Opini
Dulu Kita Punya Cerita, Kini Kita Punya Algoritma
Published
2 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Filsafat dan Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Keuangan
Kita hidup di zaman yang luar biasa. Hanya dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain. Teknologi membuat hidup menjadi lebih cepat, lebih mudah, dan lebih praktis. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, kini dapat dilakukan dalam hitungan menit. Dunia seolah berada di genggaman tangan.
Namun di tengah kemajuan tersebut, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kehidupan manusia. Kita semakin kaya informasi, tetapi belum tentu semakin kaya makna. Kita semakin banyak mengetahui berbagai hal, tetapi belum tentu semakin memahami bagaimana menjalani hidup yang baik. Dalam situasi inilah muncul pertanyaan penting: dari mana generasi muda belajar tentang kebijaksanaan, tanggung jawab, dan moralitas?
Cerita yang Pernah Menuntun Kehidupan
Sebelum dunia dipenuhi layar dan media sosial, manusia hidup bersama cerita. Orang tua menceritakan kisah kepada anak-anaknya. Para tetua mewariskan legenda dan cerita rakyat kepada generasi berikutnya. Di berbagai daerah, mitos menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Banyak orang modern menganggap mitos hanya sebagai dongeng atau cerita kuno yang tidak lagi relevan. Padahal, mitos sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang keberanian, kejujuran, kesetiaan, pengorbanan, kerja keras, dan tanggung jawab.
Masyarakat dahulu memahami bahwa manusia tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan cerita. Aturan dapat mengendalikan perilaku, tetapi cerita membentuk hati dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Karena itu, hampir setiap kebudayaan memiliki kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui cerita, manusia belajar bahwa keserakahan membawa kehancuran, bahwa kesombongan dapat menjatuhkan seseorang, dan bahwa kebaikan pada akhirnya memiliki nilai yang lebih tinggi daripada kekuasaan atau kekayaan. Cerita menjadi sarana sederhana untuk menanamkan kebijaksanaan yang sulit dijelaskan hanya melalui nasihat atau perintah.
Ketika Algoritma Menggantikan Cerita
Hari ini keadaan mulai berubah. Banyak anak muda lebih mengenal tokoh media sosial daripada tokoh dalam cerita rakyat daerahnya sendiri. Waktu yang dahulu digunakan untuk mendengarkan cerita kini lebih banyak dihabiskan untuk menatap layar. Informasi datang tanpa henti melalui berbagai platform digital.
Dalam dunia digital, algoritma memiliki peran yang sangat besar. Algoritma menentukan apa yang muncul di layar kita, video apa yang direkomendasikan, berita apa yang dibaca, dan topik apa yang menjadi perhatian. Tanpa disadari, sebagian besar pengalaman digital manusia dibentuk oleh algoritma.
Tentu saja algoritma bukan sesuatu yang buruk. Algoritma membantu manusia menemukan informasi dengan cepat dan mempermudah berbagai aktivitas. Persoalannya adalah algoritma tidak dirancang untuk membentuk karakter manusia. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian, ketertarikan, dan kebiasaan pengguna. Apa yang paling menarik perhatian akan lebih sering ditampilkan.
Akibatnya, banyak orang lebih mudah terpapar sensasi daripada kebijaksanaan. Popularitas sering dianggap lebih penting daripada integritas. Viral lebih dihargai daripada kebenaran. Yang dicari bukan lagi apa yang baik, melainkan apa yang ramai diperbincangkan.
Dalam keadaan seperti ini, manusia berisiko kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang berguna dan yang bermakna. Banyak orang memiliki akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak memiliki pegangan moral yang kuat. Mereka mengetahui banyak hal, tetapi tidak memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupan.
Filsafat sejak zaman kuno telah mengingatkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mampu mengendalikan hasratnya dengan akal budi. Ketika akal budi tidak lagi menjadi penuntun, maka manusia mudah dikuasai oleh naluri, keinginan sesaat, dan hawa nafsu. Jika keadaan ini terus berlangsung, yang lahir bukanlah kemajuan peradaban, melainkan kemunduran moral yang perlahan menggerogoti masa depan.
Menghidupkan Kembali Makna di Tengah Zaman Digital
Karena itu, menghidupkan kembali mitos bukan berarti mengajak masyarakat kembali pada takhayul. Yang perlu dihidupkan adalah makna yang terkandung di dalam cerita-cerita tersebut. Nilai moral yang diwariskan melalui mitos tetap relevan meskipun zaman telah berubah.
Kita membutuhkan lebih banyak cerita yang mengajarkan kejujuran di tengah maraknya manipulasi. Kita membutuhkan kisah tentang pengorbanan di tengah budaya individualisme. Kita membutuhkan teladan tentang tanggung jawab di tengah kecenderungan untuk mencari jalan pintas.
Kabar baiknya, teknologi yang sering dianggap sebagai penyebab masalah juga dapat menjadi bagian dari solusi. Buku, artikel daring, podcast, film pendek, video kreatif, dan media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan kembali cerita-cerita yang sarat makna kepada generasi muda.
Tantangan terbesar manusia modern bukanlah memilih antara mitos atau teknologi. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kebijaksanaan yang diwariskan oleh cerita. Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih cerdas, tetapi cerita membantu manusia menjadi lebih bijaksana.
Pada akhirnya, peradaban tidak dibangun hanya oleh kecanggihan teknologi. Peradaban juga dibangun oleh nilai-nilai yang hidup dalam diri manusia. Algoritma mungkin mampu menunjukkan apa yang ingin kita lihat, tetapi cerita membantu kita memahami siapa diri kita dan menjadi manusia seperti apa kita seharusnya hidup.
Dahulu kita punya cerita yang menuntun langkah kehidupan. Kini kita punya algoritma yang mengatur arus informasi. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan cerita-cerita penuh makna itu menghilang, atau justru menghidupkannya kembali agar generasi mendatang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana?
Opini
Physical & Emotional Intimacy in Healthy Relationships
Published
6 days agoon
6 July 2026By
Mitra Wacana
Sexual health also includes healthy respectful relationships and intimate partnership.
What is intimacy?

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
Intimacy is a multidimensional construct that consists of intellectual, personal, affective and physical aspects. Emotional and sexual aspects of intimacy are important predictors of satisfaction in a relationship. Intimacy can have a positive influence on the development of trust and bond in relationships and marriage.
Emotional intimacy is when partners feel the ability to behave, think or feel without fear of being judged. It is related to partner satisfaction, emotional well-being, communication, partner support, understanding and sexual well-being. Additionally, it can be a protective factor in romantic relationships and a key factor for mental health and well-being.
Sexual intimacy involves physical affection, trust and respectful communication between partners. Sexual desire has been positively associated to emotional and relationship quality. In addition, sexual satisfaction predicts higher relationship satisfaction.
Why is intimacy important?
Lack of intimacy is associated with relationship issues such as lost sense of security, jealousy between partners, prevention of processing of conflicts. When a relationship misses emotional intimacy, the relationship can feel lonely, disconnected from each other, not sharing important things, lack of support, which all can cause more conflicts and arguments. A lack of emotional intimacy can in turn cause lower sexual intimacy and lower relationship satisfaction.
The role of communication
Communication plays an important role in relationships; it can strengthen or hinder emotional and sexual intimacy between partners. Individuals who experienced positive communication in their relationship are more likely to feel sexually and emotionally intimate with their partners and therefore satisfied with their relationships.
Tips on how to ensure emotional and sexual intimacy in your relationship:
- Create an atmosphere for your partner where they will feel safe disclosing their vulnerabilities.
- Encourage communication about their want and needs, ask questions.
- Consider turning of electronic devices when spending time together, especially during mealtime.
- Make time for each other and engage in mutually enjoyable fun activities.
- Have a good balance between self-care and being together.
References
Aranda, V., Ayala, M., Esquivel, C., Ossandón, N., & Quinteros, C. (2024). Self-concealment and emotional intimacy in Chilean adults in a couple relationship. Iberoamerican Journal of Psychology and Public Policy, 1(2), 119–140. https://doi.org/10.56754/2810-6598.2024.0012
Beaulieu, N., Bergeron, S., Brassard, A., Byers, E. S., & Péloquin, K. (2022). Toward an integrative model of intimacy, sexual satisfaction, and relationship satisfaction: A Prospective Study in Long-Term Couples. The Journal of Sex Research, 60(8), 1100–1112. https://doi.org/10.1080/00224499.2022.2129557
Lancer, D. (2023, April 4). 8 ways to nurture emotional intimacy in your marriage. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/men-growing-intimacy-in-marriage-1270945
Wider, W., Chua, B. S., Mutang, J. A., Tan, C. C., Jiang, L., Tanucan, J. C. M., Thant, Y. M., & Udang, L. N. (2025). Associations between intimacy in relationships and marital satisfaction across gender and in different durations of relationship. Cogent Psychology, 12(1). https://doi.org/10.1080/23311908.2025.2545657
Yoo, H., Bartle-Haring, S., Day, R. D., & Gangamma, R. (2013). Couple communication, emotional and sexual intimacy, and relationship satisfaction. Journal of Sex & Marital Therapy, 40(4), 275–293. https://doi.org/10.1080/0092623x.2012.751072







