web analytics
Connect with us

Opini

Renungan “Bencana” Alam

Mitra Wacana WRC

Published

on

Lukisan raden saleh tentang bencana banjir yang terjadi di tanah jawa

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit
salah satu pendiri mitra wacana yogyakarta

Yos Soetiyoso

Oleh Yos Soetiyoso (Salah satu pendiri Mitra Wacana)

Akhir tahun 2004 yang lalu, kita diguncang oleh fenomena Gempa dan Tsunami di Aceh. Begitu besar korban nyawa dan harta benda. Disusul kemudian kejadian yang sama di Nias Sumatera Utara. Tidak berhenti disitu saja, pada tahun yang sama terjadilah Gempa dasyat di Yogyakarta yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah kabupaten Bantul dan Sleman kemudian disusul letusan besar Gunung Merapi.

Di tahun ini, kita diguncang gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat kemudian disusul guncangan Gempa di Palu Sulawesi Tengah yang tak kalah dahsyatnya. Selain fenomena gempa yang terjadi di beberapa daerah, diakhir tahun ini indonesia dihajar lagi dengan Tsunami di pantai anyer provinsi Banten akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengikuti Gunung Sinabung.

Laknat kah? Kutukan kah? Azab kah? Hanya nalar cekak yang mengatakan bahwa itu laknat, kutukan, azab dan sebagainya. Itu semua adalah keniscayaan alam Indonesia yang memang terletak di cincin api (ring of fire). Jikalau kita merasa bahwa semua fenomena yang terjadi di Indonesia ini adalah sebuah kutukan, laknat atau istilah lainnya maka seharusnya kita merasa bahwa kita telah dikutuk oleh Tuhan karena hidup di bumi Indonesia.

Keseimbangan

Kemajuan teknologi telah membuka luas ruang informasi sehingga hampir semua orang mengerti bahwa kita hidup di atas “ring of fire”. Ingat, betapa dahsyatnya Gunung Krakatau mengguncang dunia di abad XIX sehingga mencatatkan sejarah bahwa Kerajaan Mataram Hindu punah bukan karena kalah perang melainkan karena “Maha Pralaya” akibat Letusan hebat Gunung Merapi yang dibarengi gempa dasyat sehingga mampu mengubur Candi Borobudur dan sekitarnya. Selain fenomena meletusnya gunung Krakatau, ada juga fenomena ledakan Gunung Purba Toba sekarang Danau T oba akibat letusan maha dasyat  yang mampu mengguncang bola dunia hingga menggeser titik kutub.

Di atas tanah sarat “bencana” ini, sebaliknya di sinilah tanah yang sangat subur. Ibarat tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lemparkanlah potongan tebu atau tancapkan batang ubi kayu, hanya berbilang bulan ia akan tumbuh. Lemparkanlah biji durian, mangga atau biji nangka saat musim penghujan, niscaya akan tumbuh dengan baik. Inilah keseimbangan yang dibentuk oleh semesta.

Orang mengatakan di negara-negara beriklim subtropis yang mempunyai 4 musim tiap tahunnya, masyarakatnya cenderung tekun dan kreatif karena alamnya menantang. Tanpa kreatifitas mensiasati alam mereka tidak bisa hidup. Sementara di Indonesia yang merupakan  daerah tropis dengan hanya dua musim, manusianya kurang kreatif dan cenderung malas karena alam begitu memanjakannya. Itu kan cuma kata orang. Petani kita kan rajin, tekun dan taat asas. Lantas, apa masalahnya?”

Meski alam memanjakan dengan pemberian tanah yang subur, namun bersamanya alam memberikan imbangannya berupa rentan kejadian “bencana” alam. Ditambah lagi “bencana” banjir akibat ulah manusia yang kurang bijak terhadap lingkungan alamnya.

Kegagapan Abadi

Agak mengherankan ketika terjadi apa yang disebut “bencana” alam, hampir selalu seperti menghadapi hal yang baru. Lebih konyol lagi dalam hal tsunami misalnya alat deteksi dini hilang atau rusak dan tak berfungsi sehingga mengakibatkan begitu banyak korban yang tidak bisa diselamatkan karena tidak ada peringatan dini adanya “bencana” tsunami. Baik birokrat maupun rakyatnya nampak begitu panik, lintang pukang dalam upaya penyelamatan diri. Bandingkan dengan masyarakat Jepang berdasarkan video yang disiarkan,  meski panik, masih nampak tertib dalam barisan menuju area evakuasi.

Negara dengan julukan bunga sakura ini sadar betul kalau wilayahnya gemar sekali bergoyang. Sejak usia dini anak-anak diberi pemahaman terkait kebencanaan. Murid –  murid sudah diajarkan bagaimana menyelamatkan diri bila terjadi gempa. Pasti bukan dengan ditakut-takuti, tapi dengan keceriaan khas anak-anak. Intinya jepang sebagai negara dan masyarakatnya sadar betul di wilayah seperti apa negara mereka tergelar.

“Aaaah jadi malu kita . . .Kok negara dan masyarakat kita tidak begitu ya? Bukankah Pemerintah kita paham betul, bahwa negara kita terbentang di wilayah yang disebut cincin api atau “Ring of Fire”. Apa sih yang menjadi penyebab sehingga bangsa ini terkesan sebagai kumpulan orang blo’on? Apakah karena masih banyak orang Indonesia yang bernalar cekak, yang melihat “bencana” alam sebagai laknat, kutukan, azab dan sebagainya. Kalau memang begitu, ya sudahlah barangkali bangsa ini akan selalu abadi dalam kegagapannya. Bangsa yang terus terseok-seok di tengah kemajuan teknologi yg melesat secara eksponensial.”

Bisakah kita?

Ketika sadar bahwa negeri ini sudah takdirnya berada di area “Ring of Fire”, semestinya dikembangkan pula berbagai ilmu pengetahuan yang bersifat antisipatif terhadapnya. Misalnya berkaitan dengan konstruksi tahan gempa, tahan gempuran tsunami. Ilmu – ilmu pengetahuan penanggulangan, sampai pengelolaan paska “bencana” dan sebagainya. Riset – riset untuk pengembangan ilmu kebencanaan, mestinya pula memperoleh prioritas pembiayaan yang memadai. Bahkan mengingat akan fakta kerentanan wilayah “Ring of Fire”, semestinya hari ini negara kita bersama dengan jepang telah menjadi rujukan bagi negara lain dalam hal penanggulangan “bencana” alam.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Mitra Wacana dan Tantangan Kedepan

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Talkshow Mitra Wacana

Senin (22/2/2021) Talkhsow Mitra Wacana menghadirkan Wahyu Tanoto (Sekretaris Dewan Pengurus Mitra Wacana Yogyakarta) di Sonora 97.4 FM membahas tema “Mitra Wacana dan Tantangan Kedepan” selama 1 jam.

Dalam talkshow tersebut , Wahyu Tanoto mengungkapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan hak yang sama, tanpa membedakan jenis kelamin. Akan tetapi banyak perlakuan diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin terutama perempuan. Ketidakadilan di masyarakat ini kalau tidak direduksi akan berdampak pada pelanggengan ketidakadilan secara terus-menerus. Hal inilah yang mendasari didirikannya Mitra Wacana Yogyakarta sampai saat ini. Selain itu Wahyu tanoto juga menjelaskan tujuan dan mimpi besar dibentuknya Mitra Wacana Yogyakarta karena ingin memberikan layanan dan informasi seputar perempuan dan anak dan ikut terlibat dalam membangun bangsa. Mitra Wacana Yogyakarta sebagai lembaga yang peduli terhadap perempuan dan anak ini, tidak hanya bergerak wawasan (pemikiran) saja tetapi juga turun langsung menjangkau masyarakat sebagai kekuatan sosialnya.

Sejak dibentuk tahun 1996, Mitra Wacana Yogyakarta sudah mengalami berbagai dinamika lembaga, mulai dari pergantian pengurus sampai dengan penyesuain strategi lembaga dalam pendampingan karena adanya wabah pandemic yang terjadi saat ini. Melihat perkembangan yang terjadi saat ini,  Mitra Wacana Yogyakarta juga harus melakukan adaptasi dan strategi baru. Berbagai penataan dilakukan mulai dari peningkatan kapasitas bagi setiap pegiat mitra wacana, melakukan penyusunan standar operasional prosedur untuk setiap kegiatan serta melakukan restrukturisasi agar lebih efisien.

Disela-sela Talkshow tersebut ada sahabat Sonora yang bertanya kepada narasumber terkait bagaiamana caranya berkoborasi dengan Mitra Wacana Yogyakarta. Wahyu Tanoto selaku narasumber mengungkapkan bahwa Mitra Wacana Yogyakarta sangat terbuka untuk berbagai pihak yang ingin melakukan kerja-kerja kolaborasi, baik itu mahasiswa, instansi pemerintah maupun masyarakat umum sepanjang sesuai dengan semangat perjuangan Mitra Wacana Yogyakarta.

Di akhir sesi talkshow, Wahyu Tanoto menekankan bahwa saat ini masih terjadi kekerasan-kekerasan berbasis gender di media social. Kita semua bisa terlibat aktif dalam pencegahan kekerasan berbasis gender ini dengan tidak mengklik, membagikan apalagi membuat gambar / berita yang mengeksploitasi perempuan dan anak.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Gedongan Baru RT.06/RW.43 Pelemwulung No. 42 Banguntapan, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55198
Telpon: +62 274 451574 Email: plip_mitrawacana@yahoo.com or mitrawacanawrc@gmail.com
Copyright © 2019 Divisi Media Mitra Wacana
Tim Redaksi | Kebijakan Privasi | Disclaimer | Tata cara penulisan

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung