web analytics
Connect with us

Publikasi

Mitra Wacana Hadir untuk Pendidikan: Upaya Pendampingan Anak Putus Sekolah di Kalirejo

Published

on

Gambar Ilustrasi (Magnific)

Kamis, 17 Juni 2026, Tim Mitra Wacana bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Kalirejo  terus bergerak untuk mewujudkan program Desa Ramah Perempuan Peduli Anak. Salah satu  target utamanya adalah mewujudkan nol angka anak putus sekolah di Kalurahan Kalirejo. Hal  ini sesuai dengan salah satu indikator dari program yang ada di kalurahan yaitu Kalurahan  Ramah Perempuan dan Peduli Anak. 

Pada  kunjungan  kedua  ini,  tim  kembali  menyasar  dua  anak yang putus sekolah beserta  keluarganya yang berada di padukuhan Plampang. Sebelumnya pada minggu lalu, tim juga  telah mengunjungi dua anak dari dua keluarga yang berbeda. Dengan demikian, total sudah  empat anak yang berhasil diwawancarai dan didampingi, sementara sisanya masih ada lima  anak lagi yang masuk dalam daftar untuk kunjungan berikutnya. 

Dari kunjungan terbaru ini, tim menemukan bahwa alasan anak putus sekolah sangat kompleks  dan membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda. Berikut adalah potret dari dua kasus yang  ditemui: 

  1. Kasus V: Kehilangan Motivasi dan Kendala Jarak.

 Kunjungan pertama dilakukan ke rumah V, seorang remaja yang sudah putus sekolah selama  satu  semester  (enam  bulan).  Awalnya,  V beralasan bahwa ia berhenti sekolah dari SMA  lamanya karena sekadar “malas”. Namun, dari obrolan bersama sang ibu, Bu W, terungkap  bahwa V sebenarnya tidak cocok dengan lingkungan SMA tersebut dan memendam keinginan  untuk masuk ke SMK jurusan Otomotif. Sebelumnya, keinginan ini sempat mandek karena  ketidakyakinan akan dukungan dan jarak. 

Tim Mitra Wacana kemudian memberikan edukasi yang menyentuh realitas. Tim memotivasi V  dengan memberikan gambaran tentang betapa rentannya posisi dirinya 5 tahun ke depan jika ia  harus bersaing di dunia kerja dengan hanya bermodalkan ijazah SMP. Pendekatan ini berhasil  menyadarkan                 V.                      Ia           akhirnya                            berkomitmen           penuh               untuk     kembali                 bersekolah    dan  menuntaskannya di SMK Otomotif. Bu W pun memberikan restu, dan tim bersama aparat desa  siap membantu mengurus proses administrasi pendaftarannya dari awal agar V bisa diterima di  SMK. 

  1. Kasus E: Trauma Perundungan dan Kurangnya Kesadaran Kesehatan Mental.

Kasus kedua menimpa E, siswa kelas 10 di sebuah SMK. Berbeda dengan V, E terpaksa  berhenti sekolah karena berjuang melawan gangguan kecemasan (anxiety) yang berlebihan  dan gejala psikosomatis, di mana ia merasa gemetar dan ketakutan hebat saat berada di  keramaian atau dihadapkan pada kerja kelompok dengan orang baru. Ketakutan ini berakar dari  trauma masa lalu, di mana E pernah menjadi korban perundungan (bullying) dan ancaman  sejak kelas 1 SD hingga 8 SMP. 

Masalah  E  menjadi  semakin  berat  karena  kurangnya  pemahaman  pihak  sekolah  terkait  kesehatan mental. Walaupun E rutin berobat ke psikiater di rumah sakit, kepala sekolahnya  justru  mencurigai  E  memanipulasi  keadaan  dan  hanya  berpura-pura  sakit  agar  dibelikan  handphone. Hal ini membuat E sedih dan ragu untuk kembali ke sekolah. 

Tim Mitra Wacana yang mendampingi, memberikan afirmasi bahwa apa yang dialami E adalah  kondisi medis yang nyata dan bisa dikontrol. Tim memotivasi E untuk melanjutkan kembali  pengobatannya—baik melalui RSUD maupun layanan psikolog gratis dari Dinas Sosial—serta  berjanji akan berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk memberikan pemahaman sehingga  lingkungan belajar menjadi lebih ramah bagi kondisi mental E. 

