Publikasi
PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK PERLU PERHATIAN LEBIH
Published
3 years agoon
By
Mitra Wacana

Muhammad Mansur
Adanya dugaan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan eksploitasi anak menjadi bahan diskusi gelar kasus yang di adakan di Balai Perlindungan Perempuan dan Anak DIY ( Kamis/9/2/2023).
Mitra wacana diwakili Muazim manager program pencegahan TPPO diminta menjadi pemantik diskusi. Tujuan dari diadakannya diskusi gelar kasus ini untuk menemukan cara efektif dalam penanganan kasus tersebut. Dalam pemaparannya Muazim menyampaikan bahwa dalam kasus yang sekarang ditangani ini terindikasi kuat mengarah kepada TPPO dan ekploitasi seksual anak.
Dalam penanganan kasus TPPO harus memenuhi 3 unsur yaitu proses, cara, dan tujuan. Akan tetapi khusus kasus TPPO yang melibatkan anak unsur cara tidak menjadi salah satu syaratnya sebagai alat bukti.
Dalam diskusi ini, ditemukan bahwa maraknya eksploitasi seksual kepada anak imbas negatif dari penggunaan medsos. Banyak modus pelaku yang menyasar korbannya menggunakan media sosial.
Selain itu akibat kurang bijaknya penggunaan media sosial, permasalahan ini juga di akibatkan karena belum ada komitmen bersama yang mengikat antara pelaku usaha hiburan dan perhotelan untuk melakukan filter
terhadap pengguna jasa mereka yang masih berusia anak.
Dalam diskusi ini ada hipotesis bahwa maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak karena masih minimnya sumber daya yang di alokasikan dalam proses pencegahan dan penanganan kasus. Jumlah kasus yang mampu ditangani terbatas sedangkan laporan kasus semakin meningkat.
You may like

“Pemenuhan Hak Rakyat dan Perlindungan dari Bahaya Perdagangan Manusia di Indonesia” Upaya Kolaboratif Pencegahan Perdagangan Orang di Yogyakarta

Peran Sastra Populer dalam Meningkatkan Literasi di Kalangan Remaja

Merajut Kolaborasi Lintas Iman: Mencegah Intoleransi, Radikalisme dan Ekstremisme Di Baciro
Berita
Mitra Wacana Hadiri Diskusi Publik Perempuan Dorong Pertanian Lestari dan Keadilan Agraria
Published
1 day agoon
7 March 2026By
Mitra Wacana
Yogyakarta — Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) 2026, Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Pertanian Lestari: Gerakan Kedaulatan Pangan dan Keadilan Agraria” pada Sabtu (7/3/2026) di Kantor DPRD Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat peran perempuan dalam perjuangan kedaulatan pangan, keadilan agraria, serta merespons tantangan perubahan iklim.
Diskusi dipandu oleh Hikmah Diniyah sebagai moderator dan menghadirkan sejumlah pemantik diskusi, yakni Sisil dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta, Yohana dari Kelompok Perempuan Petani Kharisma, serta Nasih, dosen pertanian dari Universitas Gadjah Mada.

Para pemantik memaparkan pandangan mengenai praktik pertanian berkelanjutan, tantangan yang dihadapi perempuan petani, serta pentingnya dukungan kebijakan untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang adil dan berkelanjutan.
Selain paparan dari para narasumber, kegiatan ini juga diisi dengan sesi berbagi pengalaman dari peserta yang berasal dari berbagai organisasi masyarakat sipil, lembaga pemerintah, komunitas, hingga kelompok perempuan petani.
Dalam sesi ini, para peserta saling bertukar cerita mengenai pengalaman bertani, tantangan yang dihadapi di lapangan, hingga strategi mempertahankan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berpihak pada petani kecil.
Istiatun dari Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat suara perempuan dalam isu pangan dan agraria. Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pangan keluarga sekaligus merawat ekosistem pertanian.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai lembaga dan organisasi, antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Forum LSM Yogyakarta, LBH Yogyakarta, PKBI DIY, Rifka Annisa, serta Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta. Turut hadir pula komunitas perempuan petani dari Kulonprogo dan Umbulharjo serta berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya.

Selain itu, sejumlah lembaga pendidikan dan media kampus juga ikut berpartisipasi, seperti LPM Arena, LPM Ekspresi UNY, LPM Sikap UPN Veteran Yogyakarta, dan LPM Teropong STPMD. Organisasi lain yang hadir di antaranya Arkom Indonesia, IDEA Indonesia, SETAM, YASANTI, LKIS, serta Mitra Wacana.
Diskusi ini ditutup dengan rencana penyampaian press release sebagai bentuk diseminasi hasil pembahasan kepada publik. Melalui kegiatan ini, para peserta berharap isu kedaulatan pangan, keadilan agraria, serta peran strategis perempuan dalam menjaga keberlanjutan pertanian dapat semakin mendapat perhatian luas dari masyarakat maupun pembuat kebijakan. (Tnt).










