web analytics
Connect with us

Ekspresi

Asal Usul Gunung Gentong Gunungkidul

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Cerita Mitos

Penyusun:
Chrisvian Destanti
Ika Sari Rahayu
Indah Setiyani

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – UNY

Asal Usul Gunung Gentong

Gunungkidul

Gunung Gentong merupakan salah satu gunung yang menjadi kawasan wisata yang menarik di Gunungkidul, letaknya di Desa Ngalang, Dusun Manggung, kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, DIY. Diceritakan Prabu Brawijaya V merupakan raja kerajaan Majapahit yang mempunyai seorang permaisuri dan beberapa selir salah satunya ialah Ratu Mayangsari. Ki Juru Sawah  saudara raja diberikan amanah untuk menjaga Ratu Mayangsari yang sedang mengandung anak dari Prabu Brawijaya itu. Setelah penantian beberapa bulan akhirnya Ratu Mayangsari melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Patah.

Saat Raden Patah beranjak dewasa ia mengikuti Ki Juru Sawah secara sembunyi-sembunyi untuk pergi ke kerajaan mempersembahkan upeti pada raja berupa hasil sawah. Sesampainya di istana ia mengelilingi kerajaan dan terkagum-kagum melihat barang yang indah ada disana. Dengan sembunyi-sembunyi ia masuk ke gedung pusaka dan memukul gong pusaka yang menimbulkan suara yang sangat keras. Raja Brawijaya terkejut mendengar suara itu dan memerintahkan Mahapatihnya untuk mencari orang yang sudah berani memukul benda pusaka itu tanpa sepengetahuannya.

Sang Mahapatih membawa Raden Patah yang masih memegang pemukul gong ke hadapan raja. Sang raja terkejut, karena hanya orang yang mempunyai kekuatan besar yang dapat memukul gong itu. Ki Juru Sawah terkejut melihat Raden Patah tertangkap dan ia menceritakan bahwa Raden Patah adalah anak dari Ratu Mayangsari. Setelah mengetahui jika Raden Patah adalah putranya maka semenjak itu Raden Patah tinggal di Kraton Majapahit. Raden Patah tumbuh menjadi pemuda yang pintar berbagai macam ilmu, tidak hanya ilmu olah kanuragan tetapi juga ilmu kenegaraan. Raden Patah diutus raja untuk mengepalai wilayah jajahan majapahit di Palembang.

Suatu malam Raden Patah bermimpi dan diislamkan Kanjeng Sunan Kalijaga, ia menyuruh Raden patah pulang dan menengok ayahnya. Ia pun kembali ke Jawa membawa pasukan sebanyak seratus empat puluh orang. Di perjalanan saat tiba di daerah Glagahwangi yang masih berupa hutan, Raden Patah mendirikan sebuah masjid. Dalam kondisi yang lain ternyata terjadi kesalahpahaman antara Prabu Brawijaya dan anaknya. sang prabu mengira akan diserang oleh anaknya sendiri sehingga ia beserta permaisuri dan pengiringnya melarikan diri ke arah barat yaitu wilayah Gunungkidul.

Setibanya Raden Patah di Majapahit  ia merasa kecewa karena kerajaan sudah kosong. Lalu Raden Patah pun memutuskkan untuk menyusul ayahnya ke Gunungkidul. Beberapa lama  Prabu tinggal di Gunungkidul ia mendapat kabar anaknya telah menyusulnya lagi, kemudian ia pindah ke sebuah bukit di kawasan Gunungkidul dan mendirikan padepokan yang kini merupakan Desa Manggung. Disana sang Prabu kesulitan mendapatkan sumber air, terpaksa pengawalnya harus mencari air yang terletak di kaki bukit. Mendengar dari penduduk jika ayahnya tinggal di puncak bukit itu dan mengalami kesusahan mencari air, dengan kemampuan luarbiasa yang dimiliki Raden Patah ia melempar sebuah gentong atau padasan yang penuh berisi air ke puncak bukit Manggung.

Ketika sang prabu mendapati sebuah padasan secara tiba- tiba ia yakin itu adalah ulah anaknya. Sejak saat itu bukit tersebut dinamakan Gunung Gentong. Sampai saat ini gentong yang diceritakan itu masih ada tetapi sudah retak dan tidak dapat digunakan untuk menampung air. Walaupun Prabu Brawijaya terus melarikan diri akhirnya ia dapat disusul oleh anaknya dan kesalahpahaman itu dapat diselesaikan oleh Raden Patah.

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekspresi

Qurban di Masa Pandemi

Mitra Wacana WRC

Published

on

qurban di masa pandemi

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit
Ada apa dengan KPK ?

Agus Rahmad Hidayat
Mahasiswa Magang

Kamis (15/7/2021) Talkshow Mitra Wacana kali ini mengangkat tema “Qurban di Masa Pandemi” di Radio Smart 102.1 FM Yogyakarta bersama narasumber Drs Abd Samik (Wakil Ketua 2 Baznas Kota Yogyakarta).

Dalam talkshow kali ini narasumber membahas terlebih dahulu dimasa pandemi dan menjelang Idul Adha ini adal hal yang bisa dimanfaatkan seperti perintah dalam Surah Al-kausar melakukan qurban. Qurban berasal dari istilah qoroba yang memiliki arti mendekatkan diri, perintah dalam surah ini adalah melakukan qurban untuk mendekatkan diri pada tuhan. Tetapi dalam praktiknya dibuktikan dengan berbagi dengan sesama.

Perintah ini dilakukan dengan dua kegiatan yaitu pendekatan dengan tuhan dan pendekatan kepada sesama manusia, itulah yang dinamakan qurban. Sehingga wujudnya adalah berbagi dengan sesama. Qurban yang paling utama adalah memberikan manfaat kepada orang di saat yang tepat dan dibutuhkan. Terutama di masa pandemi dan PPKM ini banyak orang yang terkena covid-19 yang melakukan isolasi dan usaha yang menurun bantuan, hal ini bagi muhammadiyah yang perlu disalurkan kepada yang membutuhkan dan tepat sasaran.

Berqurban di masa pandemi harus sesuai dengan anjuran agama dalam menyembelih hewan, menjaga lingkungan yang sehat dan bersih dan menerapkan protokol kesehatan merupakan ibadah yang sering kita anggap bukan ibadah padahal itu bagian dalam ibadah. Qurban secara online di dalam agama di perbolehkan.  

Menyembelih sendiri ataupun mengikuti proses penyembelihan di dalam agama tidak keharusan untuk mengikuti hal tersebut. Qurban online merupakan bagian dari ikhtiar dalam menjaga untuk tidak langsung melakukannya sendiri, karena banyak orang yang tidak mampu menjalankan qurban mulai dari pemeliharaan, proses penyembelihan, proses pemotongan dan sebagainya. 

Berqurban harus sesaui dengan anjaran agama dalam memperlakukan hewan qurbannya, fasilitas atau tempat yang menyediakan tempat qurban di tangani oleh ahli atau orang yang mampu melakukan penyembelihan secara halal sesuai ajaran dalam agama seperti proses sebelum berqurban yaitu menyiapkan tempat layak bagi hewan qurban, tempat harus terpisah dengan tempat penyembelihan, memperhatikan kesejahteraan hewan qurban, kesehatan harus di periksa, 12 jam sebelum penyembelihan harus di istirahatkan makan agar tenaga berkurang, isi kotoran di dalam perut berkurang agar bakteri dari makan tidak banyak tentu akan menjadi sehat ketika hendak di sembelih

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung