Opini
Dari Ruang Ilmu ke Ruang Isu: Pelecehan dan Penghakiman Semu
Published
2 hours agoon
By
Mitra Wacana
Perguruan tinggi sebagai tempat menuntut ilmu paling tinggi terdiri dari banyak jajaran yang terdiri mulai dari mahasiswa hingga para pengurus kampus, tempat dimana integritas sangat diperhatikan membuat tekanan terasa berat dikarenakan semua tindakan yang dilakukan akan sangat diperhatikan dan dicari celah keburukannya. Kita memulai tulisan ini dengan sebuah cerita tentang seorang yang akhirnya berhasil mendapatkan jabatan Ketua BEM yang sudah sejak lama ia inginkan, kini ia akan memulai kisahnya dan akan berusaha untuk menjalankan kewajiban dan program-program yang telah lama ia rencanakan. Akan tetapi pada suatu hari terdapat seorang wanita yang menyatakan perasaannya terhadap Ketua BEM ini, sang ketua yang sedang terfokus dengan jabatan barunya itu menolak perasaan si wanita karena ia merasa tidak bisa membagi prioritas dengan jabatan barunya itu.
Sang wanita yang merasa dipermalukan akhirnya mengatakan di media sosial bahwa ia telah dilecehkan oleh sang ketua, tidak butuh lama hingga akhirnya sang ketua dipanggil di forum mahasiswa yang dilaksanakan pada tengah malam menjelang subuh seperti biasanya itu. Di forum itu sang ketua dicear habis-habisan yang pada akhirnya hanya memberikan kesempatan bagi dia untuk meminta maaf untuk hal yang mungkin bukan sepenuhnya salah dia. Tidak menunggu lama hingga akhirnya jajaran universitas mengetahui terkait insiden ini hingga akhirnya memberikan surat keputusan untuk memberhentikan sementara kegiatan perkuliahan si ketua ini yang otomatis pun membuat ia lengser dari jabatannya. Amarah publik pun mereda, dan pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bertanya apakah korban benar-benar dilecehkan atau tidak karena publik telah kembali pada urusannya masing-masing.
Siklus yang sama telah penulis perhatikan dalam kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan universitas Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Siklus dimana kasus pelecehan seksual dijadikan sebagai sarana penghakiman publik dan pelampiasan publik untuk sekedar ikut mengecam tanpa benar-benar peduli pada kasus yang terjadi. Disini bukannya penulis tidak simpati terhadap kesadaran akan pelecehan seksual, tapi dari yang penulis lihat ialah bahwa mayoritas kasus pelecehan seksual yang ada selalu melibatkan pelaku dan korban yang sama-sama memberikan consent pada saat pelecehan itu terjadi sehingga yang membuat itu menjadi masalah adalah ketika di masa depan tumbuh konflik pribadi antara korban dan pelaku. Banyak hal yang bisa terjadi mulai dari alasan simpel sebagai putus cinta hingga alasan-alasan politis yang memang berakhir dapat mempermalukan satu atau dua pihak secara publik. Pada akhirnya, dalam suatu kesempatan memang ada kasus pelecehan seksual dimana pelaku memberi ancaman atau paksaan terhadap korban yang memang memerlukan tindakan penanganan dari pihak universitas.
Pelecehan seksual memang bukan hal yang tidak dapat disepelekan karena hal tersebut jelas bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Namun terkadang atau seringkali pelecehan seksual seringkali dijadikan alat politik untuk menjatuhkan orang dari jabatan ataupun gelarnya, belum lagi asumsi bola liar dari publik yang terkadang menyeret hal-hal yang tidak penting kedalam kasus. Hal tersebut ibarat berusaha untuk menebang satu pohon di hutan dengan cara membakarnya, karena lambat laun pasti ada pohon lain atau mungkin binatang yang ikut terbakar juga oleh api yang terhembus oleh angin. Perlu suatu kedewasaan dan sebuah kebijaksanaan dari orang-orang di lingkungan universitas dalam menyikapi kasus yang ada agar pada akhirnya tidak menghilangkan hal-hal baik yang melekat pada kasus pelecehan seksual.
Pada akhirnya lingkungan universitas juga memegang sedikit peranan terkait mengapa bisa lahir kasus pelecehan seksual. Universitas pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan lingkungan di perkantoran ataupun di pemerintahan dimana ekspetasi dan tekanan terhadap orang-orang didalamnya jelas besar bahkan untuk sekedar mahasiswa biasa, sehingga semakin tinggi posisinya jelas anginnya akan semakin kencang dan jatuhnya pun akan semakin sakit. Dalam beberapa kesempatan yang menjadi hambatan bukanlah angin topan yang menerjang selama 1 bulan sekali melainkan angin sepoi-sepoi yang konsisten meniup kitalah yang terkadang membuat kita jatuh. Sehingga tidak jarang yang berawal dari rumor semata dapat menjadi sebuah kasus yang mendapat perhatian publik.
Pesan penulis terhadap publik ialah agar dapat lebih diperhatikan lagi mengenai bagaimana kita menanggapi kasus pelecehan seksual yang berkembang di masyarakat. Juga jangan menjadikan kasus yang berkembang sebagai sarana pelampiasan di media digital untuk kita menghakimi dan mencecar pihak yang terlibat dalam kasus, apalagi jika sebenarnya kita pun masih membicarakan mengenai keindahan tubuh yang dimiliki oleh rekan atau dosen pria atau wanita di sekitar kita baik di tongkrongan ataupun di ruang chat yang membuat kita yang menghakimi pun mungkin tidak ada bedanya dengan yang sedang kita hakimi. Sikapi kasus yang ada dengan dewasa dan mulai berhati-hati dalam membuat asumsi karena apabila terdapat bola liar asumsi yang salah mengenai target maka tentu yang dirugikan juga publik. Mulailah bijak dalam menanggapi narasi-narasi yang beredar dan juga belajar untuk membedakan antara yang baik dan buruk dalam setiap kejadian yang ada.
Pada akhirnya, disini penulis menekankan bahwa tulisan ini bukanlah bentuk pembelaan terhadap pelaku pelecehan seksual melainkan merupakan sebuah kritik terhadap publik terkait bagaimana menyikapi kasus pelecehan seksual yang muncul di publik. Harapan kedepannya adalah tentu agar kasus-kasus seperti ini dapat berkurang atau menghilang walaupun harapan yang terdengar lebih realistis ialah agar semoga kedepannya kasus-kasus yang berkembang di publik dapat lebih dicermati lebih baik dan lebih berfokus pada teknis yang mengurus terkait tanggung jawab dan tindakan penanganan dibanding menjadikan kasus sebagai bahan tontonan dalam waktu yang lama hingga amarah publik reda.
Zahid Fatiha
Mahasiswa tahun terakhir dan pengamat kegiatan mahasiswa
You may like
Opini
BALAIRUNG RONA JELITA DAN LENGARA YANG BERUMAH
Published
1 week agoon
15 April 2026By
Mitra Wacana

Namira Khasna Yuni Asti Azka
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dam Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta
“Saya malu punya anak seperti kamu!”
Dia berdiri di ambang pintu kamarku. Mengatakannya begitu saja dengan gamblang di sela-sela diamku yang belum genap semalam. Cukup menginterupsi hingga nafasku tercekat. Seolah ada seutas simpul yang mengikat paksa dibelakang tenguk, kepalaku terasa kencang sekali. Badanku gemetar hebat, rasanya seperti duniaku runtuh begitu saja. Aku tak menjawab. Perempuan yang sejak 18 tahun lalu kupanggil mama itu masih juga berdiri di sana.
“Seperti anak tidak punya adab.” Lanjutnya.
Aku masih tak menjawab dan memilih mengalihkan pandangan ke gantungan hijab di balik pintu, menatap susunan kain warna-warni yang tak terlalu rapi itu supaya tak menatap wajahnya. Aku mati-matian menahan agar air mataku tak lolos begitu saja. Mataku sudah panas, pelupuk mataku sudah terasa buram.
“Minta maaf sama Bapak.”
Setelahnya ia pergi tanpa menutup pintu kamarku lagi. Aku berpindah ke belakang pintu, mengganjalnya agar tak ada yang memasuki kamarku lagi. Aku menangis di balik pintu. Aku ingat hari itu aku melewatkan kelas online begitu saja. Tak ada orang lain yang aku hubungi setelah itu. Untuk pertama kalinya siang itu, aku merasa benar-benar tercerabut dari diriku sendiri. Seolah-olah ada versi lain dari aku yang berdiri di sudut kamar, menatapku yang terduduk di lantai dengan mata sembap dan bertanya pelan,
“Jika rumah saja tidak percaya, ke mana lagi kaki ini harus pulang?”
Aku menyadari bahwa di luar sana, dunia masih terus berjalan seperti seharusnya. Suara kendaraan tetap melintas, azan tetap berkumandang, ada pula langkah kaki tegap para petani yang pulang dari ladang. Dunia tidak berhenti hanya karena satu anak perempuan kehilangan tempatnya untuk dipercaya. Barangkali memang begitu cara lenggara menetap tanpa merobohkan atap, tanpa memadamkan lampu, kemudian ia hanya menggeser sedikit rasa aman sampai yang tersisa hanyalah tubuh yang masih hidup tapi tak lagi merasa berumah.
Dari luar, rumah ini tidak pernah tampak seperti rumah yang menyimpan sengkarut. Lantai semennya dingin dan temboknya masih kasar di beberapa bagian, ketika hujan menyerap air dengan sempurna. Namun sejujurnya, terlihat cukup hangat karena di dalamnya penuh orang-orang religius yang haus berdoa. Di halaman depan, berjajar rapi puluhan tanaman dalam pot yang disusun Mama dengan telaten. Ada juga beberapa jenis tanaman merambat yang selalu mendapat pujian dari siapapun yang singgah. Sungguh, balairung yang jelita hingga nyaris tak ada yang melihat bagaimana lenggara memilih berumah di sudut ruangan yang dingin di antara doa-doa khusuk yang mengalun setiap hari. Aku lah sang lenggara.
Aku tak pernah meminta maaf untuk apapun atas hari itu. Hatiku mengeras bak tanah liat yang dijemur matahari. Sesuatu dalam diriku bersikeras mengatakan untuk tidak perlu mengucapkan kata itu padanya. Sejak saat itu pula aku berhenti untuk memanggilnya dengan sebutan Bapak. Perubahan itu tak pernah diumumkan, bahkan kami sudah tak memiliki perdebatan lain yang berarti. Jika butuh bicara, sebisa mungkin aku menghindari panggilan itu.
Kemudian semuanya berjalan lagi seperti biasa. Aku bangun tak terlalu pagi karena selalu terjaga setiap malam, melihat pintu kamarku yang tak memiliki kunci dengan rasa yang tidak aman. Mama dengan kesehariannya yang monoton, para petani juga masih berjalan dengan kaki telanjang mereka setiap pagi. Kadang, langkah kaki itu yang membangunkanku.
Waktu berlalu dewasa, aku mengambil keputusan untuk keluar dan hanya kembali sesekali. Keputusan itu bukanlah hasil dari keberanian yang padu, melainkan akibat dari rasa lelah yang terkumpul perlahan hingga tak mampu kutahan lagi. Aku pergi tanpa benar-benar pergi, masih meninggalkan jejak-jejak kecil yang kadang-kadang membawaku kembali. Setiap kali aku kembali, aku selalu membawa versi diriku yang lebih sepi, yang telah belajar untuk tidak menaruh harapan berlebihan, agar rasa sakit yang dirasakan tidak terlalu dalam.
Di sudut hati kecilku yang tak pernah memberi ruang untuk permintaan maaf, kasih sayangku kepada Mama tetap terjaga. Aku memilih untuk meyakini bahwa di waktu itu ia belum sepenuhnya memahami segalanya meskipun ada sisi lain dalam diriku yang menyadari bahwa mungkin hingga kini pun tak ada yang berbeda. Walau begitu, aku merasa tidak perlu lagi menjelaskan kondisiku. Ada hal-hal yang bila terus dipaksakan untuk dipahami, justru akan kehilangan arti aslinya. Aku tidak ingin lagi kehilangan diriku hanya untuk memastikan bahwa seseorang yang seharusnya memahami dan bisa diminta untuk melakukannya.

Sosialisasi Hak Anak Digencarkan, DPRD dan DP3AP2 DIY Turun ke Kelurahan

Dari Ruang Ilmu ke Ruang Isu: Pelecehan dan Penghakiman Semu

Disahkan di Hari Kartini, UU PPRT Jadi Tonggak Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Merajut Perdamaian dari Akar Rumput: AFSC dan YKPI Apresiasi Dampak Program Mitra Wacana di Baciro

Disahkan di Hari Kartini, UU PPRT Jadi Tonggak Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Mitra Wacana Terlibat dalam FGD untuk Mengkaji Pencegahan dan Penanganan Pornografi pada Perempuan dan Anak bersama Biro Kesejahteraan Setda DIY
Trending
Berita5 hours agoMerajut Perdamaian dari Akar Rumput: AFSC dan YKPI Apresiasi Dampak Program Mitra Wacana di Baciro
Berita4 hours agoDisahkan di Hari Kartini, UU PPRT Jadi Tonggak Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Berita10 hours agoMitra Wacana Terlibat dalam FGD untuk Mengkaji Pencegahan dan Penanganan Pornografi pada Perempuan dan Anak bersama Biro Kesejahteraan Setda DIY
Berita18 minutes agoSosialisasi Hak Anak Digencarkan, DPRD dan DP3AP2 DIY Turun ke Kelurahan







