web analytics
Connect with us

Berita

Redefinisi Maskulinitas Positif: DP3AP2 DIY Gandeng Mitra Wacana

Published

on

YOGYAKARTA – Konsep maskulinitas terus berkembang seiring perubahan sosial yang dinamis. Laki-laki masa kini tidak lagi dituntut terjebak dalam stereotip “harus dominan” atau “tidak boleh lemah”, melainkan diajak membangun karakter yang tegas sekaligus empatik.

Gagasan ini mengemuka dalam talkshow bertajuk “Redefining Masculinity: Maskulinitas Positif” yang disiarkan langsung oleh Star FM Jogja, Selasa (3/3/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Peningkatan Kapasitas Pemberdayaan Perempuan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk DIY.

Talkshow menghadirkan Ketua Mitra Wacana, Wahyu Tanoto, sebagai narasumber bersama Brian Adi Wijaya, S.Sos dari Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY. Acara dipandu oleh Widya Pradipta.

Dalam diskusi yang berlangsung pukul 14.00–15.00 WIB tersebut, para narasumber membahas transformasi pola pikir dan nilai sosial dalam memaknai maskulinitas.

Maskulinitas positif ditekankan sebagai sikap yang tidak hanya kuat dan tegas, tetapi juga mampu menghargai, mendengar, serta bekerja sama dalam kemitraan yang setara.

Wahyu Tanoto menegaskan bahwa redefinisi maskulinitas menjadi penting dalam konteks pembangunan daerah.

Menurut Wahyu Tanoto, laki-laki perlu mengambil peran aktif untuk mempromosikan anti segala bentuk kekerasan berbasis gender. Menurutnya, maskulinitas bukan tentang seberapa buat dan jantan, melainkan tentang tanggung jawab sosial.

Sementara itu, Brian Adi Wijaya menjelaskan bahwa perubahan paradigma ini menjadi bagian dari strategi pembangunan berbasis kesetaraan gender.

Keterlibatan laki-laki dinilai krusial dalam mendukung kebijakan pelindungan perempuan dan anak, sekaligus membangun kualitas hidup masyarakat secara komprehensif.

Sebagai organisasi yang selama ini bergerak dalam isu keadilan gender dan pemberdayaan kelompok rentan, Mitra Wacana menilai kampanye maskulinitas positif jangan sampai hanya dimaknai sebagai tren, melainkan bagian dari ikhtiar membangun budaya anti kekerasan.

Kolaborasi dengan DP3AP2 DIY ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk memperluas kesadaran publik bahwa kesetaraan gender membutuhkan keterlibatan aktif laki-laki sebagai mitra, bukan sebagai pihak yang ditinggalkan dalam perubahan. (Tnt)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Berita

Film Dokumenter “Rumah Ketigaku” Ungkap Kerentanan Perempuan dan Pekerja Migran di Tanah Rantau

Published

on

Yogyakarta, 11 April 2026 — Pemutaran dan diskusi film dokumenter “Rumah Ketigaku” menjadi ruang refleksi atas kerentanan yang dihadapi perempuan, khususnya pekerja migran, pekerja informal, dan purna migran. Kegiatan yang digelar oleh Beranda Migran bersama Mitra Wacana, KOPPMI, Yasanti, dan IMA ini berlangsung di Kantor PKBI DIY, Tamansiswa, serta dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai organisasi dan komunitas.

Acara ini tidak sekadar nonton bersama, tetapi juga membuka diskusi kritis mengenai lemahnya perlindungan hukum dan jaminan sosial yang masih membayangi kehidupan pekerja migran Indonesia (PMI). Kondisi tersebut menempatkan mereka dalam situasi rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, psikologis, maupun ekonomi.

Isu ini menjadi semakin relevan setelah tragedi kebakaran Tai Po pada akhir 2025 yang kembali menyoroti buruknya tata kelola perlindungan PMI di luar negeri. Minimnya pengakuan terhadap instrumen perlindungan hukum membuat banyak pekerja migran, terutama di sektor domestik seperti pekerja rumah tangga (PRT) dan anak buah kapal (ABK), berada dalam posisi yang sangat rentan.

Film karya Francis Catedral ini mengangkat sisi lain migrasi yang kerap terabaikan, seperti perpisahan paksa dengan keluarga, kesendirian di negeri orang, serta pentingnya solidaritas antarpekerja migran sebagai mekanisme bertahan hidup.

Dalam diskusi, Francis Catedral menegaskan bahwa realitas pekerja migran jauh dari bayangan publik.

“Banyak orang membayangkan menjadi pekerja migran itu hidup enak, mewah dan kaya. Namun kenyataannya, situasi mereka sangat sulit. Mereka menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, perlakuan tidak manusiawi, bahkan diperlakukan seperti barang atau komoditas,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Penting untuk menyampaikan kenyataan ini agar tumbuh empati dan solidaritas. Migrasi bukan sekadar tentang menjadi kaya, tetapi tentang bertahan dalam perjuangan hidup.”

Film tersebut mengisahkan seorang pekerja rumah tangga migran asal Indonesia di Hong Kong yang menghadapi konflik kerja dan tekanan hidup akibat perpisahan dengan keluarga. Dalam keterbatasan itu, ia menemukan kekuatan melalui solidaritas di tempat penampungan migran.

Diskusi yang melibatkan berbagai latar belakang peserta—mulai dari buruh perempuan, petani, pekerja kreatif hingga purna migran—menguatkan pandangan bahwa migrasi sering kali bukan pilihan bebas, melainkan akibat keterbatasan ekonomi dan minimnya kesempatan kerja di dalam negeri.

Nur Khasanah peserta dari perwakilan KOPPMI menilai kegiatan ini memberikan ruang refleksi yang penting, khususnya bagi purna migran.

“Migrasi bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga tentang pengorbanan tenaga, waktu, kesehatan, dan relasi keluarga. Hal-hal ini sering luput dari perhatian publik,” katanya.

Selain itu, diskusi juga menyoroti aspek hidden cost of migration yang jarang dibahas, seperti dampak psikologis akibat pemisahan keluarga, terutama antara ibu dan anak. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan di negara tujuan seperti Hong Kong yang mengharuskan pekerja domestik tinggal bersama majikan, sehingga menyulitkan mereka mencari perlindungan ketika mengalami kekerasan.

Dalam konteks tersebut, keberadaan tempat penampungan seperti Bethune House menjadi sangat penting sebagai ruang aman bagi pekerja migran untuk mendapatkan perlindungan sekaligus memperjuangkan keadilan.

Melalui kegiatan ini, para penyelenggara dan peserta mendorong adanya kolaborasi multipihak untuk memperkuat kebijakan perlindungan, memperluas akses jaminan sosial, serta meningkatkan pemberdayaan ekonomi bagi perempuan pekerja informal, pekerja migran, dan purna migran.

Forum ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi strategis yang tidak hanya relevan di tingkat lokal, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan sistem perlindungan pekerja migran secara nasional.

Monas Iswandari

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending