web analytics
Connect with us

Opini

Jadi Diri Sendiri : Kunci Mengatasi FOMO dan Menghadapi Trend dengan Bijak

Published

on

Sumber gambar: Freepik

 

Kharisma Miftha
Mahasiswa Manajemen Administrasi Universitas Sebelas Maret

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah kemajuan internet dan digital, kita telah menjadi sangat terbiasa dengan teknologi yang semakin Canggih. Terutama, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Dari Media sosial tersebut, kita sering kali merasa tertarik dan terpaku pada apa yang dilakukan oleh teman, keluarga,bahkan orang asing sekalipun. Ini memberikan dampak yang buruk bagi diri kita seperti munculnya rasa takut ketinggalan atau bisa dikatakan dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Bagi yang belum mengetahui apa itu FOMO, FOMO yakni adanya perasaan takut tertinggal terhadap sesuatu yang sedang trend, Ini membuat kita merasa perlu untuk terus mengikuti dan bahkan meniru gaya hidup orang lain.

Salah satu contoh nyata FOMO yang marak akhir-akhir ini yaitu Remaja yang selalu ingin memiliki fashion atau gadget terbaru. Misalnya, ketika Apple merilis iPhone terbaru, banyak remaja yang merasa harus memiliki model terbaru tersebut meskipun harga yang ditawarkan sangat mahal. Trend fashion juga tidak kalah penting. Remaja seringkali merasa harus mengikuti mode terbaru yang dipamerkan oleh influencer di Instagram. Mereka rela menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian, sepatu, atau aksesori hanya untuk terlihat modis di mata teman-temannya.

Selain fashion dan gadget, acara Konser dan festival seperti Konser K-pop,Coachella, Tomorrowland, atau even lokal seperti We The Fest juga menjadi momen di mana banyak remaja merasa FoMO. Mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk tiket dan akomodasi hanya untuk bisa hadir dan memamerkan momen tersebut di media sosial. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang sebenarnya tidak terlalu menikmati acara tersebut dan mungkin sebenarnya tidak tahu lagu-lagu dari artis yang tampil, tetapi hanya ingin terlihat keren di mata teman-temannya.

Berdasarkan fenomena diatas, ada beberapa faktor pendorong seseorang terkena FOMO. Faktor pendorong yang mudah diidentifikasi antara lain penggunaan media sosial, perasaan gengsi dan keinginan divalidasi (Ego).

FoMO adalah dampak langsung dari kemajuan teknologi, khususnya media sosial. Remaja yang kesepian dan stress akan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dirumah dengan mengakses sosial media. Rata-rata waktu penggunaan minguan pada remaja yang kesepian cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak sendirian. Mereka cenderung lebih senang berinteraksi secara virtual. Menurut sebuah studi dari University of Pennsylvania, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan perasaan cemas dan ketidakpuasan hidup

Gengsi adalah faktor utama yang memperparah fenomena FOMO. Dalam banyak kasus, orang melakukan sesuatu bukan karena mereka benar-benar menyukai atau membutuhkan, tetapi lebih karena mereka tidak ingin terlihat kurang dari orang lain. Misalnya, seseorang mungkin membeli tiket konser mahal atau barang mewah hanya untuk dipamerkan di media sosial. Hal ini sering kali dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, meskipun harus mengeluarkan uang yang lebih besar.

Peribahasa lama mengatakan, “besar pasak daripada tiang”, yang berarti pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Dalam konteks FOMO, banyak orang yang rela berhutang atau mengorbankan tabungan demi memenuhi keinginan gengsi tersebut. Hal ini jelas berdampak buruk bagi kondisi keuangan kita. Dalam jangka panjang, kendala finansial yang diakibatkan oleh FOMO dapat menimbulkan stres dan bahkan masalah kesehatan mental.

Selain gengsi, ego juga memainkan peran besar dalam fenomena FOMO. Ego sering kali mendorong kita untuk ingin diakui dan dihargai oleh orang lain. Ketika kita melihat orang lain menikmati hidup mereka dengan berbagai kegiatan menarik, ego kita mendorong untuk melakukan hal yang sama agar mendapatkan pengakuan serupa.
Ada pepatah dari Jepang yang mengatakan, “Kerbau yang punya tanduk, tak kan perlu memamerkan tanduknya”, yang artinya seseorang yang benar-benar hebat tidak perlu memamerkan kehebatannya. Namun, zaman sekarang banyak yang justru merasa perlu memamerkan setiap hal yang mereka lakukan untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Hal ini tentunya menjadi masalah besar ketika dilakukan secara berlebihan.

Dari faktor faktor pendorong tersebut kita bisa lihat bagaimana FOMO berpengaruh besar pada remaja. FOMO Menjadikan kita untuk terus Mencari validasi dan kepuasan dari luar, yang akhirnya bikin stres dan krisis finansial. Tapi, sebagai remaja, kita bisa lawan FOMO dengan beberapa solusi seperti

1. Mengurangi Penggunaan Media Sosial
Salah satu cara terbaik untuk mengatasi FOMO adalah dengan mengurangi penggunaan media sosial. Batasi waktu yang dihabiskan untuk scrolling di media sosial dan cobalah menyibukkan diri dengan aktivitas aktivitas yang lebih bermanfaat. Seperti mengikuti organisasi, Seminar, Atau kerja Part time yang mana itu akan sangat bermanfaat bagi kita

2. Jadilah Diri Sendiri
Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada diri sendiri dan apa yang membuat kita bahagia. Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, dan penting untuk menghargai perjalanan hidup kita sendiri tanpa harus mengikuti standar orang lain.

3. Bersyukur
Latihlah diri untuk lebih bersyukur dengan apa yang dimiliki. Orang yang rutin bersyukur akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan lebih puas dengan hidup yang kita jalani. Cobalah untuk mencatat hal-hal yang kita syukuri setiap hari, tidak peduli seberapa kecil itu.

4. Jalin Hubungan Nyata
Maksudnya kita menjalin hubungan dengan orang orang disekitar kita,seperti teman dan keluarga. Habiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman secara langsung, bukan hanya Melalui media sosial. Dengan hubungan nyata ini kita akan merasa tidak kesepian dan akan mendapatkan lebih banyak suport dari mereka. Karena Hubungan yang nyata dapat memberikan kepuasan yang lebih daripada interaksi di dunia maya.

Di era digital ini, FOMO memang menjadi masalah bagi banyak orang, terutama para remaja. Namun, penting untuk diingat bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki atau dilakukan orang lain. Marilah kita bijak dalam menggunakan media sosial dan fokus pada diri sendiri. Jangan sampai FOMO mengendalikan hidup kita. Beranilah untuk menjadi diri sendiri dan ciptakan kebahagiaanmu sendiri.

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Indonesia di Persimpangan: Korupsi Elit, Krisis Kepercayaan, dan Rakyat yang Kian Terjepit

Published

on

Sumber foto: Freepik

Di republik ini, skandal korupsi hampir tak pernah berdiri sendiri. Ia datang bersama pertarungan narasi, saling lempar tanggung jawab antar-lembaga, dan pertunjukan kuasa yang membuat publik lebih sering menjadi penonton ketimbang pihak yang benar-benar dilindungi. Kasus dugaan korupsi yang menyeret eks Jampidsus Febrie Adriansyah memperlihatkan gejala itu dengan sangat telanjang: ketika perkara besar mencuat, yang ikut terdengar bukan hanya soal pasal dan barang bukti, tetapi juga aroma perseteruan antar-institusi penegak hukum.

Secara formal, polisi telah menetapkan Febrie Adriansyah sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi, gratifikasi, dan pencucian uang. Perkara itu disebut berkaitan dengan penanganan sejumlah kasus besar, termasuk Asabri, batu bara, dan Krakatau Steel, lalu dilimpahkan ke Kejaksaan Agung dalam langkah yang disebut sebagai bagian dari sinergi kelembagaan. Namun, bagi publik, pelimpahan seperti itu tidak otomatis menghapus kecurigaan. Justru di situlah masalahnya: ketika perkara menyentuh elite penegak hukum, setiap langkah administratif mudah dibaca sebagai manuver politik, bukan semata prosedur hukum.

Kecurigaan publik bukan muncul tanpa sebab. Dalam dua tahun terakhir, tingkat kepercayaan terhadap lembaga negara memang bergerak naik-turun, tetapi rentan sekali goyah saat masyarakat melihat ada jarak antara hukum yang diumumkan dan keadilan yang dirasakan. Survei Indikator Politik Indonesia pada Januari 2026 menunjukkan Kejaksaan Agung berada di tingkat kepercayaan tinggi, sekitar 80 persen, di bawah TNI dan Presiden, sementara DPR justru menjadi lembaga yang paling rendah tingkat kepercayaannya dalam survei yang diberitakan luas. Tetapi kepercayaan itu bukan modal yang tidak bisa habis; satu skandal besar saja cukup untuk mengikisnya, apalagi jika publik melihat ada kecenderungan saling lindungi di antara aparat dan elite.

Masalahnya, korupsi di Indonesia tidak lagi dibaca sebagai penyimpangan individu semata. Ia semakin dilihat sebagai bagian dari ekosistem kuasa yang membuat hukum bisa tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Saat publik menyaksikan perkara besar ditangani dengan drama, istilah “penegakan hukum” terasa makin jauh dari pengalaman sehari-hari warga yang berjuang sekadar bertahan hidup. Dalam perspektif sosial-politik, ini adalah krisis legitimasi: negara masih punya perangkat formal, tetapi wibawa moralnya terus tergerus karena masyarakat melihat ketimpangan antara retorika bersih-bersih dan kenyataan yang penuh kompromi.

Di saat elite sibuk bertarung di atas, warga justru menghadapi tekanan dari bawah. Inflasi tahunan pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen, lalu pada Juni 2026 masih berada di level 3,34 persen. Pada saat yang sama, terjadi kenaikan BBM dan bahan pokok dan harga beras di banyak daerah terus mengalami tekanan dari hulu hingga hilir. Ini bukan sekadar angka statistik. Bagi keluarga pekerja, angka-angka itu berarti isi dapur makin mahal, uang belanja makin sempit, dan kebutuhan harian makin sulit dipenuhi. Maka, ketika negara berbicara tentang program unggulan dan agenda besar pembangunan, warga wajar bertanya: untuk siapa sebenarnya semua itu dijalankan, jika hasilnya belum terasa dalam hidup sehari-hari?

Di titik inilah kritik sosial menjadi penting. Sebab persoalannya bukan cuma harga kebutuhan pokok, tetapi juga struktur ekonomi dan politik yang membuat beban selalu lebih berat ditanggung rakyat kecil. Ketika lapangan kerja sulit, daya beli melemah, dan pajak tetap menekan, rasa tidak adil tumbuh semakin dalam. Dalam situasi seperti ini, satu kasus korupsi besar bukan sekadar berita kriminal; ia menjadi simbol bahwa uang negara yang seharusnya dipakai memperkuat layanan publik justru diduga bocor ke lingkaran kuasa yang sulit dijangkau.

Lebih jauh lagi, ruang sipil juga menghadapi tekanan. Ketika aktivis, pembela HAM, atau suara-suara kritis mengalami intimidasi, persekusi, atau pembatasan, pesan yang ditangkap publik sangat jelas: negara lebih cepat merespons kritik ketimbang memperbaiki akar masalah. Dalam kacamata HAM, ini berbahaya karena mempersempit ruang koreksi publik. Jika yang bersuara lantang justru ditekan, sementara penyimpangan elite diproses setengah hati, maka negara pelan-pelan berubah menjadi arena yang tidak seimbang: kuat di atas kertas, tetapi rapuh di hadapan keadilan substantif.

Narasi perseteruan Polri dan Kejaksaan dalam perkara ini memperjelas bahwa publik sedang menyaksikan pertarungan otoritas, bukan semata pencarian kebenaran. Di banyak kasus serupa, yang diperebutkan bukan hanya siapa paling berwenang, melainkan siapa yang lebih dulu menguasai tafsir atas fakta. Padahal rakyat tidak menunggu siapa yang menang dalam perang institusi. Rakyat menunggu satu hal : apakah hukum masih bisa bekerja tanpa melindungi siapa pun yang berada di lingkar kekuasaan.

Kalau dirangkum secara tajam, keadaan sosial-politik Indonesia hari ini menunjukkan tiga lapis krisis sekaligus. Pertama, krisis integritas karena korupsi masih menempel dekat dengan pusat kekuasaan. Kedua, krisis kesejahteraan karena biaya hidup naik sementara akses kerja tetap sulit. Ketiga, krisis demokrasi substantif karena ruang kritik dan pembelaan HAM masih rentan terhadap tekanan. Tiga lapis krisis ini saling memperkuat, dan di sanalah letak bahaya sesungguhnya: ketika rakyat lelah, marah, tetapi juga makin tidak percaya bahwa negara benar-benar berdiri di pihak mereka.

Pada akhirnya, yang diuji bukan hanya satu kasus korupsi, melainkan kemampuan negara untuk membuktikan bahwa hukum masih bekerja untuk keadilan, bukan untuk menyelamatkan nama besar. Jika tidak, maka setiap skandal baru hanya akan menambah keyakinan lama: bahwa rakyat diminta patuh, sementara elite diberi ruang untuk lolos.

Ruliyanto

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending