Opini
Dari Kata ke Nada: Spontanitas Pendendang dalam Saluang Dendang
Published
7 months agoon
By
Mitra Wacana

Fatin Fashahah
mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Andalas
Bayangkan ketika ucapan biasa tiba-tiba menjelma menjadi sebuah syair yang tercipta tanpa naskah dan persiapan. Mengalun seirama dengan tiupan saluang yang mendayu, hingga menjadi sebuah penampilan yang unik dan menghibur namun tidak bisa diulang kembali secara identik. Itulah sebuah keajaiban yang terjadi dalam salah satu seni pertunjukan sastra lisan Minangkabau yang disebut sebagai Saluang Dendang.
Saluang Dendang merupakan seni pertunjukan sastra lisan yang menggunakan alat musik saluang untuk mengiringi vokal pendendang. Saluang merupakan alat musik tiup yang yang terbuat dari bambu dan mempunyai lubang sebagai penghasil nada. Saluang dimainkan oleh seseorang yang disebut sebagai tukang saluang. Kesenian Saluang Dendang biasanya dipertunjukkan dalam acara hiburan masyarakat seperti pernikahan, acara adat dan penggalangan dana. Pertunjukan ini bisa dilaksanakan pada siang ataupun malam hari tergantung dari konteks kegiatannya (Nofroza Yelli, 2018).
Hal yang membuat pertunjukan Saluang Dendang istimewa tidak hanya dilihat dari permainan saluang-nya yang mendayu tetapi juga dari kemampuan sang pendendang dalam merangkai kata secara spontan menjadi sebuah syair yang bermakna. Misalnya, saat ada yang meminta untuk menjadikan khalayak penonton sebagai bagian dari syair yang sedang diucapkan oleh pendendang. Tanpa berpikir lama, pendendang dengan sigap langsung menyusun bait-bait syair yang sesuai denga apa yang diminta, penyampaiannya juga disertai dengan makna dan emosi. Syairnya seakan mengalir begitu saja, seirama dengan tiupan saluang seolah sudah dipersiapkan sebelumnya.
Kemampuan sang pendendang dalam menciptakan bait-bait syair dengan waktu yang singkat bukanlah hal yang mudah, diperlukan kecepatan berpikir, penguasaan bahasa yang baik, serta pemahaman mendalam terhadap irama dan struktur syair Minangkabau yang akan disampaikan. Pendendang harus bisa menyelaraskan antara isi syair, nada saluang, dan suasana hati penontonnya. Tentunya kemampuan ini merupakan bakat yang mengagumkan karena tidak ada pengulangan jika pendendang salah mengucapkan kata, disebabkan semuanya terjadi secara langsung.
Spontanitas pendendang ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan Saluang Dendang adalah tradisi yang hidup. Ia tidak kaku ataupun terjebak dalam pola lama, tetapi terus bergerak mengikuti suasana dan permintaan dari penontonnya. Seni pertunjukan ini juga menunjukkan kemampuan improvisasi, interaksi, bahkan hiburan yang spontan. Ketika pendendang mampu merespon ucapan penonton dan mengubahnya menjadi bagian dari pertunjukan, itu menandakan adanya hubungan aktif antara pelaku seni dan penikmatnya.
Seni pertunjukan Saluang Dendang lebih dari sekedar hiburan biasa. Pertunjukan ini menunjukkan tingginya daya kreativitas pendendang dalam menghasilkan syair dalam waktu yang terbilang singkat. Setiap bait syair yang lahir dari mulut pendendang merupakan hasil dari kerja pikiran dan kemampuan rasa yang sudah terlatih, pendendang bukan sekedar menghafal atau mengulang syair lama saja.
Dibalik keindahan dan keunikan pertunjukan Saluang Dendang terdapat kekayaan budaya yang perlu terus dijaga. Pertunjukan Saluang Dendang adalah salah satu warisan budaya Minangkabau yang merekam cara orang Minangkabau berpikir, merasa, dan menyampaikan pesan dengan menarik. Kemampuan pendendang dalam menciptakan syair secara langsung merupakan bagian dari kecerdasan dan keunikan Saluang Dendang yang belum tentu dimiliki oleh seni pertunjukan Minangkabau lainnya.
Namun, sayangnya tidak banyak generasi muda yang mengetahui bagaimana proses kreatif dalam pertunjukan Saluang Dendang itu terjadi. Beberapa mungkin hanya melihatnya sebagai seni pertunjukan tradisional yang menghibur, tanpa menyadari bahwa ada keterampilan khusus yang harus dimiliki seorang pendendang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menghargai proses kreatif dalam pertunjukan Saluang Dendang, terutama spontanitas penuh perasaan yang menjadi jantung pertunjukannya.
Saluang Dendang bukan hanya sekedar pertunjukan tradisional. Ia adalah bentuk sastra lisan yang dinamis, di mana kata biasa bisa berubah menjadi bait-bait syair dalam sekejap. Spontanitas pendendang adalah bukti betapa kayanya budaya Minangkabau dalam merawat keindahan, kreativitas, dan kecerdasan emosional melalui seni pertunjukan sastra lisan. Ketika sebuah ucapan bisa menjadi dendang hanya dalam waktu singkat, kita bukan hanya sedang menyaksikan pertunjukan seni tetapi juga menyaksikan keajaiban kata.
You may like
Opini
Merevolusi Cara Kita Melihat Tugas Kuliah
Published
3 weeks agoon
29 December 2025By
Mitra Wacana

Nurisa Cahya Artika Farah,Mahasiswi semester 3 Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta.
Di dunia perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Salah satu tantangan tersebut adalah tugas kuliah yang diberikan oleh dosen sebagai proses pembelajaran. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa justru menganggap tugas kuliah sebagai beban yang membebani pikiran. Mahasiswa lebih fokus pada nilai akhir ketimbang proses belajar yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Fenomena ini menjadi gambaran bahwa sebagian mahasiswa masih memandang tugas secara sempit, tanpa menyadari bahwa melalui tugas inilah kemampuan berpikir kritis serta tanggung jawab perkuliahan dapat terasah.
Banyak kalangan mahasiswa mengeluh akan tugas kuliah yang diberikan, mereka memandangnya sebagai beban yang menumpuk dan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai, bukan proses pembelajaran. Hal ini membuat motivasi belajar menurun yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti kurangnya minat, kesulitan konsentrasi, masalah pribadi, maupun kualitas hasil tugas yang tidak mencerminkan pemahaman sebenarnya. Padahal, esensi pendidikan tinggi bukan sebatas mengerjakan tugas, namun membangun cara berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Karena itu, saatnya mahasiswa merevolusi cara pandang terhadap tugas yang dianggap beban menjadi proses pembelajaran yang bermakna.
Perkuliahan mahasiswa sebenarnya tidak hanya belajar dari penjelasan dosen, tetapi juga dari proses mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari individu berdasarkan pengalaman dan pemahaman. Seperti halnya dalam pemberian tugas kuliah ini mahasiswa tidak hanya menerima ilmu dari dosen, tetapi juga membentuk pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar sebelumnya. Dalam konteks ini, tugas kuliah bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Misalnya, ketika mahasiswa diminta menulis esai, mereka tidak hanya terpaku dengan teori yang sudah ada, tetapi juga menyusun gagasan atau ide pribadi berdasarkan pemahaman konseptual dan berpikir kritis. Dengan demikian, tugas menjadi penghubung antara pengetahuan dan penerapan.
Namun, faktanya di lapangan masih banyak mahasiswa yang memandang tugas sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk semata-mata demi nilai. Hal ini sejalan dengan rendahnya motivasi dalam diri berdasarkan teori Self-Determination. Mahasiswa akan termotivasi jika memiliki kebebasan pilihan dalam menyelesaikan tugas (autonomi), merasa mampu mengerjakan (kompetensi), dan merasa bahwa tugas memiliki hubungan dengan kehidupan mereka (keterhubungan). Dengan demikian, ketika diberi tugas yang memberikan kebebasan, kemampuan, serta keterhubungan, mahasiswa akan melihat tugas bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri.
Selain itu, konsep belajar bermakna dari David Ausubel juga relevan dalam konteks ini. Dalam perkuliahan, hal ini berarti tugas yang diberikan seharusnya berasal dari struktur pemikiran yang telah dimiliki mahasiswa. Misalnya, tugas proyek yang menuntut mahasiswa mengaitkan teori dengan pengalaman pribadi. Ketika mahasiswa menemukan keterkaitan tersebut, proses belajar menjadi bermakna. Mereka tidak sedang mengerjakan tugas dosen melainkan sedang menemukan diri dalam proses pembelajaran.
Pandangan teori humanistik juga memperkuat gagasan ini. Dalam pandangan ini, mahasiswa dipandang sebagai individu yang unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tugas kuliah, seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan mengembangkan potensi secara utuh. Tugas tidak hanya mengukur hasil akhir berupa angka, tetapi juga menilai proses berpikir, kreativitas, den refleksi diri mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, saya kerap melihat beberapa mahasiswa bahwa tugas baru benar-benar dipahami maknanya setelah dikerjakan, bukan saat materi disampaikan oleh dosen. Dari tugaslah mahasiswa belajar berpikir kritis, mampu mengelola waktu, dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kuliah sejatinya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa, asalkan dipahami dan dijalani dengan cara pandang yang tepat.
Masalahnya sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil bukan proses. Banyak mahasiswa mengerjakan tugas hanya untuk mendapatkan nilai bukan karena ingin memahami makna apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Merevolusi cara pandang terhadap tugas kuliah berarti menempatkan kembali tugas sebagai bagian dari proses pembelajaran bukan sebagai beban mahasiswa. Ketika mahasiswa mulai melihat tugas sebagai ruang pengembangan diri mereka akan lebih bersemangat, produktif, dan berdaya saing. Tak hanya mahasiswa, dosen pun akan lebih mudah menilai kualitas pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, revolusi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil belajar, tetapi juga membentuk generasi mahasiswa yang berpikir kritis, reflektif, dan siap menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Hal yang paling berharga dari tugas kuliah bukan hanya tentang nilai yang berupa angka melainkan proses belajar yang akan menambah pemahaman.







