Opini
Merawat Budaya, Merajut Kebersamaan: Gotong Royong dalam Tradisi Tabuik Pariaman
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana
Oleh: Insan Sulastri MZ
Membicarakan soal budaya adalah obrolan yang tidak ada habis habisnya, selama masyarakatnya masih memeluk erat kesadaran untuk menjaga tradisi sebagai cermin identitas. Seiring detak waktu, kebudayaan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan nyawa yang merajut simpul kebersamaan. budaya dan tradisi yang dihidupi menjadi napas sekaligus kompas yang menuntun langkah masyarakat dalam menapaki garis kehidupan.
Kebudayaan memerankan peran penting sebagai terbentuknya norma sosial dalam sebuah masyarakat. Melalui kebudayaan, nilai-nilai abstrak diwariskan menjadi standar perilaku nyata yang ditaati bersama, sehingga menciptakan keteraturan dan harmoni dalam kehidupan kolektif. Seperti halnya budaya yang ada di daerah Pariaman yang terletak di Sumatera Barat, terdapat kebudayaan yang unik dan masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Budaya tersebut dikenal dengan nama Tabuik Pariaman.
Festival Tabuik merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang berkembang di tengah masyarakat sebagai tradisi yang memiliki berbagai makna. Tradisi ini mencerminkan budaya masyarakat Minangkabau yang kaya akan nilai-nilai kehidupan, baik dari segi sejarah, sosial, maupun agama. Pelaksanaan tabuik ini tidak hanya sekedar perayaan, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan sosial melalui semangat gotong royong antar warga. Keunikan rangkaian prosesi dalam Festival Tabuik menjadikannya sebagai tradisi yang memiliki ciri khas tersendiri. Hal ini membuatnya mampu menarik perhatian tidak hanya masyarakat setempat, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah. Oleh karena itu, Tabuik tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai daya tarik yang mendukung perkembangan pariwisata.
Dijelaskan bahwa gotong royong memiliki peran yang sangat besar dalam festival ini, terutama dalam proses pembangunan patung Tabuik itu sendiri. Proses tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang bekerja sama dan saling membantu dalam setiap tahapannya. Proses ini menghabiskan waktu sekitar sepuluh hari bahkan lebih, diawali dengan prosesi Maambiak Tanah, yaitu pengambilan tanah dari dasar sungai secara bersama-sama sebagai simbol awal pembuatan tabuik. Dan dilanjutkan dengan Manabang Batang Pisang, yaitu penebangan batang pisang yang dilakukan secara gotong royong untuk bahan rangka tabuik. Tahapan berikutnya adalah Maatam, yaitu prosesi berkabung yang menggambarkan kesedihan masyarakat. Pada tahap ini, suasana berubah menjadi lebih khidmat dan penuh penghayatan. Kemudian dilanjutkan dengan Maradai, yaitu kegiatan meminta sumbangan masyarakat untuk mendukung pembuatan tabuik. Setelah itu dilakukan Maarak Jari-jari, yaitu arak-arakan replika bagian tubuh sebagai simbol pengumpulan jasad, lalu dilanjutkan dengan Maarak Sorban sebagai bagian dari rangkaian simbolik. Tahapan selanjutnya adalah Tabuik Naik Pangkek, yaitu penyatuan seluruh bagian tabuik hingga menjadi bentuk utuh. Dan puncak selanjutnya dari seluruh proses tersebut adalah Hoyak Tabuik, yaitu mengarak dan menggoyangkan tabuik yang diiringi musik tradisional, sebelum akhirnya tabuik dibuang ke laut sebagai penutup tradisi
Sejalan dengan seluruh rangkaian prosesi tersebut, jelas bahwa nilai yang paling menonjol dalam Festival Tabuik adalah semangat gotong royong yang kuat dalam berbagai proses tersebut. Setiap tahapan tidak hanya menjadi bagian dari ritual, tapi juga ruang bagi masyarakat untuk bekerja sama, saling membantu, dan berpartisipasi aktif tanpa mengharapkan imbalan. Kita bisa lihat, kebersamaan ini menunjukkan hubungan sosial yang erat di antara warga. Selain itu, nilai-nilai seperti solidaritas sosial, rasa persatuan, dan penghormatan terhadap tradisi juga turut tercermin dalam pelaksanaan festival ini. Oleh karena itu, Festival Tabuik tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menggambarkan karakter masyarakat Pariaman yang menjunjung tinggi kebersamaan serta menjadi sarana dalam melestarikan budaya secara turun-temurun.
Sejarah Tabuik Pariaman ini dahulunya berawal dari peringatan wafatnya Husein bin Ali dalam peristiwa Perang Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah. Tradisi ini kemudian dibawa oleh masyarakat Muslim keturunan India pada masa kolonial Inggris sekitar awal abad ke-19. Awalnya, tradisi tersebut berkembang di Bengkulu, kemudian menyebar ke Pariaman sekitar tahun 1826 dan diterima oleh masyarakat setempat. Seiring perkembangannya, Tabuik tidak lagi hanya dimaknai sebagai peringatan sejarah, tetapi juga berkembang menjadi tradisi budaya yang dilaksanakan setiap 1 hingga 10 Muharram serta diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas masyarakat Pariaman.
Selain sebagai tradisi budaya, Tabuik Pariaman juga memberikan dampak sosial yang besar bagi masyarakat Pariaman. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan masyarakat, mulai dari generasi tua hingga generasi muda, untuk saling berinteraksi dan mempererat hubungan sosial. Kehadiran Tabuik juga mendorong masyarakat untuk tetap menjaga solidaritas serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya daerah. Dengan demikian, Tabuik tidak hanya berfungsi sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat identitas budaya dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebersamaan di tengah perubahan zaman.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Tabuik menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang, melainkan warisan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Nilai gotong royong yang terkandung dalam setiap prosesnya menjadi bukti bahwa kebudayaan mampu menyatukan masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian Tabuik bukan hanya tanggung jawab masyarakat Pariaman, tetapi juga generasi muda sebagai penerus budaya agar tradisi ini tetap hidup dan terus berkembang di masa mendatang.
You may like
Opini
Pecinta Pedas Yuk Merapat: Cobain Mangut Kepala Manyung Yang Lezat, Dijamin Nagih
Published
2 weeks agoon
5 May 2026By
Mitra Wacana
Oleh Eka Lestari
Penggemar ikan udah pernah nyobain kuliner yang satu ini belum? Namanya mangut kepala manyung, kuliner sedap dengan cita rasa yang khas. Mangut kepala manyung merupakan hidangan unik dari pesisir Utara Jawa Tengah. Kuliner ini bisa dibilang legendaris dan jadi andalan di Kota Semarang. Mangut kepala manyung adalah salah satu hidangan khas Semarang. Konon, makanan ini sudah ada sejak 1960-an. Berakar dari budaya kuliner Pantura Jawa Tengah, dan banyak ditemukan di Kota Atlas dan sekitarnya.
Sesuai namanya, hidangan ini berisi kepala ikan manyung, yaitu ikan laut yang termasuk dalam kelompok ikan berkumis atau famili Ariidae. Bentuknya seperti ikan lele, tapi ukurannya lebih besar. Ikan manyung punya daging yang tebal dan cenderung tidak begitu amis.
Ciri khas dari hidangan ini menggunakan kepala ikan manyung yang sudah diasap. Rasanya pedas bercampur kuah santan yang gurih. Uniknya, mangut kepala manyung punya aroma begitu khas yang berasal dari proses pengasapan ikan yang dilakukan secara tradisional.
Teknik pengolahannya sangat menarik. Sebelum dimasak menjadi hidangan lezat, kepala ikan manyung diasap terlebih dahulu (dengan kayu atau tempurung kelapa), tujuannya untuk menciptakan aroma smoky yang meresap ke dalam daging. Selain itu, pengasapan dilakukan sebagai cara pengawetan alami. Dengan metode pengasapan tersebut, bisa mengurangi kadar air dan mengubah tekstur kulit menjadi mengkilap.
Hidangan ini juga kaya akan rempah, jadi bumbunya terasa medok. Hal itu bisa dirasakan dari kuahnya yang kental dan berbumbu, terdiri dari kunyit, cabai, kencur, jahe, ketumbar, daun salam, lada, dan santan yang menonjolkan aroma gurih, dan sedikit asam. Kombinasi rempah tersebut menciptakan kuah yang pedas dan enak di lidah. Dagingnya melimpah dan ukurannya yang besar menjadikannya sebagai kuliner pantura. Rasanya juara dan porsinya yang tidak seperti biasanya, dianggap oleh sebagian orang sebagai kuliner mewah.
Kini, mangut kepala manyung jadi salah satu kuliner Semarang yang sering diburu oleh wisatawan. Rasanya yang khas dan porsinya yang menyenangkan, membuat hidangan ini jadi primadona oleh beberapa kalangan.
Kalau kamu mampir ke Kota Semarang, ada salah satu warung makan yang menyajikan hidangan tersebut yaitu Mangut Kepala Manyung Bu Fat. Tempatnya sering didatangi wisatawan dan terkenal di kalangan pecinta kuliner.
Lokasinya sudah punya beberapa cabang yaitu di Jalan Ariloka, Krobokan, Kecamatan. Semarang Barat, Kota Semarang dan Jalan Sukun Raya No. 36, Banyumanik, Semarang.
Yuk guys kalau kamu main ke Semarang, cobain mangut kepala manyung. Dijamin bakal ketagihan deh..








