Opini
Dulu Kita Punya Cerita, Kini Kita Punya Algoritma
Published
1 hour agoon
By
Mitra Wacana

Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Filsafat dan Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Keuangan
Kita hidup di zaman yang luar biasa. Hanya dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain. Teknologi membuat hidup menjadi lebih cepat, lebih mudah, dan lebih praktis. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, kini dapat dilakukan dalam hitungan menit. Dunia seolah berada di genggaman tangan.
Namun di tengah kemajuan tersebut, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kehidupan manusia. Kita semakin kaya informasi, tetapi belum tentu semakin kaya makna. Kita semakin banyak mengetahui berbagai hal, tetapi belum tentu semakin memahami bagaimana menjalani hidup yang baik. Dalam situasi inilah muncul pertanyaan penting: dari mana generasi muda belajar tentang kebijaksanaan, tanggung jawab, dan moralitas?
Cerita yang Pernah Menuntun Kehidupan
Sebelum dunia dipenuhi layar dan media sosial, manusia hidup bersama cerita. Orang tua menceritakan kisah kepada anak-anaknya. Para tetua mewariskan legenda dan cerita rakyat kepada generasi berikutnya. Di berbagai daerah, mitos menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Banyak orang modern menganggap mitos hanya sebagai dongeng atau cerita kuno yang tidak lagi relevan. Padahal, mitos sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang keberanian, kejujuran, kesetiaan, pengorbanan, kerja keras, dan tanggung jawab.
Masyarakat dahulu memahami bahwa manusia tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan cerita. Aturan dapat mengendalikan perilaku, tetapi cerita membentuk hati dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Karena itu, hampir setiap kebudayaan memiliki kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui cerita, manusia belajar bahwa keserakahan membawa kehancuran, bahwa kesombongan dapat menjatuhkan seseorang, dan bahwa kebaikan pada akhirnya memiliki nilai yang lebih tinggi daripada kekuasaan atau kekayaan. Cerita menjadi sarana sederhana untuk menanamkan kebijaksanaan yang sulit dijelaskan hanya melalui nasihat atau perintah.
Ketika Algoritma Menggantikan Cerita
Hari ini keadaan mulai berubah. Banyak anak muda lebih mengenal tokoh media sosial daripada tokoh dalam cerita rakyat daerahnya sendiri. Waktu yang dahulu digunakan untuk mendengarkan cerita kini lebih banyak dihabiskan untuk menatap layar. Informasi datang tanpa henti melalui berbagai platform digital.
Dalam dunia digital, algoritma memiliki peran yang sangat besar. Algoritma menentukan apa yang muncul di layar kita, video apa yang direkomendasikan, berita apa yang dibaca, dan topik apa yang menjadi perhatian. Tanpa disadari, sebagian besar pengalaman digital manusia dibentuk oleh algoritma.
Tentu saja algoritma bukan sesuatu yang buruk. Algoritma membantu manusia menemukan informasi dengan cepat dan mempermudah berbagai aktivitas. Persoalannya adalah algoritma tidak dirancang untuk membentuk karakter manusia. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian, ketertarikan, dan kebiasaan pengguna. Apa yang paling menarik perhatian akan lebih sering ditampilkan.
Akibatnya, banyak orang lebih mudah terpapar sensasi daripada kebijaksanaan. Popularitas sering dianggap lebih penting daripada integritas. Viral lebih dihargai daripada kebenaran. Yang dicari bukan lagi apa yang baik, melainkan apa yang ramai diperbincangkan.
Dalam keadaan seperti ini, manusia berisiko kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang berguna dan yang bermakna. Banyak orang memiliki akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak memiliki pegangan moral yang kuat. Mereka mengetahui banyak hal, tetapi tidak memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupan.
Filsafat sejak zaman kuno telah mengingatkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mampu mengendalikan hasratnya dengan akal budi. Ketika akal budi tidak lagi menjadi penuntun, maka manusia mudah dikuasai oleh naluri, keinginan sesaat, dan hawa nafsu. Jika keadaan ini terus berlangsung, yang lahir bukanlah kemajuan peradaban, melainkan kemunduran moral yang perlahan menggerogoti masa depan.
Menghidupkan Kembali Makna di Tengah Zaman Digital
Karena itu, menghidupkan kembali mitos bukan berarti mengajak masyarakat kembali pada takhayul. Yang perlu dihidupkan adalah makna yang terkandung di dalam cerita-cerita tersebut. Nilai moral yang diwariskan melalui mitos tetap relevan meskipun zaman telah berubah.
Kita membutuhkan lebih banyak cerita yang mengajarkan kejujuran di tengah maraknya manipulasi. Kita membutuhkan kisah tentang pengorbanan di tengah budaya individualisme. Kita membutuhkan teladan tentang tanggung jawab di tengah kecenderungan untuk mencari jalan pintas.
Kabar baiknya, teknologi yang sering dianggap sebagai penyebab masalah juga dapat menjadi bagian dari solusi. Buku, artikel daring, podcast, film pendek, video kreatif, dan media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan kembali cerita-cerita yang sarat makna kepada generasi muda.
Tantangan terbesar manusia modern bukanlah memilih antara mitos atau teknologi. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kebijaksanaan yang diwariskan oleh cerita. Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih cerdas, tetapi cerita membantu manusia menjadi lebih bijaksana.
Pada akhirnya, peradaban tidak dibangun hanya oleh kecanggihan teknologi. Peradaban juga dibangun oleh nilai-nilai yang hidup dalam diri manusia. Algoritma mungkin mampu menunjukkan apa yang ingin kita lihat, tetapi cerita membantu kita memahami siapa diri kita dan menjadi manusia seperti apa kita seharusnya hidup.
Dahulu kita punya cerita yang menuntun langkah kehidupan. Kini kita punya algoritma yang mengatur arus informasi. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan cerita-cerita penuh makna itu menghilang, atau justru menghidupkannya kembali agar generasi mendatang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana?
Opini
Mengapa Beberapa Obat Tidak Boleh Dihancurkan? Penjelasan Farmasi Di Balik Bentuk Sediaan Obat
Published
18 minutes agoon
1 July 2026By
Mitra Wacana

Shafa Rahmalia Putri
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Prodi S1 Farmasi
Apakah kalian pernah melihat tulisan “Jangan dibelah”, “Telan utuh”, “Jangan digerus” di kemasan obat? Orang- orang menganggap itu hanya sebuah tulisan biasa. Padahal itu sebuah aturan kapsul atau tablet yang dirancang melalui formulasi farmasi agar obat dapat dilepaskan pada tempat yang ada didalam tubuh. Jika bentuk sediaan itu diubah tanpa petunjuk Nakes, efek dari kapsul atau tablet tersebut akan berkurang atau justru mengalami peningkatan risiko efek samping dari tablet tersebut.
Sebagai contoh salah satunya yaitu tablet salut enterik. Lapisannya dibuat agar tidak bisa larut di lambung, dan baru akan pecah atau larut ketika sudah sampai di usus. Tujuannya yaitu melindungi zat aktif yaitu asam lambung yang ada dilambung itu sendiri. Sehingga lambung tersebut tidak ter-iritasi dari tablet tersebut. Jika lapisan ini dihancurkan sebelum diminum, maka yang terjadi pada lapisan pelindung yaitu asam lambung akan rusak atau ter-iritasi dan lapisan tablet akan rusak juga sehingga tidak bekerja sebagimana mestinya.
Contoh lain yaitu tablet lepas lambat ini juga tidak boleh digerus. Tablet ini dirancang untuk melepaskan obat sedikit demi sedikit durasinya ber jam-jam. Semisal dihancurkan sebelum diminum, seluruh dosis dalam tablet ini akan dilepaskan sekaligus. Yang terjadi kadar obat dalam darah akan meningkat secara drastis. Hal ini dikenal sebagai doses dumping dan bisa memperparah risiko toksisitas maupun menurunkan lama kerja obat.
Obat jenis kapsul juga demikian, tidak semuanya dapat dibuka. Beberapa kapsul mengandung butiran kecil yang mempunyai lapisan Pelepas obat. Ketika butiran tersebut dibuka, dihancurkan atau dikunyah, akibatnya mekanisme pelepasan obat tidak akan maksimal sehingga menjadi tidak optimal.
Bagi pasien yang kesulitan untuk menelan obat, menghancurkan tablet atau membuka kapsul bukan menjadi solusi yang terbaik. Ada beberapa jenis obat seperti sirup, dispersible, tablet kunyah menjadi alternatif utama yang lebih sesuai. Sehingga cara yang efektif yaitu dengan berkonsultasi dengan apoteker atau dokter sebelum mengubah bentuk sediaan obat.
Tidak hanya itu, beberapa obat mempunyai rasa yang sangat pahit atau bahkan dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman pada mulut dan tenggorokan. Produsen mempunyai cara agar mengatasi hal tersebut dengan memberikan lapisan luar pada tablet agar rasanya tidak langsung terkena mulut dan tenggorokan. Ketika obat tersebut dihancurkan, otomatis lapisannya akan rusak maka rasa asli dari obat tersebut akan terkena mulut dan tenggorokan. Hal ini sering kali terjadi pada pasien, anak-anak dan lansia yang enggan melanjukan pengobatan karena rasanya tidak nyaman.
Menghancurkan obat juga menyebabkan dosis menjadi tidak akurat. Serbuk yang dihancurkan sebagian akan menempel pada alat penghancur seperti sendok, sehingga dosis dari obat tersebut tidak semuanya diminum. Meskipun kelihatannya sepele, kondisi tersebut jika diulangi setiap minum obat, maka keberhasilan terapi tidak berjalan maksimal. Terutama pada obat yang mempunyai dosis sempit. Karena itu penghancuran obat tertentu hanya boleh dilakukan dengan prosedur yang khusus.
Maka dari itu, yuk! pahami dulu aturannya supaya obat dapat bekerja maksimal, karena tablet ataupun kapsul bukan sekedar tampilannya saja, melainkan setiap lapisan, ukuran hingga cara pembuatanya juga dibuat berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan untuk membuat pasien aman dan efektif dalam menjalankan terapi pengobatannya. Karena itu, jika pada kemasan obat tertulis “Telan utuh” maka hal itu harus diikuti dan bukan hanya sekedar saran. Ketika masih ragu, bertanyalah pada apoteker atau dokter sebelum menghancurkan tablet atau membuka kapsulnya terlebih dahulu.
REFERENSI
Blaszczyk, A., Brandt, N., Ashley, J., Tuders, N., Doles, H., & Stefanacci, R. G. (2023). Crushed Tablet Administration for Patients with Dysphagia and Enteral Feeding : Challenges and Considerations. Drugs & Aging, 40(10), 895–907. https://doi.org/10.1007/s40266-023-01056-y
Elizabeth Street. (2021). National Safety and Quality Health Service Standards.
Harnett, A., Byrne, S., Connor, J. O., Lyons, D., & Sahm, L. J. (2023). Adult Patients with Difficulty Swallowing Oral Dosage Forms : A Systematic Review of the Quantitative Literature. Pharmacy, 1–15.
Teresk, M. G., Berkland, C. J., & Dormer, N. H. (2017). Deficiencies in Traditional Oral Dosage Forms and the Emergence of Controlled-Release Powder Manufacturing †. 34(34), 91–105. https://doi.org/10.14356/kona.2017013

Mengapa Beberapa Obat Tidak Boleh Dihancurkan? Penjelasan Farmasi Di Balik Bentuk Sediaan Obat

Makan Sehat Bukan Berarti Mahal: Langkah Sederhana Menjaga Tubuh Tetap Bugar

Ikhtiar Menghidupkan Oposisi Substantif di Tengah Kepungan Koalisi Gemuk
Trending
Opini33 minutes agoMakan Sehat Bukan Berarti Mahal: Langkah Sederhana Menjaga Tubuh Tetap Bugar
Opini45 minutes agoIkhtiar Menghidupkan Oposisi Substantif di Tengah Kepungan Koalisi Gemuk
Opini18 minutes agoMengapa Beberapa Obat Tidak Boleh Dihancurkan? Penjelasan Farmasi Di Balik Bentuk Sediaan Obat





