Opini
LEKSIKON AKTIVITAS MEMASAK DALAM BAHASA MINANGKABAU
Published
1 year agoon
By
Mitra Wacana

Annisa Aulia Amanda (Aan) – Mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Andalas
Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Keberadaannya menjadi ciri identitas budaya seseorang. Dengan bahasa, seseorang dapat mengungkap maksud, gagasan atau ide kepada orang lain tanpa harus menunjukkan referensi dari hal yang ingin disampaikan. Seperti “aktivitas”, tanpa menunjukkan gestur kegiatan yang dilakukan, dengan bahasa dan konsep yang dimiliki sudah cukup memberikan informasi kepada orang lain. Misalnya aktivitas memasak, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memasak adalah ‘membuat (mengolah) penganan, makanan, gulai, dan sebagainya’. Namun tentu saja kata dan maknanya juga berbeda tergantung dengan budaya bahasa tersebut.
Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, hal ini merupakan warisan budaya yang menjadi identitas Bangsa Indonesia. Salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia dan masih dipelihara oleh penuturnya yaitu Bahasa Minangkabau. Walaupun keberadaan Bahasa Minangkabau masih terjaga, namun pendokumentasian Bahasa Minangkabau berupa kamus masih kurang optimal dan belum diperbarui, khususnya dalam kata-kata aktivitas memasak.
Jika dirujuk ke dalam Kamus Minangkabau-Indonesia (1985) belum ada definisi lengkap mengenai aktivitas memasak dan masih ada data-data yang belum dimasukkan. Kenyataan, data yang ditemukan menunjukkan bahwa Bahasa Minangkabau memiliki kata-kata tersendiri untuk aktivitas memasak. Seperti memasak menggunakan santan disebut dengan “manggulai”.
Leksikon atau kata untuk memasak dalam Bahasa Minangkabau ada banyak bentuk. Seperti yang ditemukan penulis, yaitu sebanyak 9 kata. Berikut penjabarannya terkait leksikon atau kata mengenai aktivitas memasak dalam Bahasa Minangkabau:
- Mananak
Leksikon “mananak” memiliki arti ‘memasak’. Leksikon ini berelasi dengan beras, biasanya dengan beras yang telah dicuci dan diberi air. “Mananak” atau disebut juga “batanak” berasal dari kata “tanak” berarti ‘masak/matang’ yang berkategori verba. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Alun mananak lai.
‘Belum memasak (nasi)’
- Maabuih
Leksikon “maabuih” memiliki arti yang sama dengan leksikon “merebus”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “merebus” berarti ‘memasak sesuatu dengan air atau memasak sesuatu dalam air mendidih’. “Maabuih” disebut juga dengan “abuih”, kata dasar yang berarti ‘rebus’. Kata ini berkategori verba. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Tolong abuih ai tu a!
‘Tolong rebus air itu’
- Manggulai
Leksikon “manggulai” memiliki arti ‘memasak’. Leksikon ini berelasi dengan santan sebagai bahan ketika memasak. “Manggulai” merupakan kata turunan dari kata “gulai” yaitu nomina berupa nama makanan berkuah santan. Sehingga “manggulai” merupakan aktivitas memasak membuat gulai. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Urang tu manggulai ma.
‘Orang itu sedang memasak (gulai)’
- Manyamba
Leksikon “manyamba” memiliki arti ‘memasak’. Leksikon ini berelasi dengan memasak dengan minyak. “Manyamba” merupakan kata turunan dari nomina “samba” yang berarti ‘lauk pauk’. Dalam pembicaraan dengan masyarakat lokal, “manyamba” lebih pada membuat makanan dengan cara menggoreng. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Manyamba inyo mah.
‘Dia memasak (menggoreng)’
- Malatua
Leksikon “malatua” memiliki arti ‘menumis’. Leksikon ini berelasi dengan minyak. Namun berbeda dengan “manyamba”, “malatua” lebih menggunakan sedikit minyak dan menggunakan sedikit air dalam memasak. Kata “malatua” juga merupakan kata turunan dari nomina “latua”, yang berarti ‘tumisan’. Sehingga “malatua” adalah aktivitas memasak yang menghasilkan makanan berupa tumisan. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Malatua rencana e bia lamak makan lalidi e.
‘Rencananya ingin menumis kangkung biar semakin enak ketika dimakan’
- Mamanggang
Leksikon “mamanggang” memiliki arti yang sama dengan leksikon “memanggang”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “memanggang” berarti ‘memasak (memanaskan) di atas bara api’. Sehingga “mamanggang” atau dalam kalimat imperatif “panggang” juga memiliki arti ‘memasak di atas bara api’. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Mamanggang a e tu?
‘Apa yang ia sedang panggang?’
- Maangekan
Leksikon “maangekan” memiliki arti ‘memanaskan’. Leksikon ini berelasi dengan memasak kembali. “Maangekan” menurut informan adalah aktivitas memasak yang terjadi pada makanan agar makanan itu tidak basi, sehingga tidak membuang-buang makanan. Kata ini merupakan turunan dari ajektiva “angek” yang berarti panas. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Inyo maaangekan gulai di dapua.
‘Dia sedang memanaskan (kembali) gulai di dapur’
- Mauwok
Leksikon “mauwok” memiliki arti ‘memasak’. Leksikon ini berelasi dengan proses memasak dan juga ‘mananak’. Menurut informan, “mauwok” adalah aktivitas memasak bersamaan dengan “mananak” sehingga ketika nasi matang, makanan yang dimasukkan ke dalamnya juga matang. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Mauwok tu biasonyo pakai kantang ko indak ubi.
‘Memasak (mauwok) biasanya menggunakan kentang atau ubi’
- Mangukuih
Leksikon “mangukuih” memiliki arti yang sama dengan leksikon “mengukus”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “mengukus” berarti ‘memasak (menanak dan sebagainya) dengan uap air yang mendidih’. “Mangukuih” berelasi dengan uap panas, memanfaatkan uap air yang panas dalam memasak makanan. Contoh kalimat yang menggunakan kata ini,
Mangukuih brownies bisa pulo tu ma ndak lapek se
‘Mengukus brownies juga bisa, tidak hanya lapek saja’
Berdasarkan hasil-hasil di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Bahasa Minangkabau memiliki berbagai leksikon untuk mewakilkan suatu aktivitas memasak. Ini menunjukkan bagaimana budaya Masyarakat Minangkabau tercermin dalam bahasa yang digunakannya. Seperti bagaimana tiap penggunaan bahan, medium, dan cara memasak akan diwakili oleh kata-kata yang berbeda juga. Contohnya manyamba tidak sama dengan malatua.
Namun sangat disayangkan, kamus Bahasa Minangkabau belum mencapai leksikon atau kata tersebut. Padahal Bahasa Minangkabau memiliki banyak sekali kosakata yang perlu didokumentasikan. Kondisi ini mengindikasikan agar kita semua perlu memperkaya dan mengembangkan kamus bahasa daerah masing-masing.
Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya yang mengandung nilai-nilai lokal yang mungkin saja bisa terhapus oleh waktu. Oleh karena itu, pengembangan kamus yang memuat leksikon yang lebih lengkap dan rinci, termasuk aspek keseharian seperti aktivitas memasak, menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan bahasa dan budaya daerah.
Padang, 28 April 2025
Opini
Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial
Published
2 days agoon
23 June 2026By
Mitra Wacana

Adela Damanik mahasiswi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Pada tanggal 20 Mei lalu, akun Instagram @ahmaddhaniofficial mendapatkan 700 lebih komentar buruk. Sebuah unggahan yang menampilkan Ahmad Dhani bersama istrinya saat menghadiri sebuah rapat dengan keterangan, “Barusan dengar pidato Presiden yang revolusioner soal menentukan sendiri harga sawit, batu bara, nikel, dan lain-lain. Slide 2 video colongan Raffi Ahmad,” dihujani komentar-komentar berupa opini, kritik pedas, hujatan, hingga kata-kata kasar yang ditujukan kepada Ahmad Dhani dan istrinya. Fenomena hate comment seperti ini sepertinya sudah dinormalisasikan di ruang digital kita.
Berdasarkan data Napoleon Cat pada Januari 2026, jumlah pengguna Instagram di Indonesia mencapai 121, 54 juta pengguna, atau setara dengan 42,4% dari total populasi penduduk Indonesia. Tingginya angka tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih berkomunikasi di dunia maya. Platform ini memang media yang mudah untuk berkomunikasi, berinteraksi, berekspresi, dan berkolaborasi, berbagi, menyampaikan pendapat atau kririk secara virtual (Aji, 2023). Kita dapat melontarkan apapun dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Namun, kemudahan ini justru membuat interaksi di dunia maya menjadi pisau bermata dua. Alih-alih membuat obrolan makin seru, komentar yang dilontarkan kerap memicu konflik.
Berlindung dibalik “kebebasan berpendapat” membuat membuat kita sebagai netizen sering sekali asal dalam berbicara. Netizen cenderung melontarkan komentar buruk kepada penerima tuturan tanpa memikirkan perasaan si penerima tuturan. Etika berbicara yang biasanya dijaga ketika berkomunikasi secara langsung, mendadak hilang saat jari mulai menari di atas layar gawai. Apabila hal terus dinormalisasikan, media sosial yang awalnya menjadi ruang interaksi yang sehat justru berbalik menjadi lingkungan toxic yang memudarkan kesantunan berbahasa.
Untungnya, persoalan ini dapat diatasi dengan sebuah ilmu bahasa, khususnya dalam kajian pragmatik. Ada satu teori yang menerapkan enam aturan dalam menjaga kesantunan berbahasa. Keenam aturan ini dirumuskan dalam teori prinsip kesantunan berbahasa Geoffrey Leech yang terdiri dari: maksim kearifan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, kemufakatan, dan kesimpatian.
Namun, teori tetaplah teori jika tidak dipraktikkan. Ratusan hate comment pada akun Instagram Ahmad Dhani tersebut bukan lagi sekadar kebebasan berekspresi, melainkan wujud nyata pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Lantas, seperti apa persisnya bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan netizen saat sedang memuaskan ego untuk mengkritik orang lain?
- Maksim Kearifan
Maksim kearifan dalam hal yang bersifat imposisi dan komisi, yang umumnya diterapkan dalam tindak tutur ilokusi direktif dan komisif. Prinsip ini meminimalkan beban atau kerugian bagi orang lain, serta memaksimalkan keuntungan atau manfaat bagi mitra tutur. Dalam kegiatan bertutur, maksim ini menuntut penutur untuk selalu mengurangi keuntungan diri sendiri demi memprioritaskan kenyamanan pihak lain. Pelanggaran maksim kearifan, yaitu peserta tutur memaksimalkan kerugian orang lain, atau meminimalkan keuntungan orang lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:
Aithoshoutai: “@secondrecht.catalogue dodol barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂” (Jual barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂)
Tuturan @aithoshoutai termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan kerugian orang lain. Maksud dari akun instagram @aithoshoutai adalah menyampaikan ketidaksetujuan dengan pendapat akun instagram @secondrecht.catalogue, tetapi tidak menggunakan bahasa yang tidak santun dan merugikan orang lain dengan menjelek-jelekkan jualan orang lain.
- Maksim Kedermawanan
Penutur meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Pelanggaran maksim kedermawanan, yaitu peserta pertuturan memaksimalkan atau memperbanyak keuntungan bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan bagi pihak lain. Namun, maksim kedermawanan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.
- Maksim Penghargaan
Penutur meminimalkan kritik/celaan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. Pelanggaran maksim penghargaan ini, yaitu tidak memberikan penghargaan pada pihak lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:
Zahra_store_pekalongan: “NGGAK PANTAS JADI ANGGOTA DPR. YG MILIH SOPO TO.” (Nggak pantas jadi anggota DPR. Yg milih siapa sih.)
Tuturan akun instagram @zahra_store_pekalongan termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan penghinaan terhadap pihak lain, yaitu Ahmad Dhani dan Mulan Jamela. Pengguna instagram tersebut secara tidak langsung ingin menyampaikan maksud bahwa Ahmad Dhani dan Mulan Jamela tidak bekerja dengan baik dengan menyampaikan penghinaan secara langsung melalui ungkapan “Nggak pantas jadi anggota DPR.”
- Maksim Kesederhanaan
Penutur yang santun meminimalkan pujian terhadap dirinya sendiri dan memaksimalkan celaan/kerendahan terhadap dirinya sendiri. Menyombongkan diri atau menyetujui pujian tentang diri sendiri dianggap tidak santun. Pelanggaran maksim ini yaitu peserta tutur tidak dapat bersikap rendah hati dengan cara menambah pujian terhadap dirinya sendiri. Namun, maksim kesederhanaan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.
- Maksim Kemufakatan
Penutur harus mengurangi ketidak sesuaian antara diri sendiri dengan orang lain, dan tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Pelanggaran maksim ini yaitu penutur dan lawan tutur meminimalkan kesetujuan di antara mereka, dan memaksimalkan ketidaksetujuan di antara mereka.
Secondrecht.catalogue: “Revolusioner ndasmu 😂.” (Revolusioner mulutmu 😂.)
Tuturan akun instagram @secondrecht.catalogue termasuk pelanggaran maksim kemufakatan karena memaksimalkan perbedaan pendapat dan meminimalkan kesetujuan yang sesuai dengan konteks postingan. Pengguna instagram tesebut secara tidak langsung menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pidato presiden mengenai revolusioner melalui ungkapan “Ndasmu,” di mana kata ndasmu merupakan bahasa kasar dari Bahasa Jawa yang memiliki artimu mulutmu.
- Maksim kesimpatian
Maksim kesimpatian mengharuskan semua peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Pelanggaran maksim ini, yaitu peserta pertuturan tidak memaksimalkan rasa simpati, dan tidak meminimalkan rasa antipasti kepada lawan tuturnya.
Muh.philow2020: “Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.” (Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.)
Tuturan akun instagram @muh.philow2020 termasuk pelanggaran maksim kesimpatian karena meminimalkan simpati dan memaksimalkan antipati. Pengguna instagram menggunaakan bahasa yang tidak santun dengan menyebutkan Jin Kampret dan Jin Dasim sebagai Ahmad Dhani dan Mulan Jameela. Penutur menyampaikan ketidaksukaannya terhadap orang lain dengan menamai manusia sebagai jin. Padahal unggahan akun @ahmaddhaniofficial tidak ada yang salah, hanya mengunggah foto ia bersama sang istri pada slide pertama dan keadaan ruang sidang pada slide kedua.
Pada akhirnya, ratusan komentar negatif di akun @ahmaddhaniofficial membuktikan bahwa netizen Indoensia memang sedang mengalami krisis kesantunan yang cukup parah. Melalui teori Geoffrey Leech, terbukti bahwa banyak netizen secara sadar maupun tidak sadar telah melanggar maksim kearifan, penghargaan, kemufakatan, hingga kesimpatian. Alih-alih meredam ego, pengguna media sosial justru sering kali memaksimalkan celaan dan antipati terhadap orang lain dengan berlindung di balik “kebebasan berpendapat“. Oleh karena itu, masyarakat harus kembali menerapkan etika berbahasa dunia nyata ke dalam interaksi dunia maya, agar kebebasan berpendapat tidak terus-menerus disalahartikan sebagai kebebasan untuk saling menghujat.

Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial

Mandi Untuk Menjaga Atau Merusak Skin Barrier? Evaluasi Dan Jaga Skin Barrier





