Berita
P3A SELARAS Membahas Parenting
Published
4 years agoon
By
Mitra Wacana
Sebagaimana diketahui bahwa saat ini parenting menjadi salah satu topik perbincangan yang dikenalkan kepada semua orang.
Mengingat, parenting merupakan pendekatan dan bagaimana cara memperlakukan/ingin diperlakukan.
Rupanya nilai-nilai yang terkandung dalam parenting inilah yang coba dibahas oleh organisasi Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak SELARAS, Kalurahan Nomporejo, Galur, Kulonprogo pada Selasa (10/1/2023).
Solihatun, selaku ketua P3A SELARAS dalam sambutannya menyebutkan jika parenting dibutuhkan oleh setiap orang agar mampu memberikan keteladanan.
“Semoga dengan parenting semakin memahami pentingnya komunikasi yang baik dengan anak”, ungkapnya.
Dalam pertemuan yang menghadirkan Wahyu Tanoto sebagai pemantik diskusi juga meminta para peserta yang hadir untuk menuliskan daftar apresiasi positif pada selembar kertas yang dibagikan.
“Saya minta tolong kepada panjenengan semua silahkan tuliskan hal-hal positif dari anak anda”, pintanya.
Setelah selesai masing-masing peserta diminta untuk membacakan hasilnya.
“Anak saya lucu, suka membantu, bisa menjadi teman, mudah bergaul, dan suka belajar”, ungkap Yustria.
Lain halnya dengan Lia, yang menyebutkan bahwa terkadang antara orang tua dengan simbah memiliki perbedaan pandangan dalam mendidik anak.
“Misalnya kadang-kadang malah simbahnya menyebut anak ini ngeyelan dan bandel padahal orangtuanya tidak pernah begitu”. Lia menuturkan.
Dalam pemaparannya bahwa Wahyu Tanoto juga menyebutkan jika pada prinsipnya parenting ingin memberikan pesan kepada kita semua bahwa yang namanya mendidik anak bisa di dalam atau di luar rumah.
“Jadi konsep dasar parenting setidaknya ada 3 hal yaitu; input, proses dan hasil.
Dengan harapan dampaknya adalah sehat fisik, psikis, sosial dan seksual”, pungkasnya.
Diskusi parenting ini dilakukan dalam pertemuan rutin oleh P3A SELARAS dengan berbagai topik yang menarik perhatian. Adapun pertemuan ini dihadiri oleh belasan anggota dimulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. (Tnt).
You may like
Berita
Human Trafficking Month – 30th of July 2026
Published
7 days agoon
6 August 2026By
Mitra Wacana

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
The month July is recognized as Anti-Human Trafficking Month (Bulan Anti Perdagangan Manusia) in Indonesia, a nationwide campaign dedicated to raise awareness about human trafficking and promoting coordinated action against exploitation. Human trafficking remains a significant human rights issue in Indonesia. Women, children and migrant workers are vulnerable to exploitation, including forced labour, sexual exploitation, forced marriage and online recruitment scams. Factors such as poverty, limited employment opportunities, unequal access to education and misinformation increase’s people’s vulnerability.
On the 30th of July 2026, organizations, academics, government representatives and community members gathered at the Faculty of Law of Universitas Gadjah Mada (UGM) for an event dedicated to this Anti-Human Trafficking Month. Mitra Wacana collaborated with various organizations to aim to raise awareness about human trafficking while promoting collaboration in prevention, protection and victim support.

The event opened with participant registration, followed by an opening ceremony featuring welcoming remarkss and a cultural performance. Throughout the day, visitors could also explore a small Bazar, filled with products from local entrepreneurs and creating space for community engagement alongside the educational program.
The day consisted of several panel discussions featuring experts from universities, migrant worker organizations, government members, and legal institutions. The event started with a panel discussion that discussed the theme ‘Facing the New Face of Human Traffiking: Collaboration for Protection and Law Enforcement’. The speakers discussed the increasing vulnerability of migrant workers, online recruitment methods, and the need for stronger legal protection and law enforcement.
The second panel discussion talked about the ‘Collaboration on Prevention and Handling of Human Trafficking: Organizing, Advocacy, Campaigns, Legal and Psychological Assistance’. The presentations from the different organizations emphasized the importance of collaboration between professionals from different sectors, including lawyers, psychologist, educators and local communities.
The last discussion discussed the theme ‘Various Modes of Human Trafficking: from student trafficking, arranged marriages and the role of interfaith networks in preventing and handling human trafficking’. The panel explored the diverse and evolving forms of human trafficking, emphasizing that exploitation can occur in a variety of social and cultural contexts.
Overall, the event provided an opportunity to increase awareness and to strengthen the collaboration between organizations committed to addressing and preventing the human trafficking issue in Indonesia. Through knowledge sharing, practical discussions and community engagement the event reinforced the message that preventing exploitation requires collective responsibility. This message is reflected in the slogan ‘Humans are not for sale, united against exploitation’.

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme








