Arsip
Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja tingkat SMP
Published
3 years agoon
By
Mitra Wacana
Materi dalam modul pendidikan kesehatan reproduksi ini mencakup 8 bagian yang terdiri
dari: (1) Konsep Dasar Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja, (2) Nilai, Mengenal Diri dan
Hubungan dengan Orang lain, (3) Pertumbuhan dan Perkambangan Remaja, (4) Masalah
Kesehatan Reproduksi, (5) Gender dan Pencegahan kekerasan, (6) Peran Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam Kesehatan Reproduksi Remaja, (7) Dukungan dan Layanan, (8) Penyusunan
Rencana Pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan Layanan Pendidikan Kesehatan Reproduksi. Di
dalam modul ini juga dilengkapi dengan langkah pembelajaran dari setiap topik dari 8 bagian
di atas untuk guru dan peserta didik. Selain itu, terdapat catatan penting yang telah didesain
sedemikian rupa agar mudah diterapkan oleh guru.
You may like
Arsip
Kunjungan Koordinasi Penguatan Jejaring Sosial di Kantor Mitra Wacana
Published
2 weeks agoon
4 April 2026By
Mitra Wacana
Kegiatan kunjungan koordinasi dan penguatan jejaring dalam rangka pengumpulan data Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Cluster Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang dilaksanakan pada Jumat (3/4) di kantor Mitra Wacana.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Tugas yang diterbitkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.
Tim yang ditugaskan dalam kegiatan ini adalah Peddy dan Fahmi dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (Dit-Rehsos-RTS & KPO). Kehadiran tim bertujuan untuk melakukan koordinasi langsung serta memperkuat jejaring kerja sama dengan lembaga pendamping di tingkat lapangan.

Kunjungan tersebut diterima oleh Wahyu Tanoto selaku Ketua Mitra Wacana, bersama beberapa staff: Muazim, Mansur, dan Ruli. Dalam suasana dialog yang terbuka, pihak Mitra Wacana memaparkan profil organisasi, termasuk visi, misi, serta ruang lingkup kerja yang selama ini berfokus pada isu kemanusiaan dan pelindungan kelompok rentan.
Selain itu, Mitra Wacana juga berbagi pengalaman dalam melakukan pendampingan dan advokasi, khususnya terkait isu perdagangan orang. Berbagai praktik baik (best practices), tantangan di lapangan, serta strategi intervensi yang telah dilakukan menjadi bagian penting dalam diskusi tersebut.
Hal ini memberikan gambaran nyata mengenai dinamika kasus serta kebutuhan riil yang dihadapi korban.
Diskusi berlangsung interaktif dengan penekanan pada pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik antara pemerintah, lembaga masyarakat sipil, maupun komunitas lokal.
Pendekatan partisipatif dinilai menjadi kunci dalam menghasilkan data yang akurat sekaligus memperkuat respons perlindungan sosial.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga pendamping, sehingga upaya pencegahan dan penanganan korban perdagangan orang dapat dilakukan secara lebih efektif, terpadu, dan berkelanjutan.
Kunjungan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus membangun komunikasi dan memperluas kerja sama di masa mendatang. (Tnt).










