Opini
ISU GENDER DALAN FILSAFAT
Published
2 years agoon
By
Mitra Wacana

Akbar Pelayati merupakan mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Isu gender terus memanas dalam diskursus kontemporer, mencakup berbagai bidang termasuk filsafat. Gender, dalam pengertiannya, merujuk pada pemisahan kata-kata menjadi maskulin, feminin, atau netral. Salah satu hak yang diakui secara luas adalah hak asasi perempuan, sementara kesetaraan gender menjadi sorotan utama dalam ranah filsafat.
Dalam era Yunani Kuno, pandangan terhadap perempuan sering kali merendahkan, tercermin dalam pemikiran Plato dan filsuf Yunani lainnya. Plato menegaskan hierarki gender yang menguntungkan laki-laki, dengan menganggap perempuan cocok hanya untuk urusan rumah tangga dan keluarga, sementara laki-laki diharapkan aktif di ranah publik.
Tanggapan terhadap pandangan patriarkis ini muncul dalam gerakan feminisme dalam filsafat. Tokoh seperti Mary Wollstonecraft, Simone de Beauvoir, dan Isaiah Berlin menekankan pentingnya kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Mereka memperjuangkan hak dan kebebasan yang sama untuk semua individu, tanpa memandang jenis kelamin.
Di dalam tradisi pemikiran filsafat Islam, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ditekankan, dengan menekankan kemampuan intelektual daripada jenis kelamin. Tokoh seperti Ibnu Rusyd menolak pandangan merendahkan perempuan, menggarisbawahi bahwa perempuan juga memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni.
Isu gender terus menjadi fokus perdebatan dalam filsafat. Meskipun pandangan patriarkis telah menghambat kemajuan perempuan dalam sejarah, gerakan feminisme dalam filsafat menyoroti pentingnya kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Sementara itu, dalam konteks filsafat Islam, kesetaraan gender dipandang sebagai prinsip penting, dengan menekankan kemampuan intelektual sebagai penentu utama, bukan jenis kelamin. Meskipun tantangan masih ada, pandangan-pandangan ini menandai evolusi pemikiran yang lebih inklusif terhadap isu gender dalam filsafat.
Opini
Membaca “Bahasa Planet” di Kemasan Obat: Panduan Singkat Memahami Arti Lambang Hijau, Biru, dan Merah
Published
12 hours agoon
3 July 2026By
Mitra Wacana

Agisna Mahabbah Dewi Sonia, Mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pernah lihat lambang hijau, biru, dan merah pada kemasan obat, tapi belum tahu artinya? Bagi orang awam, simbol ini mungkin tampak misterius seperti “bahasa planet”. Padahal, tiga warna ini bukan sekadar hiasan, melainkan penanda penting yang membantu kita mengenali jenis obat, tingkat keamanannya, serta cara penggunaannya. Yuk, kenali makna di balik tiga lambang obat yang paling sering kita temui sehari-hari!
Menurut Undang-Undang Kesehatan, obat bukan sekadar barang konsumsi biasa. Obat merupakan zat aktif yang dirancang untuk memengaruhi sistem tubuh manusia. Karena efeknya yang besar dalam menyembuhkan atau mengubah proses kimia tubuh, pemerintah mengelompokkannya ke dalam beberapa golongan agar masyarakat terhindar dari bahaya salah obat.
- Lingkaran Hijau 🟢 : Obat Bebas (Si Ramah yang Aman Dikonsumsi)
Jika melihat lingkaran hijau dengan garis tepi hitam, artinya obat tersebut masuk dalam kategori Obat Bebas.
- Apa artinya? Obat ini memiliki tingkat keamanan yang relatif tinggi. Anda bisa membelinya dengan mudah tanpa perlu resep dokter, baik di apotek, minimarket, hingga warung kelontong dekat rumah.
- Contohnya: Parasetamol yang biasa kita minum saat demam atau sakit kepala ringan. Meskipun aman, Anda tetap wajib membaca aturan pakai yang tertera di kemasannya, ya!
- Lingkaran Biru 🔵 : Obat Bebas Terbatas (Boleh Dibeli, Tapi Ada Syaratnya)
Naik satu tingkat, ada lingkaran biru dengan garis tepi hitam. Golongan ini disebut Obat Bebas Terbatas.
- Apa artinya? Obat ini sebenarnya masuk dalam kategori obat keras, namun dalam dosis tertentu masih boleh dibeli bebas tanpa resep dokter. Keunikannya, obat ini selalu disertai dengan tanda peringatan khusus (P. No. 1 sampai P. No. 6) di kemasannya, seperti “Awas! Obat Keras. Bacalah aturan pemakaiannya”.
- Contohnya: CTM (chlorpheniramine maleate) untuk mengobati alergi. Obat ini dijual bebas, namun Anda harus waspada karena efek sampingnya bisa menyebabkan kantuk berat.
- Lingkaran Merah dengan Huruf “K” 🔴 : Obat Keras & Psikotropika (Wajib Resep Dokter!)
Ini adalah zona merah yang tidak boleh Anda sentuh sembarangan. Cirinya adalah lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf “K” tebal di tengahnya.
- Apa artinya? Obat ini memiliki risiko efek samping yang tinggi, potensi interaksi antar-obat yang kompleks, atau risiko penyalahgunaan yang berbahaya. Oleh karena itu, obat ini hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter dan penggunaannya harus di bawah pengawasan medis.
- Contoh Obat Keras: Asam mefenamat (obat pereda nyeri berat/sakit gigi) dan berbagai jenis antibiotik.
- Bagaimana dengan psikotropika? Psikotropika merupakan kelompok obat keras, baik yang berasal dari bahan alami maupun sintetis, yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat sehingga memengaruhi aktivitas mental dan perilaku, karena berpotensi menimbulkan ketergantungan, penggunaannya diawasi secara ketat.
- Contoh Obat Psikotropika: diazepam dan phenobarbital
Memahami “bahasa planet” pada kemasan obat merupakan sebuah langkah kecil yang memiliki arti besar bagi keselamatan Anda dan keluarga. Dengan mengenali perbedaan lambang hijau, biru, dan merah, kita bisa menjadi konsumen yang cerdas: tahu kapan bisa mengobati diri sendiri secara mandiri, dan kapan harus segera pergi ke dokter. Ingat, obat bisa menjadi penyembuh, namun bisa juga menjadi racun jika salah digunakan!

Membaca “Bahasa Planet” di Kemasan Obat: Panduan Singkat Memahami Arti Lambang Hijau, Biru, dan Merah

Dunia yang belum berakhir










