web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Lokakarya Hak Anak di Banjarnegara

Mitra Wacana WRC

Published

on

workshop perkembangan diri anak ft Desi
Waktu dibaca: 3 menit

Kami sedang dalam perjalanan ke Banjarnegara, sebuah kabupaten di barat selatan Jawa Tengah. Akkhir pekan lalu, Sabtu dan Minggu (4 dan 5 Juni 2016), Mitra Wacana menyelenggarakan lokakarya hak-hak anak untuk 43 anak di kelas enam (tahun terakhir sekolah dasar di Indonesia; mereka berusia 11-13 tahun). Anak-anak tinggal di desa Berta dan Karangjati, kecamatan Susukan. Desa Bondolharjo dan Petuguran kecamatan Punggelan.

Hidup ini tidak mudah, terutama di daerah. Beberapa anak-anak di kecamatan Punggelan harus melakukan perjalanan melalui perbukitan setiap hari agar bisa sampai di sekolah. Mereka, ada yang berangkat sendiri dengan sepeda motor, karena orang tua mereka harus bekerja. Banyak anak-anak di sini tidak menyelesaikan sekolah, karena keluarga membutuhkan mereka untuk membantu mendapatkan uang. Mereka ada yang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan, dengan pengetahuan tentang hak-hak yang sedikit, mereka berisiko di eksploitasi. Ini adalah salah satu alasan Mitra Wacana memutuskan untuk mulai mendidik anak-anak di desa-desa ini tentang hak-hak mereka di sekolah dasar. Ini pertama kalinya kami mengadakan lokakarya hak-hak anak dengan peserta anak-anak usia sekolah dasar.

Kami mengundang bapak Suranto dan bapak Arif Winarto dari Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Yayasan Samin) untuk memfasilitasi lokakarya. Pada hari pertama, saya bergabung dengan bapak Suranto di Kecamatan Punggelan. Lokakarya diawali dengan perkenalan, kemudian dimulai dengan menyampaikan komitmen Mitra Wacana mengenai prinsip-prinsip perlindungan anak, kami meminta anak-anak jika mereka setuju untuk berpartisipasi dalam lokakarya maka akan difoto dan difilmkan. Mereka semua menyatakan setuju. Hal ini juga untuk menegaskan bahwa orang tua mereka sudah memberikan izin.

Bapak Suranto memperkenalkan beberapa konsep kunci tentang hak-hak anak. Pertama, bahwa “anak-anak” didefinisikan sebagai orang yang masih di bawah usia 18 tahun. Dia menggunakan gambar yang melambangkan agama dan etnis Indonesia untuk menggambarkan titik bahwa semua anak memiliki hak yang sama tanpa memandang ras atau agama. Dia meminta anak-anak untuk mengutarakan apa yang mereka inginkan ketika menjadi dewasa. Anak-anak menggambar diri mereka sebagai guru, dokter, pedagang, tentara dan pemain sepak bola. Dia juga meminta maereka untuk menggambar apa yang mereka pikirkan tentang hak. Mereka menuliskan makanan sehat, akses perawatan kesehatan, tidur, bermain dan kasih sayang.

Bapak Suranto memperkenalkan empat prinsip hak-hak anak:

1. Kesamaan, hak yang sama untuk semua anak.
2. Yang terbaik bagi anak, apa yang terbaik untuk anak.
3. Tumbuh kembang
4. Pendapat anak harus dihargai

Konsep-konsep ini sedikit rumit bagi anak yang berusia 12 dan 13 tahun untuk memahaminya. Kami menggunakan campuran lagu, game dan menggambar untuk membantu anak-anak memahami dan membuat lebih menyenangkan. peserta anak, merupakan tantangan namun hal ini penting dan perlu dilakukan. Penelitian awal yang dilakukan oleh Mitra Wacana di akhir 2013 menunjukkan prevalensi tinggi kekerasan seksual terhadap anak-anak di wilayah ini.

Sebagai bagian dari lokakarya akhir pekan ini, kami mengajarkan anak-anak tentang zona terlarang, yaitu mulut, dada, alat kelamin dan bawah (pantat). Tidak ada yang bisa menyentuh mereka di zona terlarang mereka dan jika ada yang melakukannya, maka mereka harus memberitahu seseorang. Kemudian dalam lokakarya, kita membahas isu-isu seperti peran gender. Bapak Suranto memberitahu saya beberapa anak bersemangat untuk belajar bahwa orang bisa memasak dan wanita dapat menjadi pencari nafkah utama bagi keluarga mereka.

Pada hari kedua saya bergabung bapak Arif Winarto di kecamatan Susukan. Workshop ini diadakan di balai desa Berta, bangunan joglo tradisional dengan atap runcing dan tidak ada dinding. Aku menikmati angin dingin yang sesekali menerobos melalui celah dinding. Berta di salah satu perbukitan yang terletak di Samudera Pasifik. Komitmen anak-anak sangat mengesankan. Lokakarya diadakan dua hari Sabtu dan minggu setelah mereka pulang dari sekolah. Pada hari minggu anak-anak diminta untuk menggambarkan cita-cita mereka, tujuan mereka untuk masa depan. Karena tujuan mereka mencerminkan kebutuhan masyarakat. Beberapa dari mereka bermimpi menyelesaikan sekolah yang tinggi, ingin sebuah perpustakaan di desa mereka dan jalan-jalan di desa diperbaiki. Pengetahuan dan keterampilan Mitra Wacana mengajar anak-anak dan masyarakat, mudah-mudahan akan membantu mewujudkan impian mereka.

Mengunjungi Banjarnegara dan melihat masyarakat yang didampingi oleh Mitra Wacana, membuat saya merasa sangat bangga dan terhormat untuk bekerja untuk sebuah organisasi yang memiliki dampak positif pada suatu masyarakat. Saya tidak sabar untuk kembali. (Sophia)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opini

KONSTRUKSI MEDIA MASSA TERHADAP CITRA PEREMPUAN

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Freepik
Waktu dibaca: 3 menit
TANTANGAN GERAKAN PEREMPUAN DI ERA DIGITAL

Lilyk Aprilia Volunteer Mitra Wacana

Di era globalisasi, media massa menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat baik digunakan sebagai alat untuk komunikasi, mencari informasi, atau hiburan. Media massa terus mengalami perkembangan dari yang mulanya konvensional hingga sekarang menjadi modern . Berbicara mengenai media massa tentu ada hal yang menjadikan media massa memiliki nilai tarik tersendiri terlebih jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan.

      (Suharko, 1998)  bahwa tubuh perempuan digunakan sebagai simbol untuk menciptakan citra produk tertentu atau paling tidak berfungsi sebagai latar dekoratif suatu produk.  Media massa dan perempuan merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Terutama dalam bisnis media televisi. Banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba dalam menyajikan sebuah program agar diminati oleh masyarakat membuat mereka mengemas program tersebut semenarik mungkin salah satunya dengan melibatkan perempuan. Perempuan menjadi kekuatan  media untuk menarik perhatian masyarakat. Bagi media massa tubuh perempuan seolah aset terpenting yang harus dimiliki oleh media untuk memperindah suatu tayangan yang akan disajikan kepada masyarakat sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

     Media massa memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada masyarakat salah satunya dalam bentuk iklan sebuah produk atau layanan jasa . Iklan merupakan sebuah informasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai hal yang berhubungan dengan suatu produk atau jasa yang dikemas dengan semenarik mungkin.  Memiliki tujuan untuk menarik minat konsumen membuat salah satu pihak menjadi dirugikan . Pasalnya pemasang iklan dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat sering kali memanfaatkan perempuan sebagai objek  utama untuk memikat para konsumen. Memanfaatkan wajah dan bentuk tubuh sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat membuat citra perempuan yang dimuat pada iklan terus menjadi sumber perdebatan karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai nilai jual atas produk yang ditawarkan . Ironisnya hal ini terus menerus dilakukan. 

         Memanfaatkan fisik sebagai objek untuk diekploitasi sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Terlihat dari citra perempuan yang digambarkan oleh tayangan iklan ataupun acara program televisi. Kecantikan perempuan dijadikan sebagai penghias tampilan dari suatu program acara. Dipoles sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang cantik kemudian dikonsumsi oleh publik. Demi untuk mengedepankan kepentingan media bahkan hak hak perempuan yang seharusnya dimiliki mereka dikesampingkan oleh media .  

     Selain sebagai wadah informasi untuk masyarakat media massa juga berfungsi sebagai hiburan.. Tayangan televisi yang sampai saat ini menempati rating tertinggi yaitu dalam kategori sinetron. Gambaran dalam tayangan tersebut banyak yang melibatkan perempuan dengan menggambarkan posisi perempuan selalu dibawah laki-laki. Tidak terlalu memperhatikan  pesan tersirat apa yang terkandung dalam tayangan tersebut, masyarakat terus-menerus mengkonsumsinya seolah tayangan tersebut tidak memiliki pesan yang bermasalah. Jika diperhatikan lebih lanjut banyak sekali peran perempuan yang digambarkan dari sisi lemahnya atau hanya melakukan pekerjaan domestik saja. Dengan begitu apa yang disajikan oleh media akan tertanam difikiran mereka sehingga menganggap pesan media massa sebagai realitas yang benar dan menjadi nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 Kekuatan Media Massa Dalam Membentuk Citra Perempuan

      Media massa memiliki kemampuan dalam membentuk citra . Bermula dari gambaran atas kenyataan yang ada dimasyarakat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahasa yang mengandung makna baru  namun masih memiliki acuan terhadap fakta yang ada kemudian disajikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Dengan begitu citra yang dibentuk oleh media massa akan mempengaruhi realitas kehidupan dimasyarakat. Mengingat minat masyarakat terhadap objektifikasi perempuan cukup tinggi, media massa berlomba-lomba membentuk citra perempuan yang sempurna untuk mencapai target pasar dengan menggiring opini publik dalam menetapkan standar ‘cantik’ menurut media. Perempuan kerap kali dijadikan alat oleh media massa sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan dengan menampilkan kemolekan dan kecantikan fisiknya. Konstruksi sosial pada citra perempuan yang terjadi pada media massa bukan lagi hal baru dan tabu, fenomena ini terus berulang seolah menjadi kebenaran dalam mengkotakkan citra perempuan. 

     Selain itu pembenaran yang terus dilanggengkan oleh media massa terkait citra perempuan menjadikan sudut pandang masyarakat berkiblat pada standar yang digaungkan media massa tersebut sehingga menjadi salah satu agen budaya yang berpengaruh terhadap realita di kehidupan masyarakat.  Penggambaran terhadap perempuan oleh media massa semakin memperjelas bahwa posisi perempuan diranah publik masih lemah.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

EnglishGermanIndonesian
Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung