web analytics
Connect with us

Opini

Renungan “Bencana” Alam

Published

on

Lukisan raden saleh tentang bencana banjir yang terjadi di tanah jawa
salah satu pendiri mitra wacana yogyakarta

Yos Soetiyoso

Oleh Yos Soetiyoso (Salah satu pendiri Mitra Wacana)

Akhir tahun 2004 yang lalu, kita diguncang oleh fenomena Gempa dan Tsunami di Aceh. Begitu besar korban nyawa dan harta benda. Disusul kemudian kejadian yang sama di Nias Sumatera Utara. Tidak berhenti disitu saja, pada tahun yang sama terjadilah Gempa dasyat di Yogyakarta yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah kabupaten Bantul dan Sleman kemudian disusul letusan besar Gunung Merapi.

Di tahun ini, kita diguncang gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat kemudian disusul guncangan Gempa di Palu Sulawesi Tengah yang tak kalah dahsyatnya. Selain fenomena gempa yang terjadi di beberapa daerah, diakhir tahun ini indonesia dihajar lagi dengan Tsunami di pantai anyer provinsi Banten akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengikuti Gunung Sinabung.

Laknat kah? Kutukan kah? Azab kah? Hanya nalar cekak yang mengatakan bahwa itu laknat, kutukan, azab dan sebagainya. Itu semua adalah keniscayaan alam Indonesia yang memang terletak di cincin api (ring of fire). Jikalau kita merasa bahwa semua fenomena yang terjadi di Indonesia ini adalah sebuah kutukan, laknat atau istilah lainnya maka seharusnya kita merasa bahwa kita telah dikutuk oleh Tuhan karena hidup di bumi Indonesia.

Keseimbangan

Kemajuan teknologi telah membuka luas ruang informasi sehingga hampir semua orang mengerti bahwa kita hidup di atas “ring of fire”. Ingat, betapa dahsyatnya Gunung Krakatau mengguncang dunia di abad XIX sehingga mencatatkan sejarah bahwa Kerajaan Mataram Hindu punah bukan karena kalah perang melainkan karena “Maha Pralaya” akibat Letusan hebat Gunung Merapi yang dibarengi gempa dasyat sehingga mampu mengubur Candi Borobudur dan sekitarnya. Selain fenomena meletusnya gunung Krakatau, ada juga fenomena ledakan Gunung Purba Toba sekarang Danau T oba akibat letusan maha dasyat  yang mampu mengguncang bola dunia hingga menggeser titik kutub.

Di atas tanah sarat “bencana” ini, sebaliknya di sinilah tanah yang sangat subur. Ibarat tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lemparkanlah potongan tebu atau tancapkan batang ubi kayu, hanya berbilang bulan ia akan tumbuh. Lemparkanlah biji durian, mangga atau biji nangka saat musim penghujan, niscaya akan tumbuh dengan baik. Inilah keseimbangan yang dibentuk oleh semesta.

Orang mengatakan di negara-negara beriklim subtropis yang mempunyai 4 musim tiap tahunnya, masyarakatnya cenderung tekun dan kreatif karena alamnya menantang. Tanpa kreatifitas mensiasati alam mereka tidak bisa hidup. Sementara di Indonesia yang merupakan  daerah tropis dengan hanya dua musim, manusianya kurang kreatif dan cenderung malas karena alam begitu memanjakannya. Itu kan cuma kata orang. Petani kita kan rajin, tekun dan taat asas. Lantas, apa masalahnya?”

Meski alam memanjakan dengan pemberian tanah yang subur, namun bersamanya alam memberikan imbangannya berupa rentan kejadian “bencana” alam. Ditambah lagi “bencana” banjir akibat ulah manusia yang kurang bijak terhadap lingkungan alamnya.

Kegagapan Abadi

Agak mengherankan ketika terjadi apa yang disebut “bencana” alam, hampir selalu seperti menghadapi hal yang baru. Lebih konyol lagi dalam hal tsunami misalnya alat deteksi dini hilang atau rusak dan tak berfungsi sehingga mengakibatkan begitu banyak korban yang tidak bisa diselamatkan karena tidak ada peringatan dini adanya “bencana” tsunami. Baik birokrat maupun rakyatnya nampak begitu panik, lintang pukang dalam upaya penyelamatan diri. Bandingkan dengan masyarakat Jepang berdasarkan video yang disiarkan,  meski panik, masih nampak tertib dalam barisan menuju area evakuasi.

Negara dengan julukan bunga sakura ini sadar betul kalau wilayahnya gemar sekali bergoyang. Sejak usia dini anak-anak diberi pemahaman terkait kebencanaan. Murid –  murid sudah diajarkan bagaimana menyelamatkan diri bila terjadi gempa. Pasti bukan dengan ditakut-takuti, tapi dengan keceriaan khas anak-anak. Intinya jepang sebagai negara dan masyarakatnya sadar betul di wilayah seperti apa negara mereka tergelar.

“Aaaah jadi malu kita . . .Kok negara dan masyarakat kita tidak begitu ya? Bukankah Pemerintah kita paham betul, bahwa negara kita terbentang di wilayah yang disebut cincin api atau “Ring of Fire”. Apa sih yang menjadi penyebab sehingga bangsa ini terkesan sebagai kumpulan orang blo’on? Apakah karena masih banyak orang Indonesia yang bernalar cekak, yang melihat “bencana” alam sebagai laknat, kutukan, azab dan sebagainya. Kalau memang begitu, ya sudahlah barangkali bangsa ini akan selalu abadi dalam kegagapannya. Bangsa yang terus terseok-seok di tengah kemajuan teknologi yg melesat secara eksponensial.”

Bisakah kita?

Ketika sadar bahwa negeri ini sudah takdirnya berada di area “Ring of Fire”, semestinya dikembangkan pula berbagai ilmu pengetahuan yang bersifat antisipatif terhadapnya. Misalnya berkaitan dengan konstruksi tahan gempa, tahan gempuran tsunami. Ilmu – ilmu pengetahuan penanggulangan, sampai pengelolaan paska “bencana” dan sebagainya. Riset – riset untuk pengembangan ilmu kebencanaan, mestinya pula memperoleh prioritas pembiayaan yang memadai. Bahkan mengingat akan fakta kerentanan wilayah “Ring of Fire”, semestinya hari ini negara kita bersama dengan jepang telah menjadi rujukan bagi negara lain dalam hal penanggulangan “bencana” alam.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri

Published

on

Sumber foto: Freepik

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia

Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”

Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”

Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.

Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.

Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.

Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?

Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.

Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang  yang akhirnya memilih lari ke dunia maya—  sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.

Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.

Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.

Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?

Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.

Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh. 

Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda. 

Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.

​Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.

Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.

Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.

 

REFERENSI

Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).

Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.

Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending