web analytics
Connect with us

Opini

Experience for My Decision Making and Risk

Published

on

Oleh BAYU SANTOSA
Mahasiswa Universitas Widya Mataram 

     Saya Bayu Santosa mahasiswa Universitas Widya Mataram. Seorang mahasiswa semester tujuh atau akhir, Dimana kebijakan dari kampus mengharuskan mahasiswa yang telah melewati dari semester enam berkewajiban magang guna mengenal dunia kerja atupun meningkatkan relasi dalam berinterkasi diluar kampus. Dalam hal ini tentu saya sangat senang mengingat program magang ini juga bertujuan positif bagi mahasiswanya itu sendiri baik dalam kampus maupun luar kampus.

     Sebelum akhirnya membuat Keputusan bulat untuk mengambil magang di Mitra Wacana, saya juga yang pada saat itu ditawarkan tempat magang disalah satu Perusahaan dikota jogja oleh teman seperjuangan. Namun kendati demikian dari proses pemikiran yang sangat amat Panjang, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil di Mitra Wacana Bersama teman seperjuangan Eni dan Sri dan mengambil tema skripsi yang sesuai dengan tujuan ditempat magang mengenai Gender.

     Selama menjalani magang di Mitra Wacana, saya merasa sangat terinspirasi dan mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya peran organisasi non-pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat. Mitra Wacana ini memiliki visi yang jelas dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat marginal, serta mendorong perubahan sosial yang lebih adil. Setiap program yang dijalankan mengutamakan partisipasi aktif masyarakat, sehingga mereka tidak hanya menjadi objek bantuan, tetapi juga subjek dalam proses perubahan itu sendiri.

     Selain itu, saya sangat terkesan dengan komitmen para staf dan relawan Mitra Wacana yang memiliki semangat tinggi dan dedikasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya bekerja untuk mencapai tujuan organisasi, tetapi juga berupaya membangun hubungan yang baik dengan mahasiswa yang mereka dampingi. Membuat Semangat keinginan untuk memberi dampak positif menjadi motivasi utama dalam setiap langkah mereka yang saya rasakan selama kurang lebih dua bulan ini. Baik Masyarakat maupun mahasiswa yang magang

     Namun, saya juga menyadari bahwa saya sangat pasif dalam berinteraksi dengan staff mitra wacana dalam menjalankan program magang. Dimana Seringkali, keterbatasan Bahasa jawa dan candaan atau jokes-jokes budaya jawir yang kurang saya pahami . Meskipun demikian, saya melihat bagaimana  Mitra Wacana ini tetap memberikan ilmu dan pengetahuan yang ada dengan cara yang kreatif, seperti menganggap LSM sebagai rumah sendiri, sehingga meskipun ada rasa ketidaknyamanan dari saya sendiri, pihak mitra sepenuhnya mengikuti cara magang yang saya dan teman-teman buat. Dimana lebih baik pergi ke warung ataupun disudahi magangnya pada hari yang sama Ketika ndak ada energi lagi buat magangnya.

     Selama pengalaman kurang lebih awal oktober hingga akhir november ini, saya juga  mempelajari tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Saya beserta dua teman saya menganggap Mitra Wacana ini sangat menghargai kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat dan mahasiswa, Dimana pihak Mitra Wacana selalu berusaha untuk memastikan bahwa setiap sumber daya digunakan dengan sebaik-baiknya demi keberlanjutan program yang dijalankan. Hal ini memberikan saya pemahaman yang lebih dalam tentang prinsip-prinsip etika dalam dunia organisasi sosial.

     Secara keseluruhan, pengalaman di Mitra Wacana ini memberi saya perspektif baru mengenai peran vital organisasi non-pemerintah dalam pembangunan sosial. Saya merasa sangat beruntung dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam memperjuangkan perubahan positif di masyarakat. Kesan mendalam ini akan terus menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkontribusi dalam upaya-upaya sosial yang lebih besar di masa depan.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Pecinta Pedas Yuk Merapat: Cobain Mangut Kepala Manyung Yang Lezat, Dijamin Nagih

Published

on

Oleh Eka Lestari

Penggemar ikan udah pernah nyobain kuliner yang satu ini belum? Namanya mangut kepala manyung, kuliner sedap dengan cita rasa yang khas. Mangut kepala manyung merupakan hidangan unik dari pesisir Utara Jawa Tengah. Kuliner ini bisa dibilang legendaris dan jadi andalan di Kota Semarang. Mangut kepala manyung adalah salah satu hidangan khas Semarang. Konon, makanan ini sudah ada sejak 1960-an. Berakar dari budaya kuliner Pantura Jawa Tengah, dan banyak ditemukan di Kota Atlas dan sekitarnya.

Sesuai namanya, hidangan ini berisi kepala ikan manyung, yaitu ikan laut yang termasuk dalam kelompok ikan berkumis atau famili Ariidae. Bentuknya seperti ikan lele, tapi ukurannya lebih besar. Ikan manyung punya daging yang tebal dan cenderung tidak begitu amis. 

Ciri khas dari hidangan ini menggunakan kepala ikan manyung yang sudah diasap. Rasanya pedas bercampur kuah santan yang gurih. Uniknya, mangut kepala manyung punya aroma begitu khas yang berasal dari proses pengasapan ikan yang dilakukan secara tradisional.

Teknik pengolahannya sangat menarik. Sebelum dimasak menjadi hidangan lezat, kepala ikan manyung diasap terlebih dahulu (dengan kayu atau tempurung kelapa), tujuannya untuk menciptakan aroma smoky yang meresap ke dalam daging. Selain itu, pengasapan dilakukan sebagai cara pengawetan alami. Dengan metode pengasapan tersebut, bisa mengurangi kadar air dan mengubah tekstur kulit menjadi mengkilap.

Hidangan ini juga kaya akan rempah, jadi bumbunya terasa medok. Hal itu bisa dirasakan dari kuahnya yang kental dan berbumbu, terdiri dari kunyit, cabai, kencur, jahe, ketumbar, daun salam, lada, dan santan yang menonjolkan aroma gurih, dan sedikit asam. Kombinasi rempah tersebut menciptakan kuah yang pedas dan enak di lidah. Dagingnya melimpah dan ukurannya yang besar menjadikannya sebagai kuliner pantura. Rasanya juara dan porsinya yang tidak seperti biasanya, dianggap oleh sebagian orang sebagai kuliner mewah.

Kini, mangut kepala manyung jadi salah satu kuliner Semarang yang sering diburu oleh wisatawan. Rasanya yang khas dan porsinya yang menyenangkan, membuat hidangan ini jadi primadona oleh beberapa kalangan.

Kalau kamu mampir ke Kota Semarang, ada salah satu warung makan yang menyajikan hidangan tersebut yaitu Mangut Kepala Manyung Bu Fat. Tempatnya sering didatangi wisatawan dan terkenal di kalangan pecinta kuliner.

Lokasinya sudah punya beberapa cabang yaitu di Jalan Ariloka, Krobokan, Kecamatan. Semarang Barat, Kota Semarang dan Jalan Sukun Raya No. 36, Banyumanik, Semarang.

Yuk guys kalau kamu main ke Semarang, cobain mangut kepala manyung. Dijamin bakal ketagihan deh..

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending