Kulonprogo
Rencanakan Kegiatan Tahun 2024, Darma Taruna Sangon Adakan Musyawarah
Published
2 years agoon
By
Mitra Wacana
Setiap organisasi pasti membutuhkan sebuah perencanaan kegiatan untuk mencapai visi misinya. Dengan melakukan perencanaan di awal tahun maka organisasi tersebut tau kemana arah yang akan ditujunya. Di awal tahun ini Karang taruna Darma Taruna Sangon (DTS) bersama Mitra Wacana mengadakan pertemuan rutin di rumah Arif salah satu anggota karang taruna pada sabtu, 6 januari 2023. Pertemuan yang dihadiri oleh 17 orang termasuk tim media sangon ini dimulai pukul 21.00-23.30 WIB. Pertemuan ini akan membahas tentang evalusi kegiatan di tahun 2023 dan membut perencanaan kegiatan tahun 2024.
Pertemuan dibuka oleh MC, dilanjutkan dengan sambutan tuan rumah, pengurus karang taruna dan acara inti musyawarah bersama. Musyawarah kali ini Jarod selaku Ketua Karang Taruna mengajak semua anggota yang hadir untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dari perencanaan tahun 2023. Setelah di analisis sekitar 75% perencanaan kegiatan di tahun 2023 terlaksana dan ada beberapa kegiatan yang belum sempat terealisasikan. Untuk kegiatan-kegiatan yang belum terealisasikan di tahun 2023 maka akan realisasikan di tahun 2024 seperti sosialisasi tentang kenakalan remaja dan NAPZA.
Untuk menyusun perencanaan tahun 2024, Jarod mencoba menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menggali masukan dan usulan dari setiap anggota. Hal ini dilakukan karena kebanyakan anggota lebih cenderung memilih untuk diam dan ikut-ikut saja. Berkaca dari hal tersebut kemudian jarod ditemani oleh pendamping dari Mitra Wacana kemudian membagikan kertas agar setiap anggota. Setiap anggota yang sudah mendapatkan kertas kemudian mereka disuruh menuliskan harapan mereka untuk karang taruna di tahun 2024.
Setelah semua selesai kemudian di kumpulkan dan dibahas bersama.Dari berbagai usulan yang masuk, kemudian dikonfirmasi dan di pertajam lagi harapan-harapan sampai berupa sebuah kegiatan. Hasil diskusi inilah yang akan digunakan sebagai perencanaan kegiatan untuk tahun 2024.
Berita
Peringati Hari Migran Internasional, Koalisi Lembaga di Yogyakarta Laksanakan Acara Rembug Migran
Published
1 month agoon
22 December 2025By
Mitra Wacana
Dalam rangka memperingati Hari Migran Internasional, Mitra Wacana, KOPPMI dan Beranda Migran berkolaborasi untuk melaksanakan agenda Rembug Migran, Minggu (21/12/2025). Kegiatan bertajuk Rembug Migran: Kami Bukan Sekadar Angka dengan tema (Desak Negara Memenuhi Pelindungan serta Hak Pekerja Migran dan Purna Migran) ini bertempat di Venue Bakmi Jawa Mas Kuntet, Yogyakarta. Kegiatan peringatan International Migrants Day ini menjadi bagian dari gerakan kolektif untuk menyediakan ruang, memperjuangkan keadilan, keselamatan, dan harkat hidup pekerja migran serta penyintas perdagangan orang.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Eni Lestari selaku ketua International Migran Alliance (IMA). Melalui sambutannya ia menyampaikan bahwa Pekerja Migran Indonesia (PMI) disebut pekerja dan pahlawan devisa itu hanya jargon saja. Sesungguhnya, PMI bukan pekerja (formal) yang diakui dan dilindungi dalam UU Ketenagakerjaan Indonesia. Inilah alasan mengapa perlindungan bagi PMI sangat minim, birokratis dan tidak jelas. Mayoritas PMI termasuk korban TPPO dan purna migran tidak mendapat layanan dan bantuan yang dibutuhkan.
Kemudian, Muazim membagikan pengalaman keterlibatan Mitra Wacana dalam menangani kasus perdagangan orang. Dalam presentasinya, Muazim menunjukkan kasus-kasus yang turut ditangani oleh Mitra Wacana dari tahun ke tahun sejak 2021. Dia juga menggarisbawahi bagaimana Mitra Wacana mendorong adanya partisipasi pemerintah di setiap level untuk melaksanakan perlindungan masyarakat dari perdagangan orang. Dia menyampaikan “Sebenarnya Mitra Wacana bukan fokus pada advokasi dan pendampingan, tapi karena banyaknya kasus, mau tidak mau kita juga menangani.”
Kegiatan ini juga menghadirkan Iwan dan Puspa (nama samaran) yang merupakan penyintas kasus perdagangan orang yang dipekerjakan di Kamboja sebagai scammer online. Saat sharing session keduanya membagikan pengalaman mereka bagaimana proses perekrutan, pemberangkatan, situasi pekerjaan hingga perjuangan mereka melarikan diri dari perusahaan penipuan online di Kamboja. Dari cerita mereka terlihat bahwa kejahatan perdagangan manusia ini menjadi lingkaran setan yang merugikan masyarakat Indonesia secara umum. Pasalnya perusahaan scammer online merekrut pekerja dari Indonesia untuk menipu orang-orang Indonesia melalui platform seperti TikTok Shop, aplikasi pajak dan Taspen. Dua orang purna pekerja migran juga turut membagikan pengalaman mereka tentang kesulitan dalam proses reintegrasi dan adaptasi sekembalinya mereka ke Indonesia setelah bertahun-tahun bekerja di luar negeri. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa peran negara masih sangat minim dalam melindungi pekerja migran dan korban perdagangan orang.
Untuk membungkus keseluruhan sesi, Hanindiya Kristy menyampaikan bahwa kebijakan dan program ekspor tenaga kerja dianggap sebagai jalan buntu dalam mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Program dan kebijakan ekspor tenaga kerja dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan jumlah pekerja yang dikirim ke luar negeri setiap tahun dan meningkatkan pendapatan dari remitansi bagi negara-negara tersebut serta industri pengiriman tenaga kerja. Program ekspor tenaga kerja yang berorientasi pada keuntungan di banyak negara memperlakukan pekerja migran sebagai komoditas dan mesin penghasil uang tanpa memprioritaskan hak-hak pekerja migran. Pekerja migran menjadi rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi dan perdagangan manusia sejak mereka dipaksa bekerja di luar negeri. Apa yang membuat PMI bekerja luar negeri, kembali dihadapi oleh purna PMI saat kembali ke tanah air dan justru dalam kondisi lebih buruk.









