Opini
Dunia yang belum berakhir
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana
Bulan baru, dipertengahan Muharrom 1448 H.
Sudah menjadi kebiasaan beberapa malam terakhir, aku selalu menuliskan banyak hal, mulai dari perasaan yang kurasakan, keinginan, mimpi, mulai dari yang terkecil, sampai yang terbesar menurutku, juga kegelisahan, apapun yang terlintas saat itu, aku menuliskannya.
Aku ingin berbagi satu hal yang terjadi hari ini, yaitu aku belajar hal baru tentang software dalam dunia bisnis.
Jujur saja, aku suka berdagang. Beberapa kali aku berganti berjualan barang, mulai dari sepatu, baju, cosmestic, skincare, dan terjun ke banyak hal dalam proses penjualan.
Kukira hal itu bisa menjadikan aku senior suatu saat, menjadi bussines women.
Tapi, apa yang aku lakukan bahkan masih jauh dari kata bisnis, aku tak lebih dari seorang penjual.
Bukan hari ini kusadari bahwa aku masih jauh dari seorang pebisnis, dan sejak kusadari, hal itu justru membuat semangatku padam dan aku berhenti.
Sampai pada dihari ini, aku memutuskan untuk kembali, aku mulai belajar hal baru, mengikuti kegiatan seminar aplikasi untuk pebisnis.
Dan malam ini, aku menyadari bahwa dunia hari ini telah berlari dengan kecepatan mengagumkan menurutku, aku yang berhenti saat ini, bahkan tidak berada digaris manapun, bukan di start, bukan di pertengahan, dan sejak aku berhenti, aku hanya menjadi penonton.
Menulis bermacam macam hal beberapa hari terakhir mencungkil sedikit semangat, mengembalikan sesuatu yang selama ini ku simpan rapi, seolah tak ingin seorang mengetahuinya, aku menguburnya di dasar, seolah tak ada harapan untuk kembali.
Sedikit semangat itu bahkan membuatku bertanya pada diriku sendiri, apakah kamu masih yakin untuk terus menjadi penonton?
Tidak kah kamu ingin kembali belajar hal baru? Kembali mencoba banyak hal?
Kembali untuk menjadi salah satu pemain? Menjadi bussines women seperti impianmu?
Kamu mungkin merasa tidak bisa mengikuti kecepatan dunia bertransformasi, tapi bukankah kamu percaya pada TUHAN-MU?
Kecepatan internet, kecepatan dunia, mereka bahkan tidak lebih cepat dari kecepatan cahaya?
Kamu mungkin tidak akan sampai finish yang kamu maksud, karna ukuran dunia luas dan terus bertambah,
Hawa nafsu manusia yang tidak akan pernah merasa puas, terlalu ambisius dan terus menggeser batas,
Tapi bukankah tujuan menjadikan kita lebih hidup?
Apa yang kamu inginkan? Bukankah Kamu ingin Islam kembali berjaya? Kamu ingin Islam tidak hanya kuat dalam keyakinan, tapi Islam juga kuat dari segi finansial, Islam kuat dari segi prinsip2 agama yang diterapkan oleh orang Islam itu sendiri?
Bukankah kamu ingin menciptakan lapangan kerja untuk banyak para santri? Agar para santri juga bergerak diseluruh bidang?
Kamu ingin membantu dakwah dari segi kemapanan ? Agak tak ada lagi pendakwah yang fokusnya terbagi?
Para ulama khusus untuk mengajarkan, para dokter bekerja dengan ketakwaan, polisi , seluruh ilmu dalam Islam menjadi penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan seluruh cita-cita dan harapan yang kamu miliki, kamu hanya ingin melihat dari jauh tanpa terjun?
Sungguh terlalu.
Mulai lah kembali, dan tetaplah berhenti sejenak untuk sekedar memikirkan kembali tujuan, niat,
Teruslah melangkah dan berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi, apa yang harus aku buang? Apa yang harusnya di pertahankan? Apa yang harusnya di lakukan selanjutnya?
Ini hanya sebagian tentang hari ku, tapi mungkin bisa jadi pengingat untuk kita bersama, halo Alghzz di masa depan.
Untukmu, siapapun kamu, apapun yang kamu lakukan hari ini, jangan pernah berhenti belajar.
Kamu mungkin ingin menyerah, kamu mungkin merasa lelah, atau terlalu sering melakukan kesalahan sehingga sering menyalahkan diri sendiri,
Kamu hebat sudah bertahan sejauh ini, kamu di jalan yang benar jika kamu benar-benar meyakininya.
Karna dunia ini memang di design untuk ujian, dan selama kita masih bernafas, terus berusaha, tak ada kata gagal.
Gagal sesungguhnya adalah ketika kita memutuskan untuk berhenti belajar.
Dunia tak akan berakhir sampai waktu yang ditentukan, tapi waktu kita akan habis lebih dulu,
Karna garis finish yang pasti bagi kita semua hanyalah kematian. Kegagalan yang sebenarnya adalah ketika kamu tidak melihat hasil apapun setelah hari mu berakhir.
Penulis, Khumaida Ulfa (Makassar)
You may like
Opini
Menyoal Mitos Korban Ideal pada Kasus Kekerasan Seksual
Published
1 day agoon
22 July 2026By
Mitra Wacana

Luthfi Fatimah
Universitas Sebelas Maret
Seorang korban kasus kekerasan seksual yang kesaksiannya sempat mencuat di media sosial X pada Februari lalu, baru-baru ini membagikan respons publik atas kesaksiannya tersebut melalui unggahan reels di akun Instagram pribadinya, @aarummanis__. Ia menunjukkan beberapa komentar warganet yang meragukan haknya dalam mendapatkan keadilan. Banyak dari komentar tersebut yang justru mewajarkan perbuatan pelaku, bahkan ikut melontarkan kekerasan verbal pada korban. Hal ini hanya karena pakaian yang digunakan oleh korban dianggap terlalu terbuka sehingga merangsang hasrat seksual bagi laki-laki yang melihatnya. Reaksi defensif yang menyudutkan korban ini menegaskan satu hal: masyarakat kita masih terjebak dalam ideal victim myth atau mitos korban ideal.
Mitos korban ideal adalah kepercayaan yang dibangun masyarakat dengan menuntut korban kejahatan untuk memenuhi standar tertentu agar dianggap layak mendapatkan dukungan dan pembelaan. Pada era digital ini, konsep mitos korban ideal dapat ditemukan pada media sosial yang berubah menjadi meja persidangan ketika masyarakat menemukan bahwa korban tidak sesuai dengan standar normatif yang diyakini sebagian besar masyarakat. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Nils Christie, kriminolog asal Norwegia dalam karyanya yang berjudul From Crime Policy to Victim Policy (1986).
Christie memberikan 6 karakteristik seorang korban yang dianggap ideal: (1) korban digambarkan sebagai sosok yang lemah, (2) korban sedang melakukan kegiatan yang dianggap terhormat, (3) keberadaan korban di tempat kejadian tidak bisa disalahkan, (4) pelaku digambarkan sebagai sosok yang jelas-jelas jahat, (5) pelaku dan korban tidak saling memiliki hubungan, dan (6) korban memiliki posisi yang cukup kuat untuk menyuarakan namun tidak cukup kuat untuk mengancam struktur kekuasaan yang ada.
Keenam karakteristik di atas menciptakan standar yang sangat tinggi di masyarakat. Padahal, pada kenyataannya, sebagian besar korban tidak bisa memenuhi seluruh karakteristik tersebut secara bersamaan. Sehingga, ketika mitos korban ideal terlanjur diimani, kesalahan kecil pada diri korban dapat langsung menggugurkan kesalahan lebih besar yang dilakukan pelaku. Celah itulah yang kemudian menyurutkan empati masyarakat dan menggiring mereka untuk melakukan victim blaming.
Victim blaming sendiri adalah kecenderungan publik untuk menyalahkan korban atas suatu peristiwa yang menimpanya. Dalam kasus kekerasan seksual, kesaksian korban sering kali tidak diindahkan karena dirinya justru diyakini sebagai pihak yang mengundang niat buruk pelaku. Meskipun telah banyak kasus kekerasan seksual yang tidak pandang bulu terhadap perilaku dan penampilan korbannya, namun fenomena victim blaming masih terus terjadi ketika korban tidak sesuai dengan norma yang diyakini masyarakat.
Respon kolektif ini perlahan akan menggeser fokus kejahatan. Kekerasan yang dilakukan pelaku seakan-akan tidak lebih genting daripada ketidaksempurnaan korban. Dampak buruknya, ketika stigma ini merebak di kalangan masyarakat, para penegak hukum juga kerap mengamini stigma tersebut. Akibatnya, korban akan kehilangan kesempatan untuk menerima keadilan yang menjadi haknya.
Semakin kuat kepercayaan masyarakat terhadap mitos korban ideal, semakin kecil pula keberanian korban-korban lain untuk bersuara. Ketika melihat salah satu korban justru disudutkan oleh publik, korban lainnya akan takut mengalami penghakiman yang sama. Mereka memilih untuk memendam traumanya hanya karena kerasnya stigma buruk terhadap korban. Alhasil banyak kasus kekerasan seksual yang tenggelam begitu saja. Sementara pelaku tetap bebas berkeliaran tanpa bertanggung jawab atas perbuatannya.
Mitos korban ideal adalah tembok penghalang bagi korban dalam mendapatkan keadilannya. Kekerasan seksual tetaplah kekerasan seksual bahkan ketika korban tidak sesuai dengan standar normatif masyarakat. Kita perlu memahami bahwa sedikit celah pada moralitas korban bukan alasan bagi kita untuk turut memojokkannya. Sebagai bagian dari masyarakat yang beradab, memastikan bahwa korban mendapatkan perlindungan dan rasa aman dalam bersuara adalah tanggung jawab yang kita pikul bersama.
Referensi:
Islam, S. (2016). ‘Ideal victims’ of sexualized violence: why is it always female?. European Journal of Research in Social Sciences, 4(8), 82-91.
Randall, M. (2010). Sexual assault law, credibility, and “ideal victims”: Consent, resistance, and victim blaming. Canadian journal of women and the law, 22(2), 397-433.
Wijayanti, N. S. T. P. L., & Suarya, L. M. K. S. (2023). Fenomena Victim Blaming Pada Korban Kekerasan Seksual: Kajian Literatur. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 7(1), 12-20.
Van Wijk, J. (2013). Who is the ‘little old lady’of international crimes? Nils Christie’s concept of the ideal victim reinterpreted. International review of victimology, 19(2), 159-179.

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon

Menyoal Mitos Korban Ideal pada Kasus Kekerasan Seksual

Krisis Berpikir Kritis di Era Digital

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair





