Opini
Senandung Semenanjung, Sebuah Refleksi Sosial Yang Diharapkan Membawa Inovasi
Published
1 month agoon
By
Mitra Wacana

Salwa Ratri Wahyuni, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di LPK Unand. Suka jeruk dan punya kucing bernama Ameng.
Kita mengenal nama-nama seperti, Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu sebagai nama yang kerap diabadikan pada sebuah jalan, lapangan, maupun lembaga pendidikan. Kebanyakan masyarakat awam hanya mengenal sebatas itu saja. Padahal nama-nama di atas memilliki kisah yang amat masyhur baik di tanah Melayu maupun di luar Melayu. Kisah legendaris mereka pun diabadikan dalam sebuah hikayat berjudul “Hikayat Hang Tuah”. Pada tahun 1985 lewat karyanya yang berjudul “Senandung Semenanjung”, Wisran Hadi—salah seorang budayawan dan dramawan kelahiran Minangkabau menggubah Hikayat Hang Tuah menjadi sebuah naskah drama.
Naskah drama tersebut secara garis besar, berpusat pada ambisi Hang II (Hang Jebat) yang menjadi sombong dan hendak mengubah kerajaan tanpa memperdulikan cara-cara yang digunakan, bahkan jika itu berarti melanggar norma dan bertentangan dengan aturan yang ada. Ia tidak ragu menggunakan kekerasan dan tipu muslihat demi mencapai tujuannnya. Kemudian, datanglah Hang I, yang dikenal sebagai Hang Tuah, seorang laksamana legendaris yang sebelumnya terfitnah dan dianggap telah mati. Kedatangan Hang Tuah, bukan hanya sekedar untuk membersihkan namanya, tetapi juga untuk menentang tindakan-tindakan Hang Jebat yang telah melenceng dari nilai-nilai yang mereka anut bersama. Hingga akhirnya terjadilah pertarungan antara keduanya, pertarungan tersebut bukan hanya sekedar pertarungan fisik melainkan juga benturan antara dua prinsip yang bertolak belakang. Hang Tuah tidak ragu menentang Hang Jebat, meskipun sebelumnya Hang Jebat merupakan sahabat dekat yang telah dianggap sebagai saudara oleh Hang Tuah.
Dapat disimpulkan seusai membaca naskah drama ini, kita akan menyadari bahwasanya Hang Tuah begitu mencintai negeri. Hang Tuah lekat kaitannya dengan kesetiaan dan ketaatan. Baik kepada raja dan negara, ia merupakan laksamana yang menjunjung tinggi nilai patriotisme. Padahal dalam versi hikayat maupun naskah dramanya, Hang Tuah dihukum mati oleh kerajaannya sendiri sebab fitnah tak berdasar (meski hukuman mati itu pada akhirnya tidak dilaksanakan).
Di sisi lain, apabila ditelisik lebih lanjut, Hang Jebat sebetulnya memiliki niat yang baik. Namun, ia menggunakan cara-cara yang agak ekstrim. Seperti halnya merebut kekuasaan raja, dengan tujuan agar raja terhindar dari “ular-ular berbisa”. ungkapan ular-ular berbisa ini dapat merujuk pada para penjilat dan pejabat kerajaan yang korupsi. Sementara itu, Yang I yang merupakan raja sesungguhnya memiliki karakter yang tidak tegas. Segala keputusannya selalu dicampur tangani oleh orang-orang yang menginginkan keuntungan. Oleh sebab itu, Hang Jebat dengan caranya sendiri melakukan kudeta guna menyelamatkan kerajaan.
“Musuh kita saat ini bukanlah armada-armada kerajaan lain, tapi penjilat-penjilat, tukang-tukang fitnah, pencuri-pencuri tingkat tinggi. Mereka berlindung di balik tiang-tiang istana, mereka berdalih untuk kepentingan bangsa, padahal mereka punya rencana untuk memisahkan Raja dari kerajaan.” (Senandung semenanjung bagian keempat, halaman 22).
“Aku hanya memakai istana ini sesaat, guna menyelamatkan Raja dari lilitan ular-ular berbisa. Aku tidak berniat menghancurkan kerajaan apalagi bangsa kita sendiri. Tapi ular-ular itu? Mereka ingin menguasai tanah, air, bahkan nasib kita! Mana yang lebih besar kesalahanku dari maksud jahat mereka.” (Senandung semenanjung, bagian keempat, halaman 23).
Dua dialog pada naskah drama Senandung Semenanjung di atas dapat mengacu pada refleksi sosial yang terjadi di pemerintahan. Tentu hal tersebut sejalan dengan tingkat korupsi di Indonesia yang hingga saat ini begitu tinggi. Sementara itu lembaga penegakan hukum di Indonesia tampaknya masih lemah, di lain sisi pula masih terdapat beberapa pejabat yang tampak menutup mata apabila kasus kriminal yang merusak marwah negara itu menyangkut nama-nama tokoh besar. Hal tersebut, menjadikan tingkat pemberantasan korupsi di Indonesia masih belum signifikan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwasanya sang penulis ingin menyampaikan kritiknya terhadap keadaan bangsa negrinya.
Jika mengacu pada sistem “Teknik Mengarang” karya Mochtar Lubis (1960) bisa dikatakan aliran tulisan Wisran Hadi menggunakan aliran impresionisme. “Secara garis besarnya dalam kesenian istilah impresionisme ini berarti “pemberian kesan-kesan pancaindera dengan tidak merupakan bentuk tertentu.” Cerita yang ditulis secara impresionisme tidak secara langsung menerangkan sejelas-jelasnya isi dan maksud cerita itu, tetapi dari totalitas atau keseluruhan cerita itu kita dapat mengambil kesimpulan, apa yang dimaksud oleh pengarang.” (Prof. Dr. Henry Tarigan, 2015: 161).
Dalam penyampaiannya, Wisran Hadi tidak menulis naskah drama tersebut dengan langsung menyampaikan makna yang sebenarnya. Akan tetapi dengan begitu banyak permainan kata, konotasi, dan penggunaan simbol. Misal seperti “ular-ular berbisa”, “dipiliharanya ular cintamani dalam lipatan kain kerajaan”, “lilitan orang berbisa”, dan lain sebagainya. Dari sini, dapat disimpulkan fungsi bahasa pada naskah drama ini berfungsi bukan hanya sebagai alat untuk berkomunikasi, namun juga sebagai hal yang sifatnya estetis dan simbolik. Artinya bahasa tersebut bersifat indah dan memiliki ekspresi artistik dalam penggunaannya. Penulis menggambarkan realitas secara unik, memanfaatkan unsur-unsur seperti gaya bahasa, ritme, dan imajinasi untuk menciptakan pengalaman estetis bagi pembaca. Fungsi estetis ini memungkinkan pembaca untuk memberikan kepuasan estetis yang mendalam, melebihi sekadar penyampaian informasi.
Wisran Hadi merupakan seorang sastrawan maupun budayawan yang namanya legendaris. Ia dikenal sebagai pengkritik yang pedas. Apabila di muka telah disampaikan tentang keresahan Wisran Hadi terhadap situasi dan kondisi negeri yang pejabatnya gemar korupsi, kini pada naskah drama Senandung Semenanjung pada bagian ketujuh Wisran Hadi juga menyampaikan kritiknya terhadap seni sastra yang sia-sia. Hal tersebut terdapat pada dialog Hang Jebat, adapun dialog tersebut sebagai berikut:
“O, begitu? Ya, ampun! Dikungsa. Itu bukan sastra! Sebagai sastrawan kau tidak boleh rendah diri. Memuji orang lain silahkan, tapi jangan merendahkan diri sendiri. Kau tahu, itulah sebabnya kurebut Istana ini. Agar para sastra- wannya tidak hanya memuji-muji, tapi berani mencabik-cabik dirinya, kemudian dimaknainya, lalu dihidangkannya kepada orang ramai. Sastra kau adalah cermin hidupku. Sastrawan Melayu jangan menjadi sastrawan lilin! Kau terangi orang lain tapi dirimu sendiri hancur. Ajaran lilin, bukanlah anutan sastrawan Melayu.” (Senandung semenanjung, bagian tujuh, halaman 50).
Wisran Hadi tampaknya hendak menyindir sastra yang fungsinya hanya sebagai ajang untuk puji-pujian saja. Para sastrawan cenderung memuji muji raja maupun atasannya, sehingga rela merendahkan diri sendiri sekalipun. Padahal sejatinya sastra seharusnya berani tampil dalam keadaan kacau sekalipun. Ada ungkapan yang amat menarik di naskah drama ini, yakni “Bila sastra tak ada isi, masa depan suatu bangsa tidak akan ada arti, kalau sastrawan diam, peradaban akan tenggelam.” Ungkapan ini bermakna bahwa sastra harusnya dibuat sedemikian terbuka dan bermakna. Tidak melulu pada puji-pujian saja, akan tetapi juga harus berani mengkritik, menyuarakan, menyoroti, atau bahkan mencabik-cabik masalah dan situasi sosial yang ada saat ini. Karena sejatinya sastra memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan budaya sebuah bangsa, dengan adanya sastra kita dapat mendorong perubahan sosial dan membangkitkan kesadaran masyarakat akan isu-isu penting.
Senandung Semenanjung secara keseluruhan merupakan sebuah naskah drama, suatu karya sastra klasik yang epik ceritanya, memiliki bahasa yang estetis, dan membawa kearifan lokal dengan mengangkat cerita berupa hikayat Hang Tuah. Namun, mengingat era digitalisasi sekarang peminat naskah drama ini bukanlah anak muda atau gen-z yang ingin serba praktis. Naskah drama tersebut harus dibaca berkali-kali agar dapat dimengerti. Bagi sebagian awam, mungkin akan kesulitan untuk membacanya, terlebih apabila belum pernah membaca hikayat Hang Tuah.
Setidaknya terdapat beberapa inovasi untuk membuat naskah Senandung Semenanjung atau hikayat Hang Tuah sekalipun tetap eksis di tengah-tengah digitalisasi. Salah satunya, cerita tersebut dapat diadaptasi menjadi weebton, drama televisi, atau pun serial animasi. Di jepang sendiri terdapat beberapa anime yang diangkat dari cerita rakyat, salah satunya produksi dari studio Ghibli seperti, “The Tale Of The Princess Kaguya”, “Princess Monoke”, dan “Pom Poko”. Dari Korea Selatan pula, adaptasi cerita legenda ke drama seperti “My Girlfriend Is Gumiho”, “Legend Of The Blue Sea”, dan “Guardian: the lonely and great god”.
Mungkin akan menjadi suatu gebrakan baru yang apik dan menarik jika naskah drama Senandung Semenanjung suatu hari nanti diadaptasi menjadi serial drama, animasi, atau weebton. Adanya pembaharuan, inovasi yang lebih kekinian, dan menyesuaikannya dengan minat kaum muda zaman sekarang diharapkan mampu membuat generasi muda dari berbagai kalangan—tidak hanya orang-orang sastra saja, untuk lebih mengenal karya-karya sastra yang berasal dari tanah air, suatu identitas bangsa ini. Dengan adanya visual baru, tentunya tidak hanya menarik, melainkan seharusnya dapat menjadi alat strategi inovatif untuk memperluas jangkauan dan minat audiens, terlepas dari warga Indonesia sendiri, alangkah hebatnya apabila karya-karya sastra ini dapat dikenal hingga ke luar negeri.
Opini
Jamur: Ancaman yang Mengintai di Balik Cat Dinding
Published
16 hours agoon
10 June 2026By
Mitra Wacana

Nur Sakinah Al-Khaillah
Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Di musim yang tidak bisa dipresiksi kapan akan turun hujan atau kapan matahari akan sangat terik, sebuah ancaman makhluk kecil dapat membahayakan kesehatan mu jika dibiarkan. Hujan yang turun tidak menentu dan naik nya volume air mampu meningkatkan probabilitas ruangan menjadi lembab. Terlebih lagi, ventilasi dan struktur ruangan yang kurang baik, mampu membuat ruangan dalam rumah mu ditumbuhi oleh mikroorganisme yang dapat membahayakan jika dibiarkan terlalu lama. Bayangkan dinding lembab rumahmu yang mulai berubah warna menjadi hitam kehijauan dan menimbulkan bau yang bisa dikatakan “apek”. Bukan sekadar estetika buruk, tapi “penjahat” tak kasat mata yang dapat mengancam kesehatan pernapasan, ialah Si kecil jamur (mold) musuh tersembunyi di balik cat dinding.
Meskipun kecil dan jarang dibahas karena kelihatan “biasa”, jamur dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan terutama pernapasan.
Mengulik Lebih Jauh: Jamur dalam Ruangan dan Mengapa Mudah Tumbuh?
Jamur merupakan mikroorganisme yang banyak ditemukan di berbagai lingkungan, baik di luar maupun di dalam ruangan. Sebagai bagian dari kelompok fungi, jamur mudah tumbuh pada area dengan tingkat kelembapan tinggi. Beberapa jenis seperti Aspergillus, Penicillium, Stachybotrys chartarum, dan Chaetomium sering dikaitkan dengan kerusakan akibat kelembapan di dalam ruangan (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016). Di antaranya, Aspergillus kerap diisolasi dari debu rumah, serta dapat ditemukan pada tumpukan kompos dan vegetasi yang membusuk. Sementara itu, Penicillium umumnya terdapat di tanah, bahan makanan seperti biji-bijian, serta debu rumah, dan sering tumbuh pada bangunan yang mengalami kerusakan akibat air, seperti pada wallpaper atau kain yang membusuk, dengan ciri khas warna kehijauan (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016).
Pertumbuhan jamur tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama kelembapan tinggi, kurangnya cahaya, serta sirkulasi udara yang buruk. Dalam konteks rumah tangga di Indonesia, kondisi ini kerap dipicu oleh berbagai hal seperti atap bocor, penggunaan AC yang tidak optimal atau AC mati dalam waktu lama, dapur tanpa exhaust, serta musim hujan yang berkepanjangan. Akibatnya, ruang-ruang seperti kamar mandi, dapur, dan gudang menjadi area yang paling rentan ditumbuhi jamur.

Selain mudah tumbuh, jamur juga dapat menyebar dengan cepat. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan jamur terbawa aliran udara dan masuk ke dalam ruangan melalui pintu maupun jendela yang terbuka. Penyebarannya terjadi melalui spora, yaitu partikel mikroskopis yang dihasilkan jamur. Spora ini umumnya berukuran sekitar 1–10 µm, sehingga mudah terhirup dan mampu bertahan melayang di udara dalam waktu yang cukup lama (Jeong et al., 2022; Hai Xiao et al., 2025).
Lebih lanjut, variasi jenis dan jumlah jamur yang terdapat di dalam ruangan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya, seperti desain dan material bangunan, keadaan iklim, serta kualitas dan efektivitas sistem ventilasi (Jeong et al., 2022; Hai Xiao et al., 2025). Oleh sebab itu, menjaga ventilasi yang baik menjadi langkah penting untuk mengurangi pertumbuhan dan penyebaran jamur sekaligus melindungi kesehatan penghuni rumah.
Hubungan Langsung: Jamur Picu Asma dan Alergi
Meski sebuah penelitian belum banyak membuktikan mengenai berapa banyak paparan (jumlah dan durasi) sehingga bisa terdampak asma, namun sebuah studi menyimpulkan bahwa kelembapan atau jamur di dalam ruangan berhubungan dengan perkembangan asma. Selain asma, paparan jamur dikaitkan dengan sejumlah penyakit lain termasuk mikosis bronkopulmoner alergi, sinusitis jamur alergi, dan pneumonitis hipersensitivitas (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016).
Temuan terbaru menunjukkan bahwa paparan jamur tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi fungsi neurologis melalui mekanisme yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini menegaskan pentingnya kajian yang lebih mendalam terkait risiko kesehatan sistemik akibat paparan jamur (Lu et al., 2025; Hai Xiao et al., 2025).
Tinjauan literatur menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di rumah dengan kondisi lembap atau pertumbuhan jamur yang terlihat, lebih rentan mengalami gejala saluran pernapasan bawah, seperti batuk dan mengi, dibandingkan anak-anak yang tinggal di lingkungan bebas jamur (Bush, Portnoy, Saxon, Terr, & Wood, 2006). Bagi individu yang memiliki alergi, bahkan paparan singkat terhadap jamur di dalam ruangan dapat memicu gejala seperti gatal-gatal, pilek, batuk, hingga mengi (Levine, 2025). Paparan jamur sejak masa kanak-kanak juga dapat meningkatkan risiko berkembangnya asma.
Selain itu, paparan jamur dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan kadar penanda inflamasi dalam tubuh, seperti protein C-reaktif (CRP), yang menunjukkan adanya proses peradangan (Levine, 2025). Gejala umum yang muncul setelah paparan termasuk batuk kering, mata gatal atau merah, pilek, dan ruam pada kulit. Kondisi ini dapat memburuk pada individu yang memiliki alergi terhadap jamur atau menderita asma.
Dukungan lebih lanjut berasal dari meta-analisis yang dilakukan oleh Institut Kedokteran terhadap 33 studi, yang menilai hubungan antara jamur yang terlihat, kelembapan, dan spora di udara dengan kesehatan pernapasan, termasuk gejala saluran pernapasan atas, batuk, mengi, dan diagnosis asma. Hasil analisis ini menunjukkan bukti kuat bahwa pertumbuhan jamur dan kondisi lembap berhubungan dengan meningkatnya gejala pernapasan tersebut. Fisk dkk., melalui analisis kuantitatif dari meta-analisis ini dan studi terkait lainnya, menyimpulkan bahwa kelembapan bangunan dan pertumbuhan jamur dikaitkan dengan peningkatan risiko 30–50% pada batuk, mengi, dan asma (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016).
Dampak Lain yang Merugikan
Selain berdampak pada kesehatan, paparan jamur di rumah juga dapat menimbulkan dampak ekonomi bagi keluarga. Perawatan asma, termasuk kunjungan dokter, obat-obatan, dan terapi, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya perbaikan rumah untuk mengatasi sumber jamur, seperti perbaikan atap bocor atau ventilasi yang buruk, yang menambah pengeluaran keluarga.
Cara Deteksi Dini dan Pencegahan Mudah
Jamur yang menyebar di dalam ruangan akan terlihat jelas karena memiliki bercak hitam kehijauan disertai bau apek yang khas dan sedikit menyengat. Terdapat bercak-bercak hitam disertai bulu-bulu halus atau berlendir di area yang tinggi kadar kelembapannya. Biasanya terdapat di wallpaper, lemari, dan dinding.
Pencegahan yang dapat dilakukan:
– Ventilasi: Buka jendela 30 menit/hari.
– Dehumidifier: mampu mengurangi kelembaban <50%.
– Pilih Cat anti-jamur
REFERENSI
Baxi, S. N., Portnoy, J. M., Larenas-Linnemann, D., & Phipatanakul, W. (2016). Environmental Allergens Workgroup. Exposure and Health Effects of Fungi on Humans. J Allergy Clin Immunol Pract., 4(3), 396-404.
Bush, R. K., Portnoy, J. M., Saxon, A., Terr, A. I., & Wood, R. A. (2006). The medical effects of mold exposure. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 117(2), 326-333.
Hai Xiao, J. Y. (2025). Potential respiratory hazards of fungal exposure in the residential indoor environment: a systematic review. Atmospheric Pollution Research, 16(10).
Levine, H. (2025, March). Mold in the home: Identifying and treating the issue to prevent health problems. Article. Diambil kembali dari https://www-health-harvard-edu.translate.goog/healthy-aging-and-longevity/mold-in-the-home-identifying-and-treating-the-issue-to-prevent-health-problems?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Jamur: Ancaman yang Mengintai di Balik Cat Dinding

SIARAN PERS MITRA WACANA untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan







