web analytics
Connect with us

Opini

Ketika Memberi Menjadi Jerat: Tiga Wajah Tersembunyi Kemurahan Hati

Published

on

T.H. Hari Sucahyo,
alumnus Psikologi, peminat sosial humaniora

Kemurahan hati sering dipuji sebagai salah satu kebajikan paling luhur dalam hidup manusia. Kita diajarkan sejak kecil bahwa memberi itu baik, bahwa berbagi itu mulia, dan bahwa kedermawanan adalah tanda kedewasaan rohani maupun moral. Di balik keindahan ajaran yang tampak sederhana itu, terdapat sebuah paradoks yang kerap luput dari perhatian: tidak semua tindakan memberi berasal dari tempat yang sehat, dan tidak semua bentuk kedermawanan mengarah pada kebebasan batin.

Bahkan, dalam banyak kasus, kemurahan hati dapat berubah menjadi pintu masuk bagi kelelahan emosional, manipulasi, kecanduan pujian, atau penderitaan yang justru kita ciptakan sendiri. Paradoks ini muncul karena kemurahan hati bukanlah satu warna yang tunggal. Ia memiliki dimensi motivasi yang berlapis, dan setiap lapisan mengaktifkan “lingkaran penghargaan” yang berbeda di dalam otak kita.

Ilmu saraf modern menunjukkan bahwa proses pemberian dapat memicu rasa senang, lega, puas, atau bahkan kecemasan yang terselubung. Sementara filsafat dan tradisi kebijaksanaan kuno menambahkan bahwa tindakan memberi dapat berakar pada keinginan, ketakutan, atau kebebasan. Ketika ketiga perspektif ini digabungkan, kita menemukan gambaran yang jauh lebih kompleks dari sekadar “memberi itu baik”.

Setidaknya ada tiga jenis kemurahan hati. Pertama, kemurahan hati yang berakar pada pencarian penghargaan eksternal, yakni jenis yang membuat kita memberi agar disukai, dipuji, atau dianggap berarti oleh orang lain. Kedua, kemurahan hati yang lahir dari kebutuhan internal, dimana kita memberi karena merasa perlu, karena identitas kita melekat pada peran sebagai penolong, penyelamat, atau orang baik.

Ketiga, kemurahan hati yang muncul dari kebebasan batin, yakni kita memberi karena kita memilih untuk melakukannya, bukan karena tuntutan, bukan karena keinginan untuk dilihat, dan bukan karena sebuah kekosongan yang harus diisi.

Dari ketiganya, hanya bentuk yang ketiga yang benar-benar membebaskan kita dari siklus keinginan. Dua lainnya, meskipun dapat dianggap baik di permukaan, berpotensi menjadi jerat yang tak kita sadari. Bentuk pertama, kemurahan hati yang mencari penghargaan eksternal, adalah jenis pemberian yang paling mudah dikenali pada dunia modern yang dipenuhi pencitraan.

Kita hidup dalam budaya di mana banyak hal diwujudkan dalam bentuk simbol, tampilan, atau pengakuan publik. Pemberian pun tidak terkecuali. Media sosial menyediakan ruang untuk memamerkan kebaikan hati, mulai dari berdonasi besar-besaran, memberi makan orang miskin, hingga menggalang aksi sosial.

Tak ada yang salah dengan berbagi kebaikan secara publik; banyak hal baik yang terjadi karena hal itu. Tetapi ketika motivasi terdalam kita adalah kebutuhan akan validasi, kedermawanan itu berubah menjadi transaksi psikologis. Kita memberi, lalu menunggu “imbalannya”: pujian, rasa terhubung, pandangan orang lain tentang diri kita.

Pemberian semacam ini memang dapat memicu rasa senang (dopamin) karena dipuji atau dikagumi. Tetapi kegembiraan itu rapuh dan cepat berlalu. Kita menjadi bergantung pada penghargaan eksternal untuk merasa bernilai, dan pemberian berubah menjadi alat untuk meneguhkan ego yang rapuh.

Pada titik ini, kemurahan hati tidak lagi murni; ia menjadi strategi sosial. Dan strategi sosial, betapapun canggihnya, tidak akan pernah benar-benar memerdekakan. Bentuk kedua, kemurahan hati yang muncul dari kebutuhan internal; ini lebih rumit. Sebuah pemberian yang tampak lebih mulia dari luar, namun lebih berbahaya bagi keseimbangan batin seseorang.

Banyak orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri mereka bergantung pada seberapa banyak mereka bisa membantu orang lain. Mereka merasa hanya layak dicintai jika mereka berguna. Mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, bahkan ketika hal itu merusak diri mereka sendiri.

Pemberian semacam ini tidak didorong oleh pencitraan, melainkan oleh rasa takut kehilangan makna atau kasih sayang. Kita memberi agar merasa penting. Kita menolong agar merasa dibutuhkan. Kita berkorban agar merasa berharga. Dan kita sering tidak menyadari bahwa kita sebenarnya sedang menggunakan kemurahan hati sebagai obat penenang bagi kecemasan kita sendiri.

Pemberian tipe ini juga memicu lingkaran penghargaan di otak, bukan melalui dopamin pujian, tetapi melalui endorfin yang muncul dari rasa “telah melakukan tugas”. Namun, efek ini pun tidak bertahan lama. Ketika kebutuhan emosional yang lebih dalam tidak terpenuhi, kita memberi lagi, memberi lagi, dan memberi lagi, seakan-akan kita sedang menambal kebocoran dengan karpet. Kita merasa wajib selalu siap menolong, bahkan ketika tubuh dan jiwa kita sudah kelelahan.

Ironisnya, semakin kita memberi, semakin besar pula harapan tak terucap yang kita simpan dalam hati: agar orang lain mengerti kita, membalas kebaikan kita, atau sekadar tidak meninggalkan kita. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kekecewaan muncul. Kemurahan hati berubah menjadi luka. Dan kita mulai mempertanyakan mengapa orang lain “tidak tahu diri”, padahal sebenarnya, kita yang menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan emosional yang tidak pernah kita akui.

Di sinilah masuk bentuk ketiga, kemurahan hati yang lahir dari kebebasan batin. Ini bukan tentang pencitraan. Bukan tentang rasa takut. Bukan tentang memenuhi lubang emosional. Ini tentang tindakan memberi yang bersumber dari kelimpahan batin, bukan kekurangan. Orang yang memiliki jenis kemurahan hati ini tidak memberi karena terpaksa, tidak juga karena ingin dihargai.

Mereka memberi karena mereka mampu, karena mereka memilih, dan karena pemberian itu selaras dengan nilai mereka. Mereka memberi tanpa memaksa diri mereka untuk selalu menjadi pahlawan. Mereka memberi tanpa melampaui batas yang wajar. Mereka memberi tanpa menghadirkan beban atau harapan tersembunyi kepada penerima.

Yang paling penting: mereka sadar penuh bahwa mereka tidak berkuasa atas respons orang lain. Mereka hanya bertanggung jawab atas niat mereka, bukan hasilnya. Ini adalah bentuk kemurahan hati yang sulit dicapai, karena ia mengharuskan kita untuk membongkar banyak lapisan ego dan rasa takut yang selama ini bersembunyi di balik tindakan kita yang tampak mulia.

Tetapi ketika kita berhasil memasuki ruang ini, kita menemukan sebuah pengalaman memberi yang berbeda: ringan, jernih, dan tidak terikat. Memberi tidak lagi menjadi alat untuk mendapatkan sesuatu. Memberi menjadi ekspresi dari diri yang utuh. Pemberian itu tidak terasa seperti pengorbanan, tetapi seperti pembagian dari sesuatu yang memang melimpah.

Untuk mencapai bentuk kemurahan hati yang membebaskan ini, kita perlu mengenali motivasi-motivasi yang tersembunyi dalam tindakan memberi kita. Kita perlu mengajukan pertanyaan yang jujur kepada diri sendiri: apakah aku memberi karena aku ingin dilihat sebagai orang baik? Apakah aku memberi karena aku takut ditolak? Apakah aku memberi karena aku berharap orang lain akan memperlakukan aku dengan cara tertentu? Atau apakah aku memberi karena aku benar-benar ingin memberi?

Kita juga perlu memahami bahwa menetapkan batas bukanlah bentuk egoisme. Justru batas adalah ruang yang memungkinkan kemurahan hati tumbuh tanpa merusak kita. Tanpa batas, kemurahan hati berubah menjadi pengorbanan diri yang tidak perlu. Dengan batas, kemurahan hati menjadi tindakan bebas yang tidak mencederai.

Ironisnya, banyak orang takut menetapkan batas karena mengira itu akan membuat mereka tampak kurang baik. Padahal, batas justru memungkinkan kita memberi dengan tulus. Karena ketika kita memberi tanpa rasa terpaksa, tanpa rasa takut, dan tanpa agenda tersembunyi, penerima pun akan merasakan keaslian niat kita. Dan keaslian, dalam jangka panjang, jauh lebih bernilai daripada kedermawanan yang penuh kepura-puraan atau kecemasan.

Paradoks kemurahan hati terletak pada kenyataan bahwa tindakan yang sama—memberi—bisa berasal dari tiga tempat batin yang sangat berbeda. Tindakan itu sendiri mungkin tak berubah: uang yang disumbangkan, waktu yang dibagikan, tenaga yang disediakan. Namun makna moral dan dampak emosionalnya sangat bergantung pada dari mana ia berasal. Memberi bukan hanya soal apa yang kita keluarkan dari tangan kita, tetapi apa yang terjadi di dalam hati kita saat kita melakukannya.

Ketika kita mampu mengalihkan diri dari pemberian yang lahir dari kebutuhan ego menuju pemberian yang lahir dari kebebasan batin, kita menemukan bahwa kedermawanan bukan lagi sekadar tindakan sosial, tetapi latihan spiritual. Ia menjadi jalan untuk membentuk diri, mengikis ego, memurnikan niat, dan menghubungkan kita dengan kehidupan secara lebih luas.

Jenis kemurahan hati yang membebaskan adalah yang membuat kita tidak merasa kehilangan apa pun setelah memberi. Kita tidak merasa lebih kecil. Tidak merasa terpaksa. Tidak merasa digunakan. Tidak merasa menunggu pamrih. Kita memberi, dan hati kita tetap tenang. Jika ada satu pelajaran dari paradoks ini, maka itu adalah bahwa kemurahan hati bukan hanya tentang kebaikan, tetapi juga tentang kesadaran. Ketika kesadaran itu hadir, pemberian berubah dari beban menjadi anugerah bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Merevolusi Cara Kita Melihat Tugas Kuliah

Published

on

Sumber gambar: Freepik

Nurisa Cahya Artika Farah,Mahasiswi semester 3 Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta.

Di dunia perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Salah satu tantangan tersebut adalah tugas kuliah yang diberikan oleh dosen sebagai proses pembelajaran. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa justru menganggap tugas kuliah sebagai beban yang membebani pikiran. Mahasiswa lebih fokus pada nilai akhir ketimbang proses belajar yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Fenomena ini menjadi gambaran bahwa sebagian mahasiswa masih memandang tugas secara sempit, tanpa menyadari bahwa melalui tugas inilah kemampuan berpikir kritis serta tanggung jawab perkuliahan dapat terasah.

Banyak kalangan mahasiswa mengeluh akan tugas kuliah yang diberikan, mereka memandangnya sebagai beban yang menumpuk dan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai, bukan proses pembelajaran. Hal ini membuat motivasi belajar menurun yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti kurangnya minat, kesulitan konsentrasi, masalah pribadi, maupun kualitas hasil tugas yang tidak mencerminkan pemahaman sebenarnya. Padahal, esensi pendidikan tinggi bukan sebatas mengerjakan tugas, namun membangun cara berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Karena itu, saatnya mahasiswa merevolusi cara pandang terhadap tugas yang dianggap beban menjadi proses pembelajaran yang bermakna.

Perkuliahan mahasiswa sebenarnya tidak hanya belajar dari penjelasan dosen, tetapi juga dari proses mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari individu berdasarkan pengalaman dan pemahaman. Seperti halnya dalam pemberian tugas kuliah ini mahasiswa tidak hanya menerima ilmu dari dosen, tetapi juga membentuk pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar sebelumnya. Dalam konteks ini, tugas kuliah bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Misalnya, ketika mahasiswa diminta menulis esai, mereka tidak hanya terpaku dengan teori yang sudah ada, tetapi juga menyusun gagasan atau ide pribadi berdasarkan pemahaman konseptual dan berpikir kritis. Dengan demikian, tugas menjadi penghubung antara pengetahuan dan penerapan.

Namun, faktanya di lapangan masih banyak mahasiswa yang memandang tugas sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk semata-mata demi nilai. Hal ini sejalan dengan rendahnya motivasi dalam diri berdasarkan teori Self-Determination. Mahasiswa akan termotivasi jika memiliki kebebasan pilihan dalam menyelesaikan tugas (autonomi), merasa mampu mengerjakan (kompetensi), dan merasa bahwa tugas memiliki hubungan dengan kehidupan mereka (keterhubungan). Dengan demikian, ketika diberi tugas yang memberikan kebebasan, kemampuan, serta keterhubungan, mahasiswa akan melihat tugas bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri.

Selain itu, konsep belajar bermakna dari David Ausubel juga relevan dalam konteks ini. Dalam perkuliahan, hal ini berarti tugas yang diberikan seharusnya berasal dari struktur pemikiran yang telah dimiliki mahasiswa. Misalnya, tugas proyek yang menuntut mahasiswa mengaitkan teori dengan pengalaman pribadi. Ketika mahasiswa menemukan keterkaitan tersebut, proses belajar menjadi bermakna. Mereka tidak sedang mengerjakan tugas dosen melainkan sedang menemukan diri dalam proses pembelajaran.

Pandangan teori humanistik juga memperkuat gagasan ini. Dalam pandangan ini, mahasiswa dipandang sebagai individu yang unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tugas kuliah, seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan mengembangkan potensi secara utuh. Tugas tidak hanya mengukur hasil akhir berupa angka, tetapi juga menilai proses berpikir, kreativitas, den refleksi diri mahasiswa.

Sebagai mahasiswa, saya kerap melihat beberapa mahasiswa bahwa tugas baru benar-benar dipahami maknanya setelah dikerjakan, bukan saat materi disampaikan oleh dosen. Dari tugaslah mahasiswa belajar berpikir kritis, mampu mengelola waktu, dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kuliah sejatinya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa, asalkan dipahami dan dijalani dengan cara pandang yang tepat.

Masalahnya sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil bukan proses. Banyak mahasiswa mengerjakan tugas hanya untuk mendapatkan nilai bukan karena ingin memahami makna apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Merevolusi cara pandang terhadap tugas kuliah berarti menempatkan kembali tugas sebagai bagian dari proses pembelajaran bukan sebagai beban mahasiswa. Ketika mahasiswa mulai melihat tugas sebagai ruang pengembangan diri mereka akan lebih bersemangat, produktif, dan berdaya saing. Tak hanya mahasiswa, dosen pun akan lebih mudah menilai kualitas pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, revolusi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil belajar, tetapi juga membentuk generasi mahasiswa yang berpikir kritis, reflektif, dan siap menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Hal yang paling berharga dari tugas kuliah bukan hanya tentang nilai yang berupa angka melainkan proses belajar yang akan menambah pemahaman.

 

 

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending