Opini
Behind Closed Doors: Modern Slavery in Australia
Published
1 year agoon
By
Mitra Wacana
Author: Sarah Crockett (Intern from Australia)
Australia has seen a rise in reports of modern slavery. Modern slavery reports in Australia increased by 12% in the last year, with 382 separate reports made to Australian officials. However, increased reporting may indicate better access and availability of reporting services rather than an increase in crime. It is believed that modern slavery continues to be underreported in Australia and operates as a sort of open secret. It is suspected that for every known or reported victim, there are four that go unreported. This is also considered to be a conservative estimate. This issue is not broadly discussed in Australia by the general public and attention must be given to this matter in order to facilitate change. This issue is of particular concern to Mitra Wacana as women and children are disproportionately affected by modern slavery.
Modern slavery is an umbrella term covering concepts like forced labor, debt bondage, forced marriage, slavery and trafficking. It is estimated that 41,000 men, women and children are currently living in situations that constitute modern slavery in Australia today. There is a belief that most modern slaves in Australia are forced laborers working on rural farms far outside of Australia’s large cities. However, this neglects to consider instances of forced marriage or domestic servitude and ignores that modern slavery exists throughout the country, and is not only relegated to distant areas.
A recent story brought home the idea that slavery still occurs in the city. Just two months ago, the Victorian police published a story about ‘Maria,’ an older woman found living on the streets who was discovered to be a victim of modern slavery. While Maria was able to receive resources and assistance, unfortunately this is not the common fate for victims. Police and other government bodies are not sufficiently trained in recognizing signs of modern slavery. There is a lack of understanding of what modern slavery looks like, and the inability of police and other officials to correctly identify instances of modern slavery compounds this issue.
There is also a cultural element that makes identification and intervention more difficult. Victims of modern slavery often come from diverse cultural backgrounds, and language barriers, fear of authority, and lack of knowledge about their rights in Australia further isolate them. Additionally, cultural stigma around issues like forced marriage or debt bondage may discourage victims from coming forward, especially if they feel pressured by their own communities to remain silent.
Moreover, industries such as agriculture, hospitality, and domestic work are particularly vulnerable to exploitation, as these sectors often rely on low-paid, casual, and migrant labor. Unscrupulous employers may take advantage of loopholes in visa systems or the desperation of undocumented workers to impose exploitative conditions. As long as these systemic vulnerabilities exist without sufficient oversight and enforcement, modern slavery will continue to thrive even within seemingly regulated sectors of the Australian economy.
Australia has attempted to combat issues of Australia, notably by introducing the Modern Slavery Act 2018. However, a review in 2023 found that there was ‘no hard evidence’ this updated law had precipitated any ‘meaningful change for people living in conditions of modern slavery.’ There is a lack of urgency in the drive of the Australian government to address and comprehensively deal with the issue of modern slavery.
Anti-Slavery Australia also compiles the stories of survivors. Victims of slavery are disproportionately foreigners. Often they will have their passports confiscated by would-be employers, preventing them from leaving. In other cases they will be prevented from renewing their visas or forced to overstay them, making them afraid to report their situation for fear of facing legal consequences or deportation.
Modern slavery is a global issue, trafficking involves the moving of people across borders, and many of those in situations of modern slavery will not be native citizens of the countries they find themselves in. Because of this, it is vital we work together to reduce the spread of modern slavery and use co-operation to combat this issue.
List of Sources
https://www.walkfree.org/what-is-modern-slavery/#:~:text=Modern%20slavery%20covers%20a%20set,commonalities%20across%20these%20legal%20concepts.
https://www.parliament.vic.gov.au/news/society/modern-slavery/
https://humanrights.gov.au/about/news/opinions/41000-urgent-priorities-our-new-anti-slavery-commissioner-has-tackle
https://www.walkfree.org/news/2025/modern-slavery-laws-in-the-uk-and-australia-are-failing-and-need-urgent-reform/
https://www.bbc.com/news/world-australia-36476191
You may like

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition

Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital

Mengkaji Legitimasi Teknokratis dan Klientelisme dalam Rekrutmen Pejabat Publik
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
6 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition






