Opini
Lahir Normal vs Sesar: Benarkah Imunitas Bayinya Berbeda?
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Silvi Aprilia Putri mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Perdebatan mengenai metode melahirkan seolah tidak pernah ada habisnya di kalangan masyarakat. Sayangnya, diskusi ini sering kali dibumbui oleh stigma yang menyudutkan. Masih ada anggapan keliru bahwa seorang wanita baru menjadi “ibu seutuhnya” jika melahirkan melalui jalur normal (pervaginam). Padahal, baik melahirkan normal maupun operasi sesar (C-section), keduanya adalah perjuangan bertaruh nyawa yang sama-sama mulia.
Namun, jika dikesampingkan dari sudut pandang sosial dan melihatnya murni dari kacamata medis, apakah benar ada perbedaan dampak kesehatan bagi bayi yang lahir lewat jalan lahir dengan yang melalui operasi sesar? Jawabannya: ada, terutama dalam hal sistem imun awal si kecil.
Secara biologis, proses melahirkan normal memberikan satu keuntungan besar yang tidak didapatkan pada proses sesar, yaitu paparan mikrobioma. Saat bayi melewati jalan lahir, tubuhnya akan “mandi” dan terpapar oleh jutaan bakteri baik dari ibunya, salah satunya adalah kelompok Lactobacillus.
Bakteri-bakteri baik inilah yang pertama kali menjajah saluran pencernaan bayi dan bertindak sebagai “pelatih” bagi sistem imunnya yang baru lahir. Mikrobioma ini membantu tubuh bayi mengenali mana zat yang berbahaya dan mana yang tidak, sehingga di kemudian hari, anak yang lahir normal cenderung memiliki risiko yang lebih rendah terhadap alergi, asma, atau gangguan pencernaan.
Meskipun ada perbedaan dari sisi mikrobioma awal, hal ini sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi pilihan seorang ibu. Operasi sesar adalah salah satu inovasi terbesar dalam dunia kedokteran yang diciptakan untuk menjadi juru selamat.
Ketika terjadi kondisi darurat medis seperti gawat janin, posisi sungsang, plasenta previa, atau panggul ibu yang terlalu sempit, operasi sesar adalah jalan terbaik dan paling aman untuk memastikan ibu dan bayi pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Memaksakan lahir normal pada kondisi yang tidak memungkinkan justru bisa berakibat fatal.
Lagipula, sains tidak berhenti di ruang bersalin. Kekurangan mikrobioma awal pada bayi sesar bisa dikejar secara optimal melalui pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, karena ASI kaya akan prebiotik (Human Milk Oligosaccharides) yang menjadi makanan bagi bakteri baik untuk tumbuh di usus bayi. Selain itu, metode skin to skin contact (kontak kulit ke kulit) sesegera mungkin setelah operasi juga membantu mentransfer bakteri baik dari kulit ibu ke bayi.
Pada akhirnya, jalan lahir dan operasi sesar hanyalah dua jalur berbeda yang ditempuh untuk satu tujuan yang sama: melahirkan kehidupan baru ke dunia. Perbedaan imunitas di awal kelahiran adalah fakta medis, namun itu adalah hal yang bisa dioptimalkan lewat kasih sayang, ASI, dan perawatan pascalahir yang tepat.
Bagi seluruh ibu di luar sana, apa pun jalurnya, Anda adalah pahlawan. Stop membanding-bandingkan proses persalinan, karena kesehatan ibu dan kebahagiaan bayi adalah prioritas yang utama.
You may like
Opini
Menyoal Mitos Korban Ideal pada Kasus Kekerasan Seksual
Published
23 hours agoon
22 July 2026By
Mitra Wacana

Luthfi Fatimah
Universitas Sebelas Maret
Seorang korban kasus kekerasan seksual yang kesaksiannya sempat mencuat di media sosial X pada Februari lalu, baru-baru ini membagikan respons publik atas kesaksiannya tersebut melalui unggahan reels di akun Instagram pribadinya, @aarummanis__. Ia menunjukkan beberapa komentar warganet yang meragukan haknya dalam mendapatkan keadilan. Banyak dari komentar tersebut yang justru mewajarkan perbuatan pelaku, bahkan ikut melontarkan kekerasan verbal pada korban. Hal ini hanya karena pakaian yang digunakan oleh korban dianggap terlalu terbuka sehingga merangsang hasrat seksual bagi laki-laki yang melihatnya. Reaksi defensif yang menyudutkan korban ini menegaskan satu hal: masyarakat kita masih terjebak dalam ideal victim myth atau mitos korban ideal.
Mitos korban ideal adalah kepercayaan yang dibangun masyarakat dengan menuntut korban kejahatan untuk memenuhi standar tertentu agar dianggap layak mendapatkan dukungan dan pembelaan. Pada era digital ini, konsep mitos korban ideal dapat ditemukan pada media sosial yang berubah menjadi meja persidangan ketika masyarakat menemukan bahwa korban tidak sesuai dengan standar normatif yang diyakini sebagian besar masyarakat. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Nils Christie, kriminolog asal Norwegia dalam karyanya yang berjudul From Crime Policy to Victim Policy (1986).
Christie memberikan 6 karakteristik seorang korban yang dianggap ideal: (1) korban digambarkan sebagai sosok yang lemah, (2) korban sedang melakukan kegiatan yang dianggap terhormat, (3) keberadaan korban di tempat kejadian tidak bisa disalahkan, (4) pelaku digambarkan sebagai sosok yang jelas-jelas jahat, (5) pelaku dan korban tidak saling memiliki hubungan, dan (6) korban memiliki posisi yang cukup kuat untuk menyuarakan namun tidak cukup kuat untuk mengancam struktur kekuasaan yang ada.
Keenam karakteristik di atas menciptakan standar yang sangat tinggi di masyarakat. Padahal, pada kenyataannya, sebagian besar korban tidak bisa memenuhi seluruh karakteristik tersebut secara bersamaan. Sehingga, ketika mitos korban ideal terlanjur diimani, kesalahan kecil pada diri korban dapat langsung menggugurkan kesalahan lebih besar yang dilakukan pelaku. Celah itulah yang kemudian menyurutkan empati masyarakat dan menggiring mereka untuk melakukan victim blaming.
Victim blaming sendiri adalah kecenderungan publik untuk menyalahkan korban atas suatu peristiwa yang menimpanya. Dalam kasus kekerasan seksual, kesaksian korban sering kali tidak diindahkan karena dirinya justru diyakini sebagai pihak yang mengundang niat buruk pelaku. Meskipun telah banyak kasus kekerasan seksual yang tidak pandang bulu terhadap perilaku dan penampilan korbannya, namun fenomena victim blaming masih terus terjadi ketika korban tidak sesuai dengan norma yang diyakini masyarakat.
Respon kolektif ini perlahan akan menggeser fokus kejahatan. Kekerasan yang dilakukan pelaku seakan-akan tidak lebih genting daripada ketidaksempurnaan korban. Dampak buruknya, ketika stigma ini merebak di kalangan masyarakat, para penegak hukum juga kerap mengamini stigma tersebut. Akibatnya, korban akan kehilangan kesempatan untuk menerima keadilan yang menjadi haknya.
Semakin kuat kepercayaan masyarakat terhadap mitos korban ideal, semakin kecil pula keberanian korban-korban lain untuk bersuara. Ketika melihat salah satu korban justru disudutkan oleh publik, korban lainnya akan takut mengalami penghakiman yang sama. Mereka memilih untuk memendam traumanya hanya karena kerasnya stigma buruk terhadap korban. Alhasil banyak kasus kekerasan seksual yang tenggelam begitu saja. Sementara pelaku tetap bebas berkeliaran tanpa bertanggung jawab atas perbuatannya.
Mitos korban ideal adalah tembok penghalang bagi korban dalam mendapatkan keadilannya. Kekerasan seksual tetaplah kekerasan seksual bahkan ketika korban tidak sesuai dengan standar normatif masyarakat. Kita perlu memahami bahwa sedikit celah pada moralitas korban bukan alasan bagi kita untuk turut memojokkannya. Sebagai bagian dari masyarakat yang beradab, memastikan bahwa korban mendapatkan perlindungan dan rasa aman dalam bersuara adalah tanggung jawab yang kita pikul bersama.
Referensi:
Islam, S. (2016). ‘Ideal victims’ of sexualized violence: why is it always female?. European Journal of Research in Social Sciences, 4(8), 82-91.
Randall, M. (2010). Sexual assault law, credibility, and “ideal victims”: Consent, resistance, and victim blaming. Canadian journal of women and the law, 22(2), 397-433.
Wijayanti, N. S. T. P. L., & Suarya, L. M. K. S. (2023). Fenomena Victim Blaming Pada Korban Kekerasan Seksual: Kajian Literatur. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 7(1), 12-20.
Van Wijk, J. (2013). Who is the ‘little old lady’of international crimes? Nils Christie’s concept of the ideal victim reinterpreted. International review of victimology, 19(2), 159-179.

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon

Menyoal Mitos Korban Ideal pada Kasus Kekerasan Seksual

Krisis Berpikir Kritis di Era Digital

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon
Trending
Berita22 hours agoKOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair
Berita23 hours agoCegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon
Opini23 hours agoMenyoal Mitos Korban Ideal pada Kasus Kekerasan Seksual




