Arsip
Mitra Wacana dan Tantangan Kedepan
Published
5 years agoon
By
Mitra Wacana
Talkshow Mitra Wacana
Senin (22/2/2021) Talkhsow Mitra Wacana menghadirkan Wahyu Tanoto (Sekretaris Dewan Pengurus Mitra Wacana Yogyakarta) di Sonora 97.4 FM membahas tema “Mitra Wacana dan Tantangan Kedepan” selama 1 jam.
Dalam talkshow tersebut , Wahyu Tanoto mengungkapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan hak yang sama, tanpa membedakan jenis kelamin. Akan tetapi banyak perlakuan diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin terutama perempuan. Ketidakadilan di masyarakat ini kalau tidak direduksi akan berdampak pada pelanggengan ketidakadilan secara terus-menerus. Hal inilah yang mendasari didirikannya Mitra Wacana Yogyakarta sampai saat ini. Selain itu Wahyu tanoto juga menjelaskan tujuan dan mimpi besar dibentuknya Mitra Wacana Yogyakarta karena ingin memberikan layanan dan informasi seputar perempuan dan anak dan ikut terlibat dalam membangun bangsa. Mitra Wacana Yogyakarta sebagai lembaga yang peduli terhadap perempuan dan anak ini, tidak hanya bergerak wawasan (pemikiran) saja tetapi juga turun langsung menjangkau masyarakat sebagai kekuatan sosialnya.
Sejak dibentuk tahun 1996, Mitra Wacana Yogyakarta sudah mengalami berbagai dinamika lembaga, mulai dari pergantian pengurus sampai dengan penyesuain strategi lembaga dalam pendampingan karena adanya wabah pandemic yang terjadi saat ini. Melihat perkembangan yang terjadi saat ini, Mitra Wacana Yogyakarta juga harus melakukan adaptasi dan strategi baru. Berbagai penataan dilakukan mulai dari peningkatan kapasitas bagi setiap pegiat mitra wacana, melakukan penyusunan standar operasional prosedur untuk setiap kegiatan serta melakukan restrukturisasi agar lebih efisien.
Disela-sela Talkshow tersebut ada sahabat Sonora yang bertanya kepada narasumber terkait bagaiamana caranya berkoborasi dengan Mitra Wacana Yogyakarta. Wahyu Tanoto selaku narasumber mengungkapkan bahwa Mitra Wacana Yogyakarta sangat terbuka untuk berbagai pihak yang ingin melakukan kerja-kerja kolaborasi, baik itu mahasiswa, instansi pemerintah maupun masyarakat umum sepanjang sesuai dengan semangat perjuangan Mitra Wacana Yogyakarta.
Di akhir sesi talkshow, Wahyu Tanoto menekankan bahwa saat ini masih terjadi kekerasan-kekerasan berbasis gender di media social. Kita semua bisa terlibat aktif dalam pencegahan kekerasan berbasis gender ini dengan tidak mengklik, membagikan apalagi membuat gambar / berita yang mengeksploitasi perempuan dan anak.
Arsip
Kunjungan Koordinasi Penguatan Jejaring Sosial di Kantor Mitra Wacana
Published
4 weeks agoon
4 April 2026By
Mitra Wacana
Kegiatan kunjungan koordinasi dan penguatan jejaring dalam rangka pengumpulan data Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Cluster Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang dilaksanakan pada Jumat (3/4) di kantor Mitra Wacana.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Tugas yang diterbitkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.
Tim yang ditugaskan dalam kegiatan ini adalah Peddy dan Fahmi dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (Dit-Rehsos-RTS & KPO). Kehadiran tim bertujuan untuk melakukan koordinasi langsung serta memperkuat jejaring kerja sama dengan lembaga pendamping di tingkat lapangan.

Kunjungan tersebut diterima oleh Wahyu Tanoto selaku Ketua Mitra Wacana, bersama beberapa staff: Muazim, Mansur, dan Ruli. Dalam suasana dialog yang terbuka, pihak Mitra Wacana memaparkan profil organisasi, termasuk visi, misi, serta ruang lingkup kerja yang selama ini berfokus pada isu kemanusiaan dan pelindungan kelompok rentan.
Selain itu, Mitra Wacana juga berbagi pengalaman dalam melakukan pendampingan dan advokasi, khususnya terkait isu perdagangan orang. Berbagai praktik baik (best practices), tantangan di lapangan, serta strategi intervensi yang telah dilakukan menjadi bagian penting dalam diskusi tersebut.
Hal ini memberikan gambaran nyata mengenai dinamika kasus serta kebutuhan riil yang dihadapi korban.
Diskusi berlangsung interaktif dengan penekanan pada pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik antara pemerintah, lembaga masyarakat sipil, maupun komunitas lokal.
Pendekatan partisipatif dinilai menjadi kunci dalam menghasilkan data yang akurat sekaligus memperkuat respons perlindungan sosial.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga pendamping, sehingga upaya pencegahan dan penanganan korban perdagangan orang dapat dilakukan secara lebih efektif, terpadu, dan berkelanjutan.
Kunjungan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus membangun komunikasi dan memperluas kerja sama di masa mendatang. (Tnt).

Aksi May Day Massa Desak Negara Lindungi Pekerja Informal

Buruh, Kita, dan Ilusi Proteksi Negara

PERNYATAAN SIKAP Jaringan Advokasi Melindungi Pekerja Informal DIY “Pekerja Informal Berhak Hidup Layak, Bermartabat, dan Sejahtera yang Inklusif”

PERNYATAAN SIKAP Jaringan Advokasi Melindungi Pekerja Informal DIY “Pekerja Informal Berhak Hidup Layak, Bermartabat, dan Sejahtera yang Inklusif”

Sejarah May Day di Indonesia: Dari Perlawanan Kolonial hingga Momentum Aksi Modern







