web analytics
Connect with us

Opini

Dari Ruang Ilmu ke Ruang Isu: Pelecehan dan Penghakiman Semu

Published

on

Perguruan tinggi sebagai tempat menuntut ilmu paling tinggi terdiri dari banyak jajaran yang terdiri mulai dari mahasiswa hingga para pengurus kampus, tempat dimana integritas sangat diperhatikan membuat tekanan terasa berat dikarenakan semua tindakan yang dilakukan akan sangat diperhatikan dan dicari celah keburukannya. Kita memulai tulisan ini dengan sebuah cerita tentang seorang yang akhirnya berhasil mendapatkan jabatan Ketua BEM yang sudah sejak lama ia inginkan, kini ia akan memulai kisahnya dan akan berusaha untuk menjalankan kewajiban dan program-program yang telah lama ia rencanakan. Akan tetapi pada suatu hari terdapat seorang wanita yang menyatakan perasaannya terhadap Ketua BEM ini, sang ketua yang sedang terfokus dengan jabatan barunya itu menolak perasaan si wanita karena ia merasa tidak bisa membagi prioritas dengan jabatan barunya itu.

Sang wanita yang merasa dipermalukan akhirnya mengatakan di media sosial bahwa ia telah dilecehkan oleh sang ketua, tidak butuh lama hingga akhirnya sang ketua dipanggil di forum mahasiswa yang dilaksanakan pada tengah malam menjelang subuh seperti biasanya itu. Di forum itu sang ketua dicear habis-habisan yang pada akhirnya hanya memberikan kesempatan bagi dia untuk meminta maaf untuk hal yang mungkin bukan sepenuhnya salah dia. Tidak menunggu lama hingga akhirnya jajaran universitas mengetahui terkait insiden ini hingga akhirnya memberikan surat keputusan untuk memberhentikan sementara kegiatan perkuliahan si ketua ini yang otomatis pun membuat ia lengser dari jabatannya. Amarah publik pun mereda, dan pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bertanya apakah korban benar-benar dilecehkan atau tidak karena publik telah kembali pada urusannya masing-masing.

Siklus yang sama telah penulis perhatikan dalam kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan universitas Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Siklus dimana kasus pelecehan seksual dijadikan sebagai sarana penghakiman publik dan pelampiasan publik untuk sekedar ikut mengecam tanpa benar-benar peduli pada kasus yang terjadi. Disini bukannya penulis tidak simpati terhadap kesadaran akan pelecehan seksual, tapi dari yang penulis lihat ialah bahwa mayoritas kasus pelecehan seksual yang ada selalu melibatkan pelaku dan korban yang sama-sama memberikan consent pada saat pelecehan itu terjadi sehingga yang membuat itu menjadi masalah adalah ketika di masa depan tumbuh konflik pribadi antara korban dan pelaku. Banyak hal yang bisa terjadi mulai dari alasan simpel sebagai putus cinta hingga alasan-alasan politis yang memang berakhir dapat mempermalukan satu atau dua pihak secara publik. Pada akhirnya, dalam suatu kesempatan memang ada kasus pelecehan seksual dimana pelaku memberi ancaman atau paksaan terhadap korban yang memang memerlukan tindakan penanganan dari pihak universitas.

Pelecehan seksual memang bukan hal yang tidak dapat disepelekan karena hal tersebut jelas bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Namun terkadang atau seringkali pelecehan seksual seringkali dijadikan alat politik untuk menjatuhkan orang dari jabatan ataupun gelarnya, belum lagi asumsi bola liar dari publik yang terkadang menyeret hal-hal yang tidak penting kedalam kasus. Hal tersebut ibarat berusaha untuk menebang satu pohon di hutan dengan cara membakarnya, karena lambat laun pasti ada pohon lain atau mungkin binatang yang ikut terbakar juga oleh api yang terhembus oleh angin. Perlu suatu kedewasaan dan sebuah kebijaksanaan dari orang-orang di lingkungan universitas dalam menyikapi kasus yang ada agar pada akhirnya tidak menghilangkan hal-hal baik yang melekat pada kasus pelecehan seksual.

Pada akhirnya lingkungan universitas juga memegang sedikit peranan terkait mengapa bisa lahir kasus pelecehan seksual. Universitas pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan lingkungan di perkantoran ataupun di pemerintahan dimana ekspetasi dan tekanan terhadap orang-orang didalamnya jelas besar bahkan untuk sekedar mahasiswa biasa, sehingga semakin tinggi posisinya jelas anginnya akan semakin kencang dan jatuhnya pun akan semakin sakit. Dalam beberapa kesempatan yang menjadi hambatan bukanlah angin topan yang menerjang selama 1 bulan sekali melainkan angin sepoi-sepoi yang konsisten meniup kitalah yang terkadang membuat kita jatuh. Sehingga tidak jarang yang berawal dari rumor semata dapat menjadi sebuah kasus yang mendapat perhatian publik.

Pesan penulis terhadap publik ialah agar dapat lebih diperhatikan lagi mengenai bagaimana kita menanggapi kasus pelecehan seksual yang berkembang di masyarakat. Juga jangan menjadikan kasus yang berkembang sebagai sarana pelampiasan di media digital untuk kita menghakimi dan mencecar pihak yang terlibat dalam kasus, apalagi jika sebenarnya kita pun masih membicarakan mengenai keindahan tubuh yang dimiliki oleh rekan atau dosen pria atau wanita di sekitar kita baik di tongkrongan ataupun di ruang chat yang membuat kita yang menghakimi pun mungkin tidak ada bedanya dengan yang sedang kita hakimi. Sikapi kasus yang ada dengan dewasa dan mulai berhati-hati dalam membuat asumsi karena apabila terdapat bola liar asumsi yang salah mengenai target maka tentu yang dirugikan juga publik. Mulailah bijak dalam menanggapi narasi-narasi yang beredar dan juga belajar untuk membedakan antara yang baik dan buruk dalam setiap kejadian yang ada.

Pada akhirnya, disini penulis menekankan bahwa tulisan ini bukanlah bentuk pembelaan terhadap pelaku pelecehan seksual melainkan merupakan sebuah kritik terhadap publik terkait bagaimana menyikapi kasus pelecehan seksual yang muncul di publik. Harapan kedepannya adalah tentu agar kasus-kasus seperti ini dapat berkurang atau menghilang walaupun harapan yang terdengar lebih realistis ialah agar semoga kedepannya kasus-kasus yang berkembang di publik dapat lebih dicermati lebih baik dan lebih berfokus pada teknis yang mengurus terkait tanggung jawab dan tindakan penanganan dibanding menjadikan kasus sebagai bahan tontonan dalam waktu yang lama hingga amarah publik reda.

Zahid Fatiha
Mahasiswa tahun terakhir dan pengamat kegiatan mahasiswa

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri

Published

on

Sumber foto: Freepik

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia

Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”

Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”

Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.

Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.

Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.

Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?

Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.

Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang  yang akhirnya memilih lari ke dunia maya—  sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.

Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.

Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.

Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?

Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.

Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh. 

Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda. 

Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.

​Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.

Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.

Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.

 

REFERENSI

Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).

Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.

Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending