Opini
Makan Sehat Bukan Berarti Mahal: Langkah Sederhana Menjaga Tubuh Tetap Bugar
Published
1 month agoon
By
Mitra Wacana

Innaya Khairani Mutiara Fairus merupakan mahasiswi program studi Farmasi semester 2 pada salah satu universitas di Tangerang Selatan
Banyak orang menganggap bahwa hidup sehat membutuhkan biaya yang besar. Padahal, menjaga kesehatan tidak selalu identik dengan membeli makanan mahal, suplemen, atau mengikuti tren diet yang sedang populer. Kesehatan justru dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Dengan pola makan yang seimbang, istirahat yang cukup, dan aktivitas fisik yang rutin, tubuh dapat bekerja secara optimal sehingga risiko berbagai penyakit dapat berkurang.
Salah satu langkah paling mudah untuk menjaga kesehatan adalah memperhatikan pola makan. Tubuh memerlukan berbagai zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat agar setiap organ dapat berfungsi dengan baik. Sumber makanan bergizi tidak harus mahal. Nasi, jagung, atau ubi dapat menjadi sumber karbohidrat, sedangkan tempe, tahu, telur, dan ikan merupakan sumber protein yang mudah ditemukan dengan harga terjangkau. Lengkapi juga menu harian dengan sayur dan buah yang kaya vitamin, mineral, serta antioksidan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.
Selain makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan juga sangat penting. Sekitar 60 persen tubuh manusia terdiri atas air sehingga kekurangan cairan dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, bahkan mengganggu fungsi organ. Minumlah air putih secara teratur, terutama setelah beraktivitas atau saat cuaca panas. Sebaliknya, batasi konsumsi minuman yang mengandung gula tinggi karena dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit seperti diabetes jika dikonsumsi secara berlebihan.
Aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Tidak semua orang harus berolahraga berat di pusat kebugaran. Jalan kaki selama 30 menit setiap hari, bersepeda, atau melakukan senam ringan di rumah sudah cukup membantu menjaga kesehatan jantung, memperkuat otot, serta meningkatkan kebugaran tubuh. Aktivitas fisik juga dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang membuat suasana hati menjadi lebih baik dan membantu mengurangi stres.
Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental. Kesibukan, tekanan pekerjaan, maupun masalah pribadi dapat memicu stres yang berkepanjangan. Oleh karena itu, penting untuk meluangkan waktu beristirahat, melakukan hobi, berbicara dengan orang terdekat, atau sekadar menikmati waktu tanpa gangguan gawai. Tidur yang cukup selama 7–9 jam setiap malam juga berperan penting dalam proses pemulihan tubuh dan menjaga fungsi otak agar tetap optimal.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukanlah tentang melakukan perubahan besar dalam waktu singkat, melainkan membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Memilih makanan bergizi, minum air putih yang cukup, rutin bergerak, mengelola stres, dan tidur yang berkualitas merupakan investasi terbaik untuk masa depan. Tubuh yang sehat akan memberikan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari, meningkatkan produktivitas, serta membantu kita menikmati hidup dengan lebih bahagia. Ingatlah, kesehatan adalah aset paling berharga yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Mulailah dari langkah kecil hari ini, karena perubahan sederhana yang dilakukan secara rutin akan memberikan manfaat besar bagi kesehatan di masa depan.
You may like
Opini
Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam
Published
17 hours agoon
10 August 2026By
Mitra Wacana

Luthfi Fatimah
Universitas Sebelas Maret
Lembaga pendidikan Islam, terutama pondok pesantren, seringkali diyakini sebagai ruang paling aman untuk menimba ilmu. Namun, terkuaknya kasus-kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh figur otoritas pesantren terhadap murid atau santrinya telah menunjukkan adanya celah besar antara nilai-nilai keagamaan yang diajarkan dengan realita pahit yang dihadapi para korban. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kebiadaban ini terus berulang di lingkungan yang sama?
Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) pada tahun 2025, 27% kasus kekerasan yang terlaporkan berasal dari pesantren dan madrasah. Data ini menjadikan lembaga pendidikan Islam masuk ke dalam 3 titik rawan. Namun data tersebut belum sepenuhnya memberikan gambaran atas realita yang terjadi. Sebagaimana puncak dari gunung es, masih sangat banyak kasus kekerasan seksual yang tidak terlaporkan karena adanya tekanan dari pihak pelaku serta ketakutan terhadap stigma buruk masyarakat.
Langgengnya kebiadaban ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Salah satunya adalah budaya patriarki yang terus dipupuk dengan penafsiran subjektif atas dalil-dalil keagamaan sebagai justifikasi atas hierarki gender. Semua teks Al-Quran dan Hadits pada dasarnya bersifat terbuka untuk diinterpretasikan. Namun dengan budaya patriarki yang mendominasi di berbagai negara, penafsiran yang mendukung narasi patriarki mengalami normalisasi sehingga dianggap suatu kebenaran yang bersifat mutlak.
Selain itu, konsep-konsep yang diyakini sebagai jalan menuju keberkahan ilmu seperti ta’dzim (menghormati dan memuliakan) serta konsep sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami mematuhi) seringkali disalah artikan sebagai kepatuhan total. Para santri dibiarkan tunduk tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan untuk apa mereka harus tunduk. Meskipun tidak bisa digeneralisir pula bahwa hal ini terjadi di seluruh lembaga pendidikan Islam, namun pada dasarnya pola mengajar seperti ini mampu menimbulkan relasi kuasa yang timpang.
Lebih lanjut, di dalam lingkungan keagamaan, kekerasan seksual masih sering dianggap tabu. Budaya tabu ini kemudian diperkuat juga dengan pandangan bahwa tokoh agama adalah sosok suci tanpa cela yang tidak boleh diragukan segala tindak-tanduknya. Sehingga ketika korban berusaha melapor, banyak yang tidak memercayai kesaksiannya dan justru memberikan stigma negatif pada korban. Dengan dasar rasa takut, pada akhirnya banyak dari kasus tersebut berakhir dengan proses kekeluargaan yang memperkecil kesempatan korban untuk mendapatkan keadilan dan memperlebar ruang aman bagi pelaku untuk mengulangi tindakannya.
Menurut Michel Foucault dalam teori relasi kuasa, faktor-faktor tersebut mampu memberikan peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, salah satunya kekerasan seksual. Berdasarkan kerangka teorinya, kekuasaan bukanlah suatu kekuatan tunggal yang dimiliki individu. Kekuasaan hadir melalui berbagai jaringan atau relasi yang mendukung kekuasaan itu tetap ada, seperti nilai dan norma yang membentuk wacana dominan dan menjadi dasar dari praktik sosial di masyarakat. Pada lembaga pendidikan Islam, relasi kuasa dapat dilihat pada ketimpangan kekuasaan antara otoritas keagamaan dengan para murid atau santrinya. Dengan adanya dominasi wacana patriarki dan diiringi dengan anggapan yang meninggikan kedudukan tokoh agama, kekuasaan tersebut akhirnya dapat disalahgunakan untuk menekan korban. Dan akibatnya, korban menjadi kesulitan untuk bersuara karena perlawanan terhadap otoritas keagamaan dianggap sebagai kedurhakaan terhadap ajaran agama.
Meskipun kasus kekerasan seksual sangat rentan terjadi di lembaga pendidikan Islam, namun sejatinya tindakan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan prinsip teologi Islam. Islam sendiri memiliki prinsip dasar rahmatan lil ‘alamin yang menegaskan bahwa Islam hadir untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, artinya Islam menuntut pengutamaan rasa aman bagi setiap makhluk hidup. Selain melanggar hak asasi manusia, segala bentuk kekerasan dan kezaliman juga melanggar ajaran agama. Terlebih lagi, Islam juga tidak membenarkan penyalahgunaan otoritas agama untuk melakukan kekerasan dan menyalahgunakannya kembali sebagai tameng untuk berlindung dari hukum. Sehingga dalam konteks kasus kekerasan seksual, prinsip-prinsip Islam sejatinya selalu berpihak pada penegakan keadilan untuk korban.
Dengan demikian, menguak kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan Islam merupakan manifestasi dari ajaran Islam itu sendiri. Melindungi korban dan menghentikan segala bentuk penindasan akan mengembalikan fungsi lembaga pendidikan Islam sebagai pilar keteladanan agama bagi para pemeluknya.
Referensi:
Aminaturrahma, A., Inayah, A., Anggraini, T. C., & Nurchotimah, A. S. I. (2022). Pemicu Kekerasan Seksual dari Perspektif Islam. Jurnal Kewarganegaraan, 6(2), 2696-2701.
Dewi, M., & Hakim, F. N. R. (2025). Kekerasan seksual di pesantren: Analisis power and control dengan pendekatan relasi gender. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(4), 7374-7387.
Husin, L. S. (2020). Kekerasan seksual pada perempuan dalam perspektif Al-Quran dan Hadis. Al Maqashidi: Jurnal Hukum Islam Nusantara, 3(1), 16-23.
Larasati, R. D., & Noviani, R. (2021). Melintas perbedaan: suara perempuan, agensi, dan politik solidaritas. Kepustakaan Populer Gramedia.
Rusli, A. B., & Fauzi, A. F. (2026). Kiai, Seks Dan Relasi Kuasa Pesantren Indonesia (Studi Kasus Jawa Timur). Empirisma: Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam, 35(1), 64-86.
Sekretariat Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (2026). Hasil Pemantauan JPPI 2025 Kekerasan di Satuan Pendidikan: Temuan dan Tantangan Perlindungan Anak.
Winarno, E. P., Islah, I., Giyoto, G., Suharto, T., & Muharom, F. (2025). Investigasi pendidikan Islam terhadap kuasa otoritas kekerasan seksual di pesantren. Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, 19(2), 958-972.

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Apakah Kita Masih Bisa Menjadi “Diri Sendiri” di Era Media Sosial?

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre
Trending
Opini19 hours agoApakah Kita Masih Bisa Menjadi “Diri Sendiri” di Era Media Sosial?
Opini18 hours agoTubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme
Opini18 hours agoMemeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre
Opini19 hours agoMencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period
Opini17 hours agoPatriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam
Opini19 hours agoNongkrong di Kafe: Antara Kebutuhan Kafein dan Pelarian Eksistensial
Opini20 hours agoMahasiswa KKN Kelompok 4 Universitas Serasan Pelajari Pemanfaatan Limbah Kotoran Burung Puyuh sebagai Pupuk Organik untuk Budidaya Pepaya, Semangka, dan Pisang di Desa Darmo
Opini22 hours agoPembungkaman Eksistensial pada Tokoh Aurelie dalam Novel Broken Strings