Kesimpulan    Kunjungan    langsung    ke    rumah-rumah    warga    ini    membuktikan                        bahwa  menyelamatkan hak pendidikan anak tidak bisa hanya dengan menyuruh mereka kembali ke  bangku sekolah. Dibutuhkan pendampingan psikologis, komitmen orang tua, serta edukasi  kepada masyarakat dan pihak pendidik di sekolah. Kondisi anak dan keluarga yang beragam ini  juga membutuhkan kerjasama dan langkah kolaborasi dari seluruh pihak terkait seperti Dinas  Sosial, Pemerintah Kalurahan, dan Balai Dikmen Kabupaten Kulonprogo. 

Alfi Ramadhani (Divisi Pendidikan dan Pengorganisasian Masyarakat Mitra Wacana)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Physical & Emotional Intimacy in Healthy Relationships

Published

on

Sumber foto: Freepik

Sexual health also includes healthy respectful relationships and intimate partnership.

What is intimacy?

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam

Intimacy is a multidimensional construct that consists of intellectual, personal, affective and physical aspects. Emotional and sexual aspects of intimacy are important predictors of satisfaction in a relationship. Intimacy can have a positive influence on the development of trust and bond in relationships and marriage.

Emotional intimacy is when partners feel the ability to behave, think or feel without fear of being judged. It is related to partner satisfaction, emotional well-being, communication, partner support, understanding and sexual well-being. Additionally, it can be a protective factor in romantic relationships and a key factor for mental health and well-being.

Sexual intimacy involves physical affection, trust and respectful communication between partners. Sexual desire has been positively associated to emotional and relationship quality. In addition, sexual satisfaction predicts higher relationship satisfaction.

Why is intimacy important?

Lack of intimacy is associated with relationship issues such as lost sense of security, jealousy between partners, prevention of processing of conflicts. When a relationship misses emotional intimacy, the relationship can feel lonely, disconnected from each other, not sharing important things, lack of support, which all can cause more conflicts and arguments. A lack of emotional intimacy can in turn cause lower sexual intimacy and lower relationship satisfaction.

The role of communication

Communication plays an important role in relationships; it can strengthen or hinder emotional and sexual intimacy between partners.  Individuals who experienced positive communication in their relationship are more likely to feel sexually and emotionally intimate with their partners and therefore satisfied with their relationships.

Tips on how to ensure emotional and sexual intimacy in your relationship:

  • Create an atmosphere for your partner where they will feel safe disclosing their vulnerabilities.
  • Encourage communication about their want and needs, ask questions.
  • Consider turning of electronic devices when spending time together, especially during mealtime.
  • Make time for each other and engage in mutually enjoyable fun activities.
  • Have a good balance between self-care and being together.

 

References

Aranda, V., Ayala, M., Esquivel, C., Ossandón, N., & Quinteros, C. (2024). Self-concealment and emotional intimacy in Chilean adults in a couple relationship. Iberoamerican Journal of Psychology and Public Policy, 1(2), 119–140. https://doi.org/10.56754/2810-6598.2024.0012

Beaulieu, N., Bergeron, S., Brassard, A., Byers, E. S., & Péloquin, K. (2022). Toward an integrative model of intimacy, sexual satisfaction, and relationship satisfaction: A Prospective Study in Long-Term Couples. The Journal of Sex Research, 60(8), 1100–1112. https://doi.org/10.1080/00224499.2022.2129557

Lancer, D. (2023, April 4). 8 ways to nurture emotional intimacy in your marriage. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/men-growing-intimacy-in-marriage-1270945

Wider, W., Chua, B. S., Mutang, J. A., Tan, C. C., Jiang, L., Tanucan, J. C. M., Thant, Y. M., & Udang, L. N. (2025). Associations between intimacy in relationships and marital satisfaction across gender and in different durations of relationship. Cogent Psychology, 12(1). https://doi.org/10.1080/23311908.2025.2545657

Yoo, H., Bartle-Haring, S., Day, R. D., & Gangamma, R. (2013). Couple communication, emotional and sexual intimacy, and relationship satisfaction. Journal of Sex & Marital Therapy, 40(4), 275–293. https://doi.org/10.1080/0092623x.2012.751072

 

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending