersebut dapat membahayakan tubuh. Beberapa interaksi antara obat dengan makanan dan minuman sehari-hari dapat menimbulkan efek serius yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya ketidaktahuan yang dapat memperburuk kondisi pasien yang mengonsumsi suatu obat. Oleh karena itu, sudah saatnya kamu mengetahui bagaimana interaksi obat dengan makanan yang sering kali terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Antibiotik dengan Susu

Tanpa diketahui, interaksi antara antibiotik dan susu dapat memberikan efek yang buruk. Namun, hanya jenis antibiotik tertentu yang memiliki efek negatif, yaitu tetrasiklin. Diketahui bahwa mengonsumsi antibiotik tetrasiklin bersamaan dengan susu dapat menyebabkan antibiotik sulit untuk diserap. Susu memiliki kandungan kalsium di dalamnya. Kandungan kalsium tersebut akan menangkap molekul pada tetrasiklin dan membentuk senyawa baru yang sulit diserap oleh tubuh, sehingga efektivitas antibiotik menurun. Oleh karena itu, lebih baik mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan air putih saja.

  1. Obat Kolesterol dengan Jeruk Bali

Jeruk bali bisa menjadi berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat kolesterol jenis simvastatin. Simvastatin merupakan obat yang banyak diresepkan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Metabolisme pada Simvastatin sangat bergantung pada Enzim CYP3A4. Senyawa dalam jeruk bali dapat menghambat enzim CYP3A4 di usus yang berfungsi memecah simvastatin dalam saluran pencernaan. Jika CYP3A4 terhambat, kadar simvastatin dalam plasma darah akan meningkat. Kadar simvastatin yang terlalu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada otot (Miopati). Kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih fatal, seperti gagal ginjal akut. Sebaiknya, jeruk bali dikonsumsi satu atau dua jam setelah mengonsumsi obat tersebut.

  1. Warfarin dengan Sayuran Hijau

Warfarin merupakan obat pengencer darah yang diberikan kepada pasien penyakit jantung dan stroke. Warfarin bekerja dengan menghambat enzim yang penting untuk mengaktifkan vitamin K, yaitu VKORC1. Dengan adanya enzim tersebut, sintesis faktor-faktor pembekuan darah dapat dikurangi. Sayuran hijau yang dikonsumsi dapat memengaruhi efektivitas warfarin dan harus diwaspadai. Konsumsi sayuran hijau dengan kandungan vitamin K yang tinggi (lebih dari 250 µg) dapat menurunkan efektivitas warfarin. Itulah mengapa pasien yang mengonsumsi warfarin perlu menjaga asupan sayuran hijau secara konsisten agar efektivitas warfarin tetap stabil.

Setelah mengetahui fakta-fakta tersebut, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat kamu lakukan, seperti konsultasi dengan dokter atau apoteker mengenai konsumsi obat dan makanan sehari-hari, membaca label pada kemasan obat, dan juga hindari makanan atau minuman yang tertera ketika sedang mengonsumsi obat tersebut. Diharapkan setelah mengetahui informasi ini, interaksi obat dengan makanan tidak dianggap sepele, karena akan memiliki dampak yang sangat berpengaruh bagi kesehatan tubuh. Oleh karena itu, ayo lebih bijak dalam mengonsumsi obat-obatan.

 

Daftar Pustaka

Dayyih, W. A., et al. (2024). Review of Grapefruit Juice-Drugs Interactions Mediated by Intestinal CYP3A4 Inhibition. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 14(5), 59-68.

Talasaz, A. H., et al. (2024). Pharmacokinetic and Pharmacodynamic Interactions between Food or Herbal Products and Oral Anticoagulants: Evidence Review, Practical Recommendations, and Knowledge Gaps. Seminars in Thrombosis & Hemostasis, 51(5), 560-571.

Wiesner, A., et al. (2024). Clinically Important Interactions of Macrolides and Tetracyclines with Dietary Interventions – A Systematic Review with Meta – Analyses. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 79(11), 2762-2791.

Continue Reading

Trending