Berita
Merajut Perdamaian dari Akar Rumput: AFSC dan YKPI Apresiasi Dampak Program Mitra Wacana di Baciro
Published
4 months agoon
By
Mitra Wacana
Yogyakarta — Upaya membangun perdamaian dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat kembali mendapat sorotan. Pada Selasa (21/4/2026), Mitra Wacana menerima kunjungan delapan perwakilan dari Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dan American Friends Service Committee (AFSC) di kantor mereka, Yogyakarta. Kunjungan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB ini menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung praktik baik pencegahan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis komunitas.
Kunjungan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Kerri Kennedy selaku Associate General Secretary For International Programs AFSC dan Abid Gulzar sebagai Regional Director Asia. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya perhatian internasional terhadap pendekatan lokal dalam membangun perdamaian di Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Wahyu Tanoto membuka sesi dengan memaparkan profil Mitra Wacana. Ia menjelaskan sejarah organisasi, visi dan misi, hingga berbagai fokus isu yang selama ini dikerjakan. Mitra Wacana, menurutnya, konsisten bekerja bersama komunitas akar rumput dengan pendekatan partisipatif, menyasar isu-isu strategis seperti pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), kebencanaan, Kabupaten Layak Anak, serta pencegahan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme (IRE).
Ketertarikan khusus datang dari pihak AFSC terhadap isu TPPO. Mereka menggali lebih dalam terkait kondisi perdagangan orang di Indonesia serta strategi advokasi yang dilakukan Mitra Wacana. Hal ini tidak terlepas dari keterlibatan AFSC dalam isu serupa di tingkat regional, sehingga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang.

Diskusi kemudian berlanjut pada pemaparan dampak program pencegahan IRE di Kelurahan Baciro oleh Ruliyanto selaku Project Manager. Dalam presentasinya, Ruly menegaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci utama keberhasilan program. Ia menjelaskan bahwa Mitra Wacana menggunakan pendekatan APKM (Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat) untuk memastikan masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam proses perubahan.
“Program ini dirancang dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari perempuan, anak muda, tokoh agama, aparat, hingga kelompok minoritas. Semua pihak diberi ruang untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan damai,” jelas Ruly.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa strategi yang digunakan tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga kreatif dan kolaboratif. Program ini berhasil menjangkau sekitar 82.000 orang melalui kampanye digital yang melibatkan 41 kolaborator dan menghasilkan 25 konten kampanye. Selain itu, dilakukan pula empat kali talkshow radio serta publikasi 10 artikel yang mengangkat narasi damai bekerja sama dengan jurnalis.
Tak hanya itu, sebanyak 38 peserta content creator dilatih untuk memahami isu IRE dan mampu memproduksi konten positif sebagai kontra narasi terhadap radikalisme. Di tingkat komunitas, Kelurahan Baciro kini telah memiliki panduan deteksi dini yang didistribusikan ke 21 RW sebagai langkah konkret dalam mencegah potensi konflik sejak awal.
Ruly menekankan bahwa keberhasilan program ini menunjukkan bahwa perdamaian dapat dibangun dari ruang-ruang kecil yang partisipatif. Dialog lintas iman, penciptaan ruang aman, serta pendekatan non-kekerasan menjadi fondasi utama dalam memperkuat resiliensi masyarakat.
“Ketika masyarakat dilibatkan secara aktif dan inklusif, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perdamaian di lingkungannya masing-masing,” tambahnya.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga membuka peluang pengembangan program ke skala yang lebih luas. Dengan dukungan AFSC, pendekatan yang telah berhasil di Baciro diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas negara, upaya merajut perdamaian dari akar rumput ini diharapkan mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Ruliyanto
You may like
Berita
Human Trafficking Month – 30th of July 2026
Published
7 days agoon
6 August 2026By
Mitra Wacana

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
The month July is recognized as Anti-Human Trafficking Month (Bulan Anti Perdagangan Manusia) in Indonesia, a nationwide campaign dedicated to raise awareness about human trafficking and promoting coordinated action against exploitation. Human trafficking remains a significant human rights issue in Indonesia. Women, children and migrant workers are vulnerable to exploitation, including forced labour, sexual exploitation, forced marriage and online recruitment scams. Factors such as poverty, limited employment opportunities, unequal access to education and misinformation increase’s people’s vulnerability.
On the 30th of July 2026, organizations, academics, government representatives and community members gathered at the Faculty of Law of Universitas Gadjah Mada (UGM) for an event dedicated to this Anti-Human Trafficking Month. Mitra Wacana collaborated with various organizations to aim to raise awareness about human trafficking while promoting collaboration in prevention, protection and victim support.

The event opened with participant registration, followed by an opening ceremony featuring welcoming remarkss and a cultural performance. Throughout the day, visitors could also explore a small Bazar, filled with products from local entrepreneurs and creating space for community engagement alongside the educational program.
The day consisted of several panel discussions featuring experts from universities, migrant worker organizations, government members, and legal institutions. The event started with a panel discussion that discussed the theme ‘Facing the New Face of Human Traffiking: Collaboration for Protection and Law Enforcement’. The speakers discussed the increasing vulnerability of migrant workers, online recruitment methods, and the need for stronger legal protection and law enforcement.
The second panel discussion talked about the ‘Collaboration on Prevention and Handling of Human Trafficking: Organizing, Advocacy, Campaigns, Legal and Psychological Assistance’. The presentations from the different organizations emphasized the importance of collaboration between professionals from different sectors, including lawyers, psychologist, educators and local communities.
The last discussion discussed the theme ‘Various Modes of Human Trafficking: from student trafficking, arranged marriages and the role of interfaith networks in preventing and handling human trafficking’. The panel explored the diverse and evolving forms of human trafficking, emphasizing that exploitation can occur in a variety of social and cultural contexts.
Overall, the event provided an opportunity to increase awareness and to strengthen the collaboration between organizations committed to addressing and preventing the human trafficking issue in Indonesia. Through knowledge sharing, practical discussions and community engagement the event reinforced the message that preventing exploitation requires collective responsibility. This message is reflected in the slogan ‘Humans are not for sale, united against exploitation’.

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam








