web analytics
Connect with us

Opini

Wacana Perempuan dalam Kebudayaan

Published

on

Ngatiyar – Pegiat Mitra Wacana

Oleh Ngatiyar

Sesekali nulis di sini, terutama berkaitan dengan wacana perempuan dalam kebudayaan. Secara teoritik, dan mungkin juga pada tataran praksis, sistem pengetahuan yang mendasari tindakan, banyak di dominasi oleh dua corak, yakni keteraturan dalam struktur  dan kesenjangan dalam struktur.

Dalam sosiologi dasar, kedua corak pemikiran ini selalu mendasarkan pada struktur. Yang pertama cenderung menjaga keharmonisan dengan tanpa mengindahkan bahwa dalam struktur tersebut terdapat ketimpangan, sedang kedua lebih menekankan pada ketimpangan dalam struktur. Tetapi sekali lagi, keduanya sesungguhnya sama sama mengandalkan pada struktur.

Asumsi dasarnya adalah struktur (kebudayaan) telah ada sebelum manusia lahir. Sehingga pikiran dan tindakan manusia tiada lain adalah mempelajari norma dan nilai dalam struktur yang digunakan untuk menjalani kehidupannya. Itu artinya, pemikiran adalah sesuatu yang bersifat warisan, dan bukan temuan. Misalnya, perempuan sebagai konco wingking. Istilah ini, disadari atau tidak sesungguhnya membentuk suatu pengetahuan dan mengkristal menjadi norma yang menghasilkan perempuan harus dibelakang. Pengetahuan tersebut diwariskan dan bahkan dilanggengkan melalui sosialisasi dan melalui sosialisasi itulah manusia mempelajari sehingga masuk dalam pengetahuannya.

Cilekek bukan…..nah, problem besarnya sebenarnya pada pengetahuan yang diwariskan atau ditemukan.., bagi saya yang terpenting adalah bagaimana perempuan tersebut membangun pengetahuannya dengan tanpa diintervensi oleh struktur. Meretas pewarisan pengetahuan berarti menempatkan perempuan sebagai subyek atas dirinya sendiri yang menemukan pengetahuan bagi dirinya sendiri dan bukan objek dari pengetahuan dalam struktur.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

“DEMOKRASI INDONESIA DIGILAS?”

Published

on

Penulis : Akbar Pelayati (Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Uin Alauddin Makassar, juga merupakan Aktivis HMI MPO Cabang Makassar)

Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Indonesia baru-baru ini telah mencuri perhatian global, memicu gelombang diskusi yang tak kunjung mereda. Dari polemik terkait batas usia calon hingga dugaan kecurangan, semua menjadi bahan pembicaraan hangat. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, yang diumumkan sebagai pemenang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), menjadi pusat sorotan tajam, dengan kubu lawan menuding hasil pemilu sebagai ‘pukulan’ bagi demokrasi.

Tidak hanya di tempat pemungutan suara (TPS), pertarungan politik juga memanas di ranah maya. Film dokumenter berjudul “Dirty Vote” menjadi topik perdebatan sengit, dengan sebagian melihatnya sebagai senjata ampuh untuk menjatuhkan lawan politik. Di tengah riuhnya perdebatan ini, angka rekor suara Prabowo dan Gibran—mencapai angka fantastis 96,21 juta—seolah-olah menciptakan epik baru dalam sejarah pemilihan umum di seluruh dunia.

Namun, di balik gemerlapnya kemenangan, suara-suara dari kubu kosong satu dan tiga masih terus bergema. Kubu lawan menolak hasil pemilu dengan keras, menyebutnya sebagai ‘kemenangan kotor’ yang berpotensi merusak demokrasi. Sidang sengketa di Mahkamah Konstitusi menjadi tontonan menyakitkan bagi sebagian rakyat, karena di sinilah suara mereka diabaikan, dan politik tampaknya menginjak-injak prinsip-prinsip demokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi.

Dalam dinamika yang terus berkembang ini, pertanyaan besar mengemuka: Siapakah yang sebenarnya menginjak-injak demokrasi? Dalam sorotan terang panggung politik yang membutakan, kebenaran mungkin tengah tersembunyi di balik sorotan kamera dan klaim politik yang saling berbenturan.

Dalam upaya memahami kompleksitas dan dampak dari peristiwa ini, penting bagi kita untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana demokrasi Indonesia sesungguhnya berfungsi, dan bagaimana institusi-institusi yang ada menjalankannya.

Demokrasi, sebagai sistem pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat, harus memastikan bahwa setiap suara dihargai dan dipertimbangkan dengan cermat dalam proses pengambilan keputusan. Ini bukan hanya tentang pemenang dan pecundang dalam pertempuran politik, tetapi tentang integritas dan keberlanjutan dari fondasi demokrasi kita.

Perdebatan tentang integritas pemilu dan lembaga-lembaga demokratis di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru. Sejarah telah mencatat berbagai tantangan dan kontroversi yang melanda proses demokratisasi negara ini sejak awal kemerdekaannya. Namun, apa yang perlu dipahami adalah bahwa dalam setiap fase perkembangan demokrasi, tantangan itu harus dihadapi dengan kepala tegak dan semangat kebersamaan untuk memperkuat sistem yang ada.

Penting bagi semua pihak—baik para pemimpin politik, lembaga-lembaga pemerintahan, maupun masyarakat sipil—untuk memperkuat komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip demokrasi yang mendasari negara ini. Ini termasuk menjunjung tinggi aturan main yang adil, transparansi dalam proses politik, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia yang mendasar bagi setiap warga negara.

Lebih dari sekadar memenangkan pertempuran politik, yang lebih penting adalah memastikan bahwa fondasi demokrasi kita tetap kokoh dan tak tergoyahkan. Demokrasi bukanlah hasil akhir yang bisa diperoleh dengan satu pukulan, tetapi merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen, kesabaran, dan kerja keras dari semua pihak yang terlibat.

Jadi, saat kita mempertanyakan siapa yang sebenarnya ‘menginjak-injak’ demokrasi, mari kita juga bertanya pada diri kita sendiri: Apakah kita telah melakukan bagian kita dalam membangun dan menjaga demokrasi yang sehat dan berkelanjutan?

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending