web analytics
Connect with us


My first experience in Kulon Progo



Sophia and members of the learning centre in Kulon Progo

Sophia: Yesterday (Sunday 13 March 2016) I had the privilege of joining the meeting of the Rengganis women and children’s learning centre in Salamrejo village, Kulon Progo district. My colleague from Mitra Wacana WRC, Ignas Kleruk Mau, facilitates this group. He suggested I share some information about Australia (where I’m from), with a focus on women in Australia. He also invited me to ask the members of the learning centre about their lives and experiences, so we could create a cultural exchange.

I prepared a presentation about Australia for the meeting. I came across some really interesting facts about Australia, and put them in context by comparing them to facts about Indonesia. In terms of population, Australia is a big country (6th largest in the world), with a tiny population (56th in the world). Indonesia, however, is a sizeable country (15th in the world), with a huge population (5th largest in the world). This explains why, when the women asked me what struck me most about Indonesia when I first arrived, the level of crowdedness came to mind!

I also found some alarming statistics such as one in three Australian women over the age of 15 experience physical violence, and the perpetrator is often their partner. Many of the women in the learning centre felt that violence was a major issue for women in Indonesia too. I’m so proud to be working at Mitra Wacana WRC which is educating women about their rights, facilitating community discussions about these difficult topics and advocating for laws to protect the victims of violence.

Some of the women at the learning centre also mentioned the limited options for work and education in the village. A number of them had worked abroad for up to six years, as it was the only way they could earn enough money to support their families. For me working overseas was a choice, I’m doing it for the experience. I miss my family and friends desperately after only three months away from them; these women have amazing strength to live overseas for so many years! They shared their hopes that they could give their children more opportunities than they had. This touched me deeply and reminded me how hard my parents worked so I could go to university.

The women in Kulong Progo also wanted to know about poverty in Australia. I researched this after the meeting and was shocked to read a 2014 report by the Australian Council of Social Service which found that 13.9% of Australian households live below the poverty line (with a disposable income of less than $400AUD per week for a single adult, higher for larger households to take account of their greater costs). The report notes that poverty rates in Australia are higher for women (compared to men), children and pensioners, sole parents, people in rural areas rather than cities, adults born in countries where the main language is not English (compared to people born in Australia or other English speaking countries), indigenous Australians and people with a disability.

This got me thinking, who is responsible for protecting the vulnerable? Could it be more privileged people, the government or NGOs? Every human being is entitled to adequate healthcare, primary education, sanitation, drinking water, food and shelter, but it takes effort for every person has access to these things. The world’s resources are not evenly distributed. It seems to me that the privileged, governments and NGOs can all do something to meet the basic needs of disadvantaged people. Privileged people can donate some of their disposable income to help others; governments can create policies to make sure all their constituents have their basic needs met; NGOs can raise awareness of important issues that need to be addressed. This might be a simple perspective, but I am inspired by the people I’m working with and the women I met in Kulon Progo who are doing what they can to improve the lives of disadvantaged people in their communities. (SD, 14 March 2016)


Central Intelligence Agency, The World Factbook, ‘Australia’ last updated 07/03/2016 and ‘Indonesia’ last updated 25 February 2016, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/index.html (accessed 08/03/2016)

OurWatch and Australia’s National Research Organisation for Women’s Safety, 2013, ‘Violence against women: key statistics’, http://media.aomx.com/anrows.org.au/s3fs-public/Key statistics – all.pdf (accessed 08/03/2016)

Australian Council of Social Service, 2014, ‘The Poverty Report 2014’, http://acoss.org.au/images/uploads/ACOSS_Poverty_in_Australia_2014.pdf (accessed 14/03/2016)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Apakah Perempuan Amerika dan Indonesia Sangat Berbeda?



oleh Jacqueline Lydon – Volunteer di Mitra Wacana

Saya tumbuh dan besar di Amerika, saat ini tinggal di Indonesia sudah lima bulan, dan sudah tiga bulan ini magang di Mitra Wacana, saya terkejut ternyata adanya kesamaan kondisi antara perempuan di Indonesia dan Amerika.

Kalau dilihat sekilas, perempuan Amerika dan Indonesia mungkin memiliki perbedaan yang sepenuhnya berlawanan. 

Saat membandingkan keduanya, biasanya orang-orang fokus pada perilaku dan penampilan perempuan. Perempuan dihakimi tentang cara mereka berpakaian, cara mereka bertindak, dan betapa independennya mereka, misalnya. 

Orang Amerika mungkin menilai perempuan Indonesia berpakaian konservatif, tinggal di lingkungan rumah tangga, dan tampaknya tunduk pada suami mereka. Sementara itu, orang Indonesia mungkin menilai perempuan Amerika tidak menutupi tubuh mereka, merangsang secara seksual, tidak fokus pada peran domestik, atau terlalu keras dan menuntut.

Apa yang saya catat sejak berada di sini adalah yang pertama, bahwa perbedaan-perbedaan ini kurang terlihat daripada yang saya pikirkan, dan kedua, bahwa mereka tampaknya berasal dari budaya dan norma sosial yang berbeda. Ada berbagai cara untuk memahami gender dan peran gender, namun perempuan di Amerika dan Indonesia menginginkan keamanan, rasa hormat, dan memiliki suara.

Ada banyak kesamaan antara perilaku dan masalah perempuan di kedua negara.

  • 51,9% perempuan Indonesia adalah pekerja, dibandingkan dengan 57,1% perempuan Amerika.
  • 17,4% dari parlemen Indonesia adalah perempuan, dibandingkan dengan 23,9% dari legislatif Amerika.
  • Perempuan Indonesia terpilih pertama kali sebagai presiden pada tahun 2001, sementara belum ada seorang perempuan yang pernah menjadi presiden di Amerika.
  • Perempuan pertama yang bergabung dengan mahkamah agung Indonesia, Sri Widoyati Wiratmo Soekito, dilantik pada tahun 1968, sedangkan perempuan pertama yang bergabung dengan mahkamah agung Amerika adalah Sandra Day O’Connor pada tahun 1981, sekitar 15 tahun kemudian.

Ada banyak masalah — dari pelecehan seksual hingga pemerkosaan — yang memiliki dampak luas pada perempuan di kedua negara, tetapi sulit untuk memiliki statistik yang akurat karena banyak perempuan tidak (atau tidak bisa) melaporkan insiden ini.  Tetapi berdasarkan apa yang dilaporkan, jelas bahwa ini adalah masalah utama di kedua negara. 

  • 3 dari 5 perempuan Indonesia dan 81% perempuan Amerika telah mengalami pelecehan seksual
  • 15% perempuan Indonesia dan lebih dari 1 dari 3 perempuan Amerika melaporkan menjadi korban kekerasan seksual atau pemerkosaan 
  • 16% perempuan Indonesia dan sekitar 25% perempuan A.S. telah melaporkan menjadi korban kekerasan pasangan intim (kekerasan fisik, seksual, atau psikologis dari pacar atau pasangan)


Dua negara dengan sikap dan perilaku perempuan dilihat sangat berbeda, mengejutkan bahwa ada persamaan keberhasilan dan perjuangan perempuan. 

 Baru tahun lalu, sebuah jajak pendapat di Amerika menemukan bahwa hanya 29% perempuan Amerika yang mengidentifikasi sebagai feminis. (Feminis: seorang yang percaya laki-laki dan perempuan harus punya hak sama). Di kedua negara, ada gerakan feminis dan anti-feminis (di Amerika, “meninism”; di Indonesia, “Indonesia tanpa feminisme”). Dalam kedua gerakan tersebut, suara perempuan ditekan; perempuan yang mengadvokasi diri mereka sendiri sering dianggap terlalu menuntut, dan masalah mereka diabaikan.

Mengapa ada begitu banyak penilaian untuk pilihan perempuan di kedua negara?

Sebagian dari hal tersebut didasarkan pada stereotip, yang terus dibangun tentang perempuan yang bertindak berbeda. Perempuan di setiap negara diajarkan bahwa peran budaya, perilaku, dan nilai-nilai mereka adalah pilihan yang lebih baik, dan jika mereka berpegang teguh pada itu, mereka akan menghindari masalah yang dihadapi oleh perempuan dalam budaya yang berbeda. Misalnya, untuk perempuan di Amerika, diajarkan bahwa menjadi lebih asertif akan membantu mereka mencapai lebih banyak perwakilan politik, dan perempuan di Indonesia diajarkan bahwa berperilaku sopan akan membantu mereka menghindari kekerasan atau pelecehan seksual. Namun kesamaan dalam statistik membuktikan bahwa bukan perilaku perempuan yang menyebabkan masalah ini, dan nasihat budaya untuk perempuan tidak akan menyelesaikan masalah.

Tentu saja, tidak ada jawaban sederhana untuk masalah sistemik ini.  Tapi, penyebab utama seksisme di seluruh dunia adalah patriarki — sistem yang telah dibangun untuk memperkuat laki-laki dan memperlemah perempuan. Sistem patriarki inilah yang telah menciptakan gagasan menyalahkan korban — untuk menghakimi dan menyalahkan perempuan atas penindasan yang mereka alami alih-alih sistem yang menyeluruh.  

Daripada melihat pilihan perempuan atau menilai mereka, kita harus melihat sistem patriarki yang lazim di kedua negara. 

Menurut saya, kita perlu berhenti fokus pada perilaku perempuan dan sebaliknya fokus pada cara masyarakat menilai dan menindas semua perempuan, dan kemudian kita harus membangun solidaritas untuk memecah sistem itu. Cita-cita bagaimana seorang perempuan seharusnya dan harus bertindak mungkin berbeda di kedua budaya, tetapi hal yang universal bahwa perempuan harus bebas dari kekerasan dan diperlakukan dengan bermartabat dan hormat.

Editor: Arif Sugeng W




Continue Reading