Opini
Merawat Budaya, Merajut Kebersamaan: Gotong Royong dalam Tradisi Tabuik Pariaman
Published
2 hours agoon
By
Mitra Wacana
Oleh: Insan Sulastri MZ
Membicarakan soal budaya adalah obrolan yang tidak ada habis habisnya, selama masyarakatnya masih memeluk erat kesadaran untuk menjaga tradisi sebagai cermin identitas. Seiring detak waktu, kebudayaan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan nyawa yang merajut simpul kebersamaan. budaya dan tradisi yang dihidupi menjadi napas sekaligus kompas yang menuntun langkah masyarakat dalam menapaki garis kehidupan.
Kebudayaan memerankan peran penting sebagai terbentuknya norma sosial dalam sebuah masyarakat. Melalui kebudayaan, nilai-nilai abstrak diwariskan menjadi standar perilaku nyata yang ditaati bersama, sehingga menciptakan keteraturan dan harmoni dalam kehidupan kolektif. Seperti halnya budaya yang ada di daerah Pariaman yang terletak di Sumatera Barat, terdapat kebudayaan yang unik dan masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Budaya tersebut dikenal dengan nama Tabuik Pariaman.
Festival Tabuik merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang berkembang di tengah masyarakat sebagai tradisi yang memiliki berbagai makna. Tradisi ini mencerminkan budaya masyarakat Minangkabau yang kaya akan nilai-nilai kehidupan, baik dari segi sejarah, sosial, maupun agama. Pelaksanaan tabuik ini tidak hanya sekedar perayaan, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan sosial melalui semangat gotong royong antar warga. Keunikan rangkaian prosesi dalam Festival Tabuik menjadikannya sebagai tradisi yang memiliki ciri khas tersendiri. Hal ini membuatnya mampu menarik perhatian tidak hanya masyarakat setempat, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah. Oleh karena itu, Tabuik tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai daya tarik yang mendukung perkembangan pariwisata.
Dijelaskan bahwa gotong royong memiliki peran yang sangat besar dalam festival ini, terutama dalam proses pembangunan patung Tabuik itu sendiri. Proses tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang bekerja sama dan saling membantu dalam setiap tahapannya. Proses ini menghabiskan waktu sekitar sepuluh hari bahkan lebih, diawali dengan prosesi Maambiak Tanah, yaitu pengambilan tanah dari dasar sungai secara bersama-sama sebagai simbol awal pembuatan tabuik. Dan dilanjutkan dengan Manabang Batang Pisang, yaitu penebangan batang pisang yang dilakukan secara gotong royong untuk bahan rangka tabuik. Tahapan berikutnya adalah Maatam, yaitu prosesi berkabung yang menggambarkan kesedihan masyarakat. Pada tahap ini, suasana berubah menjadi lebih khidmat dan penuh penghayatan. Kemudian dilanjutkan dengan Maradai, yaitu kegiatan meminta sumbangan masyarakat untuk mendukung pembuatan tabuik. Setelah itu dilakukan Maarak Jari-jari, yaitu arak-arakan replika bagian tubuh sebagai simbol pengumpulan jasad, lalu dilanjutkan dengan Maarak Sorban sebagai bagian dari rangkaian simbolik. Tahapan selanjutnya adalah Tabuik Naik Pangkek, yaitu penyatuan seluruh bagian tabuik hingga menjadi bentuk utuh. Dan puncak selanjutnya dari seluruh proses tersebut adalah Hoyak Tabuik, yaitu mengarak dan menggoyangkan tabuik yang diiringi musik tradisional, sebelum akhirnya tabuik dibuang ke laut sebagai penutup tradisi
Sejalan dengan seluruh rangkaian prosesi tersebut, jelas bahwa nilai yang paling menonjol dalam Festival Tabuik adalah semangat gotong royong yang kuat dalam berbagai proses tersebut. Setiap tahapan tidak hanya menjadi bagian dari ritual, tapi juga ruang bagi masyarakat untuk bekerja sama, saling membantu, dan berpartisipasi aktif tanpa mengharapkan imbalan. Kita bisa lihat, kebersamaan ini menunjukkan hubungan sosial yang erat di antara warga. Selain itu, nilai-nilai seperti solidaritas sosial, rasa persatuan, dan penghormatan terhadap tradisi juga turut tercermin dalam pelaksanaan festival ini. Oleh karena itu, Festival Tabuik tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menggambarkan karakter masyarakat Pariaman yang menjunjung tinggi kebersamaan serta menjadi sarana dalam melestarikan budaya secara turun-temurun.
Sejarah Tabuik Pariaman ini dahulunya berawal dari peringatan wafatnya Husein bin Ali dalam peristiwa Perang Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah. Tradisi ini kemudian dibawa oleh masyarakat Muslim keturunan India pada masa kolonial Inggris sekitar awal abad ke-19. Awalnya, tradisi tersebut berkembang di Bengkulu, kemudian menyebar ke Pariaman sekitar tahun 1826 dan diterima oleh masyarakat setempat. Seiring perkembangannya, Tabuik tidak lagi hanya dimaknai sebagai peringatan sejarah, tetapi juga berkembang menjadi tradisi budaya yang dilaksanakan setiap 1 hingga 10 Muharram serta diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas masyarakat Pariaman.
Selain sebagai tradisi budaya, Tabuik Pariaman juga memberikan dampak sosial yang besar bagi masyarakat Pariaman. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan masyarakat, mulai dari generasi tua hingga generasi muda, untuk saling berinteraksi dan mempererat hubungan sosial. Kehadiran Tabuik juga mendorong masyarakat untuk tetap menjaga solidaritas serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya daerah. Dengan demikian, Tabuik tidak hanya berfungsi sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat identitas budaya dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebersamaan di tengah perubahan zaman.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Tabuik menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang, melainkan warisan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Nilai gotong royong yang terkandung dalam setiap prosesnya menjadi bukti bahwa kebudayaan mampu menyatukan masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian Tabuik bukan hanya tanggung jawab masyarakat Pariaman, tetapi juga generasi muda sebagai penerus budaya agar tradisi ini tetap hidup dan terus berkembang di masa mendatang.
You may like
Opini
Senandung Semenanjung, Sebuah Refleksi Sosial Yang Diharapkan Membawa Inovasi
Published
3 hours agoon
27 April 2026By
Mitra Wacana
Kita mengenal nama-nama seperti, Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu sebagai nama yang kerap diabadikan pada sebuah jalan, lapangan, maupun lembaga pendidikan. Kebanyakan masyarakat awam hanya mengenal sebatas itu saja. Padahal nama-nama di atas memilliki kisah yang amat masyhur baik di tanah Melayu maupun di luar Melayu. Kisah legendaris mereka pun diabadikan dalam sebuah hikayat berjudul “Hikayat Hang Tuah”. Pada tahun 1985 lewat karyanya yang berjudul “Senandung Semenanjung”, Wisran Hadi—salah seorang budayawan dan dramawan kelahiran Minangkabau menggubah Hikayat Hang Tuah menjadi sebuah naskah drama.
Naskah drama tersebut secara garis besar, berpusat pada ambisi Hang II (Hang Jebat) yang menjadi sombong dan hendak mengubah kerajaan tanpa memperdulikan cara-cara yang digunakan, bahkan jika itu berarti melanggar norma dan bertentangan dengan aturan yang ada. Ia tidak ragu menggunakan kekerasan dan tipu muslihat demi mencapai tujuannnya. Kemudian, datanglah Hang I, yang dikenal sebagai Hang Tuah, seorang laksamana legendaris yang sebelumnya terfitnah dan dianggap telah mati. Kedatangan Hang Tuah, bukan hanya sekedar untuk membersihkan namanya, tetapi juga untuk menentang tindakan-tindakan Hang Jebat yang telah melenceng dari nilai-nilai yang mereka anut bersama. Hingga akhirnya terjadilah pertarungan antara keduanya, pertarungan tersebut bukan hanya sekedar pertarungan fisik melainkan juga benturan antara dua prinsip yang bertolak belakang. Hang Tuah tidak ragu menentang Hang Jebat, meskipun sebelumnya Hang Jebat merupakan sahabat dekat yang telah dianggap sebagai saudara oleh Hang Tuah.
Dapat disimpulkan seusai membaca naskah drama ini, kita akan menyadari bahwasanya Hang Tuah begitu mencintai negeri. Hang Tuah lekat kaitannya dengan kesetiaan dan ketaatan. Baik kepada raja dan negara, ia merupakan laksamana yang menjunjung tinggi nilai patriotisme. Padahal dalam versi hikayat maupun naskah dramanya, Hang Tuah dihukum mati oleh kerajaannya sendiri sebab fitnah tak berdasar (meski hukuman mati itu pada akhirnya tidak dilaksanakan).
Di sisi lain, apabila ditelisik lebih lanjut, Hang Jebat sebetulnya memiliki niat yang baik. Namun, ia menggunakan cara-cara yang agak ekstrim. Seperti halnya merebut kekuasaan raja, dengan tujuan agar raja terhindar dari “ular-ular berbisa”. ungkapan ular-ular berbisa ini dapat merujuk pada para penjilat dan pejabat kerajaan yang korupsi. Sementara itu, Yang I yang merupakan raja sesungguhnya memiliki karakter yang tidak tegas. Segala keputusannya selalu dicampur tangani oleh orang-orang yang menginginkan keuntungan. Oleh sebab itu, Hang Jebat dengan caranya sendiri melakukan kudeta guna menyelamatkan kerajaan.
“Musuh kita saat ini bukanlah armada-armada kerajaan lain, tapi penjilat-penjilat, tukang-tukang fitnah, pencuri-pencuri tingkat tinggi. Mereka berlindung di balik tiang-tiang istana, mereka berdalih untuk kepentingan bangsa, padahal mereka punya rencana untuk memisahkan Raja dari kerajaan.” (Senandung semenanjung bagian keempat, halaman 22).
“Aku hanya memakai istana ini sesaat, guna menyelamatkan Raja dari lilitan ular-ular berbisa. Aku tidak berniat menghancurkan kerajaan apalagi bangsa kita sendiri. Tapi ular-ular itu? Mereka ingin menguasai tanah, air, bahkan nasib kita! Mana yang lebih besar kesalahanku dari maksud jahat mereka.” (Senandung semenanjung, bagian keempat, halaman 23).
Dua dialog pada naskah drama Senandung Semenanjung di atas dapat mengacu pada refleksi sosial yang terjadi di pemerintahan. Tentu hal tersebut sejalan dengan tingkat korupsi di Indonesia yang hingga saat ini begitu tinggi. Sementara itu lembaga penegakan hukum di Indonesia tampaknya masih lemah, di lain sisi pula masih terdapat beberapa pejabat yang tampak menutup mata apabila kasus kriminal yang merusak marwah negara itu menyangkut nama-nama tokoh besar. Hal tersebut, menjadikan tingkat pemberantasan korupsi di Indonesia masih belum signifikan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwasanya sang penulis ingin menyampaikan kritiknya terhadap keadaan bangsa negrinya.
Jika mengacu pada sistem “Teknik Mengarang” karya Mochtar Lubis (1960) bisa dikatakan aliran tulisan Wisran Hadi menggunakan aliran impresionisme. “Secara garis besarnya dalam kesenian istilah impresionisme ini berarti “pemberian kesan-kesan pancaindera dengan tidak merupakan bentuk tertentu.” Cerita yang ditulis secara impresionisme tidak secara langsung menerangkan sejelas-jelasnya isi dan maksud cerita itu, tetapi dari totalitas atau keseluruhan cerita itu kita dapat mengambil kesimpulan, apa yang dimaksud oleh pengarang.” (Prof. Dr. Henry Tarigan, 2015: 161).
Dalam penyampaiannya, Wisran Hadi tidak menulis naskah drama tersebut dengan langsung menyampaikan makna yang sebenarnya. Akan tetapi dengan begitu banyak permainan kata, konotasi, dan penggunaan simbol. Misal seperti “ular-ular berbisa”, “dipiliharanya ular cintamani dalam lipatan kain kerajaan”, “lilitan orang berbisa”, dan lain sebagainya. Dari sini, dapat disimpulkan fungsi bahasa pada naskah drama ini berfungsi bukan hanya sebagai alat untuk berkomunikasi, namun juga sebagai hal yang sifatnya estetis dan simbolik. Artinya bahasa tersebut bersifat indah dan memiliki ekspresi artistik dalam penggunaannya. Penulis menggambarkan realitas secara unik, memanfaatkan unsur-unsur seperti gaya bahasa, ritme, dan imajinasi untuk menciptakan pengalaman estetis bagi pembaca. Fungsi estetis ini memungkinkan pembaca untuk memberikan kepuasan estetis yang mendalam, melebihi sekadar penyampaian informasi.
Wisran Hadi merupakan seorang sastrawan maupun budayawan yang namanya legendaris. Ia dikenal sebagai pengkritik yang pedas. Apabila di muka telah disampaikan tentang keresahan Wisran Hadi terhadap situasi dan kondisi negeri yang pejabatnya gemar korupsi, kini pada naskah drama Senandung Semenanjung pada bagian ketujuh Wisran Hadi juga menyampaikan kritiknya terhadap seni sastra yang sia-sia. Hal tersebut terdapat pada dialog Hang Jebat, adapun dialog tersebut sebagai berikut:
“O, begitu? Ya, ampun! Dikungsa. Itu bukan sastra! Sebagai sastrawan kau tidak boleh rendah diri. Memuji orang lain silahkan, tapi jangan merendahkan diri sendiri. Kau tahu, itulah sebabnya kurebut Istana ini. Agar para sastra- wannya tidak hanya memuji-muji, tapi berani mencabik-cabik dirinya, kemudian dimaknainya, lalu dihidangkannya kepada orang ramai. Sastra kau adalah cermin hidupku. Sastrawan Melayu jangan menjadi sastrawan lilin! Kau terangi orang lain tapi dirimu sendiri hancur. Ajaran lilin, bukanlah anutan sastrawan Melayu.” (Senandung semenanjung, bagian tujuh, halaman 50).
Wisran Hadi tampaknya hendak menyindir sastra yang fungsinya hanya sebagai ajang untuk puji-pujian saja. Para sastrawan cenderung memuji muji raja maupun atasannya, sehingga rela merendahkan diri sendiri sekalipun. Padahal sejatinya sastra seharusnya berani tampil dalam keadaan kacau sekalipun. Ada ungkapan yang amat menarik di naskah drama ini, yakni “Bila sastra tak ada isi, masa depan suatu bangsa tidak akan ada arti, kalau sastrawan diam, peradaban akan tenggelam.” Ungkapan ini bermakna bahwa sastra harusnya dibuat sedemikian terbuka dan bermakna. Tidak melulu pada puji-pujian saja, akan tetapi juga harus berani mengkritik, menyuarakan, menyoroti, atau bahkan mencabik-cabik masalah dan situasi sosial yang ada saat ini. Karena sejatinya sastra memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan budaya sebuah bangsa, dengan adanya sastra kita dapat mendorong perubahan sosial dan membangkitkan kesadaran masyarakat akan isu-isu penting.
Senandung Semenanjung secara keseluruhan merupakan sebuah naskah drama, suatu karya sastra klasik yang epik ceritanya, memiliki bahasa yang estetis, dan membawa kearifan lokal dengan mengangkat cerita berupa hikayat Hang Tuah. Namun, mengingat era digitalisasi sekarang peminat naskah drama ini bukanlah anak muda atau gen-z yang ingin serba praktis. Naskah drama tersebut harus dibaca berkali-kali agar dapat dimengerti. Bagi sebagian awam, mungkin akan kesulitan untuk membacanya, terlebih apabila belum pernah membaca hikayat Hang Tuah.
Setidaknya terdapat beberapa inovasi untuk membuat naskah Senandung Semenanjung atau hikayat Hang Tuah sekalipun tetap eksis di tengah-tengah digitalisasi. Salah satunya, cerita tersebut dapat diadaptasi menjadi weebton, drama televisi, atau pun serial animasi. Di jepang sendiri terdapat beberapa anime yang diangkat dari cerita rakyat, salah satunya produksi dari studio Ghibli seperti, “The Tale Of The Princess Kaguya”, “Princess Monoke”, dan “Pom Poko”. Dari Korea Selatan pula, adaptasi cerita legenda ke drama seperti “My Girlfriend Is Gumiho”, “Legend Of The Blue Sea”, dan “Guardian: the lonely and great god”.
Mungkin akan menjadi suatu gebrakan baru yang apik dan menarik jika naskah drama Senandung Semenanjung suatu hari nanti diadaptasi menjadi serial drama, animasi, atau weebton. Adanya pembaharuan, inovasi yang lebih kekinian, dan menyesuaikannya dengan minat kaum muda zaman sekarang diharapkan mampu membuat generasi muda dari berbagai kalangan—tidak hanya orang-orang sastra saja, untuk lebih mengenal karya-karya sastra yang berasal dari tanah air, suatu identitas bangsa ini. Dengan adanya visual baru, tentunya tidak hanya menarik, melainkan seharusnya dapat menjadi alat strategi inovatif untuk memperluas jangkauan dan minat audiens, terlepas dari warga Indonesia sendiri, alangkah hebatnya apabila karya-karya sastra ini dapat dikenal hingga ke luar negeri.

Merawat Budaya, Merajut Kebersamaan: Gotong Royong dalam Tradisi Tabuik Pariaman

Moon Face, Efek Samping Tersembunyi di Balik Obat Radang







