web analytics
Connect with us

Opini

Ada Evaluasi, Biskita Trans Pakuan Kota Bogor Dihentikan Sementara

Published

on

Sumber foto: Freepik

Novi Kristiawati | J0401231022
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Biskita adalah salah satu moda transportasi umum yang ada di Kota Bogor. Sebagai moda transportasi, Biskita menambah pilihan yang memudahkan masyarakat untuk mengelilingi Kota Bogor. Dengan jangkauan yang luas, Biskita membuat perjalanan ke berbagai tempat menjadi lebih mudah. Selain itu, tarif yang terjangkau membuat Biskita menjadi pilihan utama bagi banyak orang, terutama dibandingkan dengan transportasi umum lainnya. Biskita menerapkan mekanisme subsidi BTS (Buy The Service) yang dikelola oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan, dan diselenggarakan oleh operator PT Kodjari Tata Angkutan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan pemerintah.

Namun, saat ini layanan Biskita di semua koridor dihentikan sementara, mulai 1 Januari hingga masa evaluasi dan transisi selesai. Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor menjelaskan bahwa penghentian layanan ini disebabkan oleh perubahan kelembagaan yang mengelola Biskita di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebelumnya, BPTJ yang mengelola Biskita melalui program BTS, kini berubah menjadi Dirjen Integrasi Transportasi dan Multimedia.

Evaluasi terkait layanan Biskita di Kota Bogor terus berlanjut, dengan Pemkot Kota Bogor mengajukan surat kepada Kemenhub dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoinfra) untuk meminta subsidi dari Pemerintah Pusat, agar layanan Biskita dapat kembali beroperasi dengan normal. Tanpa subsidi, tarif yang harus dibayar masyarakat diperkirakan akan melebihi Rp10.000, yang tentu akan memberatkan pengguna, terutama pelajar dan mahasiswa yang sangat bergantung pada angkutan umum ini. Perubahan tarif Biskita yang semula gratis menjadi Rp4.000 sudah membuat nyaman para pengguna, karena perubahan tersebut semakin menambah keresahan di kalangan masyarakat. Ketidakpastian terkait kelangsungan operasional Biskita ini tentunya menyulitkan banyak pihak, mengingat pentingnya transportasi ini bagi aktivitas sehari-hari warga dan pelajar di Kota Bogor.

Oleh karena itu, diharapkan Pemerintah Pusat dapat lebih tegas dalam menentukan kebijakan terkait subsidi Biskita, agar proses ini tidak berlarut-larut dan memberikan kepastian bagi masyarakat. Biskita bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga menjadi sarana penting bagi wisatawan yang mengunjungi Kota Bogor. Jika subsidi dihentikan atau dikurangi, dampaknya bisa meluas, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi sektor pariwisata dan perekonomian Kota Bogor. Pemkot Kota Bogor seharusnya lebih aktif dalam mendesak Pemerintah Pusat untuk tidak hanya mempertahankan subsidi, tetapi juga meningkatkan kualitas dan cakupan layanan Biskita.

Selain menjamin subsidi yang memadai diharapkan Pemkot atau Dirjen Integrasi Transportasi dan Multimedia Kota Bogor dapat memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada masyarakat mengenai status kelanjutan layanan Biskita. Komunikasi yang transparan mengenai masa depan layanan, tarif, dan kemungkinan perubahan lainnya akan membantu mengurangi keresahan di kalangan pengguna.

Dengan adanya kebijakan yang lebih jelas dan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat, diharapkan operasional Biskita dapat terus berjalan lancar tanpa membebani masyarakat, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian dan pariwisata Kota Bogor.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Published

on

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)

Diam saja di sini bukan tidak ada kata-kata (selain dalil), seperti penjelasan, contoh, ijtihad dan pengkiasan suatu bahasan materi kajian, namun tidak memberikan solusi; diingatkan/diberitahu dengan kondisi negasinya sama saja, rakyat susah dan mengalami ekonomi miskin lagi fakir. Ingat pidato Prabowo, tentang mengedepankan para buruh dan pekerja kasar daripada mahasiswa kala itu dalam rangka memberi manfaat dalam kehidupan meski selang berapa bulan pejabat bahkan menterinya (MENKEU Sri Mulyani) rumahnya dijarah!

Setiap manusia yang membaca artikel ini tentu pernah mendengar perinahasa yang diajarkan saat kita masih kecil, bisa di sekolah TK, SD atau oleh ayah/ibu di yaitu rumah rajin pangkal pandai. Artinya ketelatenan akan mendatangkan hasil, termasuk dalam pengelolaan negara dan ketangkasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah seperti krisis.

Mengapa Wahabi? Adalah gerakan keagamaan yang masif mendakwahkan semangat pemurnian, secara esensi tidak ada menyangsikan, namun secara konsep tentu perlu dikaji ulang, terlebih dakwah dengan fasilitas ala modernitas berupa ideologi, sebab khususnya Wahabi meski telah berperan baik termasuk dalam menjaga kestabilan sosial dan keharmonisan masyarakat dalam naungan agama sesungguhnya pada sisi tertentu mengalami kebingungan sendiri. Kenapa? Berikut ulasan filosofisnya.

Paradoksal Islam Tradisional

Sadarkah kita, mereka yang mendakwahkan agama dengan semangat revivalis itu adalah mereka yang terdidik, meski “based on” TIMTENG, nyatanya mereka pendidikan mereka berjenjang, ada yang S1, S2 artinya mereka “well educated enough” sayangnya, ada “mis” di sana. Kalau mau jujur-jujuran, mereka kurang bersahabat dengan akar pendidikan sekaligus ibu keilmuan (“The Mother of Science”) yaitu Filsafat bahkan seringkali menyerang dan terhadapnya yang dinilai bukan produk luar agama cenderung tidak berakhlak.

Secara proaktif, Wahabi menutup (“cover“) rapat-rapat pintu ke sana seolah tidak ada kebaikan darinya sehingga dianggap tidak manfaat dan berbahaya. Padahal, secara semangat keduanya relaitif sama, sebab Filsafat, istilahnya saja dari “Philo“: cinta dan “Shofia” artinya ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, bahkan Shofia atau “Shofiyy” dalam bahasa Arab sendiri berarti murni. “Bukankah Wahabi juga punya semangat menuju agama atau Islam yang murni?”

Belajar dari Filsafat, menjembatani tradisional dengan medernitas, tantangannya adalah pada ranah ideologi. Contohnya bisa berupa kepentingan, pemahaman serta jalan (“sabiil“). Maka sekali lagi bukan ensensi baik Filsafat terlebih agama. Jika pada Filsafat dalam spesifikasi keilmuan dan Antrologi dan/ Ilmu Budaya bisa dilihat pada perhelatan budaya dalam berbagai festival. Bedanya, usaha produksi tradisi masa lalu ke zaman sekarang ala Wahabi menghadirkan ketenangan dan pengalaman spiritual yang dalam lagi penuh kemuliaan.

“Emang Masalah Apa?”

Pertanyaan ini bukan maksud menyindir atau nyinyir kepada mereka yang berniat baik dengan berkontribusi positif bagi negeri dengan kapasitasnya meski dalam relasi namun berada di luar lingkar kekuasaan. Wahabi adalah sebagai yang diakui bersama: penganut dan pemerhati adalah bersifat ideologis nampaknya penting memperhatikan esensi agama yang didakwahkan, seperti kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dan keadilan yang tentu tidak untuk dinafikan atau apatis dan berlepas diri sepenuhnya.

Beranjak dari sana dan berbagai asumsi lain yang relatif sama, selain berdo’a, celah yang dapat dimanfaatkan adalah ruang usaha (“Wus’a“). Harapannya realitas sebagaimana dalam pandangan Filsafat atau keilmuan umum berupa holistik dapat terakomodir setelah terdistorsi sedemikian rupa tentunya sebagaimana dalam konsekuensi rasional ideologi.

Dengan demikian, langkah dakwah para Wahabi dan para penerusnya bukan sekedar dakwah sebagai tanggung jawab keilmuan, namun juga kontribusi terhadap keilmuan yang telah memberi ruang bagi mereka dan menjadikan produknya yang berkesesuaian dengan ideologi bangsa Indonesia itu sendiri. Termasuk menghadapi kondisi ekonomi miskin seperti sekarang, sikap berupa usaha juga penting, termasuk perbaikan terhadap pengelola pemerintah dan pemangku kekuasaan negeri ini yang sedang mengalami ekonomi yang sulit ini.

Continue Reading

Trending