web analytics
Connect with us

Opini

Ikhtiar Menghidupkan Oposisi Substantif di Tengah Kepungan Koalisi Gemuk

Published

on

Sumber foto: Freepik

Aditiya Widodo Putra
Penulis teknis dan peneliti independen dengan spesialisasi tata kelola global dan hukum internasional yang berdomisili di Semarang.

Sistem politik Indonesia pasca-pemilu kerap mempertontonkan anomali berupa penumpukan partai politik di dalam gerbong pemerintahan yang melahirkan koalisi gemuk. Fenomena ini terlihat nyata pasca-Pemilu 2024, di mana partai-partai besar penantang seperti PKB dan PKS akhirnya memilih berbalik arah untuk bergabung secara resmi ke dalam gerbong koalisi pemerintahan baru demi mengamankan insentif politik. Sementara itu, meskipun PDI-P dan NasDem tidak menempatkan kadernya di dalam kabinet, besarnya volume partai yang melompat masuk ke eksekutif telah menciptakan dominasi mutlak yang mempersempit ruang kritik formal di parlemen. Richard S. Katz dalam jurnalnya berjudul  “Changing Models of Party Organization and Party Democracy: The Emergence of the Cartel Party” menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi ketika partai-partai yang seharusnya bersaing justru berkolaborasi demi mengamankan sumber daya negara serta meminimalkan risiko politik secara kolektif. Tatkala partai politik bermetamorfosis menjadi kartel, mereka bertindak sebagai korporasi yang memaksimalkan keuntungan logistik. Pemikiran ini terlaksana nyata saat batas antara kawan dan lawan politik melebur seketika demi jatah kursi kabinet dan posisi strategis di lembaga eksekutif. Pembagian kekuasaan yang pragmatis ini secara perlahan mengikis esensi pemilu yang seharusnya menjadi sarana evaluasi kinerja petahana oleh rakyat.

Kondisi tersebut memicu keprihatinan mendalam karena hilangnya kekuatan penyeimbang yang bertugas mengontrol jalannya roda pemerintahan. Fenomena bersatunya mayoritas kekuatan politik di bawah satu payung kekuasaan secara sistematis telah mematikan fungsi pengawasan parlemen yang berujung pada disfungsi kelembagaan. Akibatnya, Dewan Perwakilan Rakyat kehilangan independensinya dan terjebak dalam ritme kerja yang sekadar melegalisasi setiap rancangan regulasi dari pemerintah. Ketiadaan oposisi yang tangguh membuat proses legislasi berjalan tanpa perdebatan substantif yang mencerminkan kepentingan publik secara luas. Oleh karena itu, penataan ulang terhadap pola koalisi gemuk ini mendesak dilakukan guna mengembalikan marwah checks and balances demi menyelamatkan sirkulasi demokrasi yang sehat.

Anatomi Politik Kartel dalam Demokrasi Kontemporer

Secara definitif, politik kartel dalam sistem presidensial dapat dipahami sebagai pola relasi antarpartai yang memprioritaskan kelangsungan hidup kolektif di atas kompetisi ideologis yang sehat. Partai politik bergantung penuh pada akses sumber daya negara yang diperoleh melalui kompromi politik pasca-pemilu. Implikasi dari struktur ini adalah homogenitas kebijakan, di mana semua partai di dalam parlemen cenderung menyetujui arah kebijakan eksekutif demi menjaga stabilitas insentif ekonomi mereka.

Pemikiran mengenai pengartelan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat bagaimana kebijakan publik di Indonesia lahir tanpa melalui uji publik yang ketat di parlemen. Ketika semua kekuatan politik utama terserap ke dalam struktur eksekutif, tidak ada lagi akar tunjang formal yang mampu menyuarakan penolakan atau alternatif kebijakan lain. Berdampak langsung pada alienasi politik secara masif, di mana publik merasa pemilu tidak lagi memiliki korelasi langsung dengan perubahan nasib hidup mereka dan hanya menjadi ruang negosiasi tertutup bagi elit parpol. Struktur tanpa kompetisi ini pada akhirnya menjadi determinan utama yang melahirkan tirani mayoritas yang legal dalam proses legislasi.

Konsep Etika Saham Moral sebagai Investasi Oposisi Baru

Sebagai antitesis terhadap kecenderungan politik kartel, saya mencoba merumuskan sebuah konsep yang saya beri nama “Etika Saham Moral”. Etika saham moral merupakan gagasan teoritis mengenai akumulasi kepercayaan publik dan integritas ideologis yang bisa diupayakan partai politik ketika memilih berada di luar pemerintahan. Partai politik secara sadar tidak mengambil insentif logistik jangka pendek seperti kursi kabinet, lalu mengalihkan fokusnya pada fungsi kontrol kelembagaan di parlemen. Gagasan ini memproyeksikan bahwa parpol dapat membangun rekam jejak sebagai pengawas kebijakan independen yang terpisah dari konflik kepentingan langsung dengan penguasa. Sikap konsisten di jalur oposisi berpotensi dinilai oleh konstituen sebagai aset non-material yang membedakan parpol tersebut dari parpol lain dalam pemilu berikutnya.

Secara teknis, konsep Etika Saham Moral diusulkan bekerja melalui pembentukan komite ahli internal di parlemen untuk menyusun draf kebijakan alternatif berbasis data sebagai pembanding narasi pemerintah. Selain itu, kemandirian sikap politik diupayakan melalui penjajakan sistem pendanaan alternatif seperti iuran anggota yang transparan guna menekan ketergantungan pada logistik birokrasi. Kendati demikian, efektivitas konsep ini di Indonesia masih memerlukan pengujian lebih lanjut karena belum pernah diimplementasikan secara formal sebagai strategi kelembagaan partai. Ketika seluruh partai politik memilih mengabaikan opsi berada di luar pemerintahan demi mengejar logistik instan, ruang parlemen secara otomatis mengalami penyusutan daya kritis, yang kemudian menjadi faktor pendorong bagi matinya checks and balances serta lahirnya tirani mayoritas yang legal.

Matinya Checks and Balances dan Lahirnya Tirani Mayoritas yang Legal

Matinya checks and balances merupakan kondisi di mana mekanisme kontrol timbal balik antarlembaga tinggi negara tidak lagi berjalan akibat dominasi satu kubu politik yang terlampau besar atas kubu lainnya. Dampak nyata dari minimnya pengawasan ini adalah hadirnya tirani mayoritas yang legal, di mana berbagai regulasi dapat disahkan secara cepat dan sah menurut hukum, namun kerap menuai polemik terkait legitimasi publiknya. Ketiadaan suara kritis yang seimbang di parlemen membuat fungsi legislasi berjalan searah tanpa adanya interupsi yang memadai terhadap draf kebijakan dari eksekutif. Parlemen yang memiliki fungsi pengawasan anggaran dan pembuatan undang-undang berisiko bergeser peran menjadi sekadar pelegalisasi target politik jangka pendek pemerintah.

Kondisi tersebut berimbas pada menyempitnya ruang debat formal yang inklusif bagi berbagai kepentingan masyarakat sebelum sebuah produk hukum disahkan. Tatkala sebuah regulasi diloloskan tanpa uji publik yang ketat di parlemen, undang-undang tersebut rentan menghadapi penolakan dan gugatan hukum dari elemen masyarakat sipil setelah diundangkan. Realitas ini menunjukkan risiko sistemik yang muncul apabila sebuah sistem presidensial kehilangan kekuatan penyeimbang formal di tingkat legislatif. Kerusakan fungsional pada lembaga perwakilan rakyat akibat tiadanya jangkar pengawas inilah yang melandasi urgensi teoritis untuk meninjau kembali pentingnya kehadiran oposisi substantif demi menjaga kesehatan sirkulasi demokrasi.

Urgensi Oposisi Substantif untuk Menghidupkan Sirkulasi Demokrasi

Oposisi substantif dipahami sebagai kekuatan politik di luar pemerintahan yang melakukan kerja pengawasan secara objektif, rasional, dan berbasis data, bukan sekadar melakukan penolakan atas dasar sentimen politik. Kehadiran elemen ini diposisikan sebagai mitra kritis eksekutif yang berfungsi untuk menguji, mengoreksi, serta menawarkan perspektif pembanding terhadap kebijakan negara yang sedang dirumuskan. Dampak langsung yang diharapkan dari eksistensi oposisi substantif adalah meningkatnya mutu perdebatan di parlemen, sehingga proses pembuatan undang-undang berjalan dengan lebih hati-hati. Dinamika ini bertujuan memastikan agar tata kelola pemerintahan tetap berjalan dalam koridor akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Keberadaan oposisi substantif di parlemen secara teoritis dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan saluran resmi atas aspirasi kritis mereka pasca-pemilu. Ketika terdapat partai politik yang konsisten memberikan catatan kritis secara objektif, publik mendapatkan pendidikan politik yang berbasis pada substansi kebijakan, bukan sekadar dinamika personal elit. Kompetisi gagasan yang terjadi di ruang sidang parlemen ini diharapkan dapat memulihkan fungsi kelembagaan parlemen sebagaimana mestinya. Melalui pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat antara keberadaan pengawas independen dan mutu kebijakan negara ini, esai ini sampai pada bagian konklusi yang merangkum poin-poin utama pembahasan.

Tulisan ini ditulis dengan tujuan mengajak masyarakat umum untuk mengamati kembali fungsi mekanisme kontrol di parlemen sebagai salah satu indikator kesehatan demokrasi. Saya memaparkan ini bertujuan memberikan perspektif baik bagi dirii saya maupun orang lain bahwa posisi di luar pemerintahan atau oposisi bukanlah bentuk kelemahan politik, melainkan fungsi kelembagaan yang valid untuk menjaga keseimbangan jalannya kekuasaan negara. Melalui pemahaman yang objektif mengenai dampak politik kartel, saya berharap publik dapat menilai secara kritis pentingnya parpol yang berani mengambil jarak dari kekuasaan demi fungsi pengawasan. Pada akhirnya, perhatian dan tuntutan aktif dari warga terhadap hadirnya kekuatan penyeimbang yang fungsional menjadi faktor penting dalam mengawal agar sirkulasi demokrasi di Indonesia tetap berjalan secara kompetitif.

Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Physical & Emotional Intimacy in Healthy Relationships

Published

on

Sumber foto: Freepik

Sexual health also includes healthy respectful relationships and intimate partnership.

What is intimacy?

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam

Intimacy is a multidimensional construct that consists of intellectual, personal, affective and physical aspects. Emotional and sexual aspects of intimacy are important predictors of satisfaction in a relationship. Intimacy can have a positive influence on the development of trust and bond in relationships and marriage.

Emotional intimacy is when partners feel the ability to behave, think or feel without fear of being judged. It is related to partner satisfaction, emotional well-being, communication, partner support, understanding and sexual well-being. Additionally, it can be a protective factor in romantic relationships and a key factor for mental health and well-being.

Sexual intimacy involves physical affection, trust and respectful communication between partners. Sexual desire has been positively associated to emotional and relationship quality. In addition, sexual satisfaction predicts higher relationship satisfaction.

Why is intimacy important?

Lack of intimacy is associated with relationship issues such as lost sense of security, jealousy between partners, prevention of processing of conflicts. When a relationship misses emotional intimacy, the relationship can feel lonely, disconnected from each other, not sharing important things, lack of support, which all can cause more conflicts and arguments. A lack of emotional intimacy can in turn cause lower sexual intimacy and lower relationship satisfaction.

The role of communication

Communication plays an important role in relationships; it can strengthen or hinder emotional and sexual intimacy between partners.  Individuals who experienced positive communication in their relationship are more likely to feel sexually and emotionally intimate with their partners and therefore satisfied with their relationships.

Tips on how to ensure emotional and sexual intimacy in your relationship:

  • Create an atmosphere for your partner where they will feel safe disclosing their vulnerabilities.
  • Encourage communication about their want and needs, ask questions.
  • Consider turning of electronic devices when spending time together, especially during mealtime.
  • Make time for each other and engage in mutually enjoyable fun activities.
  • Have a good balance between self-care and being together.

 

References

Aranda, V., Ayala, M., Esquivel, C., Ossandón, N., & Quinteros, C. (2024). Self-concealment and emotional intimacy in Chilean adults in a couple relationship. Iberoamerican Journal of Psychology and Public Policy, 1(2), 119–140. https://doi.org/10.56754/2810-6598.2024.0012

Beaulieu, N., Bergeron, S., Brassard, A., Byers, E. S., & Péloquin, K. (2022). Toward an integrative model of intimacy, sexual satisfaction, and relationship satisfaction: A Prospective Study in Long-Term Couples. The Journal of Sex Research, 60(8), 1100–1112. https://doi.org/10.1080/00224499.2022.2129557

Lancer, D. (2023, April 4). 8 ways to nurture emotional intimacy in your marriage. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/men-growing-intimacy-in-marriage-1270945

Wider, W., Chua, B. S., Mutang, J. A., Tan, C. C., Jiang, L., Tanucan, J. C. M., Thant, Y. M., & Udang, L. N. (2025). Associations between intimacy in relationships and marital satisfaction across gender and in different durations of relationship. Cogent Psychology, 12(1). https://doi.org/10.1080/23311908.2025.2545657

Yoo, H., Bartle-Haring, S., Day, R. D., & Gangamma, R. (2013). Couple communication, emotional and sexual intimacy, and relationship satisfaction. Journal of Sex & Marital Therapy, 40(4), 275–293. https://doi.org/10.1080/0092623x.2012.751072

 

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending