Opini
Moon Face, Efek Samping Tersembunyi di Balik Obat Radang
Published
2 months agoon
By
Mitra Wacana

Dianda Rajwa Nabilla Savitri
Mahasiswi Prodi Farmasi UIN Jakarta
Perkembangan media sosial sering kali menghadirkan kisah nyata yang memicu rasa ingin tahu masyarakat. Salah satu fenomena yang belakangan ramai diperbincangkan adalah perubahan bentuk wajah menjadi bulat (moon face) pada individu yang rutin mengonsumsi obat radang. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme kerja obat radang, khususnya kortikosteroid, serta potensi efek samping yang menyertainya. Penyakit radang sebenarnya adalah cara tubuh memberi sinyal terhadap cedera, infeksi atau gangguan lain yang dialami. Biasanya ditandai dengan nyeri, bengkak, kemerahan, dan rasa tidak nyaman, sehingga mengganggu aktivitas sehari hari. Banyak orang menggunakan obat radang andalan untuk meredakannya dengan cepat, seperti obat Prednison, Metilprednisolon, dan Deksametason, baik karena diresepkan dokter ataupun dibeli langsung, tanpa mengetahui efek samping yang bisa dirasakan.
Moon face merupakan efek samping dari penggunaan obat radang golongan kortikosteroid yang juga menjadi salah satu ciri khas dari sindrom Cushing. Kondisi ini ditandai dengan perubahan bentuk wajah menjadi lebih bulat, sering kali disertai peningkatan nafsu makan, kenaikan berat badan, dan gangguan tidur. Pada sindrom Cushing, moon face muncul bersama tanda lain, yaitu buffalo hump (penumpukan lemak di belakang leher) dan obesitas trunkal, akibat pergeseran lemak tubuh yang dipicu oleh kadar kortisol berlebih. Meski tampak sepele, efek samping ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan kualitas hidup. Perubahan efek samping muncul perlahan, sehingga pada awalnya banyak orang mengira hanya mengalami peningkatan berat badan biasa. Ada pula yang langsung menyadari, sementara sebagian lainnya baru mengetahui penyebabnya setelah berkonsultasi dengan tenaga medis.
Obat radang yang digunakan pada umumnya termasuk dalam golongan obat steroid, tepatnya jenis kortikosteroid. Meski ampuh untuk meredakan gejala dengan cepat, kortikosteroid bisa menimbulkan efek samping jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dengan dosis tinggi. moon face bukan hanya masalah penampilan, tetapi juga bagian dari gangguan hormonal sistemik yang perlu diwaspadai. Efek samping selain moon face yang sering muncul, menurut Kementerian Kesehatan “Efek Samping Penggunaan Obat Kortikosteroid Sistemik”
(https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2712/efek-samping-penggunaan-obat-kortikosteroid-sistemik) :
- Muncul perasaan euforia atau cemas
- Kenaikan gula darah
- Penipisan kulit dan rambut, jerawat
- Luka sulit sembuh
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Memicu risiko katarak pada mata
- Miopati atau nyeri otot
- Patah tulang dan gigi keropos
Obat ini bekerja dengan menekan sistem imun yang bereaksi berlebihan, sehingga gejala cepat mereda. Tidak heran banyak orang menganggap kortikosteroid sebagai “obat sakti” karena efeknya terasa dalam waktu singkat. Obat kortikosteroid meniru fungsi hormon kortisol alami yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, sehingga membantu tubuh mengelola stres dan menjaga homeostasis. Akibat sifatnya ini, obat kortikosteroid bisa memengaruhi banyak sistem tubuh sekaligus, bukan hanya peradangan. Indikasi lainnya mulai dari mengatasi infeksi, peradangan, alergi, hingga penyakit autoimun. Dalam bentuk inhalasi, obat ini juga sering diberikan pada pasien asma karena mampu mengurangi produksi cairan peradangan dan edema setempat Menurut Suardamana dan Setiawan dalam artikel “Aspek Farmakologi dan Indikasi Corticosteroid” yang dimuat di Jurnal Cermin Dunia Kedokteran vol. 50 no. 11 tahun 2023.
Namun, ada hal yang juga perlu kita waspadai, yaitu masking effect. Karena gejala peradangan yang ditekan, dapat membuat kita merasa seolah-olah penyakitnya sudah hilang dan sembuh, sehingga menutupi masalah utamanya. Padahal masalah utamanya masih tetap ada. Kondisi ini berbahaya terutama pada penyakit yang serius. Sebagai contoh, penggunaan obat Prednisone pada pasien asma yang juga mengalami infeksi. Efek pelebaran saluran napas dari Prednisone memang dapat membuat kita merasa lebih lega untuk bernapas, tetapi di saat yang sama, gejala inflamasi akibat infeksi justru tersamarkan. Akibatnya, pasien akan merasa malas untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, padahal infeksi dalam tubuhnya terus berkembang. Situasi ini menunjukkan bahwa perbaikan gejala sementara tidak selalu berarti kesembuhan.
Inilah alasan mengapa pemantauan dokter sangat penting, karena dengan pengawasan medis yang tepat, efek samping dapat dikendalikan dan risiko serius di kemudian hari bisa dihindari. Meski efek samping steroid terdengar mengerikan, obat ini tetap aman digunakan jika sesuai dosis dan petunjuk dokter. Masalah biasanya muncul ketika obat dipakai tanpa pengawasan atau melebihi dosis yang dianjurkan. Efek samping yang diterima dapat membaik dengan cara menurunkan atau menghentikan dosis kortikosteroid secara bertahap, tentu saja masih di bawah pengawasan dokter, melakukan terapi steroid yang berlangsung lebih dari tiga minggu, dosis biasanya harus segera diturunkan. Penekanan fungsi adrenal sering terjadi apabila pengobatan kortikosteroid dihentikan secara tiba-tiba. Oleh karena itu, pengurangan dosis secara bertahap menjadi bagian penting dari aturan penggunaan terapi kortikosteroid.
Seringkali kita merasa aman mengonsumsi obat karena obat tersebut viral di media sosial, dianggap sebagai andalan banyak orang, atau diresepkan dokter. Padahal, kondisi tubuh setiap orang itu berbeda-beda. Obat yang cocok untuk orang lain belum tentu aman bagi tubuh kita. Karena itu, sikap kritis perlu dilakukan, sebaiknya jangan asal minum atau meniru resep orang lain. Konsultasi rutin dengan apoteker atau dokter mengenai obat yang dikonsumsi menjadi kunci agar manfaat obat bisa efektif dan risiko tetap bisa diminimalkan. Setidaknya, kita perlu memahami informasi dasar dari obat tersebut, bukan sekadar mengikuti “kata orang” atau tren media sosial. Dengan pengetahuan yang tepat, penggunaan obat bisa jadi lebih aman, bijak, dan sesuai kebutuhan tubuh masing-masing. Penting bagi setiap orang untuk benar-benar memahami obat yang dikonsumsi. Bukan hanya tahu namanya aja, tapi juga:
- Kapan obat harus digunakan
- Berapa lama terapi perlu dijalani
- Cara penggunaan obat yang tepat
- Interaksi obat, yaitu hal-hal yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat
- Efek samping yang mungkin muncul
- Cara penyimpanan obat agar tetap aman dan efektif
Selain mengikuti aturan minum obat, gaya hidup juga perlu diperhatikan agar efek samping tidak berlebihan. Pola makan sehat dengan memperbanyak buah dan sayur serta mengurangi garam membantu tubuh tetap seimbang. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol harus dijauhi, karena keduanya bisa memperburuk kondisi kesehatan saat menjalani terapi steroid. Latihan fisik teratur, terutama olahraga angkat beban ringan, juga bermanfaat untuk menjaga kepadatan tulang. Ditambah dengan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, tubuh lebih terlindungi dari risiko osteoporosis, salah satu efek jangka panjang penggunaan kortikosteroid.
Pada akhirnya, kesadaran dan konsistensi masing-masing individu sangat menentukan. Obat memang membantu penyembuhan, tetapi gaya hidup sehat berperan penting menjaga sistem tetap lancar. Dengan begitu, pengobatan berjalan seimbang dan tubuh tetap terlindungi. Dengan kombinasi pengobatan yang tepat dan gaya hidup sehat membuat manfaat obat yang kita konsumsi bisa tetap maksimal, sementara efek samping obat bisa lebih mudah dikendalikan dan dihindari.
