Opini
Renungan “Bencana” Alam
Published
7 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Yos Soetiyoso (Salah satu pendiri Mitra Wacana)
Akhir tahun 2004 yang lalu, kita diguncang oleh fenomena Gempa dan Tsunami di Aceh. Begitu besar korban nyawa dan harta benda. Disusul kemudian kejadian yang sama di Nias Sumatera Utara. Tidak berhenti disitu saja, pada tahun yang sama terjadilah Gempa dasyat di Yogyakarta yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah kabupaten Bantul dan Sleman kemudian disusul letusan besar Gunung Merapi.
Di tahun ini, kita diguncang gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat kemudian disusul guncangan Gempa di Palu Sulawesi Tengah yang tak kalah dahsyatnya. Selain fenomena gempa yang terjadi di beberapa daerah, diakhir tahun ini indonesia dihajar lagi dengan Tsunami di pantai anyer provinsi Banten akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengikuti Gunung Sinabung.
Laknat kah? Kutukan kah? Azab kah? Hanya nalar cekak yang mengatakan bahwa itu laknat, kutukan, azab dan sebagainya. Itu semua adalah keniscayaan alam Indonesia yang memang terletak di cincin api (ring of fire). Jikalau kita merasa bahwa semua fenomena yang terjadi di Indonesia ini adalah sebuah kutukan, laknat atau istilah lainnya maka seharusnya kita merasa bahwa kita telah dikutuk oleh Tuhan karena hidup di bumi Indonesia.
Keseimbangan
Kemajuan teknologi telah membuka luas ruang informasi sehingga hampir semua orang mengerti bahwa kita hidup di atas “ring of fire”. Ingat, betapa dahsyatnya Gunung Krakatau mengguncang dunia di abad XIX sehingga mencatatkan sejarah bahwa Kerajaan Mataram Hindu punah bukan karena kalah perang melainkan karena “Maha Pralaya” akibat Letusan hebat Gunung Merapi yang dibarengi gempa dasyat sehingga mampu mengubur Candi Borobudur dan sekitarnya. Selain fenomena meletusnya gunung Krakatau, ada juga fenomena ledakan Gunung Purba Toba sekarang Danau T oba akibat letusan maha dasyat yang mampu mengguncang bola dunia hingga menggeser titik kutub.
Di atas tanah sarat “bencana” ini, sebaliknya di sinilah tanah yang sangat subur. Ibarat tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lemparkanlah potongan tebu atau tancapkan batang ubi kayu, hanya berbilang bulan ia akan tumbuh. Lemparkanlah biji durian, mangga atau biji nangka saat musim penghujan, niscaya akan tumbuh dengan baik. Inilah keseimbangan yang dibentuk oleh semesta.
Orang mengatakan di negara-negara beriklim subtropis yang mempunyai 4 musim tiap tahunnya, masyarakatnya cenderung tekun dan kreatif karena alamnya menantang. Tanpa kreatifitas mensiasati alam mereka tidak bisa hidup. Sementara di Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan hanya dua musim, manusianya kurang kreatif dan cenderung malas karena alam begitu memanjakannya. Itu kan cuma kata orang. Petani kita kan rajin, tekun dan taat asas. Lantas, apa masalahnya?”
Meski alam memanjakan dengan pemberian tanah yang subur, namun bersamanya alam memberikan imbangannya berupa rentan kejadian “bencana” alam. Ditambah lagi “bencana” banjir akibat ulah manusia yang kurang bijak terhadap lingkungan alamnya.
Kegagapan Abadi
Agak mengherankan ketika terjadi apa yang disebut “bencana” alam, hampir selalu seperti menghadapi hal yang baru. Lebih konyol lagi dalam hal tsunami misalnya alat deteksi dini hilang atau rusak dan tak berfungsi sehingga mengakibatkan begitu banyak korban yang tidak bisa diselamatkan karena tidak ada peringatan dini adanya “bencana” tsunami. Baik birokrat maupun rakyatnya nampak begitu panik, lintang pukang dalam upaya penyelamatan diri. Bandingkan dengan masyarakat Jepang berdasarkan video yang disiarkan, meski panik, masih nampak tertib dalam barisan menuju area evakuasi.
Negara dengan julukan bunga sakura ini sadar betul kalau wilayahnya gemar sekali bergoyang. Sejak usia dini anak-anak diberi pemahaman terkait kebencanaan. Murid – murid sudah diajarkan bagaimana menyelamatkan diri bila terjadi gempa. Pasti bukan dengan ditakut-takuti, tapi dengan keceriaan khas anak-anak. Intinya jepang sebagai negara dan masyarakatnya sadar betul di wilayah seperti apa negara mereka tergelar.
“Aaaah jadi malu kita . . .Kok negara dan masyarakat kita tidak begitu ya? Bukankah Pemerintah kita paham betul, bahwa negara kita terbentang di wilayah yang disebut cincin api atau “Ring of Fire”. Apa sih yang menjadi penyebab sehingga bangsa ini terkesan sebagai kumpulan orang blo’on? Apakah karena masih banyak orang Indonesia yang bernalar cekak, yang melihat “bencana” alam sebagai laknat, kutukan, azab dan sebagainya. Kalau memang begitu, ya sudahlah barangkali bangsa ini akan selalu abadi dalam kegagapannya. Bangsa yang terus terseok-seok di tengah kemajuan teknologi yg melesat secara eksponensial.”
Bisakah kita?
Ketika sadar bahwa negeri ini sudah takdirnya berada di area “Ring of Fire”, semestinya dikembangkan pula berbagai ilmu pengetahuan yang bersifat antisipatif terhadapnya. Misalnya berkaitan dengan konstruksi tahan gempa, tahan gempuran tsunami. Ilmu – ilmu pengetahuan penanggulangan, sampai pengelolaan paska “bencana” dan sebagainya. Riset – riset untuk pengembangan ilmu kebencanaan, mestinya pula memperoleh prioritas pembiayaan yang memadai. Bahkan mengingat akan fakta kerentanan wilayah “Ring of Fire”, semestinya hari ini negara kita bersama dengan jepang telah menjadi rujukan bagi negara lain dalam hal penanggulangan “bencana” alam.
You may like
Opini
Tanpa Disadari, Inilah Interaksi Obat dengan Makanan atau Minuman yang Dapat Membahayakan Tubuh
Published
2 days agoon
5 June 2026By
Mitra Wacana

Kayra Lova Marina
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Farmasi
Pernahkan kamu meminum obat sekaligus memakan makanan sebagai penyamar rasa pahit? atau setelah memakan makanan tertentu, langsung dilanjutkan dengan mengonsumsi obat tanpa adanya instruksi dari dokter atau apoteker? Tanpa kamu sadari, hal tersebut dapat membahayakan tubuh. Beberapa interaksi antara obat dengan makanan dan minuman sehari-hari dapat menimbulkan efek serius yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya ketidaktahuan yang dapat memperburuk kondisi pasien yang mengonsumsi suatu obat. Oleh karena itu, sudah saatnya kamu mengetahui bagaimana interaksi obat dengan makanan yang sering kali terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari.
- Antibiotik dengan Susu
Tanpa diketahui, interaksi antara antibiotik dan susu dapat memberikan efek yang buruk. Namun, hanya jenis antibiotik tertentu yang memiliki efek negatif, yaitu tetrasiklin. Diketahui bahwa mengonsumsi antibiotik tetrasiklin bersamaan dengan susu dapat menyebabkan antibiotik sulit untuk diserap. Susu memiliki kandungan kalsium di dalamnya. Kandungan kalsium tersebut akan menangkap molekul pada tetrasiklin dan membentuk senyawa baru yang sulit diserap oleh tubuh, sehingga efektivitas antibiotik menurun. Oleh karena itu, lebih baik mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan air putih saja.
- Obat Kolesterol dengan Jeruk Bali
Jeruk bali bisa menjadi berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat kolesterol jenis simvastatin. Simvastatin merupakan obat yang banyak diresepkan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Metabolisme pada Simvastatin sangat bergantung pada Enzim CYP3A4. Senyawa dalam jeruk bali dapat menghambat enzim CYP3A4 di usus yang berfungsi memecah simvastatin dalam saluran pencernaan. Jika CYP3A4 terhambat, kadar simvastatin dalam plasma darah akan meningkat. Kadar simvastatin yang terlalu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada otot (Miopati). Kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih fatal, seperti gagal ginjal akut. Sebaiknya, jeruk bali dikonsumsi satu atau dua jam setelah mengonsumsi obat tersebut.
- Warfarin dengan Sayuran Hijau
Warfarin merupakan obat pengencer darah yang diberikan kepada pasien penyakit jantung dan stroke. Warfarin bekerja dengan menghambat enzim yang penting untuk mengaktifkan vitamin K, yaitu VKORC1. Dengan adanya enzim tersebut, sintesis faktor-faktor pembekuan darah dapat dikurangi. Sayuran hijau yang dikonsumsi dapat memengaruhi efektivitas warfarin dan harus diwaspadai. Konsumsi sayuran hijau dengan kandungan vitamin K yang tinggi (lebih dari 250 µg) dapat menurunkan efektivitas warfarin. Itulah mengapa pasien yang mengonsumsi warfarin perlu menjaga asupan sayuran hijau secara konsisten agar efektivitas warfarin tetap stabil.
Setelah mengetahui fakta-fakta tersebut, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat kamu lakukan, seperti konsultasi dengan dokter atau apoteker mengenai konsumsi obat dan makanan sehari-hari, membaca label pada kemasan obat, dan juga hindari makanan atau minuman yang tertera ketika sedang mengonsumsi obat tersebut. Diharapkan setelah mengetahui informasi ini, interaksi obat dengan makanan tidak dianggap sepele, karena akan memiliki dampak yang sangat berpengaruh bagi kesehatan tubuh. Oleh karena itu, ayo lebih bijak dalam mengonsumsi obat-obatan.
Daftar Pustaka
Dayyih, W. A., et al. (2024). Review of Grapefruit Juice-Drugs Interactions Mediated by Intestinal CYP3A4 Inhibition. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 14(5), 59-68.
Talasaz, A. H., et al. (2024). Pharmacokinetic and Pharmacodynamic Interactions between Food or Herbal Products and Oral Anticoagulants: Evidence Review, Practical Recommendations, and Knowledge Gaps. Seminars in Thrombosis & Hemostasis, 51(5), 560-571.
Wiesner, A., et al. (2024). Clinically Important Interactions of Macrolides and Tetracyclines with Dietary Interventions – A Systematic Review with Meta – Analyses. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 79(11), 2762-2791.

SIARAN PERS MITRA WACANA untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

SIARAN PERS Menjamin Hak Beribadah adalah Amanat Konstitusi, Bukan Kompromi Sosial. Sikap Mitra Wacana atas Pembubaran Ibadah GMS di Panggungharjo

Tanpa Disadari, Inilah Interaksi Obat dengan Makanan atau Minuman yang Dapat Membahayakan Tubuh

SIARAN PERS MITRA WACANA untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

SIARAN PERS Menjamin Hak Beribadah adalah Amanat Konstitusi, Bukan Kompromi Sosial. Sikap Mitra Wacana atas Pembubaran Ibadah GMS di Panggungharjo