You may like
Opini
Membaca “Bahasa Planet” di Kemasan Obat: Panduan Singkat Memahami Arti Lambang Hijau, Biru, dan Merah
Published
13 hours agoon
3 July 2026By
Mitra Wacana

Agisna Mahabbah Dewi Sonia, Mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pernah lihat lambang hijau, biru, dan merah pada kemasan obat, tapi belum tahu artinya? Bagi orang awam, simbol ini mungkin tampak misterius seperti “bahasa planet”. Padahal, tiga warna ini bukan sekadar hiasan, melainkan penanda penting yang membantu kita mengenali jenis obat, tingkat keamanannya, serta cara penggunaannya. Yuk, kenali makna di balik tiga lambang obat yang paling sering kita temui sehari-hari!
Menurut Undang-Undang Kesehatan, obat bukan sekadar barang konsumsi biasa. Obat merupakan zat aktif yang dirancang untuk memengaruhi sistem tubuh manusia. Karena efeknya yang besar dalam menyembuhkan atau mengubah proses kimia tubuh, pemerintah mengelompokkannya ke dalam beberapa golongan agar masyarakat terhindar dari bahaya salah obat.
- Lingkaran Hijau 🟢 : Obat Bebas (Si Ramah yang Aman Dikonsumsi)
Jika melihat lingkaran hijau dengan garis tepi hitam, artinya obat tersebut masuk dalam kategori Obat Bebas.
- Apa artinya? Obat ini memiliki tingkat keamanan yang relatif tinggi. Anda bisa membelinya dengan mudah tanpa perlu resep dokter, baik di apotek, minimarket, hingga warung kelontong dekat rumah.
- Contohnya: Parasetamol yang biasa kita minum saat demam atau sakit kepala ringan. Meskipun aman, Anda tetap wajib membaca aturan pakai yang tertera di kemasannya, ya!
- Lingkaran Biru 🔵 : Obat Bebas Terbatas (Boleh Dibeli, Tapi Ada Syaratnya)
Naik satu tingkat, ada lingkaran biru dengan garis tepi hitam. Golongan ini disebut Obat Bebas Terbatas.
- Apa artinya? Obat ini sebenarnya masuk dalam kategori obat keras, namun dalam dosis tertentu masih boleh dibeli bebas tanpa resep dokter. Keunikannya, obat ini selalu disertai dengan tanda peringatan khusus (P. No. 1 sampai P. No. 6) di kemasannya, seperti “Awas! Obat Keras. Bacalah aturan pemakaiannya”.
- Contohnya: CTM (chlorpheniramine maleate) untuk mengobati alergi. Obat ini dijual bebas, namun Anda harus waspada karena efek sampingnya bisa menyebabkan kantuk berat.
- Lingkaran Merah dengan Huruf “K” 🔴 : Obat Keras & Psikotropika (Wajib Resep Dokter!)
Ini adalah zona merah yang tidak boleh Anda sentuh sembarangan. Cirinya adalah lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf “K” tebal di tengahnya.
- Apa artinya? Obat ini memiliki risiko efek samping yang tinggi, potensi interaksi antar-obat yang kompleks, atau risiko penyalahgunaan yang berbahaya. Oleh karena itu, obat ini hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter dan penggunaannya harus di bawah pengawasan medis.
- Contoh Obat Keras: Asam mefenamat (obat pereda nyeri berat/sakit gigi) dan berbagai jenis antibiotik.
- Bagaimana dengan psikotropika? Psikotropika merupakan kelompok obat keras, baik yang berasal dari bahan alami maupun sintetis, yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat sehingga memengaruhi aktivitas mental dan perilaku, karena berpotensi menimbulkan ketergantungan, penggunaannya diawasi secara ketat.
- Contoh Obat Psikotropika: diazepam dan phenobarbital
Memahami “bahasa planet” pada kemasan obat merupakan sebuah langkah kecil yang memiliki arti besar bagi keselamatan Anda dan keluarga. Dengan mengenali perbedaan lambang hijau, biru, dan merah, kita bisa menjadi konsumen yang cerdas: tahu kapan bisa mengobati diri sendiri secara mandiri, dan kapan harus segera pergi ke dokter. Ingat, obat bisa menjadi penyembuh, namun bisa juga menjadi racun jika salah digunakan!

Membaca “Bahasa Planet” di Kemasan Obat: Panduan Singkat Memahami Arti Lambang Hijau, Biru, dan Merah

Dunia yang belum berakhir







